Seorang laki-laki dibentuk melalui beberapa proses yang mulanya ditentukan saat fertilisasi. Kromosom seks hasil fertilisasi menentukan gonad yang akan dibentuk (pada laki-laki yaitu testis). Selanjutnya, pembentukan sistem saluran, kelenjar aksesoris, dan organ genital eksterna dipengaruhi oleh fungsi gonad melalui kerja beragam hormon.
PENENTUAN SEKS
Jenis kelamin manusia sudah ditentukan sejak terjadinya fertilisasi. bila spermatozoa yang memiliki 22 autosom dan satu kromosom seks X
(biasanya ditulis sebagai 23,X) membuahi oosit sekunder maka akan terbentuk personal baru dengan kromosom 46,XX yang normalnya akan menjadi wanita. bila spermatozoa yang membuahi mengandung 22 autosom dan satu kromosom (biasanya ditulis sebagai 23,Y) maka personal baru yang terbentuk yaitu 46,XY yang akan menjadi seorang laki-laki . Sebuah bagian pada kromosom Y bertanggung jawab dalam pembentukan laki-laki . Bagian ini awalnya dinamakan testis determining region (TDF) lalu dinamakan sex determining region on the Y chromosome
(SRY) maka ketiadaan SRY pada personal
46,XY menimbulkan fenotip wanita (46,XY female) dan keberadaan SRY pada personal 46,XX dapat menimbulkan fenotip laki-laki (46,XX male). riset membuktikan bahwa penambahan Sry pada tikus dapat memicu tikus XX berkembang menjadi jantan
EMBRIOLOGI TESTIS
Gonad dibentuk dari tiga sumber, yaitu
--. ektoderm berupa sel germinal primordial.
Mesotelium berproliferasi dan mesenkim yang menyertainya berkondensasi membentuk genital ridge, sebuah tonjolan jaringan medial
terhadap mesonefros.
--. mesotelium (epitel coelomic) yang melapisi dinding posterior perut ,
--. mesenkim yang mendasari (berasal dari intermediate mesoderm), Epitel genital ridge membentuk proyeksi mirip jari ke dalam mesenkim, yang dinamakan korda seks primer Korda seks primer melakukan penetrasi mesenkim sehingga gonad membentuk bagian korteks dan medula. Pada minggu ketiga, sel germinal bermigrasi dari yolk sac menuju genital ridge. Dari minggu keempat hingga kedelapan, sel germinal
ini akan bersatu dan membentuk calon gonad
Pada manusia, SRY diekspresikan dari masa embrionik hari ke-41, memuncak singkat sesudah nya dan tetap hadir dengan kadar yang rendah
di luar embriogenesis . Untuk itu, embrio manusia belum dapat dibedakan jenis kelaminnya hingga minggu ke6 dan gonad yang sudah terbentuk sebelumnya masih bersifat bipotensial. Maksudnya, gonad memiliki potensi menjadi testis maupun ovarium.Pada akhir minggu ke6, SRY menginduksi peningkatan ekspresi SOX9 (SOX9 merupakan target SRY baik secara langsung maupun
tidak langsung). Selain SRY, riset hewan membuktikan bahwa Sf1 juga diperlukan untuk upregulation Sox9 SF1
(NR5A1) diekspresikan pada gonad bipotensial sebelum onset SRY. SF1 dapat melakukan ”upregulation” ekspresi SRY. Bersama dengan SOX9, SF1 mengatur tingkat ekspresi anti mullerian hormone (AMH). Inisiasi SRY kepada SOX9 dilanjutkan pada ekspresi fibroblast growth factor
9 (FGF9) yang ada pada prekursor sel Sertoli. FGF9 berfungsi menjaga ekspresi SOX9 dan menahan ekspresi WNT4. FGF9 merupakan faktor
pertumbuhan yang terlibat dalam beragam proses perkembangan seperti proliferasi sel, survival, migrasi, dan diferensiasi selama perkembangan
embrio. FGF9 pada bipotensial gonad berperan dalam perkembangan sel Sertoli Sementara dengan ditahannya ekspresi WNT4 maka jalur perkembangan ovarium ditiadakan. maka gonad
bipotensial berkembang menjadi testis.
Gambar Gonad bipotensial yang memiliki SRY akan menginduksi SOX9 yang akan meningkatkan ekspresi FGF9. SOX9 dan FGF9 saling memberi stimulasi dan memicu perkembangan sel Sertoli. Keduanya juga akan menekan ekspresi WNT4 sehingga jalur pembentukan ovarium tidak terjadi. maka , gonad bipotensial akan berkembang menjadi testis.
Pada embrio 46,XY, untuk membentuk testis, medula berkembang menjadi testis dan korteks akan mengalami regresi, sedang pada embrio
46,XX korteks berkembang dan medula yang akan mengalami regresi sehingga terbentuk ovarium Underlying mesenkim akan berproliferasi dan berkondensasi membentuk lapisan fibrous tebal yang dinamakan tunika albuginea. Tunika albuginea memisahkan korda seks dengan
epitel coelomic. Tunika albuginea juga membentuk septa fibrous, membagi testis menjadi 200–300 kompartemen. Tiap kompartemen mengandung dua hingga tiga korda seks. Korda seks akan membentuk tubulus semineferus yang ujung bebasnya saling berkaitan membentuk rete testis. Rete testis akan bergabung dengan sisa tubulus mesonefros (duktuli eferentes). Sebagian sel yang ada pada korda seks juga akan membentuk sel Sertoli, mesenkim yang berada di genital
ridge akan membentuk sel Leydig, sementara sel germinal primordial di dalam tubulus seminiferus akan berkembang menjadi spermatogonia.
Organ genital interna laki-laki antara lain sistem saluran ditambah kelenjar aksesorisnya. Pada minggu ketujuh, saluran reproduksi masih bersifat bipotensial. Meskipun mesonefros mengalami
regresi, tubulus mesonefros tumbuh menuju gonadal ridge dan saling berkaitan . Sistem saluran kedua yaitu duktus paramesonefros (muller) yang berasal dari invaginasi epitel coelomic pada bagian lateral gonadal ridge.
Sel Sertoli akan menghasilkan anti-mullerian hormone (AMH)/Mullerian inhibiting substance (MIS) yang akan berperan pada regresi duktus Muller secara ipsilateral. Akibat regresi ini, pada laki-laki hanya ada sisa duktus muller berupa apendiks testis dan utrikulus prostatikus.
Sel Leydig yang terletak di luar tubulus akan menghasilkan testosteron dan insulin-like hormone 3 (INSL3). Testosteron yang terbentuk oleh sel Leydig selama organogenesis “berkomunikasi” dengan dua cara, yaitu endokrin
(disekresikan ke aliran darah) dan eksokrin (menuju duktus Wolfii) Duktus wolfii mengalami pajanan testosteron konsentrasi tinggi untuk
menjaga persistensinya dan membentuk duktus eferen, duktus epididimis, vas deferens, duktus ejakulatorius, dan vesikula seminalis.
Kadar testosteron di dalam darah terlalu kecil untuk bekerja secara endokrin. Untuk itu, testosteron perlu direduksi oleh enzim 5-alfa reduktase menjadi Dihidrotestosteron (DHT). Dihidrotestosteron mampu mengikat
reseptor androgen 5–10 kali lebih kuat dibandingkan dengan testosteron
. Sinus urogenital pada laki-laki akibat pengaruh DHT akan membentuk uretra, prostat, dan kelenjar bulbouretralis. DHT tidak hanya dapat dihasilkan dari reduksi testosteron (jalur klasik/
front door), namun juga melalui substrat lainnya (jalur alternatif/back door). AKR1C2 yaitu gen yang mengkode produksi enzim yang ikutserta
dalam jalur alternatif pembentukan DHT ini. mengidentifikasi mutasi AKR1C2 pada empat personal 46,XY dengan gangguan perkembangan
seks (DSD). personal -personal yang terkena, mengalami penurunan maskulinisasi tingkat sedang hingga berat saat lahir. Mutasi AKR1C2 pada kedua alel mengonfirmasikan peran penting AKR1C2 dan menguatkan hipotesis bahwa jalur klasik dan alternatif biosintesis androgen testis
diperlukan untuk pembentukan organ seks laki-laki normal
EMBRIOLOGI ORGAN GENITAL EKSTERNA
Organ genital eksterna tidak berdiferensiasi hingga minggu kedelapan. Awalnya calon genitalia eksterna mengandung genital tubercle genital di tengah dan dikelilingi oleh lipatan genital dalam dan luar (inner dan outer genital fold).
Di antara inner genital fold ada urethral plate dan sinus urogenital. DHT merangsang pertumbuhan genital tubercle menjadi penis bersamaan dengan
pertumbuhan perineum membungkus sinus urogenital, sedang kanalisasi urethral plate untuk membentuk uretra. Pada bagian anterior penis ada garis sisa penyatuan yang dinamakan raphe penis. Fusi outer genital fold (dinamakan
juga labioscrotal swelling) membentuk skrotum. Di tempat penyatuan skrotum ada garis persatuan yang dinamakan raphe scrotum.
PENURUNAN TESTIS KE SKROTUM
normalnya testis terletak di dalam skrotum. Mekanisme perpindahan testis dari perut ke dalam skrotum melalui dua tahap , yaitu
tahap trans-abdominal dan tahap inguinoskrotal
Antara minggu ke-8 dan 15, INSL3 menstimulasi pertumbuhan gubernakulum yang akan menahan testis di rongga pelvis saat perut membesar. Pembesaran gubernakulum menahan testis di lokasi terbentuknya anulus inguinalis profunda saat rongga perut bertumbuh. sebab proses
ini bersifat pasif, kejadian testis terletak di dalam perut sangatlah jarang. Di saat yang bersamaan, testosteron memicu regresi ligamentum
suspensorium kranial. Pada minggu ke-25 hingga 35, testosteron menstimulasi gubernakulum
untuk tumbuh keluar dari dinding perut dibimbing oleh nervus genitofemoralis yang mengeluarkan neurotransmiter dari ujung saraf sensorisnya untuk gradien kemotaksis yang diikuti oleh gubernakulum. Prosesus vaginalis dan otot kremaster tumbuh di dalam gubernakulum.
Sesudah berada di dalam skrotum, gubernakulum akan menciut. Tekanan intra-abdominal dan penciutan gubernakulum memicu testis masuk
ke dalam skrotum. Proses ini lebih kompleks dibandingkan tahap pertama sehingga kegagalannya lebih sering.
MASA PRAPUBERTAS
Siklus hidup manusia dapat dibagi menjadi lima tahap: (1) intrauterin, yaitu embrio dan janin, (2) masa bayi dan balita , (3) pubertas dan
remaja, (4) awal dan dewasa menengah, dan (5) akhir dewasa dan usia tua. Masa bayi dan balita untuk selanjutnya diistilahkan sebagai masa
pra pubertas. Tahapan ini ditandai dengan pertumbuhan fisik yang lambat namun
berlangsung terus-menerus. Sepanjang masa ini organ genital baik eksterna maupun interna tetap imatur. Pertumbuhan organ genital seirama dengan pertumbuhan fisik biasanya . Pertumbuhan dan perkembangan organ
genitalia yang lambat ini disebabkan oleh rendahnya hormon testosteron pada masa ini.
LETAK TESTIS
saat kelahiran, testis belum berada di dalam skrotum pada sekitar 3-4% dari laki-laki (30% pada bayi baru lahir prematur). Pada usia satu tahun,
sekitar 0,8% dari laki-laki masih memiliki testis dalam rongga panggul dan 0,3%, testis gagal turun saat spermatogenesis seharusnya dimulai (sekitar
usia 10 tahun). Kegagalan penurunan testis unilateral sekitar lima kali lebih sering bila dibandingkan kegagalan penurunan bilateral.
Proses spermatogenesis memerlukan suhu 3,1°C (5,6°F) lebih rendah dibandingkan di dalam rongga perut. Jika spermatogenesis dimulai sedang
testis tetap dalam rongga tubuh (kriptorkismus), kerusakan akibat suhu dapat terjadi pada sel germinal testis, namun sel Sertoli dan sel Leydig dapat bertahan. maka laki-laki ini infertil namun struktur seks sekundernya tetap berkembang sebab sekresi androgen dari sel Leydig tetap normal. Infertilitas pada laki-laki dengan kriptorkismus bilateral 3,5 kali lebih sering dibandingkan kelompok kriptorkismus unilateral, dan 6 kali lebih sering bila dibandingkan
dengan populasi umum , Kriptorkismus perlu diterapi secara dini di awal masa balita
sebab kecenderungannya untuk membentuk jaringan kanker dan meningkatkan kemungkinan infertilitas. Pembedahan atau pengobatan
dengan gonadotropin atau gonadotropin-releasing hormone (GnRH) dapat dilakukan untuk menurunkan testis. Efektivitas terapi hormonal ini masih menjadi kontroversi. Sebuah sistematic review menandakan bahwa terapi hormonal berkhasiat yang sedikit lebih baik dibandingkan plasebo, sementara orkidopeksi berkhasiat yang baik. pemakaian terapi hormonal hanya disarankan pada beberapa masalah dengan lokasi awal testis yang rendah , Riwayat kriptorkismus berkaitan dengan penurunan fertilitas di masa
depan. Namun, orkidopeksi pada usia yang lebih dini dapat meningkatkan fertilitas. sebab itu, saat ini terjadi kecenderungan untuk segera melakukan
orkidopeksi pada usia yang lebih muda, European
Association of Urology menyarankan pembedahan harus diselesaikan pada usia 12 bulan atau terakhir 18 bulan , sementara American
Urological Association menyarankan pembedahan dilakukan dalam satu tahun pada bayi yang tidak mengalami penurunan testis spontan hingga usia
6 bulan (dikoreksi dengan usia kehamilan)
MASA PRAPUBERTAS
UKURAN TESTIS
Tubulus seminiferus di testis seorang laki-laki yang baru lahir lebih banyak berisi spermatogonium dan sel Sertoli. Beberapa sel Leydig hadir saat lahir, namun pada usia enam bulan sel-sel ini hampir tidak terlihat di testis. Pada awal kehidupan postnatal, ukuran testis akan meningkat secara perlahan namun terus-menerus. Spermatogonium hanya mengalami proliferasi
mitosis dan berkontribusi kecil terhadap pertumbuhan ini. Berbeda dengan saat pubertas, terjadi peningkatan yang bermakna pada ukuran testis sebab semua bagian testis berkontribusi untuk meningkatkan ukuran testis. Akibat
rangsangan gonadotropin, sel Sertoli aktif bermitosis . Pembelahan ini akan berhenti saat sel germinal mengalami meiosis. Tubulus
seminiferus yang awalnya solid mengalami kanalisasi, sel Sertoli intratubular meningkatkan aktivitas dan ukuran testis. Volume sebuah testis pada anak usia satu tahun sekitar 0,7 ml, delapan tahun sekitar 0,8 ml, dan saat pubertas sekitar 3,0 ml. sedang volume testis dewasa yaitu sekitar 16,5
ml, berarti terjadi peningkatan volume sekitar 24 kali lipat.
