KEKEBALAN TUBUH
Pada dasarnya, ada 3 jenis strategi pertahanan tubuh:
1.tanggapan kekebalan tubuh adaptif (didapat/spesifikk).
2.Bariersikal (kulit dan mukosa yang utuh) dan kimia (asam lambung);
3.tanggapan kekebalan tubuh alami (innate/nonspesifik), contoh fagositosis,
perlawanan terhadap patogen penyakit dilakukan oleh barier sikal dan
tanggapan kekebalan tubuh alami, namun bila tidak berhasil, tanggapan kekebalan tubuh adaptif akan diaktivasi,Membran mukosa, seperti reproduksi,mukosa pencernaan, pernapasan, urinari melindungi tubuh dari invasi mikroorganisme ,
Populasi mikro!ora normal yang berkolonisasi pada permukaan kulit menghambat pertumbuhan mikro organisme patogen potensial dengan cara mengompetisi makanan dan ruang yang tersedia,
Kulit utuh berperan sebagai bariersikal untuk menghentikan invasi mikro organisme , Sekret kulit, seperti asam keringat dan asam lemak dari kelenjar lemak, mengurangi pertumbuhan bakteri pada per mukaan kulit, Urin dan sekret mukosa mengeluarkan mikroorganisme ke luar dari tubuh pasien,
Barier kimia contoh oleh hidung, asam lambung,enzim antimikroba, lisosim, pernapasan, air mata, saliva,
setiap hari pasien menghirup ribuan bakteri , kuman , mikroorganisme dan virus yang ada di udara namun Sistem kekebalan tubuh membasmi jika bakteri dapat mengalahkan sistem kekebalan tubuh maka sebagai tanda maka tubuh mengalami demam, flu , Bila tubuh kemudian sembuh dari demam ,ini menjadi tanda bahwa sistem kekebalan tubuh mampu mengatasi kuman , sesudah men dapatkan pengalaman dari kekalahan sebelumnya,Tubuh menyadari saat sistem kekebalan tubuh bekerja dengan memicu efek samping yang dapat dilihat atau dirasakan. Contohnya, saat bagian tubuh ada yang terluka, bakteri memasuki tubuh melalui luka. Sistem kekebalan tubuh menghilangkan bakteri penyerang , sehingga bagian tubuh yang terluka menjadi sembuh, jika sistem kekebalan tubuh gagal maka luka meradang, terinfeksi, dan terisi nanah (pus), Contoh , saat digigit nyamuk, timbul merah, bengkak, gatal,patogen mampu beradaptasi dan melakukan cara-cara baru untuk menginfeksi tubuh ,.sistem kekebalan tubuh juga suatu sistem sirkulasi yang terpisah dari pembuluh darah yang kesemuanya bekerja sama untuk mengalahkan patogen,
Organ sistem kekebalan tubuh terletak di seluruh tubuh, dan dinamakan organ limfoid, Pembuluh limfe dan kelenjar limfe adalah bagian dari sistem sirkulasi khusus yang membawa cairan limfe, suatu cairan transparan yang berisi sel darah putih terutama limfosit. Kata lymph dalam bahasa Yunani berarti murni, aliran yang bersih, Cairan limfe membasahi jaringan tubuh, pembuluh limf mengumpulkan cairan limfe dan membawanya kembali ke sirkulasi darah. Kelenjar limfe berisi jala pembuluh limfe dan menyediakan media bagi sel sistem kekebalan tubuh untuk mempertahankan tubuh dari patogen ,Limfe adalah media dan tempat bagi sel sistem kekebalan tubuh untuk mengalahkan patogen, , Sel kekebalan tubuh dan molekul asing memasuki kelenjar limfe melalui
pembuluh limfe atau darah , Semua sel kekebalan tubuh keluar dari sistem limfatik dan akhirnya kembali ke aliran darah. Begitu berada dalam aliran darah, sel sistem kekebalan tubuh, yaitu limfosit dibawa ke jaringan di seluruh tubuh,
Sistem kekebalan ini mendeteksi bahan patogen, mulai dari cacing virus sampai parasit dan membedakannya dari sel dengan jaringan normal,
Setiap hari tubuh pasien dapat terkontaminasi beratus-ratus bakteri yang dapat memasuki tubuh melalui berbagai jalan , melalui konsumsi makanan, namun bisa dimatikan oleh mekanisme pertahanan tubuh semua bakteri mati dalam saliva atau asam lambung, saliva atau asam lambung media pertahanan tubuh. Namun, kadang-kadang satu bakteri dapat lolos dan memicu keracunan makanan,dinamakan kegagalan sistem kekebalan tubuh, yang terlihat adalah gejala tanda mual mulas perih kembung diare,
Alergi akibat kerja sistem kekebalan tubuh yang berlebihan terhadap suatu rangsang tertentu , Diabetes melitus (DM) dipicu oleh sistem kekebalan tubuh yang secara tidak tepat menyerang sel pankreas dan merusaknya,Kegagalan transplantasi organ dipicu oleh kerja sistem kekebalan tubuh
berlebih, sering kali menolak organ yang ditransplantasikan ,
Penyakit radang sendi (artritis reumatoid) dipicu oleh kerja sistem kekebalan tubuh yang tidak sewajarnya pada jaringan sendi,kelainan tanggapan kekebalan tubuh contohnya tumor ganas limfoma,alergi, AIDS (acquired immune de!ciency syndrome), diabetes melitus, artritis reumatoid, penolakan jaringan transplantasi,
beberapa penyakit yang ditandai dengan desiensi sistem kekebalan tubuh. Contohnya, AIDS yang dipicu oleh HIV (HumanImmunode!ciency Virus), yang menurunkan mekanisme pertahanan kekebalan tubuh hospes oleh adanya infeksi oleh virus ini dan perubahan sel-sel kunci sistem kekebalan tubuh,
Pada AIDS, kelainan fungsi kekebalan tubuh terjadi sebab sel yang bekerja dalam sistem kekebalan tubuh berkurang baik dalam jumlah maupun nfungsinya, seperti sel makrofag dan sel T, Kelainan dalam bentuk peningkatan jumlah dan fungsi sel-sel sistem kekebalan tubuh,terjadinya alergi dan keadaan hipersensitivitas, dapat pula terjadi pada tumor ganas, contoh nya limfoma,
Makrofag adalah sasaran utama, virus hidup dan memperbanyak diri dalam makrofag. Virus menghentikan aktivitas makrofag namun tidak membasminya. Di
samping itu, virus menginvasi sel T-helper secara langsung atau melalui makrofag yang terinfeksi. Sel T-helper secara normal .mengaktivasi sistem kekebalan tubuh termasuk makrofag. Sel T-helper yang terinfeksi akan terbunuh, sehingga tidak dapat memberi sinyal kepada makrofag untuk memerangi infeksi , Makrofag
yang terinfeksi tidak akan berfungsi wajar untuk memerangi .penyakit, sekalipun sel-sel makrofag ini diberi sinyal oleh sel T-helper. Akibatnya, pasien menjadi peka terhadap organisme yang dalam keadaan normal tidak pernah memicu penyakit
(patogen oportunistik). meningitis, sarkoma Kaposi dan kandi diasis ,Pneumocystis Carinii, adalah tanda utama AIDS.,
Virus dapat hidup laten dalam hospes selama beberapa tahun sebelum akhirnya muncul tanda penyakit. bahwa AIDS teraktivasi hanya bila tombol genetik pasien dihilangkan. Ada pasien yang dapat membentuk substansi untuk mencegah terjadinya hal ini. Bila bahan itu tidak dibentuk, terjadilah infeksi oportunistik
dan kanker. Sekali terinfeksi, hospes menjadi pembawa sifat dan dapat melepas virus ke orang lain. Virus HIV tidak dapat ditularkan secara sederhana, Penularannya adalah dari ibu yang terinfeksi ke bayi sebelum atau selama kehamilan, melalui hubungan seks, pemakaian jarum suntik bersama,
melalui hubungan seks, penyakit ini berhubungan dengan
klamidia, gonore, sifilis, hepatitis B. Rongga mulut dapat mengindikasikan penurunan tanggapan kekebalan tubuh dengan banyak manifestasi. Semua pasien yang terinfeksi HIV dengan atau tanpa manifestasi penyakit adalah pembawa virus. Penyakit autoimun tubuh terjadi bila sistem kekebalan tubuh gagal untuk .mengenali dirinya sendiri. Pada keadaan ini, antibodi dibentuk
melawan protein hospes yang dianggap sebagai antigen. Kompleks antigen-antibodi akan terbentuk dan meningkatkan reaksi.
contoh penyakit autoimun tubuh adalah miastenia gravis, multipel sklerosis, diabetes tipe I, penyakit artritis reumatoid, lupus eritematosis sistemik (SLE), tiroiditis, demam reumatik, glomerulonefritis, anemia hemolitika,
Pada penyakit-penyakit ini, terjadi kekeliruan pada fungsi sistem kekebalan tubuh, yaitu menghancurkan sel-sel atau komponen sel tubuh, dengan menganggapnya
sebagai antigen. .
Pada artritis reumatoid, kompleks antigen-antibodi melawan bjaringan sendi, berakumulasi, dan memicu tanggapan radang. Akumulasi cairan dan mediator kimia pada rongga sendi menghasilkan pembengkakan dan sakit. Terapi untuk melawan radang adalah dengan memakai aspirin atau obat berisi aspirin untuk
mengurangi pembentukan prostaglandin,Defesiensi atau tidak normalitas komponen sistem kekebalan tubuh akan
membantu sel tumor untuk menghindar dari dikenali dan dirusak oleh sel T. Sebaliknya, sistem kekebalan tubuh dapat bereaksi berlebihan (kekebalan tubuhoproliferatif) dalam bentuk reaksi hipersensitivitas (alergi).
tanggapan kekebalan tubuh terhadap swa-antigen (self-antigen) terjadi pada
penyakit alergi dan autoimun tubuh,
Pada diabetes melitus tipe I , terdapat kekurangan suplai insulin. Tampaknya sel-sel kekebalan tubuh menyerang pankreas dan merusak sel-sel beta yang memproduksi insulin. Tanpa insulin, sel-sel tidak dapat mengubah gula dalam aliran darah, merusak dinding pembuluh darah terutama kapiler. Terjadi komplikasi, seperti kebutaan,stroke,penyakit jantung dan ginjal, sirkulasi yang buruk, Gejala sistemis berasal dari ke tidakmampuan nmereabsorpsi air sehingga terjadi haus (polidipsia), poliuria (sering kencing), sering makan (polifagia), Polidipsia ini dapat memicu mulut kering dan lidah terasa terbakar. Diabetes
melitus tipe 2 lebih sering pada pasien yang lebih tua, kurang parah dibanding tipe 1 dan tidak bergantung pada insulin, sebab masih dapat dikendalikan oleh obat antidiabetik,
Antigen yang dikenal sebagai alergen dapat memproduksi reaksi alergi. Alergen ini dapat berwujud tanaman,minyak tumbuhan,makanan, obat, serbuk sari, debu, kosmetik, pasien alergi membentuk IgE yang terikat pada basol dalam darah dan
sel mast dalam jaringan sekitar pembuluh darah. Ikatan IgE terhadap sel mast memicu sel ini melepas granula dalam sel .yang mengandung bahan kimia histamin. Histamin melebarkan pembuluh darah, hal ini adalah suatu aktivitas untuk membawa sel-sel kekebalan tubuh ke daerah jejas. Keadaan ini memicu
pembengkakan dan radang yang berhubungan dengan alergi.
Pada alergi serbuk sari, granula-granula yang dilepas oleh sel
mast memicu bersin dan pengeluaran air mata secara tiba￾tiba. Pengobatannya adalah dengan antihistamin dan kortikostero￾id yang diisap untuk mengurangi radang. tanggapan analaktik da￾pat membahayakan hidup, memicu syok dan asksia. Pada ke adaan ini, epinefrin diberikan untuk melawan efek histamin. Reaksi hipersensitivitas tipe I, II, dan III melibatkan antibodi. Tipe IV melibatkan sel- T, dan dinamakan reaksi yang dimediator oleh sel atau reaksi tertunda sebab memerlukan waktu sebelum sel betanggapan terhadap alergen. reaksi dimulai minimal 24 jam atau lebih sesudah serangan, contohnya reaksi terhadap cairan monomer dalam mahkota selubung sementara, gigi tiruan, dan mahkota jembatan. .Penyakit yang ditandai oleh reaksi hipersensitivitas tertunda
adalah sifilis ,tuberkulosis stadium III. Penyakit juga dipicu oleh reaksi hipersensitivitas tertunda terhadap mikroorganisme adalah demam rematik. Berminggu-minggu sebelumnya, pasien mengalami infeksi streptokokus hemolitikus beta yang menyerang orofaring atau kulit. Beberapa pasien terkondisi dengan reaksi hipersensitivitas tertunda terhadap organisme atau toksin. Keadaan ini dapat menyerang ginjal (glomerulonefritis), kulit, jantung (karditis), sendi (artritis), ditambah dengan demam. Penyakit jantung rematik menyerang endokardium dan katup. Pada proses penyembuhannya terjadi pembentukan jaringan parut dengan kalsifikasi. Katup mitral dalam keadaan khusus dapat menutup (stenosis), memicu aliran yang cepat pada jantung
(murmur). walau demikian, kerusakan dapat berlangsung per lahan. Insufisiensi katup dan stenosis akan menegangkan (strain) jantung selama bertahun-tahun, memicu hipertro kompensasi dan mungkin kegagalan jantung. pasien dengan kerusakan katup pada penyakit jantung rematik cenderung meng alami infeksi
endokarditis (SBE, = subacute bacterial endocarditis). SBE merupakan infeksi bakteri pada katup jantung yang sebelumnya sudah dirusak oleh aterosklerosis, kongenital, penyakit jantung rematik. Infeksi ini dipicu oleh bakteriemia, menetapnya dan bertumbuhnya bakteri (vegetasi) pada katup jantung yang sudah rusak. SBE memicu pasiennya . mengalami gagal jantung dan meninggal.
jika bahan infeksi tidak dapat dihentikan oleh bariersik dan khemis, bahan infeksius akan masuk melalui kulit atau membran mukosa dan kemudian mengawali terjadinya lini pertama dari mekanisme pertahanan kekebalan imunologi yang dinamakan tanggapan kekebalan tubuh innate atau nonspesifik atau alami. Bila bahan patogen tidak dapat dieliminasi oleh tanggapan kekebalan tubuh innate, penyakit akan menyerang sehingga tanggapan kekebalan tubuh adaptif atau spesifik atau didapat akan diaktivasi, agar tubuh pulih kembali.
tanggapan kekebalan tubuh dikategorikan menjadi tanggapan kekebalan tubuh adaptif (spesifik) dan tanggapan kekebalan tubuh innate (alami/nonspesifik) Contoh komponen kekebalan tubuhitas innate adalah sel fagosit (sel monosit,
makrofag, neutrofil fi) yang secara herediter memiliki sejumlah peptida antimikrobial dan protein yang mampu membasmi bermacam-macam bahan patogen, bukan hanya satu bahan patogen , Sebaliknya, tanggapan kekebalan tubuh adaptif akan meningkat sesudah terpapar oleh suatu bahan patogen. Pada tanggapan kekebalan tubuh adaptif spesifik, sel limfosit (sel T dan sel B) adalah komponen
dasar yang berperan , mengindikasikan adanya tanggapan kekebalan tubuh yang spesifik. Kemampuan sel T dan sel B untuk mengenali struktur spesifik oligomer pada suatu bahan patogen dan membentuk progeni juga adalah struktur yang dikenali, dan membuat sistem kekebalan tubuh mampu metanggapan lebih cepat dan efektif ketika terpapar kembali dengan bahan patogen itu.
maka dua perbedaan dari tanggapan kekebalan tubuh innate dan adaptif adalah tanggapan kekebalan tubuh adaptif untuk bahan patogen/antigen tertentu dan meningkat pada tiap .paparan selanjutnya oleh antigen yang sama. Namun, keduanya bekerja sama pada beberapa tahapan (contoh nya, dengan melepas
faktor stimulus sitokin) untuk merusak antigen penyerang,
Sistem kekebalan tubuh adalah jejaring yang didesain untuk homeostasis molekul yang besar (oligomer) dan sel berdasarkan pada proses pengenalan yang spesifik. Pengenalan dari struktur suatu oligomer oleh reseptor sel kekebalan tubuh adalah komponen penting dari kekhususan sistem kekebalan tubuh.