KADAR HORMON PREPUBERTAS
Pulse generator GnRH berkembang dan mulai berfungsi pada trimester pertama kehidupan janin. Kadar gonadotropin pada janin cukup tinggi,
kadang mencapai kadar dewasa dan puncaknya pada pertengahan kehamilan. hormon ini menginduksi produksi testosteron oleh testis yang
sedang berkembang sehingga terjadi diferensiasi seks dari saluran reproduksi, genitalia eksterna, dan otak. lalu pada kehamilan, tingginya tingkat
steroid yang dihasilkan oleh plasenta dan gonad menghambat hipotalamus dan hipofisis dengan umpan balik negatif, mengurangi GnRH janin dan
konsentrasi gonadotropin. Saat lahir, hilangnya umpan balik negatif testosteron mengaktifkan
kembali hipotalamus dan hipofisis. Dalam beberapa menit dari kelahiran, kadar LH meningkat pada bayi laki-laki dan tetap tinggi sampai sekitar usia enam bulan. maka testosteron juga meningkat. Tingginya kadar hormon gonadotropin dan steroid gonad dalam beberapa bulan pertama
sesudah kelahiran kadang-kadang dinamakan sebagai “pubertas mini bayi”. Kadar testosteron ini tampak meningkat selama dua sampai empat bulan awal kehidupan seorang bayi; testosteron postnatal ini mungkin diperlukan untuk
perkembangan normal dari penis dan skrotum. Bayi laki-laki menandakan puncak testosteron plasma postnatal dengan konsentrasi 2–3 ng/ml hingga 3 bulan Sesudah kelahiran, namun menurun sekitar 0,5 ng/ml dalam 3–4 bulan.
Gambar Kadar beberapa hormon pada laki-laki prapubertas
golongan usia : A (n = 6), 1–7 hari; B (n = 5), 1 minggu–2 bulan; C (n = 6), 3–4 bulan;
D (n = 5), 5–11 bulan; E (n = 5), 1–2 tahun; F (n = 5), 3–4 tahun; G(n = 5), 5 tahun
hingga onset pubertas.
Tanda bintangmenandakan kemaknaan statistik dibandingkan dengan golongan
usia sebelumnya *, p < 0,05; **, p < 0,01; ***, p < 0,001
MASA PRAPUBERTAS
seperti testosteron, kadar inhibin B meningkat dengan kadar puncak pada usia sekitar 3–4 bulan. ada korelasi positif yang bermakna antara kadar inhibin B, gonadotropin, dan testosteron selama
dua tahun kehidupan. Sesudah peningkatan ini, kadar inhibin B menurun secara bermakna dan tetap rendah hingga pubertas Selain menghasilkan inhibin B, selama masa prapubertas sel Sertoli terus menghasilkan anti-Müllerian hormone (AMH) dan saat pubertas kadar AMH
akan menurun secara drastis. Sesudah kenaikan awal sekresi hormon reproduksi, kadar FSH dan LH
menurun dan tetap rendah selama masa balita yang dinamakan juga “juvenile pause”. Kadar hormon ini tidak cukup tinggi untuk memulai fungsi gonad pada anak-anak.
Hormon lain menandakan peningkatan kadar darah saat prapubertas laki-laki. Growth hormone (GH) disekresikan oleh kelenjar hipofisis anterior
dalam jumlah yang lebih besar mendekati pubertas dan bertanggung jawab bersama dengan androgen untuk pertumbuhan tulang panjang dan jaringan
lainnya. GH juga berefek besar pada sintesis protein dan peningkatan kadar gula darah. Anak-anak dengan kekurangan GH menandakan
tertundanya kematangan seks dan perawakan pendek. Peningkatan sekresi hormon tiroid dapat memicu peningkatan metabolisme pada kedua
jenis kelamin. Hormon tiroid juga penting untuk pertumbuhan fisik
MASA PUBERTAS
Kata pubertas berasal dari “pubes” kata Latin yang berarti “rambut”. Pubertas yaitu keadaan transisi yang meliputi semua perubahan fisiologis,
morfologis, dan perilaku yang terjadi pada personal dari yang tidak subur berkembang menjadi subur (dewasa). Secara morfologis, proses ini termasuk
perubahan internal dan eksternal ciri-ciri seks primer dan sekunder. Bila pada wanita menarche menjadi sebuah tanda yang jelas dari terjadinya
pubertas, sedang tanda tahap yang sama pada anak laki-laki yaitu ejakulasi pertama, yang sering terjadi nokturnal yang dinamakan “mimpi
basah”.
ONSET PUBERTAS
Manusia mengalami pubertas jauh sesudah kelahirannya. Sebagian besar wanita menjadi subur antara 12–14 tahun, pada spesies non-primata pubertas terjadi jauh lebih awal, antara lain 6–7 bulan di domba betina, 12 bulan pada sapi, 7 bulan di babi, dan 30–35 hari pada tikus.
National Health and Nutrition Examination Survey III (NHANES III) di Amerika melaporkan rata-rata usia 10,1 tahun bagi anak laki-laki kaukasian
memasuki G2 (Tinggaard et al., 2012). Pada anak laki-laki di Turki, G2 terjadi
pada usia rata-rata 11,76 + 1,28 tahun dan G5 pada usia 13,87 + 0,83 tahun
Sementara riset di Thailand menandakan G2 terjadi pada usia rata-rata 11,3 + 1,3 tahun dan G5 terjadi pada usia 14,5 ± 0,9 tahun maka dapat disimpulkan bahwa pubertas laki-laki tidak dimulai pada usia kronologis ataupun memerlukan jangka
waktu yang sama untuk mencapai penyelesaiannya.
Meskipun dimulai dan memerlukan rentang waktu yang berbeda, urutan perubahan pada pubertas tidak banyak beragam . Beberapa tahun
sebelum tanda-tanda yang jelas dari pematangan seksual, serangkaian perubahan lain di sebagian besar organ dan struktur tubuh dimulai 2–4 tahun
sebelum terjadinya ejakulasi pertama. Perubahan ini tergantung dan diatur oleh peningkatan kadar steroid seks dari gonad (gonadarche).
MASA PUBERTAS
usia onset pubertas pada beberapa negara dengan marker klinis yang berbeda-beda. rata-rata usia mencapai stadium 2 genital atau volume testis minimal 4 ml (bola merah) dan rata-rata usia mencapai stadium 2 rambut pubis
(bola abu) pada anak laki-laki kaukasian. Ukuran bola menandakan jumlah relawan , contoh Swedia (SWE) 166 anak dan Islandia (ISL) 2.751 anak. Hanya riset cross-sectional dengan jumlah relawan lebih dari 100 anak. *Volume testis
minimal 3 ml
MEKANISME PEMICU PUBERTAS
Selama masa balita pematangan seksual mengalami penekanan. Lepasnya penekanan ini memicu terpicunya pubertas. ada dua teori
mengenai proses penekanan dan pemicu munculnya pubertas, yang pertama melibatkan perubahan pada “gonadostat” otak dan yang kedua yaitu “central drive hypothesis”. Pada teori gonadostat, androgen mengerahkan umpan balik negatif pada produksi GnRH dari hipotalamus anak, memicu sangat rendahnya kadar GnRH. Akibatnya FSH dan LH ikut menjadi rendah. sudah
dihipotesiskan bahwa hipotalamus anak yaitu 6–15 kali lebih peka terhadap umpan balik negatif steroid dibandingkan orang dewasa. Oleh sebab
itu, walaupun kadar androgen rendah pada anak-anak, namun kadar itu cukup efektif menghambat sekresi GnRH dan gonadotropin. Pubertas
dimulai akibat kepekaan hipotalamus terhadap umpan balik negatif steroid berkurang. Artinya, set point untuk umpan balik negatif meningkat sehingga diperlukan konsentrasi hormon steroid yang lebih tinggi dalam darah untuk
menurunkan sekresi gonadotropin dari kelenjar hipofisis anterior. Jadi, meskipun terjadi peningkatan sirkulasi steroid sebab meningkatnya sekresi gonadotropin, kadar steroid ini tidak cukup tinggi untuk memblokir kenaikan sekresi gonadotropin. Namun, ada kelemahan pada teori ini, anak yang lahir tanpa gonad (kurang steroid untuk umpan balik negatif) ternyata tetap berkadar gonadotropin yang sangat rendah selama masa balita dan sekresi GnRH tetap terjadi pada usia normal pubertas. Bukti yang semakin berkembang menandakan bahwa perubahan kritis yang memicu onset pubertas yaitu lepasnya inhibisi pusat terhadap pulse generator GnRH. Menurut hipotesis ini, pulse generator GnRH secara aktif dihambat oleh area lain dari otak selama masa balita . Penghambatan ini dihilangkan pada masa pubertas, memungkinkan hipotalamus untuk menghasilkan GnRH dalam pola dewasa. Selain hambatan, tidak adanya stimulasi terhadap neuron GnRH juga bisa menjadi dasar dari belum
terjadinya pubertas. Teori ini dinamakan “central drive hypothesis”. Teori ini didukung oleh fakta lesi atau tumor dari area otak tertentu pada tikus
betina memicu pubertas dini, yang menandakan bahwa area -area otak tertentu biasanya menghambat sekresi GnRH sampai pubertas. Neuron yang mensekresi GABA dan neuropeptide Y diduga berperan untuk menekan sekresi GnRH selama masa balita . maka perubahan
di otak dapat melepaskan penghambatan pulse generator GnRH pada awal pubertas. namun apa yang mengendalikan waktu pubertas masih merupakan misteri. faktor dari lingkungan dapat mempengaruhi waktu dimulainya pubertas.
Kisspeptin dan GPR54 merupakan bagian penting dari jalur mengendalikan sekresi GnRH. GPR54 yaitu reseptor Kisspeptin yang merupakan produk dari KISS1R. masalah tertunda atau tidak terjadinya pubertas sudah dikaitkan dengan lesi genetik yang menonaktifkan KISSPEPTIN 1
(KISS1) atau pada gen KISS1R Selain itu,
mutasi baik KISS1 atau KISS1R yang mengaktifkan keduanya, sudah ditemukan pada anak-anak dengan pubertas prekoks
MASA PUBERTAS
Di dalam hipotalamus, ada dua populasi neuron penghasil kisspeptin. Populasi yang lebih besar terletak di nukleus arcuatus (ARC),
mengekspresikan ERα, neurokinin B, dan dynorfin A. Neuron ini diistilahkan
dengan neuron KNDγ sebab mengekspresikan kisspeptin, neurokinin, dan dynorfin pada tikus dan domba.Populasi kedua tidak mengekspresikan
neurokinin dan dynorfin, ditemukan pada nukleus anteroventral periventrikular (AVPV) dan meluas sepanjang ventrikel ketiga hingga ke nukleus periventrikular (PVN). Kedua populasi neuron kisspeptin bersinapsis ke neuron GnRH, namun neuron di ARC juga bersinapsis secara ekstensif di
dalam ARC,
PERUBAHAN FISIK SELAMA PUBERTAS
Pada masa remaja, terjadi percepatan pertumbuhan (growth spurt) yang diikuti oleh perlambatan di sebagian besar dimensi tulang. Peristiwa ini dapat dibagi menjadi tiga tahap: (1) waktu kecepatan pertumbuhan minimum
(minimum growth velocity/MGV); (2) puncak kecepatan tinggi (peak height velocity/PHV); dan (3) waktu kecepatan pertumbuhan menurun dan
berhentinya pertumbuhan pada fusi epifisis. Anak laki-laki mulai percepatan pertumbuhan mereka sekitar 2 tahun lebih lambat dibandingkan rata-rata
anak wanita . sebab itu, mereka lebih tinggi pada usia MGV dan saat mencapai PHV mereka nanti. Pada G2 dan G3, kadar testosteron pagi antara
2,4–4,2 nmol/l berkaitan dengan 50% peningkatan kecepatan pertumbuhan dari pertumbuhan prapubertas menuju PHV, Hampir setiap dimensi otot dan rangka terlibat dalam percepatan
pertumbuhan remaja laki-laki dan wanita . Namun, terjadi perbedaan perkembangan regional pada kedua jenis kelamin sehingga meningkatkan
dimorfisme seksual pada orang dewasa, contoh di bahu (yang lebih besar pada anak laki-laki) dan pinggul (lebih besar pada anak wanita ).
tahap pertumbuhan dinamis ini tergantung pada steroid seks dan hormon pertumbuhan.
seperti pertumbuhan, perubahan yang cukup besar dalam komposisi tubuh terjadi selama masa pubertas. Lean body mass dan lemak tubuh prapubertas hampir identik pada kedua jenis kelamin, namun laki-laki dewasa memiliki sekitar 1,5 kali lean body mass dibandingkan wanita ,
sementara wanita memiliki dua kali lebih banyak lemak tubuh dibandingkan laki-laki. Selain itu, massa tulang laki-laki yaitu 1,5 kali dari
wanita . Perubahan massa tubuh ini dimulai sekitar usia 6 tahun pada wanita dan 9 tahun pada laki-laki dan menampilkan perubahan awal
komposisi tubuh saat pubertas. Kekuatan rata-rata laki-laki yang lebih besar dibanding dengan wanita mencerminkan jumlah sel-sel otot yang lebih
banyak sebab efek anabolik androgen.
MASA PUBERTAS
Tabel Komposisi tubuh wanita 18 tahun dan laki-laki 15 tahun dengan tinggi dan berat yang sama
Variabel wanita laki-laki
Tinggi (cm) 165,0 165,0
Total cairan tubuh (l) 29,5 36,0
Lean body weight (kg) 41,0 50,0
Lemak (kg) 16,0 7,0
Lemak/berat tubuh (%) 28,0 12,0
Total cairan tubuh/berat (%) 51,8 63,0
PERKEMBANGAN CIRI SEKS PRIMER
Testis tumbuh seperti sudah dijelaskan pada bahasan perkembangan masa prapubertas. Demikian pula skrotum dan penis laki-laki puber tumbuh secara bermakna. Frekuensi ereksi spontan, yang terjadi pada bayi dan bahkan
pada janin laki-laki, meningkat selama masa pubertas. Ereksi ini dapat dianggap mengganggu bagi personal atau orang tuanya. Frekuensi baik ereksi spontan dan emisi nokturnal cenderung menurun sesudah pubertas. Mimpi basah dimulai pada laki-laki puber. Emisi ini cenderung terjadi saat tidur atau tepat sesudah bangun. Ejakulasi awal laki-laki puber (selama emisi nokturnal, masturbasi, atau koitus) relatif masih bebas spermatozoa, namun selalu ada kemungkinan ada beberapa spermatozoa subur di dalamnya.