Sistem kekebalan tubuh terbentuk dari sitokin, jaringan limfoid,jejaring kompleks sel kekebalan tubuh dan organ yang bekerja sama dalam mengeliminasi bahan infeksius dan antigen lain. Antigen yaitu substansi yang memicu tanggapan kekebalan tubuh (contohnya jaringan transplantasi bakteri, serbuk sari, ), memiliki beberapa komponen yang dinamakan epitop. Tiap-tiap epitop memicu
pembentukan antibodi spesifik atau menstimulasi sel limfosit T spesifik. Antigen adalah generator antibodi. Obat antigenik yang dipakai untuk mendidik sistem kekebalan tubuh dinamakan vaksin. Bentuk rekayasa dari antigen original dipakai dalam bentuk vaksinasi dengan tujuan menstimulasi pembentukan sel T dan sel
B memori tanpa memicu suatu penyakit.
Regulasi Sistem Kekebalan Tubuh
Organisme patogen
patogen mengembangkan berbagai cara agar berhasil menginfeksi tubuh dengan cara menghindari sistem kekebalan tubuh. contoh nya, bakteri mengatasi bariersik dengan menyekresi enzim yang mencerna barier atau dengan cara menyuntikkan proteinnya ke dalam tubuh hospes yang dapat menghentikan pertahanan tubuh hospes, dengan replikasi intraselular yang dinamakan patogenesis intraselular. Patogen menghabiskan seluruh siklus hidupnya di dalam sel hospes yang dipakai sebagai benteng pertahanan
terhadap kontak langsung dengan komplemen,sel kekebalan tubuh, antibodi, contoh patogen intraselular antara lain adalah bakteri salmonella yang memicu keracunan makanan ,virus , parasit yang memicu malaria (Plasmodium
falciparum). Bakteri Mycobacterium tuberculosis hidup di dalam kapsul pelindung yang melindunginya dari efek lisis dari komplemen,
Ada bakteri yang membentuk protein permukaan yang terikat pada antibodi sehingga membuat antibodi menjadi tidak efektif, contohnya streptokokus (protein G) dan stalokokus aureus (protein A).
patogen menyekresi substansi yang menyimpangkan tanggapan kekebalan tubuh. Ada bakteri yang membentuk biom untuk melindungi diri dari sel dan protein sistem kekebalan tubuh. Biolm ini ada pada banyak infeksi.
Mekanisme virus untuk menghindari sistem kekebalan tubuh dengan menyelubungi antigen virus dengan molekul hospes demi untuk menghindar agar tidak dikenali oleh sistem kekebalan tubuh, Pada HIV, kapsul yang menyelubungi virion (partikel lengkap virus) dibentuk dari lapisan luar sel hospes sebagai mantel virus yang membuat virus menjadi sulit teridentifikasi sebagai non-self protein oleh sistem kekebalan tubuh,
Mekanisme virus untuk menghindari sistem kekebalan tubuh adaptif dengan mengubah epitop yang tidak esensial (asam amino dan atau gula) pada permukaannya, sementara mempertahankan epitop esensial tetap tersembunyi. contoh adalah HIV, yang secara teratur memutasikan protein pada kapsulnya untuk dapat memasukkan dirinya ke dalam sel target. Perubahan antigen
virus yang sering terjadi ini yaitu kegagalan vaksinasi yang memakai protein
virus secara langsung,
Regulasi Fisiologis
Sistem kekebalan tubuh meningkat saat tidur dan melemah saat frustasi,
nutrisi yang kurang pada janin memicu penurunan sistem kekebalan tubuh untuk seumur hidupnya,lingzhi,bawang putih, elderberry, jamur sitake, madu menstimulasi sistem kekebalan tubuh,Hormon yang meregulasi sistem kekebalan tubuh adalah prolaktin dan hormon pertumbuhan,vitamin D juga dapat meregulasi sistem kekebalan tubuh,penurunan kadar hormon seiring bertambahnya usia pemicu melemahnya kekebalan tubuh di usia tua, Hormon dapat mengatur kepekaan sistem kekebalan tubuh, Contohnya, hormon pada wanita menstimulasi baik tanggapan kekebalan tubuh innate maupun adaptif. Sebaliknya, androgen seperti testosteron menekan sistem kekebalan tubuh,
beberapa hormon diregulasi oleh sistem kekebalan tubuh, contoh nya hormon
tiroid. Beberapa penyakit autoimun , seperti lupus erite matosus
lebih banyak dialami wanita saat masa pubertas,
Obat imunosupresan dipakai untuk mengendalikan kelainan , tanggapan kekebalan tubuh dapat dimanipulasi untuk menekan tanggapan sesuai dengan yang diinginkan, ini muncul saat penolakan transplantasi, imunitas , alergi,
in!amasi ketika terjadi kerusakan jaringan yang berlebihan dan mencegah penolakan transplantasi , Obat anti-in!amasi dipakai untuk mengendalikan efek in!amasi, dalam hal ini kortikosteroid adalah obat paling kuat. Namun, ada efek samping toksik , Obat antinflamasi dosis rendah dipakai dalam kaitannya dengan pemakaian obat imunosupresan atau sitotoksik , Obat sitotoksik menghambat tanggapan kekebalan tubuh dengan mematikan sel seperti sel T yang teraktivasi. Namun, pembunuhan ini tidak selektif maka organ sel lain ikut terkena. Obat imunosupresan seperti siklosporin mencegah sel T memberi tanggapan yang benar terhadap sinyal dengan menghambat jalan penyaluran sinyal, tanggapan proteksi sistem kekebalan tubuh dapat distimulasi, Stimulasi tanggapan kekebalan tubuh untuk memerangi patogen .
Kanker
Ketika sel normal berubah menjadi sel kanker, beberapa antigen sel kanker mengalami perubahan. Sel kanker secara konstan melepaskan sedikit
protein dari permukaan sel ke dalam sistem sirkulasi, antigen tumor adalah salah satu protein di antara protein yang dicurahkan. Antigen yang dicurahkan ini memicu aksi pertahanan sistem kekebalan tubuh termasuk makrofag sel T-sitotoksik, NK (natural killer), Sel yang berpatroli dalam sistem kekebalan tubuh menyediakan immune surveilance yang berkelanjutan bagi tubuh, menangkap dan mematikan sel yang sedang mengalami transformasi ke keganasan. Kanker berkembang saat immune surveillance ini rusak .
tanggapan kekebalan tubuh
Sering tanggapan kekebalan tubuh non-spesifik (aktivitas fagositosis, NK,
in!amasi) yang didapat saat lahir dan terjadi pada beberapa jam pertama infeksi tidak cukup mengatasi patogen sehingga penyakit terjadi dan tubuh harus menyembuhkan diri dengan mengaktivasi tanggapan kekebalan tubuh adaptif melawan patogen . tanggapan kekebalan tubuh adaptif dimediasi oleh sel limfosit. Terjadi dengan cara aktivasi,proliferasi, diferensiasi bermacam-macam sel limfosit melalui AMI (antibody mediated immune response ) atau CMI (cellmediated immune response ), memproduksi pemusnahan patogen ,
saat infeksi disembuhkan, sebagian besar antigen spesifik limfosit mengalami apoptosis, sementara sebagian kecil sel limfosit berdiferensiasi menjadi sel limfosit-memori yang berumur panjang dan tetap berada dalam sirkulasi darah untuk 10 tahunan sesudah paparan pertama oleh patogen tertentu. Bila terjadi
paparan antigen yang sama untuk kedua kalinya, antigen akan dapat dimusnahkan dengan sangat cepat (hitungan jam) dan efisien oleh sel memori ,
patogen mampu mengadakan berbagai strategi (seperti mutasi atau menurunkan sifat imunogenik antigen) untuk mengalahkan pertahanan tubuh sehingga terjadi peperangan antara penyerang dan hospes,
Ada 2 tipe tanggapan kekebalan tubuh adaptif, yaitu AMI dan CMI. Sel
dalam tanggapan kekebalan tubuh adaptif adalah limfosit (25- 30% dari populasi sel darah putih). Ada 2 macam limfosit, yaitu limfosit T dan limfosit B dengan perbandingan 1:5. Limfosit B berperan pada kekebalan tubuh yang dimediasi antibodi, AMI (antibody mediated immune tanggapanse)
Limfosit B berkembang menjadi sel kekebalan tubuh okompeten dewasa
dalam sumsum merah tulang. Tiap limfosit B mengekspresikan reseptor antigen tunggal spesifik contoh antibodi pada permukaan sel. Pada kekebalan imunitas dimediasi antibodi (AMI), ikatan antigen dengan reseptor antigen contoh antibodi pada sel B memicu aktivasi dan diferensiasi sel B menjadi sel plasma
pembentuk antibodi. Namun, aktivasi penuh dan diferensiasi sel B menjadi sel plasma sebagai tanggapan terhadap sebagian besar antigen memerlukan sinyal ko-stimulator yang dibentuk oleh interaksi sel B dengan CD4+ sel T-helper (sel T mengekspresi molekul CD4). Ikatan molekul CD154 pada CD4+ sel T ke
molekul CD40 pada sel B bersama pem bentukan sitokin (IL-5 dan IL-4 ) oleh sel CD4+ T-helper memicu aktivasi penuh dari sel B dan diferensiasi sel B menjadi sel plasma pembentuk antibodi,
Tiap sel plasma menyekresi 2000 antibodi/detik untuk .melawan antigen asal dan proses ini berlanjut sekitar 4-5 hari. Pembentukan antibodi oleh sel plasma meningkat oleh aktivasi .sitokin IL-6. Antibodi yang disekresi beredar dalam sirkulasi darah dan limfatik, terikat pada antigen asal dan menandainya
untuk dimusnahkan oleh beberapa mekanisme, termasuk aktivasi .sistem komplemen, memicu fagositosis via opsonisasi dan memediasi ADCC (Antibody Dependent Cell Mediated Citotoxicity)dengan sel efektor seperti neutrofil fil,sel makrofag, NK,
CMI (cell-mediated immune tanggapanse)
Kontras dibandingkan dengan AMI, CMI melawan patogen penyerang dengan dimediasi oleh limfosit T. Limfosit T bertanggung jawab terhadap kekebalan tubuhitas dimediasi sel (CMI) dalam melawan antigen asing. Mengembangkan tanggapan kekebalan tubuh dimediasi sel T pada antigen spesifik untuk melawan antigen tumor adalah tujuan vaksinasi kanker,
Sel T berkembang dari pra-sel T dalam sumsum tulang dan menjadi dewasa dalam timus menjadi sel T pengekspresi CD4+ atau sel T pengekspresi CD8+. Seperti sel B, aktivasi sel T yang berhasil memerlukan keberadaan 2 sinyal, sinyal pengenalan dan sinyal ko-stimulator. Sinyal pengenalan adalah pengenalan
antigen oleh reseptor antigen pada permukaan sel T yang dinamakan reseptor sel T (TCR = T-cell receptors) yang menghasilkan pergerakan sel T dari tahap istirahat (Go ) ke tahap G1 dari siklus sel. Namun, berbeda dengan sel B yang dapat langsung terikat pada antigen dengan reseptor antigen yang unik (antibodi),
TCRs pada sel T CD4+ dan sel T CD8+ hanya dapat mengenali suatu fragmen antigen yang telah diproses dan disajikan dalam hubungan dengan antigen self yang unik pada permukaan sel yang dinamakan antigen MHC (Major Histocomptability Complex),
CD8+ sel T yang mengenali antigen target, berproliferasi dan diferensiasi menjadi sel T-sitotoksik CD8+ (Tc), yang membasmi antigen target dengan mengirimkan sitokin berdosis letal (limfotoksin dan perforin) atau langsung memicu
apoptosis. Sel T pengekspresi CD4+ antigen dinamakan sel T-helper
(TH0). Ikatan antigen pada sel T-helper CD4+ memicu proliferasi dan diferensiasi sel menjadi 2 turunan sel T-helper CD4+ , yaitu sel TH 1 dan TH 2. Sel TH
1 membentuk sitokin (IL-2 dan TNF) yang menstimulasi tanggapan kekebalan tubuh dimediasi sel (CMI) melawan patogen intraselular dan sel tumor. Pembentukan sitokin oleh sel TH 1 akan membantu pemusnahan antigen target oleh sel makrofag dari sistem kekebalan tubuh non-spesifik. ini memperlihatkan
bahwa sel T-helper CD4+ adalah tulang punggung sistem kekebalan tubuh. Sel TH
2 membentuk sitokin (IL-4, IL-5, IL-6) yang berperan dalam regulasi tanggapan kekebalan tubuh dimediasi antibodi (AMI) dalam melawan antigen ekstra-selular dan patogen. Peran sel T-helper CD4+ menjadi kritis pada AIDS dimana
sel ini adalah target dari virus. Pada pasien normal, jumlah sel T-helper CD4+ dalam darah berkisar 800-1.200 sel/mm3
. Bila jumlahnya berkurang sampai di bawah 200/mm3 berarti kondisi pasien sudah mengarah ke stadium akhir dari infeksi HIV dan pasien menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik oleh mikroba dan juga kanker seperti sarkoma Kaposi atau limfoma, yang secara normal tidak terjadi pada pasien sehat. masalah AIDS mendukung pendapat yang menyatakan bahwa kekebalan tubuhosupresi dapat meningkatkan kejadian kanker. mendukung konsep bahwa
kekebalan tubuhosurveilance tubuh berperan dalam sistem pertahanan tubuh
Di samping sel T-helper CD4+ dan sel T-sitotoksik CD8+, terdapat populasi lain dari sel limfosit T yang menghambat tanggapan kekebalan tubuh dengan melepaskan inhibitor sitokin. Sel ini dinamakan sel T supresor (Ts).A
da 2 tipe utama dari sel-sel sistem kekebalan tubuh spesifik, yaitu sel
T dan sel B. Keduanya berasal dari sel-sel prekusor sumsum tulang embrionik yang direkayasa melalui timus menjadi sel T, yang melalui bursa limfatikus dalam sumsum tulang, hati, limpa, atau usus menjadi sel B.
Baik sel T maupun sel B beredar dalam darah dan jaringan limfoid seperti kelenjar limfe. Ada beberapa sel T, termasuk sel T-helper, supresor, dan killer. Sel B berkembang menjadi sel plasma yang membentuk antibodi. Sel T-helper
menjalankan sistem kekebalan tubuh dan memerintah sel-sel lain. Sesudah antigen dihasilkan oleh makrofag, sel T akan menerima atau mengikat antigen dengan suatu reseptor pada permukaan sel. Sel T yang terstimulasi akan mengeluarkan mediator kimiawi yang dinamakan linterferon ,imfokin, interleukin, Mediator ini akan mendorong proliferasi sel kekebalan tubuh. Pelepasan mediator kimiawi memicu sel B menjadi sel plasma. Sel plasma membentuk antibodi, suatu protein yang terikat pada bahan pemicu.
Antibodi dinamakan kekebalan imunoglobulin, ada dalam serum dan adalah komponen cairan humoral utama. IgG yang .adalah 80% dari antibodi tubuh, adalah kekebalan imuoglobulin yang paling banyak. Antibodi yang disekresi oleh kelenjar liur adalah IgA (13%) dan berperan dalam pertahanan permukaan mukosa. IgM (6%) adalah antibodi yang mengaktifkan sistem komplemen. IgD (1%) terlibat dalam immune tolerance. IgE (1%) terlibat dalam reaksi hipersensitivitas imediat, antibodi ini memicu sel mast melepaskan hitamin dalam
jumlah besar, memicu vasodilatasi berat. Interferon yang dilepaskan oleh sel T, akan memicu makrofag diaktivasi sedemikian rupa sehingga dapat memfagosit
lebih baik dan mematikan benda asing dengan lebih efisien. Pada saat sama , sel sel T-sitotoksik dan sel B diaktivasi. Sel-sel ini menjadi banyak dan dapat mengenali antigen pada permukaan sel .yang terinfeksi oleh benda asing. Sel T-sitotoksik menginjeksi protein ke dalam membran sel yang akan membentuk lubang dalam membran, memicu bagian dalam sel terbuka dan mematikan sel. Di samping mematikan sel-sel yang terinfeksi dengan virus, sel T-sitotoksik mematikan sel sel tumor. Tumor dapat memiliki antigen yang berbeda dari
dirinya sendiri dan sel T-sitotoksik dapat menyerang sel-sel tumor.