Ejakulasi pertama ini tidak menandakan kesuburan sebab ejakulat terdiri dari sedikit seminal plasma dan spermatozoa. Peristiwa dramatis ini
yaitu tanda bahwa testis sudah “terbangun” dan sedang memulai memangku aktivitas testis dewasa.
PERUBAHAN CIRI SEKS SEKUNDER
Terjadi perkembangan ciri sekunder pada masa pubertas, contoh pubis, pertumbuhan janggut, dan perubahan suara. Rambut pubis berkembang,
rambut juga muncul di ketiak, wajah, dada, dan ekstremitas. Kelenjar keringat berkembang di ketiak dan dapat menghasilkan bau sebab adanya bakteri dalam sekresinya yang berminyak. Kelenjar sebasea menjadi aktif pada kulit skrotum, wajah, punggung, dan dada; jerawat muncul pada beberapa personal . Pada laki-laki puber, puting menjadi berpigmen dan areola gelap dan melebar
Pita suara dalam laring dua kali lipat lebih panjang pada laki-laki pubertas sehingga menurunkan nada suara. Dalam dunia musik, Cooksey
mendefinisikan enam pola perkembangan suara pada pubertas (C staging) berdasar rentang nada menyanyi dan tessitura (rentang nada tengah yang
paling nyaman untuk bernyanyi) menemukan perubahan sifat suara yang mendadak di antara tahap Tanner G3 dan G4. Perubahan ini terjadi secara gradual pada tahap C3 hingga C5 dengan memakai C staging. Mereka
menyimpulkan ada korelasi antara perubahan suara dan volume testis.
MASA PUBERTAS
PERUBAHAN HORMONAL MASA PUBERTAS
Perubahan endokrin yang terdeteksi awal sehubungan dengan pubertas yaitu peningkatan progresif konsentrasi androgen adrenal di dalam plasma, terutama dehidroepiandrosteron (DHEA) dan dehidroepiandrosteron sulfat (DHEAS). Kenaikan ini dinamakan adrenarche dan terjadi pada usia 8–15 tahun. Kepentingan adrenarche pada pubertas tidak jelas. Kondisi ini tampaknya tidak menjadi penting untuk kejadian pubertas, namun mungkin menjadi penanda
berakhirnya periode pertumbuhan otak yang cepat.
Pubertas melibatkan peningkatan pelepasan GnRH, gonadotropin, dan steroid seks dari hipotalamus, hipofisis, dan gonad. Peristiwa paling penting
dalam inisiasi pubertas yaitu aktivasi hipotalamus untuk mensekresi GnRH, melewati sistem portal ke hipofisis dan bekerja pada reseptor GnRH agar
hipofisis melepaskan gonadotropin lalu merangsang gonad. Selama tahap balita sekresi gonadotropin dan kadarnya di dalam darah sangat rendah. Pada periode G1 (akhir prapubertas) dan G2 (awal pubertas) terjadi peningkatan kadar FSH dan LH. Kadar FSH menjadi landai pada G4 dan sedikit penurunan pada G5 Hal ini dapat terjadi sebab selama G1 dan G2, inhibin-B yang diproduksi oleh sel Sertoli dan memiliki peran
autokrin dan parakrin dalam pertambahan dan diferensiasi sel Sertoli, Leydig, dan spermatogonia. Pada tahap selanjutnya, inhibin B diproduksi
oleh sel germinal bersama sel Sertoli dan bertindak secara endokrin sebagai umpan balik terhadap FSH (Radicioni et al., 2005). Meskipun ada peran
sel germinal dan sel Leydig dalam produksi inhibin-B, namun kemaknaannya masih kontroversial dan sel Sertoli harus tetap dianggap sebagai sumber
utama inhibin-B, LH menstimulasi sel Leydig untuk menghasilkan testosteron sehingga
peningkatan kadar LH selama pubertas akan diikuti oleh peningkatan kadar testosteron. Peningkatan ini terjadi pada setiap tahap pubertas hingga
dewasa. bahwa terjadi variasi kadar hormon dalam satu hari. Awalnya sekresi hormon gonadotropin terjadi pada malam hari saat tidur. Pada akhir pubertas, denyut LH siang juga meningkat, namun kurang dari denyut yang terjadi di malam hari, sampai akhirnya pola dewasa dengan kadar basal yang lebih tinggi dicapai tanpa variasi denyut sepanjang hari. Testosteron disekresikan dengan pola diurnal pada anak laki-laki baik prapubertas maupun pubertas. Kadar terendah diperoleh pada sore hari dan kadar tertinggi ditemukan pada pagi hari sekitar jam 6 pagi Kadar estradiol baru menunjukan pola diurnal
MASA PUBERTAS
pada pertengahan pubertas dengan kadar puncak pada jam 6 pagi Gambar Kadar rata-rata hormon harian dari 12 anak laki-laki sehat sepanjang
pubertas. Pada riset ini tahap pubertas dibagi menjadi prapubertas 1 (volume testis 1 atau 2 cc), prapubertas 2 (volume testis 3 cc), pubertas awal (volume testis 4–9 cc), Mid-pubertas (volume testis 10–15 cc), dan pubertas akhir volume testis > 16 cc)
PERUBAHAN PERILAKU
Remaja harus menyesuaikan diri dengan perubahan fisiologis, anatomi, dan transformasi psikologis yang luar biasa selama proses pubertas. Tubuh mereka berubah dengan cepat dan maka citra tubuh mereka (bagaimana mereka memandang tubuh mereka terutama dalam hubungan terhadap tubuh teman-temannya) juga berubah. Semua penyimpangan tubuhnya dari apa yang mereka atau temannya anggap normal dapat
memicu rendah diri. Seseorang yang mengalami pubertas lebih dini atau terlambat dibandingkan teman-temannya dapat mengalami masalah
psikologis. Seorang laki-laki dapat khawatir dengan ukuran penis atau fisiknya jika tidak dalam kriteria normal. Selain itu, pertumbuhan otak turut terjadi pada masa ini. Peningkatan substantia grisea di beberapa area otak, diikuti oleh kematian sel neuron. Remodeling otak ini terutama jelas pada lobus frontal, yaitu area otak yang terlibat dalam mengatur emosi dan perencanaan atau tindakan pengorganisasian dan menghambat perilaku impulsif. Masa pubertas terjadi bersamaan dengan masa remaja, periode menuju dewasa, saat banyak pembelajaran sosial berlangsung. Panjang periode ini ditentukan secara sosial maupun biologis. Selama masa remaja, mereka
harus belajar mencapai tingkat ekonomi dan emosional dewasa, dalam rangka pemisahan dari keluarga (menjadi mandiri), mengembangkan tujuan kerja yang realistis, dan “berdamai” dengan seksualitas yang muncul. Sehubungan
dengan seksualitas, mereka harus menerima fantasi seksual, ambivalensi tentang hubungan seksual, yaitu kekhawatiran tentang kecukupan seksual, kebingungan tentang cinta, dan kekhawatiran tentang penyakit menular
seksual. Selain itu, mereka harus mencapai penyesuaian itu dalam publik yang mengharapkan perilaku orang dewasa dari mereka namun sering tidak memperlakukan mereka sebagai orang dewasa. maka masa ini yaitu pengesahan untuk pemahaman dan fleksibilitas manusia yang kebanyakan remaja menjadi dewasa, yaitu anggota publik yang memiliki kemampuan.
Semua perubahan ini dapat membuat remaja mengalami masa kekacauan perilaku. Sebagai contoh, remaja dapat terlibat dalam perilaku
lebih berisiko, berkonflik dengan orang tua mereka, dan lebih rentan pada tekanan dari sesama. Beberapa masalah kesehatan mental seperti depresi, konflik, perubahan suasana hati, dan niat bunuh diri meningkat. Sejauh mana remaja menjadi dan tetap bermasalah beragam , tergantung dengan budaya dan keadaan personal .
KLASIFIKASI TAHAP PUBERTAS
Perubahan selama masa pubertas berguna bagi dokter untuk dapat mengkaji remaja dan menentukan tahapan pubertas yang dialami seseorang. Untuk tujuan ini, beberapa sifat anatomi yang berubah dalam berbagai tahapan sudah digolongkan ke dalam lima tahap seperti
dikemukakan oleh Tanner. Perubahan ini meliputi pertumbuhan dan perkembangan pubis dan genital (penis, skrotum, dan testis) pada laki-laki, dan pubis dan payudara pada wanita .
MASA PUBERTAS
Tabel Tahap Tanner pada laki-laki versi awal
Tahap Pubis
Genital
Penis Skrotum (testis)
1 balita (tidak ada) balita balita
2 Hanya sedikit, panjang,
sedikit berpigmen, lurus
atau sedikit keriting tumbuh
hanya di pangkal penis
- Skrotum dan testis
membesar, tekstur
skrotum berubah,
nampak kemerahan
pada kulit putih
3 Lebih gelap, mulai
mengeriting, mulai tumbuh
melewati simfisis pubis
Memanjang Lebih besar
4 Menyerupai tipe dewasa
(kasar dan kering), namun
dalam jumlah yang kurang.
Membesar Semakin besar, kulit
skrotum menjadi
gelap
5 Distribusi dewasa; menyebar
ke permukaan medial paha.
Dewasa Dewasa
Metode Tanner sudah dipakai untuk tahap pubertas sejak 1969 . Namun, metode Tanner memiliki keterbatasan sebab metode ini bergantung pada pengamatan hanya sedikit dari
sifat seksual sekunder. Salah satunya yaitu perkembangan payudara pada wanita . Pada obesitas, pengamatan payudara tanpa palpasi, mungkin tidak akurat. Selain itu, tahap Tanner pada awalnya hanya berdasar perkembangan anak kulit putih. Lebih baik untuk menyertakan ras dan etnis
lainnya dalam metode identifikasi pubertas. Dengan perkembangan ilmu kedokteran, tahap Tanner lalu mengalami beberapa rekayasa dalam
penilaiannya.
Tabel Tahap Tanner pada laki-laki
Tahap Pubis
Genital
Penis Testis
T1: Prapubertas
akhir
P1: Tidak ada G1: Prapubertas < 3 cc
T2: Pubertas awal P2: Hanya sedikit,
panjang, sedikit
berpigmen
G2: Sedikit
membesar
3 cc
T3: Mid pubertas
awal
P3: Lebih gelap, mulai
mengeriting
G3: Penis semakin
memanjang
4–9 cc
T4: Mid pubertas
lanjutan
P4: Menyerupai tipe
dewasa (kasar
dan kering), namun
dalam jumlah
yang kurang.
G4: Lebih besar;
luas glans
meningkat
10–15 cc
T5: Pubertas akhir/
dewasa
P5: Distribusi dewasa;
menyebar ke
permukaan medial
paha.
G5: Dewasa > 15 cc
(diadaptasi dari berbagai sumber)
KECENDERUNGAN MENURUNNYA ONSET PUBERTAS
Usia menarche pada wanita biasanya menandakan penurunan yang stabil dengan laju sekitar tiga bulan per dekade selama 150 tahun terakhir. Namun tingkat penurunan ini sekarang tampaknya melambat. Data Eropa menandakan bahwa wanita pada pertengahan abad kesembilan belas memasuki menarche pada usia 16–17 tahun dibanding dengan saat ini sekitar usia 13 tahun. Di Amerika Serikat, rata-rata usia menarche yaitu 14,2 tahun pada tahun 1900, namun saat ini diperkirakan 12,7 tahun. Saat ini, pada beberapa gadis, munculnya perkembangan payudara terjadi sejak usia delapan tahun; sebelumnya, perkembangan seksual pada usia ini dianggap pubertas
MASA PUBERTAS
prekoks. Rata-rata usia perkembangan pubertas pada anak wanita kulit putih di Amerika Serikat dimulai sebelum usia 10 tahun dan pada anak
wanita kulit hitam sebelum usia sembilan tahun. Fenomena ini dinamakan “kecenderungan sekuler” onset pubertas. riset onset pubertas anak laki-laki jauh lebih sedikit dibandingkan wanita . Oleh sebab itu, kecenderungan sekuler onset pubertas anak laki-laki kurang dipelajari dan belum dapat dipastikan. Di Belanda, dalam riset tentang pematangan pubertas antara tahun 1965 dan 1997, tidak ditemukan adanya kecenderungan sekuler sesudah tahun 1980. Volume
testis 4 ml dicapai pada usia 11,5 tahun . Di Athena, tidak ditemukan perubahan menonjol dalam usia pencapaian G2 antara
tahun 1996 dan 2007–2009, yaitu 11,4 dan 11,3 tahun, Sementara pada tahun 2012, data dari jaringan Pediatric Research in Office Setting menyatakan bahwa pertumbuhan testis dan perkembangan rambut kemaluan yaitu 6 bulan sampai 2 tahun lebih awal dari pada masa
sebelumnya riset dari Kopenhagen, Denmark
menandakan penurunan onset pubertas sebesar 3 bulan antara periode tahun
1991–1993 dan 2006–2008, yaitu dari 11,92 menjadi 11,66 tahun
Faktor lingkungan yang mempengaruhi fisiologi anak juga dapat mempengaruhi waktu pematangan seks dan pubertas. Dari sekian banyak
faktor yang mungkin, nutrisi, panjang hari, stres, iklim, dan interaksi sosial sudah diteliti. Namun, sangat sulit untuk memisahkan efek satu faktor
lingkungan dari faktor-faktor lainnya. Sebagian besar pembahasan yang disajikan pada bahasan berikut ini lebih banyak dari sumber wanita
sebab sumber laki-laki belum terlalu banyak.
1. Makanan
Apa yang bertanggung jawab untuk penurunan usia pubertas? Beberapa bukti menandakan bahwa peningkatan gizi dan kesehatan di masa kecil
merupakan salah satu faktor. wanita di negara-negara dengan gizi yang lebih buruk cenderung memperlihatkan pubertas relatif tertunda. Bahkan,
kelaparan akut mencegah pubertas. Rendahnya nutrisi di area pedalaman hutan hujan
dibandingkan dengan area perkotaan, di kelas sosial yang lebih rendah, dan dalam keluarga yang lebih besar dapat menjelaskan usia lanjut di pubertas terlihat dalam kelompok ini.
Hal ini juga diketahui bahwa gadis-gadis remaja dengan anoreksia nervosa, yaitu gangguan asupan makanan yang sangat kurang, mencapai
pubertas pada usia yang relatif terlambat, seperti yang ditemukan pada atlet wanita yang ramping dan penari balet.Bagaimana nutrisi mempengaruhi mekanisme untuk mengatur awal pematangan seksual? Salah satu dugaan yaitu bahwa beberapa lemak diperlukan dalam tubuh wanita sebelum menarche dapat terjadi. Diduga bahwa wanita harus berada pada berat badan kritis sekitar 45 kg (104 lb) dan 11 kg (24 lb) harus merupakan lemak (17%) sebelum pematangan seks dapat dimulai. Meskipun ada banyak kontroversi tentang hipotesis ini, namun jelas bahwa status gizi yang memadai diperlukan untuk inisiasi pubertas sehingga memiliki terlalu sedikit lemak dapat menunda menarche. Mungkin, melalui seleksi alam, wanita terlibat dalam mekanisme untuk
memastikan bahwa mereka sudah memiliki cukup energi yang tersimpan untuk melahirkan dengan sukses. Gadis gemuk cenderung mencapai pubertas pada usia lebih awal dari gadis-gadis lain, dan epidemi obesitas sudah dikutip sebagai kemungkinan pemicu pubertas dini pada anak wanita (namun tidak di anak laki-laki). Jika berat badan kritis atau massa lemak penting yang diperlukan untuk memasuki pubertas, bagaimana alur sinyal metabolisme dari sistem reproduksi untuk melanjutkan perkembangan pubertas?
Satu sinyal yang diusulkan yaitu protein yang dinamakan leptin, yang diproduksi oleh sel adiposa. Kadar leptin meningkat untuk menekan nafsu makan melalui umpan balik negatif ke hipotalamus. Tikus yang kekurangan gen untuk leptin makan dengan lahap dan mengalami obesitas. Tikus-tikus ini juga infertil, namun jika leptin diberikan, kesuburan mereka dipulihkan.
Manusia yang kekurangan kemampuan untuk menghasilkan leptin atau reseptornya dapat gagal untuk memasuki pubertas. Sebaliknya, anak-
anak kelebihan berat badan, yang berkadar leptin lebih tinggi dibandingkan anak-anak dari berat rata-rata, cenderung memasuki pubertas lebih awal dari sebaya mereka yang ramping. Hal ini terutama berlaku untuk anak wanita yang kelebihan berat badan. maka kadar ambang
MASA PUBERTAS
leptin mungkin diperlukan untuk inisiasi pubertas. Hal ini mungkin membantu menjelaskan mengapa wanita penderita gizi buruk seperti penderita anoreksia nervosa, yang berkadar leptin yang sangat rendah, sering tertunda pubertasnya. ada laporan masalah laki-laki dewasa (22
tahun) dengan mutasi LEP mengalami hipogonadisme dan tidak munculnya
ciri seks sekunder, Pada anak laki-laki dan wanita ,
tingkat sirkulasi leptin meningkat sebelum masa pubertas. sebab protein pengikat leptin berkurang dalam darah selama akhir masa balita ,
bioavailabilitas leptin dapat meningkat secara dramatis. Reseptor leptin ditemukan di hipotalamus dan hipofisis dan sel gonad, dan riset menandakan bahwa leptin meningkatkan laju pulse GnRH. Pada orang
dewasa, kadar leptin lebih tinggi pada wanita dibandingkan pada laki-laki, dan perbedaan ini tetap terjadi sampai usia tua. personal dengan kelebihan berat badan memiliki tingkat sirkulasi leptin yang sangat tinggi, namun peningkatan ini tidak menghasilkan pengurangan asupan kalori atau meningkatkan metabolisme. Ada kemungkinan bahwa personal obesitas mengalami resistansi leptin. Lebih banyak pekerjaan akan diperlukan untuk menemukan bagaimana molekul ini mempengaruhi interaksi antara berat badan, lemak tubuh, dan status reproduksi. Meskipun leptin mungkin berefek permisif pada perkembangan pubertas, kadar leptin yang tinggi tidak cukup untuk memulai
pubertas prekoks. Faktor metabolik lain yang terkait dengan status gizi dan/atau obesitas dapat mempengaruhi waktu pubertas. contoh , resistansi
insulin dan peningkatan sekresi insulin yaitu komponen fisiologis normal pubertas. Pada anak wanita yang kelebihan berat badan atau
obesitas, memicu peningkatan sekresi insulin secara berlebihan, dan peningkatan tanggapan insulin dapat memicu pubertas terjadi lebih
dini. Salah satu mekanismenya mungkin melalui kadar estrogen yang lebih tinggi. Menanggapi peningkatan kadar insulin di sirkulasi, kelenjar adrenal meningkatkan sintesis androgen. Androgen dikonversi ke estrogen oleh
aromatase, enzim yang diproduksi oleh jaringan adiposa. maka anak wanita gemuk menghasilkan lebih banyak estrogen dibandingkan sebaya
rekan mereka yang ramping, dan kenaikan estrogen prapubertas ini dapat merangsang pertumbuhan awal jaringan payudara.
2. Panjang Hari dan Musim
Kegelapan dapat meningkatkan sintesis dan sekresi kelenjar pineal, contoh melatonin dan zat-zat ini dapat menghambat fungsi reproduksi
pada hewan dengan siklus reproduksi musiman. Cahaya berefek sebaliknya. Dengan adanya lampu (pencahayaan buatan), manusia memiliki
peningkatan panjang hari buatan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini diduga bertanggung jawab sebagian atas penurunan usia pubertas saat
ini. Pada anak-anak yang memiliki lesi kelenjar pineal yang memicu tidak berfungsinya kelenjar pineal akan mengalami pubertas prekoks.
Sebaliknya, sekitar sepertiga dari anak-anak dengan tumor pineal sekretori memperlihatkan pubertas tertunda. Namun, anak-anak buta dengan persepsi cahaya terbatas tetap mencapai pubertas pada usia lebih dini dibandingkan anak-anak dengan penglihatan normal, dan wanita tanpa persepsi cahaya mengalami menarche paling awal. Anak tuna rungu juga cenderung mencapai
pubertas dini; maka kekurangan sensorik pada biasanya dapat mempercepat kematangan seks.
Beberapa bukti menandakan bahwa wanita lebih cepat mencapai menarche pada waktu tertentu dalam satu tahun; waktu ini beragam
antararea geografis. Pengaruh panjang hari terhadap musiman pubertas ini belum diketahui.
3. Stres
Pada hewan laboratorium, berbagai jenis stres lingkungan (emosional atau fisik) dapat menunda kematangan seksual. Setiap jenis stressor jangka
panjang menghasilkan satu perangkat tanggapan stres fisiologis yang oleh Hans Selye dinamakan sebagai “sindrom adaptasi umum”.
Meskipun sindrom ini meliputi berbagai mekanisme tanggapan , komponen utamanya yaitu pembesaran kelenjar adrenal dan meningkatnya sekresi hormon steroid adrenal seperti kortisol. Beberapa percaya bahwa peningkatan fungsi adrenal ini dapat menghambat sistem reproduksi. Ada beberapa informasi bahwa stres (emosional atau fisik) dapat menunda pubertas pada manusia. ada bukti bahwa stres selama masa bayi dan balita dapat mempercepat pubertas. Akhirnya, stres keluarga berperan pada cepatnya pubertas pada anak wanita . Gadis yang tumbuh tanpa adanya seorang ayah biologis, terutama dengan hadirnya ayah tiri, cenderung masuk pubertas dini.
4. polusi Lingkungan
Beberapa bahan kimia yang dipakai dalam sintesis plastik dan dalam proses industri lainnya bertindak sebagai estrogen lemah. ahli biologi berhipotesa bahwa paparan “xenoestrogens” yang semakin meluas ini dapat mempercepat pubertas. Pada anak-anak dengan kelebihan berat badan,
estrogen lemah yang disintesis oleh jaringan adiposa dapat memicu peningkatan estrogen pada darah. Paparan estrogen ini pada anak wanita
menimbulkan tanda-tanda pubertas yang belum jelas apakah pubertas ini bersifat “nyata” atau “pseudo pubertas”. Jika estrogen lingkungan
mempercepat perkembangan seksual secara menonjol , seharusnya terjadi epidemi ginekomastia pada anak laki-laki. Estrogen yang meningkat selama masa kandungan pada anak laki-laki memicu testicular dysgenesis
syndrome (TDS). Namun, polusi lingkungan (contoh dioxin, polychlorinated biphenyls atau PCBs) sudah terlibat dalam menunda pubertas laki-laki. Banyak riset yang diperlukan untuk mempelajari efek dari kontaminan
lingkungan yang mengganggu pada perkembangan pubertas.
5. Iklim dan Ketinggian
Dahulu, dianggap bahwa anak-anak di area lebih hangat mencapai pubertas pada usia lebih dini dibandingkan di area dingin. Namun perbandingan
statistik sudah menandakan bahwa perbedaan ini sebab faktor lain selain suhu. Ketinggian tampaknya berefek pada onset pubertas. Memang,
untuk setiap kenaikan 100 m, pubertas tertunda sekitar tiga bulan. Mekanisme bagaimana ketinggian menekan proses pematangan seksual tidak diketahui dengan jelas dan mungkin terkait dengan gizi yang lebih buruk, hipoksia, dan
pengeluaran energi yang lebih besar pada ketinggian yang lebih tinggi.
6. Genetika
Faktor genetik berinteraksi dengan faktor lingkungan untuk menentukan usia kematangan seksual. Bahkan, perbedaan usia menarche antarnegara mungkin berkaitan dengan perbedaan genetik pada populasi dan perbedaan dalam kesehatan dan gizi anak-anak. Diperkirakan bahwa 50–75% dari keragaman dalam usia pubertas yaitu sebab perbedaan genetik. contoh , usia saat menarche cenderung serupa di ibu dan anak wanita . Selain itu, pada wanita kembar identik (genotipe identik), usia menarche biasanya
berbeda dengan selisih maksimal dua bulan. Faktor pembeda di sini yaitu perbedaan berat lahir atau paparan lingkungan sosial dan fisik yang sedikit
berbeda selama masa balita . Sebaliknya, perbedaan antara usia menarche pada anak wanita kembar fraternal bisa sampai delapan bulan.
Di Amerika Serikat, wanita kulit hitam mencapai pubertas sekitar satu tahun lebih awal dari wanita kulit putih, hal ini mungkin mencerminkan
perbedaan genetik. Dalam riset NHANES III antara tahun 1988 dan 1994, usia rata-rata
saat permulaan pubertas anak laki-laki kulit hitam sekitar 9,2 tahun, anak laki-laki kulit putih 10,0 tahun, dan anak laki-laki Amerika Meksiko 10,3
tahun . Namun, riset cross-sectional yang lebih baru (antara tahun 2005 hingga 2010) di Amerika Serikat menandakan usia rata-rata untuk pencapaian TV sebesar > 3 mL pada kulit putih yaitu 9,95 tahun, Afrika-Amerika 9,71 tahun, dan Hispanik 9,63 tahun. Sementara untuk >
4 mL masing-masing yaitu 11,46, 11,75, dan 11,29 tahun. Data terakhir ini tidak mendukung anggapan bahwa anak laki-laki Afrika-Amerika lebih awal mengalami pubertas dibandingkan anak laki-laki Eropa-Amerika maka peran genetik (ras) dalam menentukan mulainya pubertas laki-laki belum dapat dipastikan.
7. Kelainan Pubertas
Secara medis, pubertas yang terjadi tidaknormal lebih awal diistilahkan dengan pubertas prekoks. Untuk anak laki-laki, pubertas prekoks masih
didefinisikan sebagai perkembangan seksual (Tanner 2) sebelum usia sembilan tahun. Pubertas prekoks dilaporkan pada anak wanita 10 kali lebih sering dibandingkan anak laki-laki. sedang , pubertas dianggap tertunda pada laki-laki jika tidak ada pertumbuhan testis hingga usia 14 tahun atau jika tidak ada lonjakan pertumbuhan tulang hingga usia 18 tahun. Pubertas prekoks dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sentral (sejati) yang bersifat gonadotropin dependent/progresif dan perifer (pseudo
MASA PUBERTAS
pubertas prekoks) yang bersifat gonadotropin independent. Aksis hipotalamus, hipofisis, dan testis aktif memicu munculnya pubertas pada tipe sentral, sementara pada tipe perifer, aksis ini tidak aktif, Klasifikasi etiologi pubertas prekoks ditampilkan pada Tabel
a. Pubertas prekoks sentral
Pada sebagian masalah , pubertas prekoks sentral (PPS) bersifat idiopatik. Sebagian lainnya memiliki sebab yang sudah diketahui seperti genetik
(mutasi aktif gen KISS1R dan KISS1, mutasi inaktif gen MKRN3, dan tidaknormal itas kromosom), tumor saraf pusat (astrositoma, ependimoma,
glioma optik/hipotalamus, adenoma yang mensekresikan LH, pinealoma, neurofibroma, kraniofaringioma), dan lain sebagainya,
Pengukuran kadar LH sebelum sesudah stimulasi GnRH kerja singkat dipakai untuk mendeteksi aktivasi aksis hipotalalmus-hipofisis-gonad. Konsentrasi LH basal > 0,6 IU/L (metode immunofluorometrik) atau > 0,3 IU/L (metode immunochemiluminescene dan electrochemiluminescence)
dianggap sebagai pubertas. Uji stimulasi memakai GnRH short-acting (gonadorelin intravena, 100 μg) dapat disarankan pada kondisi tertentu. LH basal 0,6 U / L, diukur dengan IFMA, mampu mendiagnosa PPS pada 71,4% anak laki-
laki . Pengukuran LH 30 sampai 120 menit sesudah aplikasi pertama analog kerja panjang GnRH bulanan dapat menjadi alternatif untuk mengonfirmasikan diagnosa biokimia PPS.