Sistem kekebalan tubuh pada saat serangan organisme yang pertama
akan mencapai aktivitas seluler dan humoral dalam .periode sekitar 1 minggu dan berakhir selama beberapa minggu. Dengan matinya organisme, terjadi penurunan serangan oleh sistem kekebalan tubuh ini. Sel T-supresor menghentikan sistem ini dengan .mengirimkan tanda untuk menekan aktivitas sitotoksis dan aktivitas pembentukan antibodi. Sel T-supresor ini menekan
terjadinya perubahan sel T menjadi sitotoksik dan mencegah tubuh menyerang dirinya sendiri. Sebelum sel T dan sel B hilang, terbentuk sel-sel memori yang beredar dalam darah dan sistem limfatik bertahun-tahun . Kemudian bila organisme menyerang lagi, sel-sel memori ini segera mengenali antigen
itu dan segera menyerangnya, termasuk di dalamnya adalah antibodi dalam air mata ,serum, mukus, saliva, sehingga penyerang dapat mengenalinya dari semua pintu masuk. Peran sentral pada semua tipe tanggapan kekebalan tubuh dilakukan oleh CD4+ sel T-helper. CD4+ sel T-helper yang terstimulasi oleh
antigen, berdiferensiasi menjadi turunan CD4+ sel T-helper, yaitu sel TH 1 dan TH
2. Sitokin yang dilepaskan oleh sel TH 1 membantu tanggapan
kekebalan tubuh selular dengan meningkatkan populasi sel T-sitotoksik
CD8+ dan aktivasi makrofag yang berperan dalam tanggapan kekebalan tubuh innate/non-spesi!k. Pembentukan sitokin oleh makrofag mengaktivasi proliferasi dan diferensiasi sel T-helper,
tanggapan kekebalan tubuh innate/non-khusus/alami
tanggapan kekebalan tubuh innate dimediasi oleh rangkaian kompleks
dari peristiwa selular dan molekular termasuk fagositosis, radang, Antibodi,
Antibodi dibentuk oleh sel plasma dari diferensiasi sel limfosit B. Meningkatkan fagositosis dengan opsonisasi. Menetralisasi antigen dan mengaktivasi
komplemen. Kompleks Ag/Ab dapat terikat pada sel efektor, seperti sel NK dan makrofag, memicu destruksi antigen oleh ADCC (antibody-dependent
cell mediated-cytotoxicity) Komplemen adalah lebih dari 20 glikoprotein serum yang ketika diaktivasi dapat memicu opsonisasi MHC (Major Histocomptability Complex), lisis sel, peradangan,
Molekul MHC mengikat dan menyajikan antigen peptida pada permukaan sel untuk dikenali oleh reseptor antigen spesi!k dari sel T (TCR, T cell receptor). Ada 2 kelas: MHC-I pada semua sel berinti, MHC-II pada sel kekebalan tubuh penyaji antigen CD4 adalah molekul yang diekspresikan pada sel T-helper, mengikat antigen peptida yang disajikan oleh MHC-II,
CD8 yaitu molekul yang diekspresikan pada sel T-sitotoksik mengikat antigen peptida yang disajikan oleh MHC-I aktivasi komplemen, dan sel NK. Berbeda dengan tanggapan kekebalan tubuh adaptif yang meningkat pada tiap paparan selanjutnya dengan antigen yang sama, tanggapan kekebalan tubuh innate tidak berubah saat paparan berikutnya.,
tanggapan kekebalan tubuh innate atau tanggapan kekebalan tubuh non-spesifik atau tanggapan kekebalan tubuh alami sudah ada sejak lahir dan normal yang selalu ditemukan pada tubuh sehat. tanggapan ini meliputi:pertahanan humoral, , pertahanan selular. pertahanan fisik/mekanik, pertahanan biokimia,
non-spesifik sebab tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu, telah ada, dan siap berfungsi sejak lahir. tanggapan ini adalah pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan mikroba ,Jumlahnya dapat ditingkatkan oleh infeksi, contoh sel leukosit meningkat selama tahap akut penyakit.
Sitokin yang Berperan Penting dalam tanggapan kekebalan tubuh :
--Tumor Necrosis Factor (TNF) : berasal dari sel T-helper dan sel makfrofag , Sitotoksis terhadap sel tumor. Meningkatkan aktivitas sel fagosit.
-- Limfotoksin (LT) : Disekresi oleh sel T-sitoksik membasmi sel oleh aktivasi
rangkaian enzim sel yang menginduksi endonuklease untuk mendegradasi DNA sel (apoptosis) ,
--Perforin : Disekresi oleh sel T-sitotoksik dan NK,membentuk struktur tubular yang melubangi lapisan lemak dari sel .target sehingga memicu lisis osmotis,
--IL-6 : berasal dari sel T ,sel makrofag, endotel, Berperan mensintesis protein tahap akut dalam hati. Menginduksi proliferasi sel pembentuk antibodi,
--Interferon (IFN) : memiliki aktivitas antivirus, Dibentuk oleh NK, sel makrofag, limfosit, sebagai aktivator makrofag , Berperan mengaktivasi sel NK dan meningkatkan tanggapan AMI dan CMI ,
--Transforming Growth Factor (TGFb ) : dibentuk oleh sel T dan monosit, Menghambat proliferasi sel T dan B dan menghambat aktivitas sel NK,
--IL-1 : Terutama berasal dari sel makrofag, berperan pada terjadinya demam, makrofag,aktivasi sel T,
--IL-2 : Disekresi oleh sel T-helper, ko-stimulator proliferasi sel
T-helper, sel B, sel T-sitotoksik ,mengakitvasi sel NK,
--IL-4 : Diproduksi oleh makrofag, sel T, sel B , ikut aktivasi sel B, diferensiasi sel TH2, dan supresi sel TH 1,
--IL-5 : berasal dari sel T-helper dan sel mast, mengaktivasi kemoatraksi dari eosino!l,
Sel Sistem kekebalan tubuh :
--Sel Limfosit-B (sel B) : Mengekspresikan antibodi pada permukaan sel yang
dapat berikatan dengan antigen dan berdiferensiasi menjadi sel plasma sebagai sel pembentuk antibodi,
--Sel Plasma : Bentuk limfosit-B yang menyekresi antibodi.
--Sel T sitotoksik (Sel T-Killer, Sel Tc) : Turunan sel limfosit-T (CD8+) yang mengenali antigen asing (yang diekspresikan pada sel dan yang berikatan
dengan molekul MHC-1) dan membasminya dengan melepaskan sitokin perforin dan limfotoksin. Sel T sitotoksik melepas sitokin lain yang menstimulasi
fagositosis dan menghambat replikasi virus
--Sel T-helper (Th, T4):
Turunan sel limfosit-T (CD4+) yang membentuk sitokin untuk menstimulasi tanggapan kekebalan tubuh yang dimediasi sel (CMI) dan tanggapan kekebalan tubuh yang dimediasi antibodi (AMI),
--Sel T-memori : Berkembang sesudah paparan pertama oleh antigen tertentu. Menetap dalam sirkulasi dan mengenali antigen semula sampai bertahun-tahun sesudah paparan pertama dan menanggapi dengan cepat pada paparan kedua dan selanjutnya,
--Sel T-supresor : Sel yang menurunkan tanggapan kekebalan tubuh,
--Fagosit : mencerna dan memakan patogen (fagosi￾tosis), contoh: makrofag, neutrofil fil ,
--Antigen ,Presenting Cells : Memproses dan menyajikan antigen ke limfosit-T,
contoh: sel dendritik, makrofag, sel B,
--Sel Natural Killer (NK) : membasmi sel tumor dan sel terinfeksi virus, adalah
sel limfosit namun bukan sel limfosit-B dan T, kurang memori.