Terapi pilihan untuk PPS yaitu administrasi GnRH analog. GnRH analog akan berkompetisi dengan GnRH untuk menempati reseptor GnRH
di hipofisis. awalnya , analog GnRH menstimulasi sintesis dan sekresi gonadotropin. Namun, dalam pemakaian kronis memicu down-regulation reseptor GnRH sehingga menekan produksi hormon gonadotropin yang pada gilirannya akan menurunkan kadar testosteron
Leuprorelin asetat dan triptorelin dengan dosis 75–100 μg/kg merupakan obat yang umum dipakai . Secara praktis, 3,75 mg analog GnRH diberikan secara intramuskular atau subkutan setiap 4 minggu
b. Hiperplasia adrenal kongenital
Salah satu bentuk pseudo pubertas yang umum yaitu hiperplasia adrenal kongenital (CAH). CAH merupakan kelainan familial autosomal resesif dengan adanya gangguan pada jalur sintesis kortisol. Sebagian besar masalah , yaitu sekitar 90%, disebabkan oleh defisiensi 21-hydroxylase yang ditandai dengan produksi androgen berlebih yang tingkat keparahannya beragam pada beberapa subtipe yang berbeda. Hal ini memicu meningkatnya sekresi adrenocorticotropic hormone (ACTH), hiperplasia adrenal, overproduksi steroid adrenal yang tidak
memerlukan aktivitas enzim yang kurang itu , dan defisiensi steroid yang terletak distal dari tahapan enzimatik yang terganggu. Data dari sekitar 6,5 juta bayi baru lahir di seluruh dunia yang diskrining
untuk defisiensi 21-hydroxylase menandakan bahwa CAH klasik terjadi pada 1:13.000 hingga 1:15.000 kelahiran hidup. CAH bentuk klasik yang
berat merupakan pemicu tersering genitalia ambigus pada fetus yang secara genetik yaitu wanita . Manifestasinya secara klinis tampak
dari adanya virilisasi prenatal pada wanita yang terkena kelainan ini. Gangguan pubertas dan infertilitas pada pasien-pasien CAH sudah
diketahui dengan baik, namun pubertas normal dan fertilitas dapat dicapai dengan keberhasilan pengobatan. Terapi eksperimental dengan deksametason pada awal gestasi berhasil
mengurangi virilisasi pada fetus wanita yang terkena CAH klasik secara menonjol . Terapi penggantian dengan glukokortikoid dan
mineralokortikoid postnatal diperlukan oleh hampir semua pasien seusia hidup. Terapi CAH prenatal dengan deksametasone pada wanita
hamil yang fetusnya mungkin mengalami CAH sudah dideskripsikan sejak 30 tahun lalu , namun terapi ini masih tetap bersifat kontroversial
sebab 7 dari 8 fetus yang diterapi tidak memperoleh manfaat dari itu dan sebab bukti-bukti menandakan bahwa terapi itu berefek yang tidak diharapkan pada fungsi metabolik maupun
fungsi kognitif atau behavioural.
8. Pubertas Terlambat
Pubertas dianggap terlambat bila pubertas belum dimulai pada usia 14 tahun atau lebih. ada beberapa pemicu umum pubertas terlambat
seperti ditampilkan pada Tabel
Constitutional delay of puberty (CDP)
CDP hingga saat ini merupakan pemicu terbanyak dari pubertas terlambat (pubertas tarda). Pada laki-laki, prevalensinya mencapai 1:40. Durasi
dan urutan dari pubertas, begitu pubertas dimulai, biasanya normal pada anak laki-laki dengan CDP. Perkembangan pubertas berakhir dengan kematangan seksual yang lengkap dan kesuburan yang normal. Oleh sebab itu, CDP harus dilihat sebagai varian fungsional ekstrem dari onset perkembangan pubertas normal. Meskipun CDP bukan suatu penyakit, keterlambatan perkembangan pubertas bisa menjadi beban psikologis bagi remaja. CDP terjadi sebagai kondisi yang diturunkan atau sporadis
Perkembangan pubertas yang terjadi sesudah nya didefinisikan sebagai pubertas tarda,
Selain anamnesis, kurva pertumbuhan dan pemeriksaan fisik menyeluruh, penentuan usia tulang dari pergelangan tangan dan tangan
kiri (termasuk epifisis ulnar dan radial) merupakan prosedur diagnostik yang penting CDP dapat didiagnosa hanya jika kondisi yang mendasari sudah dikesampingkan dan jika pubertas terlambat ini diikuti dengan perkembangan pubertas yang spontan, Permasalahan utama dalam diagnosa yaitu dalam membedakan CDP
dengan isolated/idiopathic hypogonadotropic hypogonadism. Pada sebagian besar
pasien CDP, perkembangan pubertas spontan dimulai sebelum usia 20 tahun.
Indikasi untuk terapi biasanya bukan sebab keterlambatan pubertas itu sendiri, namun tekanan psikologis yang disebabkan oleh kurangnya virilisasi dan/atau postur pendek. Terapi pilihan untuk remaja tanpa tanda-tanda
pubertas yaitu injeksi testosterone enanthate atau alternatifnya dengan hCG atau pulsatile GnRH
9. Sindrom Klinefelter
Angka kejadian sindrom Klinefelter sekitar 1 dari 500 laki-laki. Sindrom ini merupakan pemicu paling sering dari hipergonadotropik hipogonadisme.
Gejala klinis sindrom Klinefelter tidak khas dan sering diabaikan. Beberapa gejala yang tampak antara lain panjang lengan yang tidak proporsional
dengan panjang tubuh, testis berukuran kecil dan keras, namun virilisasi sering normal. Gejala klinis lain yang mungkin timbul antara lain kelainan
jantung, gangguan perilaku dan kognitif, dan peningkatan risiko kejadian kanker payudara. Sindrom Klinefelter didiagnosa dengan analisis kariotipe memakai darah perifer. Bentuk kelainan kromosom yang paling sering pada sindrom Klinefelter yaitu 47,XXY. sedang kromosom tipe mosaik hanya ditemukan sekitar 15–20% pada sindrom Klinefelter. Sindrom Klinefelter harus dipertimbangkan pada semua laki-laki
dengan azoospermia atau konsentrasi sperma yang sangat rendah dan ditambah ukuran testis kecil. Sperma pada pasien Klinefelter dapat ditemukan dengan cara sperm retrieval dengan tingkat keberhasilan sekitar 48–66%. Beberapa
parameter klinis yang dapat memprediksi keberhasilan sperm retrieval antara lain Klinefelter tipe mosaik (47,XXY/XY), pola rambut wajah yang normal, dan tidak adanya ginekomastia. Sayangnya, ukuran testis, kadar FSH, dan testosteron tidak menandakan adanya korelasi dengan kondisi spermatozoa. Pendekatan dengan pemberian aromatase inhibitor atau human chorionic
gonadotropin diikuti dengan mikrodiseksi TESE (Testicular Sperm Extraction)
memberi angka keberhasilan hingga 72% untuk menemukan spermatozoa pada pasien Klinefelter. Perbaikan spermatozoa biasanya lebih baik pada tipe mosaik dibandingkan tipe non mosaik. Namun, kadang tipe mosaik ini tidak teridentifikasi pada beberapa laboratorium. Pemeriksaan spermatozoa dilakukan setidaknya pada dua ejakulat dengan melakukan sentrifugasi bila spermatozoa sulit ditemukan. Jika spermatozoa ditemukan sesudah dilakukan sentrifugasi, biasanya ada kemungkinan spermatozoa ditemukan pada jaringan testis, sehingga tindakan
biopsi mungkin diperlukan. Dampak yang mungkin terjadi akibat biopsi yaitu defisiensi androgen sebab kerusakan jaringan testis. Kemungkinan
semua pasien dengan sindrom Klinefelter harus dilakukan pemantauan status androgen jangka panjang, terutama pada pasien dengan biopsi testis. Tata laksana pasien dengan sindrom Klinefelter harus meliputi usaha perbaikan spermatozoa untuk fertilitas dan terapi sulih androgen pada usia
tua. Spermatozoa yang ditemukan pada sperm retrieval dapat dipakai untuk melakukan IVF (In Vitro Fertilization) dan ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection). Sebelum melakukan IVF (In Vitro Fertilization) dan ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm
Injection), kedua pasangan harus diberikan informasi tentang kemungkinan memiliki anak dengan sindrom Klinefelter. Konseling mungkin sulit sebab calon ayah kadang memiliki inteligensia yang rendah. Konseling harus
meliputi diagnosa praimplantasi dan amniosintesis.
10. Sindrom Kallmann
Sindrom Kallmann (SK) merupakan kelainan genetika yang dikaitkan dengan adanya kondisi hipogonadotropik-hipogonadisme dan
anosmia. Walaupun bisa juga muncul dengan variasi tidaknormal itas lainnya, contoh gerakan bagian atas tubuh yang seperti cermin dan agenesis renal pada X-linked SK, dan tidaknormal itas kraniofasial pada autosomal SK meliputi
gangguan bibir sumbing dan celah langit-langit mulut, Kondisi hipogonadotropik-hipogonadisme kerap terjadi akibat gangguan produksi Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) yang memicu penurunan kadar hormon LH dan FSH yang dihasilkan kelenjar pituitari. Mikropenis ataupun kriptorkidisme juga sering ditemui sebagai manisfestasi klinis awal SK, termasuk banyak pasien yang mengalami gangguan maupun
keterlambatan mengalami pubertas. Pemberian GnRH eksogenus secara pulsatil dapat meningkatkan produksi LH dan FSH pada pasien dengan SK dan mampu menginduksi pubertas dan kesuburan
STEROIDOGENESIS
Testis laki-laki dewasa biasanya memiliki dua fungsi utama di dua kompartemen yang berbeda, yaitu membentuk androgen dan membentuk sel
benih (gametogenesis) yang pada laki-laki dinamakan spermatogenesis. Pembentukan
androgen ini sering diistilahkan sebagai steroidogenesis, sebuah istilah yang sebetulnya jauh lebih luas maknanya. Meskipun terpisah, kedua fungsi ini saling berkaitan. Meskipun
testis merupakan organ penghasil androgen utama, peran adrenal dalam steroidogenesis juga perlu dipahami. Pada kondisi tertentu, steroidogenesis
adrenal memberi dampak pada perkembangan seks baik pada laki-laki dan wanita.
HORMON STEROID
Steroid merupakan molekul organik lipofilik, memiliki 4 cincin inti dan berfungsi untuk membawa pesan kimiawi tertentu
Menurut fungsinya, ada tiga kelas utama steroid yaitu glukokortikoid, mineralokortikoid, dan steroid seks. Semua steroid baik alami maupun sintesis
tersusun atas 4 cincin inti yang dinamakan siklo-pentano-perhidrofenantren. Cincin ini terdiri dari cincin sikloheksan (cincin A, B, dan C) dan cincin
siklopentan (cincin D) i
Androgen merupakan steroid seks pada laki-laki . Hormon ini berperan pada berbagai fungsi organ reproduksi maupun non reproduksi. Androgen dapat berupa testosteron, 5α-dihidrotestosteron (DHT), androsteron, androstenedion,
17-hidroksiprogesteron, progesteron, dan pregnenolon. Komponen utama androgen yaitu testosteron yang dihasilkan dalam jumlah besar oleh testis dan dalam jumlah lebih kecil oleh kelenjar adrenal. Peran androgen pada laki-laki
tergantung pada berbagai faktor, seperti jumlah androgen yang diproduksi, distribusi, metabolisme, dan interaksi dengan reseptor, dan ekskresinya.
STEROIDOGENESIS TESTIS
Sel Leydig merupakan penghasil utama testosteron. Sel yang terletak di kompartemen interstitial testis ini menghasilkan sekitar 95% testosteron yang
bersirkulasi pada laki-laki . laki-laki dewasa memiliki sekitar 200 juta sel Leydig. Testis
menghasilkan sekitar 6–7 mg testosteron setiap hari. Konsentrasi testosteron di dalam testis 80 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi di darah tepi.
Sel Leydig mengonversikan kolesterol menjadi testosteron. Di dalam sel ini, testosteron juga dapat diubah menjadi dihidrotestoteron atau estradiol.
Sel Leydig menghasilkan estradiol namun dalam jumlah yang kecil, sekitar 20 % dari aromatisasi periferal,
Kelenjar adrenal (juga dinamakan kelenjar suprarenal) merupakan kelenjar endokrin yang menghasilkan beragam hormon, termasuk testosteron. Kelenjar ini terdiri dari bagian korteks dan medula. Kelenjar adrenal memiliki
tiga lapisan korteks, terdiri dari zona glomerulosa (luar), zona fasikulata
(tengah), dan zona retikularis (dalam).
Steroidogenesis adrenal memiliki makna steroidogenesis yang lebih luas dibandingkan steroidogenesis testis. Proses ini memiliki “jalur bersama” yang mirip dengan steroidogenesis testis maupun sel teka ovarium. Namun, pada
proses selanjutnya sebagian progesteron atas pengaruh renin-angiotensin akan memasuki jalur pembentukan mineralokortikoid (aldosteron) di zona glomerulosa. Adrenocorticotropic hormone (ACTH) menstimulasi 17-OH-progesteron untuk memasuki jalur pembentukan glukokortikoid (kortisol dan kortison). Sementara androgen adrenal akan di bentuk di zona retikularis
BIOSINTESIS TESTOSTERON
Bahan dasar hormon steroid yaitu kolesterol. Luteinizing hormone (LH), mengendalikan steroidogenesis dan homeostatis kolesterol dalam sel Leydig secara sentral. Kolesterol berada di dalam sel Leydig melalui dua cara, yaitu
secara endosistosis, dimediasi reseptor LDL atau disintesis de novo di dalam sel Leydig dari acetyl-coenzyme A. Testosteron turut berperan dalam homeostasis lipid di dalam sel Leydig dan memodulasi ekspresi gen yang terlibat dalam
sintesis kolesterol de novo, Kolesterol baik yang masuk melalui reseptor LDL maupun sintesis de
novo akan disimpan ke dalam cytoplasmic lipid droplets dalam bentuk kolesterol ester sesudah diesterifikasi oleh acyl-CoA cholesterol transferase. Jumlah lipid droplets berbanding terbalik dengan kecepatan sintesis androgen. Bila sintesis androgen lambat, maka jumlah lipid droplet akan banyak, begitu pun sebaliknya. Melalui aktivasi LH, kolesterol ester ini akan dihidrolisis oleh
kolesterol ester hidrolase untuk selanjutnya mengalami steroidogenesis. Kolesterol memasuki mitokondria dengan bantuan Steroidogenic acute
regulatory protein (StAR). StAR terletak di membran dalam mitokondria dan berperan dalam perpindahan kolesterol dari membran luar menuju membran dalam mitokondria. Mekanisme yang pasti bagaimana StAR menstimulasi influks kolesterol masih belum jelas, namun begitu StAR berkaitan dengan kolesterol, terjadi perubahan konformasional yang membuka kantung pengikat kolesterol (Cholesterol-binding pocket). Sesudah fosforilasi, StAR berinteraksi dengan voltage-dependent anion channel 1 (VDAC1) pada
membran luar. Di dalam mitokondria, kolesterol diubah menjadi pregnenolon dengan bantuan sebuah enzim yang ada di membran dalam mitokondria, P450 side-chain cleveage (P450ssc). Pregnenolon selanjutnya akan berdifusi melalui
membran mitokondria menuju retikulum endoplasma.
Proses selanjutnya yang terjadi di retikulum endoplasma dapat melalui jalur ∆4 atau ∆5. ∆4 atau ∆5 merujuk pada penempatan ikatan rangkap pada steroid. Jalur ∆5 lebih dominan dibandingkan ∆4 pada manusia.
Pada jalur ∆4, pregnenolon diubah menjadi progesteron oleh 3β- Hydroxysteroid dehydrogenase (3β-HSD). Enzim CYP21A2 lalu
mengonversikan progesteron menjadi 17α-hydroksiprogesteron. Enzim yang sama melepaskan rantai samping sehingga terbentuk androstenedion. Androstendion dikonversi menjadi testosteron melalui kerja enzim 17β
Hydroxysteroid dehydrogenase (17β-HSD).
Pada jalur ∆5, oleh P450c17, pregnenolon dikonversi menjadi produk
antara 17-hidroksipregnenolon. Selanjutnya, P450c17 mengonversikan produk
antara itu menjadi dehidroepiandrosteron (DHEA). DHEA lalu dikonversi menjadi androstenedion oleh kerja enzim 3β-HSD. Testosteron
lalu terbentuk dari androstenedion seperti terjadi pada jalur ∆4. Mekanisme pengangkutan testosteron dari sel Leydig ke dalam darah atau getah bening tidak sepenuhnya diketahui. Androgen mungkin menyebar ke cairan interstitial dan lalu masuk ke kapiler testis atau memasuki kapiler secara langsung dari sel Leydig yang bersentuhan langsung dengan mikrovaskuler testis secara difusi pasif. Konsentrasi testosteron pada sirkulasi limfatik dan darah vena testis sangat mirip, namun ada perbedaan kecepatan aliran pada kedua sistem itu . sebab itu,
transportasi testosteron di dalam sirkulasi darah terjadi utamanya melalui vena spermatika.
PERAN LH DALAM SINTESIS TESTOSTERON
LH merupakan glikoprotein dimerik. LH berikatan dengan reseptor khusus pada sel Leydig yang tergolong dalam keluarga G-coupled receptors.
Reseptor LH juga ditemukan di organ lain seperti prostat,
Kerja utama LH yaitu menempel ke reseptornya pada sel Leydig dan menginduksi sintesis dan pengeluaran testosteron. Selain itu LH berperan
dalam regulasi jumlah sel Leydig. Sementara peran LH pada organ lain belum diketahui.
Perlu dicatat bahwa LH mungkin bukan satu-satunya faktor yang menstimulasi produksi testosteron. Human chorionic gonadotropin (hCG)
dapat berikatan dengan reseptor LH dan menstimulasi sel Leydig untuk menghasilkan testosteron. Hal ini dibuktikan dengan testosteron yang mampu diproduksi oleh testis janin sebab pengaruh LH janin dan hCG ibu. Pada mutasi rantai β LH, gonadotropin menjadi inaktif namun diferensiasi seksual tetap normal sebab testosteron tetap diproduksi atas rangsangan hCG
maternal, HCG juga dipakai untuk meningkatkan
kadar testosteron endogen pada stimulasi spermatogenesis. riset pemberian LH eksogen menandakan bahwa produksi testosteron meningkat sebelum LH mencapai sel Leydig melalui ruang interstitial
PERAN FAKTOR LAIN DALAM STEROIDOGENESIS
Growth factor (GF) tampaknya berpengaruh terhadap fungsi sel Leydig riset ini menyimpulkan bahwa fungsi lokal inhibin dan aktivin dapat menjadi modulasi aktivitas steroidogenik.
Aktivin menghambat atau merangsang steroidogenesis sel Leydig. biasanya insulin-like growth factor 1 (IGF-1) dan transforming growth factor α (TGF-α) bertindak sebagai aktivator aktivitas sel Leydig, sementara TGF-β
bertindak sebagai inhibitor. Pada sel Leydig manusia, aktivitas steroidogenik juga distimulasi oleh epidermal growth factor (EGF).
Hormon tiroid mempercepat diferensiasi sel Leydig dan juga menstimulasi ekspresi StAR dan produksi steroid di dalam sel yang sudah berkembang secara sempurna Glukokortikoid menghambat enzim-enzim steroidogenik dan menginduksi apoptosis sel Leydig tikus, . FSH rekombinan
menstimulasi produksi testosteron pada laki-laki dan pada pasien dengan defisiensi FSH. Hal ini mendukung ide interaksi antara sel Sertoli, sel Leydig, dan sel peritubular dalam
hubungannya dengan kerja androgen dan gonadotropin.
TRANSPOR TESTOSTERON DI DALAM DARAH
Sebagian testosteron terikat dengan molekul protein. Di dalam plasma, testosteron utamanya terikat dengan albumin atau sex hormone binding globulin (SHBG) yang diproduksi oleh hepatosit. Di dalam testis, testosteron terikat oleh Androgen-binding protein (ABP), sebuah molekul mirip dengan SHBG yang diproduksi oleh sel Sertoli. Pada testis manusia, hasil transkripsi gen SHBG
diekspresikan di dalam sel germinal dan mengkode isoform SHBG yang lebih kecil 4–5 kDa dibandingkan SHBG plasma. Kapasitas pengikatannya juga lebih rendah dibandingkan SHBG plasma . SHBG tidak hanya berikatan dengan testosteron, namun juga dengan estradiol. Ikatan testosteron terhadap SHBG tiga kali lebih kuat dibandingkan dengan estradiol. Pada laki-laki normal, hanya 2–3% dari testosteron total yang bersirkulasi secara bebas, sementara 44% berikatan dengan SHBG, 50% berikatan
dengan albumin, dan 3,5% berikatan dengan cortisol binding globulin. Afinitas testosteron terhadap molekul albumin sekitar 100 kali lebih rendah dibandingkan dengan SHBG. Namun, sebab konsentrasi albumin lebih tinggi dibandingkan dengan SHBG, kapasitas pengikatan kedua protein ini secara total hampir sama. Testosteron bebas dan terikat albumin merupakan
“bioavailabe testosterone”. Rasio testosteron terikat SHBG terhadap testosteron bebas sebanding dengan konsentrasi SHBG. sebab penghitungan langsung kadar testosteron
bebas tidak praktis, sudah dibuat beberapa rumus untuk memperkirakan konsentrasi testosteron bebas dan bioavailable testosterone di dalam serum. Rumus yang pernah dipublikasikan antara lain dari Sodergard, Vermeulen,
STEROIDOGENESIS
Emadi-Konjin, Morris, dan Ly. Semua rumus ini perlu divalidasi ulang sesuai dengan kondisi lokal sebelum dipakai Konsentrasi SHBG di serum dipengaruhi oleh berbagai faktor. Estrogen
menstimulasi dan androgen menghambat produksi SHBG. maka wajar bila ditemukan bahwa kadar SHBG laki-laki lebih rendah dibandingkan kadar
SHBG pada wanita. Kadar SHBG laki-laki sekitar sepertiga hingga setengah konsentrasi pada wanita. Hormon tiroid merupakan stimulator kuat produksi SHBG. Dalam kondisi laki-laki dengan aksis hipotalamus-hipofisis-testis yang
normal, peningkatan kadar SHBG akan diikuti dengan penurunan akut kadar testosteron bebas dan secara bersamaan terjadi peningkatan sintesis
testosteron yang terjadi hingga diperoleh keseimbangan. Beberapa kondisi yang mempengaruhi produksi SHBG dirangkum dalam Tabel Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi SHBG Stimulasi produksi SHBG Inhibisi produksi SHBG Aplikasi estrogen Terapi androgen
Defisiensi testosteron Obesitas
Defisiensi hormon pertumbuhan Akromegali
Hepatitis Sindrom nefrotik
Sirosis Glukokortikoid
pemakaian fenitoin Hiperinsulinemia
Hipertiroidisme Hipotiroidisme
Gen SHBG terletak di 17p12-p13 dan mengkodekan polipeptida yang mengandung 402 residu asam amino. Polimorfisme gen SHBG dapat
memicu perubahan konsentrasi SHBG personal . Mutasi pada lokus rs6259 menghasilkan penambahan rantai gula lalu menurunkan
kecepatan metabolisme pembersihan SHBG dan memperpanjang waktu paruh SHBG. Mutasi ini memicu kadar SHBG meningkat sehingga mengubah aktivitas biologis androgen dan selanjutnya memicu infertilitas laki-laki
MEKANISME MASUKNYA TESTOSTERON KE DALAM SEL TARGET
Untuk bekerja, testosteron bebas perlu masuk ke dalam sel dan menempel pada reseptor intraseluler. Mekanisme masuknya testosteron ke dalam sel dapat melalui empat mekanisme, yaitu testosteron masuk secara bebas, endositosis dimediasi oleh reseptor terhadap molekul lipofilik yang mengandung steroid, endositosis dimediasi reseptor terhadap steroid, dan pengambilan molekul yang dimediasi melewati membran.
STEROIDOGENESIS
Terjadi disosiasi testosteron dan hormon steroid lainnya dari protein pengikat di kapiler. Interaksi protein pengikat dengan glikokaliks endotelial
memicu perubahan struktural dan memicu perubahan afinitas protein pengikat. maka testosteron menjadi bebas dan dapat
menyebar secara bebas ke dalam sel target,
Pada endositosis, dimediasi oleh reseptor terhadap molekul lipofilik yang mengandung steroid, testosteron, dan hormon steroid lainnya yang berikatan dengan molekul lipofilik seperti LDL akan berikatan dengan reseptornya. Ikatan ligan dan reseptor ini akan diendositosis dan didegradasi di dalam lisosom sehingga hormon dapat bebas dan menempel pada reseptornya
Para ahli biasanya berpendapat bahwa fraksi testosteron bebas dan bioavailable yang aktif secara biologis. Namun, megalin, reseptor endositosis LDL di jaringan reproduksi, dapat meningkatkan serapan seluler testosteron
yang terikat pada SHBG melalui proses endositosis
Sesudah degradasi intraseluler, testosteron bebas di sitoplasma, Pada pengambilan molekul yang dimediasi melewati membran ditambah protein pengikatnya menempel pada kanal steroid. lalu testosteron akan masuk ke dalam sel,
METABOLISME TESTOSTERON
Testis menghasilkan Androgen seperti testosteron, 5α-dihydrotestosterone (DHT), androsteron, androstenedion, 17-hidroksiprogesteron, progesteron, dan pregnenolone. Peran androstenedion, progesteron, dan 17-hidroksiprogesteron
di dalam testis belum diketahui, namun reseptor progesteron sudah ditemukan di sel peritubular dan spermatozoa, Sebagian testosteron mengalami metabolisme (biotransformasi) baik menjadi metabolit aktif seperti DHT dan estradiol maupun metabolit yang tidak aktif untuk diekskresikan. Proses transformasi ini antara lain melalui
aromatisasi, reduksi, dan glukoronidasi.
AROMATISASI TESTOSTERON
Aromatisasi testosteron memicu terbentuknya estradiol. Estradiol juga dapat diproduksi sebagai hasil dari aromatisasi androstendion menjadi
estron yang selanjutnya direduksi menjadi estradiol pada jaringan tepi,
Estrogen mempengaruhi testosteron baik secara sinergis maupun antagonis. Estrogen diperlukan untuk penutupan epifisis. Kadar bioavailable
estrogen dan testosteron berkaitan erat dengan turnover tulang yang tinggi dan rendahnya risiko fraktur osteoporosis. Defisiensi aromatase pada
laki-laki dikaitkan dengan kejadian resistansi insulin dan diabetes melitus tipe 2. Gangguan rasio estrogen terhadap testosteron diduga bertanggung jawab terhadap perkembangan gangguan toleransi glukosa dan resistansi
insulin pada pasien dengan defisiensi aromatase yang memperoleh terapi sulih testosteron. Ketidakseimbangan rasio estrogen terhadap testosteron juga diduga sebagai pemicu ginekomastia.
REDUKSI TESTOSTERON
Reduksi testosteron menjadi DHT terjadi di retikulum endoplasma melalui kerja enzim 5α-reduktase yang terletak di dalam mikrosom.
Testosteron dan DHT berikatan dengan reseptor androgen yang sama di intraseluler untuk mengatur ekspresi gen pada jaringan target. Namun, kedua hormon menghasilkan tanggapan biologis yang berbeda. Mekanisme molekuler
yang membawa perbedaan aktivitas ini belum diketahui. ada tiga isoform 5α-reduktase yang sudah diidentifikasi pada
manusia Enzim yang dikenal dengan nama lain 3-Oxo-5-Alpha-Steroid 4-Dehydrogenase ini independen terhadap nikotinamida adenin
dinukleotida fosfat (NADPH), memicu reduksi ikatan rangkap pada posisi empat sampai lima pada steroid C19 dan steroid C21. Gen untuk 5α-reduktase tipe 1 (SRD5A1) terletak pada kromosom 5p15, mengkodekan protein dengan 259 asam amino. Gen untuk 5α-reduktase tipe 2
(SRD5A2) ada pada kromosom 2p23, mengkodekan protein yang sedikit lebih
pendek dengan 254 asam amino. sedang gen untuk 5α-reduktase tipe 3 (SRD5A3) terletak pada kromosom 4q12, mengkodekan protein dengan 318 asam amino. 5α-reduktase tipe 3 hanya memiliki kemiripan 19% dengan tipe
1 dan 20% dengan tipe 2 (Azzouni et al., 2012).
Peran SRD5A3 pada sistem reproduksi belum jelas. Mutasi SRD5A3 dilaporkan memicu sindroma multi sistem yang terdiri dari mal formasi mata, hipoplasia vermis serebelar, dan keterlambatan perkembangan
STEROIDOGENESIS
psikomotor Untuk itu, pembahasan mengenai 5α-
reduktase lebih diarahkan ke tipe 1 dan 2.