Fungsi Komponen Sistem Kekebalan Tubuh
1. Fungsi Leukosit
a. Fagositosis
Fagositosis adalah proses pencernaan partikel (dalam ukuran yang dapat terlihat oleh mikroskop cahaya) oleh sel., komponen komplemen (contoh C5a), dan sitokin tertentu, Fagositosis adalah proses multitahap dengan sel fagosit memakan infeksi, Fagositosis dilakukan dalam fagosom, suatu vakuola yang struktur membrannya tidak jelas dan berisi bahan patogen,
Sistem kekebalan tubuh melakukan opsonisasi, yaitu melapisi patogen dengan suatu molekul antibodi atau protein komplemen yang membuat fagosit bisa mengikat dan mencerna patogen itu. Selanjutnya proses diteruskan dengan penyatuan membran plasma sel fagosit dengan permukaan mikroorganisme. terjadi perluasan membran plasma (pseudopodia) dan sel fagosit menelan patogen. Terbentuk fagosom (vakuol fagosistik) yang menyatu dengan lisosom sehingga patogen dapat dicerna oleh enzim pencernaan yang sesuai (contoh lisosim) dan bahan kimiawi bakterisidal. Saat mikroba dapat dicerna, mikroba ini akan dibunuh. Fagosit membasmi bakteri dengan 2 mekanis￾me, yaitu mekanisme non oksidatif dan mekanisme berdasar reduksi oksigen yang dinamakan mekanisme oksidatif ,Mekanisme oksidatif memerlukan adanya oksigen, potensi oksidasi reduksi. Mekanisme ini tidak optimal dilakukan di daerah krevikular gingiva. Jadi, fagosit juga harus memiliki mekanisme pembunuh bakteri dengan mekanisme non-oksidatif. neutrofil tidak
memerlukan oksigen untuk energi dan dapat berfungsi dalam kondisi anaerob. Mekanisme non-oksidatif memerlukan penyatuan lisosom dan fagosom membentuk fagolisosom yang memproduksi sekresi komponen lisosom ke dalam fago lisosom. neutrofil memiliki 2 macam granula atau lisosom ,
Granula yang pertama adalah granula untuk sekresi ekstraselular dan intrafagolisosom dan yang ke dua adalah granula azurol terutama untuk sekresi in trafagolisosom. Bahan yang dicerna dikeluarkan dari sel (eksositosis).
monosit atau makrofag .yaitu sel yang efisien dalam fagositosis sehingga dinamakan fagosit profesional. Fagositosis oleh neutrofil lebih bersifat primitif dibandingkan fagositosis .oleh makrofag dalam sistem kekebalan tubuh. Sel fagosit tertarik ke tempat infeksi oleh proses kemotaksis. Contoh faktor
kemotaksis adalah produk dari mikrobial, sel jaringan dan leukosit yang rusak,
Contoh sel fagosit adalah sel makrofag,neutrofil , monosit, Seperti tipe lain dari sel darah putih, sel fagosit berasal dari sel pumca (stem) pluripoten dalam
sumsum merah tulang. neutrofil ,
b. Kemotaksis
saat leukosit memasuki jaringan ikat, sel ini bermigrasi dan menempati jaringan yang terluka.
Contoh Kemotaksin untuk neutrofil !l
Kemotaksin Sumber
neutrofil phil chemotactic factor ----- Sel mast
IL-1 ----- Sel B, makrofag
IFN ----- Sel T yang teraktivasi
N-formyl-methionyl peptides----- Bakteri
TNF ---- Makrofag/monosit
IL-8 ---- neutrofil !l (PMN), endotel
Platelet activang factor ---- Banyak sel
Leukotrin B4
C5a ----- Serum/plasma
Fagosit hanya merasakan sedikit bahan kimiawi .yaitu kemotaksin sebab memiliki reseptor kemotaksin. Reseptor untuk kemotaksis adalah protein yang tergolong dalam famili protein-G.
ini bisa terjadi oleh kemotaksis yang .bergantung pada kemampuan leukosit untuk merasakan gradien kimiawi yang melintasi badan sel dan bermigrasi
ke arah yang lebih tinggi konsentrasi kimiawinya,
c. Pemprosesan dan penyajian antigen
Molekul MHC
Molekul MHC adalah suatu tempat pada lengan pendek kromosom 6 (6p21.3) yang mengode beberapa molekul termasuk molekul MHC kelas I, II, dan III yang
terlibat dalam penyajian pengikatan antigen, pemprosesan,
Ada 2 jenis molekul self-MHC yang dinamakan HLA (Human Leucocyte Antigen), yaitu molekul MHC kelas I dan molekul MHC kelas II , Semua sel memproses dan menyajikan antigen yang berasal dari sel (antigen intrasel) pada molekul MHC
kelas I. Molekul MHC kelas I ada pada semua sel tubuh kecuali pada sel eritrosit, Molekul MHC kelas I menyajikan antigen intrasel TCR pada sel T CD8+, dan
sel NK. Molekul MHC kelas III yaitu faktor komplemen C4,B, C2,
Antigen yang berasal dari sumber di luar sel disajikan oleh sel penyaji antigen khusus (APC, Antigen Precenting Cell) pada molekul MHC kelas II. Ada 3
APC khusus, yaitu derivat monosit,sel B, sel dendritik periferal, Molekul MHC kelas II ada .hanya pada permukaan sel penyaji antigen (APC,
Antigen Presenting Cell) seperti sel dendritik,sel makrofag, sel B, Molekul MHC kelas II berperan dalam penyajian antigen eksogen ke reseptor sel .T pada sel T-helper CD4+. Sel-sel ini khusus menyajikan antigen ke sel T CD4+yang mengenali antigen pada molekul MHC kelas II. sebab CD4+ sel T mengendalikan proliferasi sel T lain dan sel B. Sel penyaji antigen khusus memproses antigen dan mengekspresikannya pada molekul MHC kelas II (contoh HLA-DR ,HLA-DP, HLA=DQ ). Antigen ekstrasel ini diproses oleh fagositosis dan memproduksi molekul peptida pada molekul MHC kelas II di permukaan sel, .Molekul MHC kelas I, II dan III pada pasien bersifat pleomorfik berdasar adanya variasi gen tertentu. Ini memicu antigen yang terikat pada molekul MHC kelas I dan II seseorang belum tentu terikat pada pasien lain. Adanya pleomorfik adalah faktor
pertimbangan ada tidaknya penolakan dalam transplantasi sehingga ada istilah histokom pafitibilitas. Bila jaringan donor tidak cocok dengan MHC,
akan terjadi bermacam-macam antigen baru yang dikenali sebagai patogen dan jaringan donor ditolak oleh kekebalan tubuh,
Sesudah pengikatan fragmen komplek antigen MHC pada TCR, sel T menjadi aktif hanya bila menerima sinyal kedua (sinyal ko-stimulator). Sinyal kedua ini
penting untuk aktivasi penuh sel T dengan cara: membuat sel T resisten terhadap apoptosis (kematian sel yang terprogram), meningkatkan regulasi reseptor faktor pertumbuhan pada sel T sehingga menstimulasi proliferasi sel T, dan mengurangi jumlah waktu yang diperlukan untuk menstimulasi proliferasi sel T.
Molekul ko-stimulator adalah molekul adhesi sel yang membuat 2 sel melekat satu dengan yang lain untuk periode lama dan memicu proliferasi dan diferensiasi sel T. Contoh: aktivasi dan diferensiasi sel T CD4+ menjadi sel T-helper memerlukan ikatan molekul CD28 pada CD4+ sel T ke molekul
CD80/CD86 yang tersaji pada APC, memproduksi pembentukan IL-2, ekspresi Il-2, progresi siklus sel, dan proliferasi sel T teraktivasi, Pengenalan antigen oleh
reseptor antigen pada sel limfosit dalam absennya sinyal ko-stimulator memicu tidak terbentuknya sitokin .yang memproduksi suatu keadaan yang dinamakan
anergi (keadaan tidak adanya tanggapan kekebalan tubuhologi) atau .memicu meningkatnya apoptosis, Berbeda dengan sel T-helper CD4+, aktivasi penuh
sel T-sitotoksik melawan sel target dipicu oleh ikatan molekul CD2 pada CD8+ sel T dengan molekul CD58 sel target dan dengan interaksi LFA-1 (Lymphocyte
Functional Antigen-1) pada sel T dengan molekul adhesi interselular-1 (ICAM-1, Intercellular Adhesion Molecule 1) pada sel target2. neutrofil !l dan Monosit/Makrofag neutrofil dan monosit adalah sel fagositik dari leukosit.
Perbedaan keduanya adalah monosit keluar dari sumsum
tulang sesudah 2 hari dalam keadaan yang relatif tidak dewasa
dan berdiferensiasi dalam jaringan sedang neutrofil mengalami diferensiasi hampir lengkap dalam sumsum tulang selama 14 hari,
neutrofil memiliki lisosom dalam sitoplasmanya, maka neutrofil tidak perlu mengalami diferensiasi untuk melakukan fungsinya, sel ini cocok untuk tanggapan segera. neutrofil mengadakan tanggapan cepat terhadap infeksi,
neutrofil dinamakan PMN (leukosit polimorfonuklear) dan adalah sel leukosit terbanyak dalam darah, yaitu dua per tiga populasi leukosit (4000-8000 sel/mm3
). Keduanya berukuran sama (diameter 10µm) dan berada dalam darah,
neutrofil berumur pendek (1-5 hari). saat neutrofil meninggalkan darah, sel ini selalu mempertahankan ukurannya yang kecil maka dinamakan mikrofag,
Dalam menaggapi infeksi, sumsum tulang membentuk neutrofil 1-2x1011 per
hari. Jumlah neutrofil tidak berkurang seiring dengan bertambah usia,
neutrofil memiliki reseptor untuk metabolit dari molekul komplemen C3 dan
membentuk reseptor komplemen 1,3,4 (CR1, CR3, CR4).
Reseptor-reseptor ini membuat neutrofil dapat ikutserta dalam menanggapi radang dan mencerna molekul asing , sel asing patogen dalam proses fagositosis, neutrofil hanya memfagosit patogen yang kecil seperti virus atau bakteri,
Makrofag membasmi agen infeksi melalui beberapa mekanisme, seperti sekresi molekul yang sangat banyak, contoh nya interferon (antivirus) atau lisosim (antibakteri) dan membentuk produk yang mengandung klorin, radikal oksigen, asam nitrat,
monosit dianggap sebagai makrofag , saat sel ini meninggalkan darah. Monosit menyempurnakan diferensiasinya dalam jaringan lokal dan diameter nya menjadi lebih besar dari 22 µm, didesain sebagai makrofag, Kontras dengan neutrofil makrofag dalam jaringan yang berasal dari darah, menanggapi lebih lambat
rangsang kemotaktik, namun lebih efisien dalam .mefagosit sisa jaringan patogen yang masih hidup dan yang sudah mati. Makrofag adalah bagian non-spesifik dari sistem kekebalan tubuh yang memusnahkan organisme asing ,
Makrofag hidup menetap dalam jaringan tertentu (sel kupffer dalam hati, mikroglia dalam otak) atau bergerak ke seluruh tubuh untuk mencari patogen (makrofag patroli), Makrofag yang teraktivasi membentuk sitokin (IFN,IL-1, IL-8, TNF ) yang menstimulasi tanggapan in!amasi dan menambah tentara dari sel kekebalan tubuh dan molekul ke tempat infeksi agar lebih efektif memusnahkan patogen pe nyerang , makrofag mengalami diferensiasi dan hidup dalam
jaringan lokal, sel ini cocok untuk berkomunikasi dengan limfosit dan sel lain di sekitarnya. Makrofag hidup lama bertahun tahun untuk menyajikan antigen ke
sel T. Sangat penting dalam aktivasi tanggapan kekebalan tubuh adaptif
melawan patogen dengan menyajikan fragmen antigen yang diproses pada permukaan selnya yang berhubungan dengan molekul MHC-II, ke CD4+ limfosit-T, memicu aktivasi CD4+ limfosit T-helper, sehingga terjadi stimulasi tanggapan
kekebalan tubuh humoral dan selular melawan patogen,
Monosit/makrofag memiliki reseptor CR5a, CR1, CR3, CR4, limfosit dan Makrofag membentuk tanggapan in!amasi kronis,beberapa kelas dari reseptor Fc dan molekul penting dalam penyajian antigen (reseptor MHC kelas I dan CD1). Begitu makrofag mencerna organisme, bagian dari organisme yang teridentifikasi (sebagai antigen), tampak pada permukaan makrofag pada MHC. Antigen ini berfungsi sebagai marker yang kemudian memberi tanda pada sel T
yang mengenal penyerangnya,
1. Interleukin
IL-10 dan TGF, adalah kekebalan imunosupresan, menghambat tanggapan sitotoksis sistem kekebalan tubuh (sel makrofag dan sel T ) terhadap antigen tumor dan agen infeksi. Obat yang memblok aksi kekebalan imunosupresi IL-10 dan TGF pada sistem kekebalan tubuh merupakan substansi yang berperan dalam terapi kanker pasien. Obat yang menstimulasi fungsi IL-10 dan TGF,
untuk menekan tanggapan kekebalan tubuh patologis seperti pada penolakan transplantasi,penyakit autoimun tubuh, alergi, Ada 22 interleukin (IL-1 sampai IL-22). IL-1, disekresi oleh makrofag dan monosit, menstimulasi tanggapan in!amasi dan mengaktivasi limfosit. IL-2, diproduksi oleh limfosit T-helper, menstimulasi proliferasi dari T-helper, T-sitotoksik dan
limfosit-B, dan mengaktivasi sel NK.
2. Interferon
berbagai sel tubuh yang mengandung inti dan dilepas sebagai tanggapan
terhadap infeksi virus. INF berperan dalam antivirus, menginduksi sel di sekitar sel terinfeksi virus, menjadi resisten terhadap virus, menyingkirkan sumber infeksi tanggapan kekebalan tubuh ,mengaktifkan sel NK untuk memusnahkan sel terinfeksi virus, Interferon adalah sitokin berwujud glikoprotein yang diproduksi oleh: makrofag yang diaktifkan, sel NK,
3. Limfosit
3 jenis limfosit dibedakan berdasar pada reseptor antigennya, menjadi limfosit-B, dan sel pembunuh alami (NK, natural killer) dan limfosit-T, Dalam darah, sel T. dan sel B bersifat tidak aktif dan berukuran kecil (8-10 µm), .Sel NK dapat berdiferensiasi secara luas dalam sumsum tulang dan tampak dalam darah sebagai suatu limfosit besar bergranular, Dengan diameter >15 µm, sel menjadi lebih besar dari sel leukosit lainnya dalam darah,
Limfosit-T (sel T)
Limfosit-T mengenali berbagai antigen dengan memakai kompleks transmembran aktifitas lemah yaitu reseptor antigen sel T (TCR, T-cell antigen receptor). Antigen dikenali oleh sel T dalam kaitannya baik dengan molekul
MHC kelas II maupun MHC kelas I. Sel T dibagi berdasar adanya ko-reseptor CD4 atau CD8. Ko-reseptor CD4 terikat secara reversibel untuk molekul MHC kelas II (HLA-DQ,HLA-DR, HLA-DP, ) yang ada pada sel dendritik,
makrofag, dan sel B.CD4+ sel T mengawali dan membantu tanggapan kekebalan tubuh dalam melakukan proliferasi dan membedakan sinyal. Ko reseptor CD8 untuk molekul MHC kelas I yang berada pada semua sel, CD8+ sel T terutama adalah sel T sitotoksik yang terlibat dalam pengendalian antigen intrasel (contoh , virus,bakteri, fungi, hifa jamur, ),Pengaktifan limfosit-T sama dengan limfosit-B. Limfosit ini memiliki reseptor permukaan untuk antigen, membentuk sel T-memori dan limfokin (untuk menanggapi rangsangan antigen), memiliki kekebalan imunoglobulin permukaan dalam jumlah lebih sedikit,Limfosit-T adalah 80-90% limfosit darah tepi, yang tetdapat di area parakorteks kelenjar limfe.
Limfosit-B (sel B)
Limfosit-B membantu mengendalikan antigen ekstraselular, seperti virus ,bakteri, jamur, Limfosit-B mengenali antigen yang bermacam macam dengan memakai reseptor antigen sel B (BCR, B-cell antigen receptor) yang adalah reseptor antigen beraktifitas kuat. Sel B berikatan dengan reseptor permukaan IgM, IgD untuk mengikat antigen sehingga terjadi proliferasi limfosit-B, membentuk ekspansi klonal. Interaksi anitas kuat antara BCR dan antigen mampu membuat sel B mengikat dan mencerna antigen tanpa menyajikan antigen. Dengan kata lain, antigen terikat kuat tanpa terekspresi. Sebelum antigen terekspresi, sel B mengekspresikan IgM sebagai bagian dari BCR. Antigen yang dicerna didegradasi dan disajikan pada sel T, Sesudah paparan antigen, limfosit-B berdiferensiasi membentuk sel plasma untuk membentuk dan menyekresi antibodi dari isotipe IgM.,Limfosit-B ada dalam pulpa putih , limpa, sumsum tulang, folikel limfoid, adalah 10-20% limfosit darah perifer. Namanya berasal dari bursa of fabricus (organ burung yang terlibat dalam pembentukan produksi limfosit-B),
Sel B memori meningkatkan populasi sel plasma saat paparan kedua dari antigen dan memproduksi antibodi beranitas kuat dengan isotipe yang sesuai,
Limfosit-B lainnya, dengan adanya sel T dapat berdiferensiasi melalui jalur
memori, membentuk limfosit B-memori. Sel B memori bertanggung jawab untuk tanggapan antibodi sekunder.