Enzim 5α-reduktase tipe 1 dan 2 sangat mirip namun menandakan sifat biokimia yang berbeda. Enzim tipe 1 bekerja optimal pada pH basa, sedang
pH optimal untuk tipe 2 bersifat asam. Selain itu, distribusi jaringan keduanya berbeda. 5 α-reduktase tipe 1 terletak di kulit non-genital, hati, otak, prostat, ovarium, dan testis. sedang tipe 2 terutama aktif pada jaringan androgen-
dependent klasik, seperti epididimis, kulit genital, vesikula seminalis, testis dan prostat, namun juga di hati, rahim, payudara, folikel rambut, dan plasenta. Pada tingkat sel, DHT mempertahankan diferensiasi dan pertumbuhan dan sangat penting untuk perkembangan seksual normal dan virilisasi
pada laki-laki . DHT juga mempengaruhi massa otot dan pendalaman suara. DHT mentransaktifkan reseptor androgen, yang memicu transkripsi gen dan pertumbuhan prostat.
JALUR ALTERNATIF SINTESIS DHT
Reduksi testosteron bukan satu-satunya jalur biosintesis DHT. Di testis tammar wallaby muda (sejenis kanguru), DHT dapat terbentuk dari reduksi
17 OH-Progesteron menjadi 5α pregnan-17α-ol-3,20-done (pdione) yang lebih lanjut menjadi 5α pregnan-3α, 17α -diol-20-one (pdiol) melalui alternatif lain, jalur “pintu belakang” (backdoor). Jalur pintu belakang ini sudah diduga terjadi
pada manusia juga. Hal ini dibuktikan dengan identifikasi mutasi patologis gen yang terlibat dalam jalur pintu belakang pada pasien laki-laki dengan genital eksternal yang kurang mengalami maskulinisasi dan analisis profil steroid urine menandakan relevansi jalur ini terhadap virilisasi
tidaknormal pada wanita dengan defisiensi 21-hidroksilase . maka jalur pintu belakang bekerja pada testis janin dalam kondisi fisiologis untuk menghasilkan jumlah DHT yang cukup untuk
perkembangan seks laki-laki dan kemungkinan diinduksi oleh adrenal janin dan permanen dalam kondisi patologis defisiensi 21-hidroksilase,
METABOLISME UNTUK EKSKRESI ANDROGEN
DHT dieliminasi oleh enzim 3α-HSD (aldo-keto reduktase1C2), yang mereduksi 5α-DHT menjadi 3α-androstanediol (3αdiol). Perubahan ini
bersifat reversibel sehingga 3αdiol dapat diubah kembali menjadi 5α-DHT melalui aktivitas enzim ini. Pada kulit non genital, pembentukan DHT dari
3αdiol hampir setara dengan reduksi DHT menjadi 3αdiol. Namun, pada kulit genital, kecepatan pembentukan DHT dari 3αdiol dua kali lebih tinggi
dibandingkan reduksi DHT, Enzim lain yang terlibat dalam metabolisme DHT yaitu 3βHSD,
yang mereduksi DHT menjadi 3β-androstanediol (3βdiol) dan microsomal uridine diphospho-glucuronic transferase (UDPGT), yang mengkristalkan DHT menjadi asam glukuronat. Reaksi ini dapat dibalik oleh enzim lain, yaitu
β-glukoronidase
STEROIDOGENESIS
, Pada jaringan manusia, ada lima isoform Aldo-Ketoreduktase (AKR) dengan berbagai aktivitas reduktase pada posisi 3-, 17 dan 20-ketosteroid.
Isoform AKR1C2 mendominasi konversi 5α-DHT menjadi 3α-diol. Peran kelima isoform dirangkum dalam Tabel Aldo-Keto Reduktase manusia yang terlibat dalam
metabolisme hormon
Gen Enzim Reaksi Lokasi
AKR1C1 20α(3β)-HSD Progesteron → 20α-
hidroksiprogesteron
10p15-10p14
5α-DHT → 3β-
androstanediol
AKR1C2 3α-HSD tipe 2 5α-DHT → 3α-
androstanediol
10p15--10p14
AKR1C3 17β-HSD tipe 5
Prostaglandin F
sintase
Δ4-androstene-3,17-dion
→ testosterone
PGH2→ PGF2α
PGD2→ 11β-PGF2
10p15--10p14
AKR1C4 3α-HSD tipe 1 3-ketosteroid → 3α-
hidroksisteroid
10p15--10p14
AKR1D1 Steroid 5β-reduktase Δ4-3-ketosteroid → 5β-
dihydrosteroid
7q32-7q33
Testosteron diekskresikan terutama sebagai konjugat glukuronid sesudah glukuronidasi oleh UGT sementara sebagian kecil dalam bentuk bebas. Enzim ini memiliki peran kunci dalam
homeostasis beberapa molekul endogen termasuk hormon steroid dan memfasilitasi ekskresi testosteron dalam empedu dan urine UGT2B17 merupakan salah satu anggota UGT2B yang sangat aktif dalam glukoronidasi androgen. riset menandakan perbedaan profil ekskresi testosteron di urine pada ras yang berbeda akibat polimorfisme
UGBT2B17 Interpretasi hasil uji doping dapat rancu sebab polimorfisme ini.
Tabel Kadar fraksi metabolit androgen glukuronidasi dan tak terkonjugasi pada laki-laki sehat dibagi berdasar etnis
Etnis
Korea (n = 74) Swedia (n = 122)
Rasio T/EpiT 0,15 (0,08–0,68) 1,8 (1,0–2,6)b
4-Androstenedion 0,13 (0,09–0,17) 0,32 (0,22–0,45)b
5-Androstene-3β,17α-diol 4,4 (3,2– 6,7) 6,7 (5,1–8,8)b
Testosteron 0,33 (0,25– 0,58) 5,4 (3,7–7,1)b
Epitestosteron 3,0 (1,9–4,1) 3,4 (2,0–5,0)
Dihidrotestosteron 0,50 (0,23– 0,80) 1,2 (0,64–1,8)b
5α-Androstanedione 0,60 (0,40–0,91) 0,96 (0,61–1,6)b
5α-Androstane,3α,17β-diol 4,9 (3,7– 6,3) 4,9 (3,6–6,4)
5β-Androstane,3α,17β-diol 3,74 (2,52–5,83) 10,1 (6,2–15,2)b
Androsteron 218 (171–264) 240 (196–309)a
Etiocholanolon 119 (88,3–182)a 99,2 (57,3–158)
11β-OH Androsteron 62,9 (48,1–94,8) 82,5 (61,5–114)b
11β-OH Etiocholanolon 4,3 (1,56 –12,5) 23,0 (6,9–40,7)b
Hasil ditampilkan dalam median (ng/μmol) dengan persetil 25 dan 75.
a P < 0,01; b P < 0,001
STEROIDOGENESIS
MEKANISME KERJA ANDROGEN
Androgen dapat bekerja melalui reseptor androgen dengan cara mengikat DNA yang untuk mengatur transkripsi gen target atau dengan cara yang tidak terikat dengan DNA untuk memulai kejadian seluler yang cepat seperti fosforilasi
Mekanisme pertama
dinamakan efek genomik, sebuah mekanisme yang sudah lama dikenal. sedang mekanisme kedua dinamakan efek non-genomik.
RESEPTOR ANDROGEN
Langkah pertama dalam kerja androgen secara genomik yaitu berikatan dengan reseptor androgen (Androgen receptor/AR) yang juga
dinamakan NR3C4 (nuclear receptor subfamily 3, group C, member 4). AR, reseptor mineralokortikoid, glukokortikoid, hormon tiroid, retinol, metabolit asam lemak, estrogen, dan progesteron termasuk dalam keluarga reseptor
nuklear. AR dan reseptor inti lainnya bertindak sebagai faktor transkripsional melalui sebuah mekanisme umum di mana mereka berikatan dengan ligan di sitoplasma, menginduksi perubahan konformasional, melepaskan diri dari
kompleks chaperon, dimerisasi, dan translokasi inti
Kita mengenal 48 reseptor nuklir yang dikodekan dalam genom manusia. Dalam banyak masalah , ligannya sudah diidentifikasi, namun beberapa
“reseptor yatim piatu” tetap ada. Reseptor nuklear dibagi menjadi dua subfamili. Subfamili pertama yaitu reseptor yang pasangan ligan mereka
membentuk homodimer, seperti AR dan reseptor steroid lainnya; subfamili lain membentuk heterodimer dengan hanya satu ligan, seperti reseptor hormon tiroid.
Tabel Beberapa reseptor inti dan ligannya
Reseptor Singkatan Ligan
Reseptor androgen AR Testosteron/DHT
Reseptor estrogen ER Estrogen
Estrogen-related receptor ERR ?
Glucocorticoid receptor GR Kortisol
Mineralocorticoid receptor MR Aldosteron
Progesterone receptor PR Progesteron
Retinoic acid receptor RAR Retinoic acid
Retinoid orphan receptor ROR ?
Retinoic acid-related receptor RXR Rexinoid
Liver X receptor LXR Oxysterols
Peroxisome proliferator-activated receptor γ PPARγ Fatty acid
metabolites
Thyroid hormone receptor TR Thyroid hormone
Vitamin D3 receptor VDR Vitamin D3
(Sever & Glass, 2013)
AR terdiri dari tiga domain fungsional utama: domain pengaturan
transkripsi N-terminal, domain pengikat DNA (DNA binding domain /
DBD) dan domain pengikatan ligan (Ligand binding domain/LBD) (Gambar
8). Domain N-terminal AR yaitu yang paling beragam , sementara DBD
yaitu area yang paling memiliki kemiripan di antara keluarga reseptor
hormon steroid.
DBD dari semua reseptor nuklir hormon steroid terdiri dari dua jari seng
yang mengenali urutan DNA yang khusus . Jari-jari zink ini memudahkan
pengikatan DNA oleh AR sehingga memungkinkan fungsi aktivasi dari
N-terminal dan domain pengikatan ligan untuk merangsang atau menekan
transkripsi gen-gen ini.
DBD terhubung ke domain pengikat ligan oleh area engsel (hinge). LDB
juga memiliki struktur serupa antara reseptor nuklir dan memediasi interaksi
antara AR, HSP dan chaperon, dan berinteraksi dengan N-terminal AR untuk menstabilkan ikatan androgen
STEROIDOGENESIS
foto Domain fungsional AR: domain N-terminal domain, DNA binding domain (DBD), Ligand binding domain. (H – hinge region, AF-1 – transcriptional
activating function 1, AF-2 – transcriptional activating function 2, NLS – nuclear
localisation signal, NES – nuclear export signal,
GEN RESEPTOR ANDROGEN
Gen AR terletak di kromosom Xq11-12 yang terdiri dari delapan ekson. Penjelasan mengenai masing-masing ekson dirangkum dalam Tabel
Gen AR dan domain yang dibentuk
Ekson Domain Fungsi
1 N-terminal Pengaturan transkripsi protein
2 Jari zink pertama Pengikatan khusus reseptor
androgen dengan pasangan
nukleotida kedua dan kelima dari
elemen tanggapan if androgen.
3 Jari zink kedua Menstabilkan ikatan reseptor DNA
melalui interaksi hidrofobik dengan
jari pertama, dan berkontribusi
terhadap spesifisitas ikatan DNA
reseptor, yang memicu
dimerisasi dua molekul reseptor.
4–8 Domain pengikat ligand Mengikat steroid
Ditemukan tiga kodon pada domain N-terminal AR. CAG, mengkode
poliglutamin yang polimorf, sedang TGG mengkode poliprolin dan GGC
untuk poliglisin. Pada laki-laki normal, ditemukan sekitar 17–29 ulangan CAG dan
13–17 ulangan GGC. Pada AR, alel CAG dan GGC yang panjang dikaitkan dengan penurunan fungsi trans-aktivasi dan sudah dikaitkan dengan kanker
pada wanita. Jumlah ulangan glutamin pada reseptor androgen berkaitan dengan azoospermia atau oligozoospermia, namun hubungan ini tidak jelas. Pada AR, alel CAG ukuran kecil (< 19 ulangan) dan GGC (< 15 ulangan) menghasilkan aktivitas reseptor yang lebih tinggi, dan sudah dikaitkan dengan usia onset kanker prostat yang lebih dini, tingkat yang lebih tinggi, dan
stadium yang saat diagnosa.
MEKANISME KERJA GENOMIK ANDROGEN DI DALAM SEL
Androgen berikatan dengan AR pada LBD di sitoplasma. DHT berikatan dengan afinitas yang lebih tinggi dibandingkan testosteron, sebab testosteron lebih cepat terdisosiasi dari reseptor. Steroid lain seperti androstenedion, estradiol, dan progesteron berikatan dengan reseptor androgen dengan afinitas yang lebih rendah. Ikatan antara ligan dan AR memicu AR lepas dari chaperon seperti heat shock protein 90 (HSP 90). Chaperon bertanggung jawab untuk menjaga AR dalam keadaan inaktif. Tanpa ligannya, reseptor androgen dapat berikatan dengan ligan homolog atau heterolog di sitoplasma dan mendesak efek
penghambatan pada proses kematian sel.