4. Antibodi
IgA adalah antibodi dalam saliva, untuk menghalangi perlkatan bakteri ke epitel mulut, gastrointestinal,faring,
IgG adalah pertahanan utama terhadap mikroorganisme dan toksin. IgM adalah antibodi pertama yang disekresikan untuk rangsangan antigen IgD, sebagai reseptor antigen di permukaan limfosit. IgE sangat sedikit dalam serum, berpartisipasi dalam reaksi hipersensitivitas tipe I. Antibodi adalah protein (kekebalan imunoglobulin). Dihasilkan oleh sel plasma yang berasal dari diferensiasi sel B dan proliferasi yang terjadi setelah kontak dengan antigen. berdasar kegunaannya, adalah antibodi netralisasi yang berfungsi untuk melapisi bakteri dengan opsonin untuk membantu proses
fagositosis antibodi dengan mengikat bakteri, untuk melawan toksin,
5. Sel Pembunuh Alami (NK)
Sel NK memiliki beberapa kelas reseptor antigen, termasuk KAR (Killer
Activating Receptors), dan KIR (Killer Inhibitory Receptors) , Reseptor-reseptor ini mengenali antigen yang berhubungan dengan molekul MHC kelas I,
molekul MHC kelas I atau suatu glikoprotein permukaan lainnya.Sel normal memiliki molekul MHC kelas I yang menyajikan antigen yang dikenali sebagai self yang berinteraksi dengan KIR dan melindungi sel dari pembunuhan yang dimediasi sel NK. Perubahan antigen yang disajikan oleh molekul MHC kelas I terjadi pada sel tumor dan sel yang terinfeksi virus, memicu aktivasi sel NK sebab
KIR tidak mendeteksi self antigen. Selain itu, sel dapat menyajikan self antigen sebagai tanggapan terhadap stres atau perubahan lainnya, yang dikenali oleh KAR. Aktivasi KAR mengacuhkan inhibisi KIR dan memicu sel NK membasmi sel target,
Sel NK menginduksi ADCC (antibody-dependent cell mediatedcytotoxicity) pada sel target dengan mengikatnya pada bagian Fc antibodi. Contohnya, protozoa dan cacing terlalu besar untuk dimakan oleh sel fagosit sehingga perlu diliputi oleh antibodi saat sisi antigen dari antibodi (contoh , IgG1 dan IgG3
pasien) terikat pada antigen itu sehingga bagian Fc antibodi yang bebas dapat terikat pada reseptor Fc dari sel NK dan terjadi pembunuhan sel secara langsung oleh ADCC,Tidak seperti limfosit-T atau limfosit-B, sel NK kurang kurang memori, namun dapat menginduksi lisis spontan dari sel terinfeksi virus dan sel tumor dengan menyekresi perforin dan enzim litik lainnya.
Sel NK adalah subpopulasi limfosit yang berperan dalam kekebalan tubuh alami dengan melepas sitokin (IFN dan TNF) dan memediasi efek sitotoksis dalam sel target , Sel NK mengenali dan membasmi sel yang terinfeksi virus dan sel tumor tertentu ,Jumlah NK meningkat seiring bertambahnya usia, namun kapasitas toksisitasnya menurun seiring bertambahnya usia, yang memicu menurunnya tanggapan sitotoksisitas terhadap antigen pada infeksi atau sel tumor pada usia tua ,
6. Komplemen
Komplemen adalah suatu rangkaian interaksi dari sekitar 30 membran yang berhubungan dengan reseptor sel dengan glikoprotein serum yang larut, Komponen larut dari sistem ini berjumlah sekitar 5% (3-4 mg/mL) dari total protein serum. Sebagian besar komponen yang larut disintesis dalam
hati, namun banyak juga yang dibentuk oleh makrofag contoh ,
C1-INA, Faktor D, Faktor H,C1, C2, C3, C4, C5, Faktor B,
C3 adalah komponen dari komplemen komponen terbesar, yaitu sekitar sepertiga total komplemen, Komponen larut dari sistem komplemen pertama kali dilihat ketika memicu bakteriolisis dan sitolisis dalam hubungannya dengan tidak adanya antibodi dan adanya antibodi (suatu komplemen dari antibodi) , Efek ini menjadi terkenal dan mewakili hanya 1 fungsi dari komplemen. Sistem komplemen berperan dalam memusnahkan mikroba selama tanggapan kekebalan tubuh adaptif dan innate ,
Komplemen yaitu protein yang bila diaktifkan akan melindungi terhadap infeksi dan berperan dalam tahap in!amasi dengan berperan sebagai: opsonin untuk meningkatkan fagositosis; faktor kemotaksis; melisis bakteri dan parasit.
7.Sitokin
sistem kekebalan tubuh selular maupun humoral dikoordinasi oleh sitokin (60 sitokin). Sitokin terbagi dalam beberapa famili, termasuk tumor necrosis factor, colony stimulating factor, kemokin,interleukin, interferon, yang mengatur migrasi sel di antara dan .di dalam jaringan.Sitokin adalah protein hormon yang lebih terlokalisasi dibandingkan hormon endokrin dan dapat menstimulasi atau menghambat fungsi normal sel,
Ada 3 jalur aktivasi komplemen, dua di antaranya diinisiasi oleh mikroba dalam keadaan tidak adanya antibodi, jalur ini dinamakan jalur alternatif atau jalur lectin. Jalur ketiga diinisiasi oleh isotipe antibodi tertentu yang melekat pada antigen, pengaktifan jalur ini dinamakan jalur klasik.
Beberapa protein dalam sistem komplemen berinteraksi .dalam sekuen yang tepat. Protein komplemen yang dalam jumlah besar di dalam plasma dinamakan C3, berperan dalam ketiga jalur pengaktifan di atas. C3 secara .spontan terhidrolisis dalam plasma dengan kadar rendah namun produknya tidak stabil dan cepat hilang. Jalur alternatif terpicu saat produk pecahan hidrolisis C3 yang dinamakan C3b dideposit pada permukaan mikroba. .Di sini, C3b membentuk ikatan kovalen yang stabil dengan protein atau polisakarida mikroba yang melindunginya dari pengrusakan selanjutnya. C3b dicegah untuk berikatan stabil
dengan sel hospes normal oleh beberapa protein regulator yang berada pada sel hospes dan tidak ditemukan pada mikroba. Mikroba yang terikat dengan C3b menjadi substrat bagi pengikatan protein lain, dinamakan faktor B, yang
dipecahkan oleh protease plasma untuk membentuk fragmen Bb. Fragmen ini tetap melekat pada C3b dan kompleks C3bBb secara enzimatik memecahkan lebih banyak C3 sebagai suatu jalur alternatif konvertasi C3 sehingga aktivitas
konvertasi ini membentuk lebih banyak molekul C3bBb dan C3b ,
Sistem komplemen adalah komponen pusat dari tanggapan in!amasi yang memicu leukosit dan endotel mengenali kemudian mengikat erat substansi asing dalam keadaan kekurangan reseptor, Sistem komplemen mengandung rangkaian protein tidak aktif dalam darah dan dapat diaktivasi sesudah
pengikatan antibodi pada bakteri dan sel asing lain atau dengan jalur alternatif dengan melibatkan kapsul polisakarida bakteri. Sekali diaktivasi, sistem komplemen membentuk sejumlah protein aktif yang dapat meningkatkan
in!amasi dan fagositosis dan memicu lisis sel ,
Komplemen memicu in!amasi dengan membentuk:
* Fragmen C3b adalah opsonin yang menyelubungi permukaan sel patogen, Opsonin C3b terikat pada agregasi molekul, partikel atau sel, yang membuat
fagosit mampu mencernanya. Sel fagosit (neutrofil,makrofag, monosit, memiliki reseptor C3b yang membasmi patogen dengan memicu fagositosis ,
* C8, C9,C5b-C6, C7 berperan dalam memicu lisis sel dengan membentuk kompleks dengan membran yang diserang,
* Kemotaksin, C5a yang menarik leukosit dan menstimulasi sekresi fagosit,
* Molekul yang dinamakan analatoksin, C3a, dan C5a memproduksi analaksis dengan menginduksi sekret sel mast,
* Substansi vasoaktif yang dinamakan kinin-like, C2a, yang meningkatkan permeabilitas dan pelebaran pembuluh darah,menginduksi sakit,
* C5a,C3a, C4a, meningkatkan reaksi in!amasi dengan cara menstimulasi pelebaran arteri, pelepasan histamin oleh sel mast dan basoil, dan kemotaksis
sel neutrofil ,