Transpor inti dimediasi oleh reseptor impor melalui sebuah jalur yang mempekerjakan dua protein, yaitu importin-a dan importin-b. Kompleks
reseptor androgen importin-a dan importin-b lalu bergerak melalui kompleks pori-pori inti dan terdisosiasi, lalu dimediasi oleh guanosine
triphosphatase (GTPase) sehingga melepaskan AR di dalam nukleus. Di dalam nukleus, ligan dan reseptor berikatan terhadap urutan tertentu
dari DNA genomik dan menginduksi stimulasi sintesis RNA. Remodeling kromatin seperti rekayasa histon berperan dalam transkripsi gen dan banyak reseptor nuklear yang berinteraksi dengan koregulator melakukan peran penting dalam transkripsi gen. Histon demetilase yaitu pemain kunci dalam regulasi transkripsi yang dimediasi oleh androgen. Regulasi ekspresi reseptor androgen pada tingkat transkripsi dan
translasi sangat kompleks dan bergantung pada faktor-faktor seperti usia, jenis sel, dan jaringan. biasanya , androgen berefek positif pada
stabilisasi protein reseptor sehingga pemberian androgen memicu penghambatan degradasi reseptor dan maka meningkatkan kadar
protein AR. Efek androgen pada mRNA AR yaitu kebalikannya. Dalam masalah ini, administrasi androgen memicu down regulation mRNA AR dengan memendekkan paruh-paruh mRNA.Jalur non-genomik dimulai sesudah androgen mengikat reseptor yang memediasi
tindakan awal yang dipicu oleh steroid seks. Selain reseptor steroid membran klasik, ada reseptor baru, yang dipasangkan ke protein G, mengaktifkan
kaskade protein kinase atau yang bertindak pada tingkat second messenger seperti
PI3K/AKT/mTOR atau PI3K/AKT/cAMP/Ca2+ atau jalur dimediasi ERK seperti PI3K/
AKT/MAPK-ERK/Elk1
EFEK NONGENOMIK ANDROGEN
Beberapa tanggapan steroid melibatkan mekanisme non-genomik. Ada beberapa kriteria/golongan dasar untuk tanggapan androgen dianggap bersifat non-genomik, yaitu 1) kecepatan: efek harus terjadi dalam waktu yang singkat (detik sampai menit), tidak cukup lama sehingga memungkinkan terjadinya transkripsi/translasi gen. Biasanya, tanggapan seluler yang memenuhi
persyaratan ini yaitu perubahan kalsium intraseluler bebas dan pengaktifan jalur utusan kedua (second messenger); dimediasi membran: tanggapan nya mungkin melibatkan reseptor atau protein pengikat yang tertanam di atau terkait membran, dengan aksi yang dapat diinduksi bahkan saat steroid dikonjugasikan ke molekul yang mencegahnya masuk jauh ke dalam
sitoplasma atau translokasi ke inti bila terikat dengan reseptor. Contoh yang biasanya yaitu pemakaian testosteron yang terkonjugasi ke
molekul besar seperti albumin serum sapi (BSA); dan 3) tidak adanya aktivasi transkripsi/translasi: tanggapan steroid tertentu dapat muncul dalam sistem di mana transkripsi gen atau sintesis protein tidak mungkin terjadi, Mekanisme kerja androgen secara non-genomik dapat terjadi melalui peran SHBG. Reseptor untuk SHBG sudah diidentifikasi di banyak jaringan termasuk prostat, testis, payudara, dan hati. SHBG selain bertindak sebagai pengatur konsentrasi testosteron, ia juga memainkan peran penting agar beberapa hormon steroid dapat bekerja tanpa memasuki sel,
Efek membran androgen sudah diketahui pada tanggapan fungsional seperti sekresi PSA yang cepat oleh sel prostat dan sekresi GnRH oleh sel pituitari Manusia dapat mencium sedikit androstenone (16 ene-5a-androsten-3-one) sebagai senyawa volatil. Sangat mungkin bahwa bau ini dipicu oleh reseptor membran khusus
untuk androstenone di dalam neuron sensoris penciuman, Diketahui bahwa semua reseptor penciuman yaitu reseptor G-protein-coupled.
Ketergantungan spermatogenesis pada kadar testosteron tinggi tidak dapat dijelaskan oleh sifat reseptor inti klasik dan sebab kadar testosteron
yang diperlukan untuk mempertahankan spermatogenesis normal jauh lebih
tinggi dibandingkan tingkat kejenuhan AR afinitas tinggi. Testosteron dapat merekayasa kerentanan sel T terhadap penyakit menular. Efek testosteron pada mobilitas kalsium melalui membran sel T sudah dilaporkan . sebab sel T tidak memiliki reseptor androgen klasik, tanggapan biologis ini juga menandakan adanya keterlibatan reseptor
membran plasma non konvensional untuk ekspresi efek androgen ini. beberapa contoh yang terkait dengan aksi androgen nongenomik dilaporkan baru-baru ini. Androgen akut (contoh dalam kira-kira 30 menit) mengubah frekuensi aktivitas peristaltik dan menambah amplitudo
aktivitas kontraktil otot usus kecil
. Ada juga bukti yang cukup bahwa efek non-genomik dari steroid dimediasi melalui
reseptor inti yang merangsang jalur pensinyalan di sitoplasma sel target
ANDROGEN INSENSITIVITY SYNDROME
Defek AR seperti delesi atau mutasi inaktif dapat mengubah fungsi reseptor menimbulkan kondisi klinis yang dinamakan androgen insensitivity syndrome (AIS). AIS yaitu kelainan yang terjadi sebab mutasi AR yang memicu resistansi terhadap testosteron. ada lebih dari 400
mutasi AR yang sudah diketahui memicu AIS
Pada personal 46,XY, fenotipe AIS sangat beragam , mulai dari kurangnya virilisasi hingga feminisasi testis. Mutasi yang memicu resistansi ringan dinamakan mild androgen insensitivity syndrome (MAIS). Kondisi ini ditandai oleh kurangnya virilisasi dan/atau infertilitas. Resistansi
parsial AR yang lebih berat dinamakan partial androgen insensitivity syndrome (PAIS), memicu genitalia ambigu. Mutasi yang menonaktifkan
gen reseptor androgen menghasilkan fenotipe wanita sebab kurangnya aktivitas androgen secara keseluruhan. Namun tidak ditemukan rahim dan hanya sebagian vagina yang terbentuk dan selama pubertas rambut kemaluan dan aksilaris jarang atau tidak ada. Kondisi ini dinamakan sindrom insensifitas androgen lengkap (complete androgen insensitivity syndrome/CAIS)
atau dahulu dinamakan sebagai sindrom feminisasi testis (testicular feminization
syndrome) untuk memiliki kapasitas membuahi telur secara alamiah, spermatozoa memerlukan peran organ lain dari sistem reproduksi
laki-laki . saat diejakulasikan, spermatozoa akan bergabung dengan seminal plasma yang dihasilkan oleh beberapa kelenjar tambahan. Spermatozoa hanya menyusun 2–5% dari ejakulat ini, selebihnya merupakan seminal plasma
. Berbagai perubahan pada spermatozoa selama berada di bsaluran reproduksi wanita juga perlu terjadi. maka lingkup bahasan bab ini tidak hanya tentang proses yang terjadi pada testis, namun juga pada peran kelenjar tambahan dan
produk akhir dari spermatogenesis, yaitu spermatozoa, dan seminal plasma. Proses pembentukan spermatozoa dikenal dengan ist i lah
spermatogenesis. Menurut Clermont, proses ini pada manusia berlangsung dalam waktu 64 hari di dalam testis dengan tambahan waktu 10–14 hari
di dalam epididimis untuk maturasi spermatozoa. maka keseluruhan proses memerlukan waktu 70 + 4 hari Namun, riset yang lebih baru menandakan bahwa keseluruhan proses dari produksi hingga siap ejakulasi spermatozoa selesai dalam waktu yang lebih singkat,
rata-rata 64 ± 8 hari dan dengan rentang 42–76 hari,
Spermatogenesis terjadi di dalam testis, tepatnya di dalam tubulus seminiferus. Proses ini merupakan proses kompleks yang melibatkan berbagai sel dan hormon. Spermatogenesis dimulai saat pubertas dan bersinambung
sepanjang kehidupan laki-laki dewasa.
ANATOMI TESTIS
Kata testis memiliki padanan kata “testimony” atau “testify” yang berarti saksi. Hal ini terjadi sebab pada zaman dahulu orang bersumpah sambil
memegang pangkal pahanya. Istilah lain yang dipakai untuk testis yaitu
“orchis”. Testis berbentuk ovoid dengan ukuran panjang ± 4,5 cm, lebar; + 3,5
cm; tebal + 3 cm, dan berat 15–25 gram.
Testis dibungkus oleh tunika vaginalis dan tunika albuginea. Tunika albuginea memasuki testis, membentuk sekat-sekat yang dikenal dengan
istilah septum testis. Ruangan yang terbentuk oleh septa testis dinamakan lobus testis. Dalam sebuah testis ada 250–300 lobulus testis. Di dalam lobus testis inilah ada dua kompartemen yang dapat dibedakan secara anatomis
maupun fisiologis, yaitu kompartemen tubular dan interstitial. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa kompartemen tubular berperan dalam
spermatogenesis sementara interstitial berperan pada steroidogenesis. Meskipun secara anatomis terpisah, namun kedua kompartemen berkaitan fisiologis secara erat. Untuk menghasilkan spermatozoa dalam kuantitas dan kualitas yang normal, kedua kompartemen perlu bekerja
dengan baik. Fungsi kedua kompartemen ini dikendalikan secara endokrin oleh hipotalamus dan hipofisis dan mekanisme lokal (parakrin dan autokrin).
KOMPARTEMEN TUBULAR
Kompartemen tubular mengisi sekitar 60–80% volume total testis. Kompartemen ini mengandung sel germinal, sel peritubular, dan sel Sertoli.
Panjang sebuah tubulus seminiferus bila direntangkan sekitar 30–80 cm. bila dihitung secara kumulatif, panjang tubulus seminferus dalam sebuah testis sekitar 360 m.
Tubulus seminiferus dibungkus oleh lamina propia yang terdiri dari membran basal, lapisan kolagen, dan sel peritubular (myofibroblas). Sel ini
secara bertingkat mengelilingi tubulus dan membentuk lapisan konsentrikal. Sel ini menghasilkan beberapa faktor yang terlibat dalam kontraktilitas selular, yaitu panactin, desmin, gelsolin, myosin dan actin . Sel ini juga menyekresi matriks ekstraselular dan faktor-faktor lain yang khas diekspresikan oleh sel jaringan ikat seperti kolagen, laminin, vimentin, fibronectin, growth factors, protein fibroblast, dan molekul adhesi Kultur sel peritubular manusia juga terbukti
menghasilkan nerve growth factor dan molekul proinflamasi seperti Il-1b dan cyclooxygenase-2 di bawah pengaruh TNF-α, Baru-baru
ini ditemukan bahwa sel peritubular juga mensekresikan pigment epithelium-
derived factor (PEDF), yang mungkin bertanggung jawab atas avaskularitas tubulus seminiferus, Sperma matur ditranspor keluar dari tubulus seminiferus oleh kontraksi sel ini. Kontraktilitas sel peritubular diatur oleh endothelin dan peptida relaksan adrenomedullin yang diproduksi
oleh sel Sertoli,
SEL SERTOLI
Sel Sertoli yaitu sel somatik di dalam tubulus yang sesudah mencapai usia dewasa tidak aktif membelah lagi. Nama ini berasal dari penemunya,
Enrico Sertoli (1842–1910), ilmuwan Italia yang pertama kali menjelaskannya. Sel ini terletak di membran basal dan meluas hingga ke lumen tubulus seminiferus. Sel ini dapat dianggap sebagai struktur penunjang sel benih.
Sepanjang badan sel, ada sel benih dengan berbagai tingkat diferensiasi, dari spermatogonium hingga elongated spermatid.
biasanya , sel Sertoli berfungsi untuk mengkoordinasi spermatogenesis. Hal ini dapat dilakukan melalui struktur ektoplasma khusus menjaga batas dan orientasi sperma selama diferensiasi, sintesis dan sekresi beragam faktor
(protein, sitokin, growth factors, opioid, steroid, prostaglandin, modulator pembelahan sel, dan lain-laim), fagositosis, dan memiliki mikrotubulus dan
filamen intermediet yang memberi kemampuan untuk adaptasi bentuk sel. Pada manusia, setiap sel Sertoli berkontak dengan sekitar 10 sel geminal
atau 1,5 spermatozoa . Sel Sertoli juga menciptakan dan menjaga patensi lumen tubulus melalui sekresi cairan tubular. Lebih dari 90% cairan sel Sertoli disekresikan ke dalam lumen tubulus. Elemen struktural khusus pada sawar darah testis mencegah reabsorpsi cairan ini
untuk menghasilkan tekanan yang berfungsi menjaga patensi lumen. Sperma ditranspor di dalam cairan tubular. Komposisi cairan ini pada manusia belum diketahui dengan pasti. riset yang ada baru mengetahui komposisi cairan tubulus pada tikus, Sel Sertoli yang berdekatan akan membentuk Sertoli cells tight junction
yang termasuk blood-testis-barrier atau sawar darah testis. Penutupan sawar darah testis ini terjadi saat meiosis sel benih sudah terjadi dan proliferasi sel Sertoli sudah berhenti. Sawar darah testis membagi epitel seminiferus
menjadi dua bagian, yaitu regio basal tempat sel benih stadium awal dan regio adluminal tempat sel benih stadium lanjut Selama perkembangannya, sel benih berpindah dari basal menuju
adluminal. Proses ini terjadi melalui disolusi dan perakitan kembali tight junction di atas dan di bawah sel benih yang berpindah. Sawar darah testis berfungsi sebagai isolasi fisik sel haploid (pembelahan meiosis memicu spermatosit primer dari keadaan diploid akan berubah menjadi haploid pada tahap selanjutnya) untuk mencegah pengenalan sel haploid oleh sistem imun
dan persiapan lingkungan khusus untuk proses meiosis dan perkembangan sperma
SEL BENIH (SEL GERMINAL)
Beragam sel benih tersusun dalam hubungan selular yang tipikal di dalam tubulus seminiferus. Sel ini terdiri dari sel punca pada bagian basal hingga spermatozoa pada lumen. Spermatogonia terletak pada bagian basal epitel seminiferus dan digolongkan menjadi tipe A dan B. Tipe A dibedakan menjadi spermatogonium Ad (dark) dan spermatogonium Ap (pale). Spermatogonium
Ad sangat jarang membelah dan tidak menandakan aktivitas proliferasi dalam kondisi normal , Spermatogonia ini dianggap sebagai
sel punca testikular Sel ini akan mengalami mitosis saat jumlah spermatogonia berkurang secara drastis, contohnya sebab radiasi sedang spermatogonium Ap membelah, memperbaharui diri dan berdiferensiasi menjadi spermatogonium B.
Dari spermatogonium B, spermatosit preleptopten dihasilkan sebelum permulaan pembelahan meiosis. lalu sel ini memulai menggandakan
kromosomnya (2n /4C), terus mengalami berbagai tahap hingga tahap pachiten yang ditandai oleh sintesis RNA yang intensif. Spermatid merupakan hasil akhir pembelahan meiosis dan mengandung kromosom separuh dari sel somatik (haploid).
Spermatid awalnya berbentuk bulat (round spermatid) dan tidak aktif membelah. Sel ini mengalami serangkaian perubahan menjadi elongated spermatid yang dinamakan spermiogenesis dan dilepas dari sel Sertoli
menjadi spermatozoa melalui spermiasi. Spermatozoa merupakan bentuk sel matur dari sel germinal yang ada dalam tubulus seminiferus.
Pembahasan mengenai morfologi spermatozoa akan dibahas pada sub pokok bahasan tersendiri.
REGULASI HORMONAL PADA SPERMATOGENESIS
Sistem Kisspeptin-GPR54
Spermatogenesis dipengaruhi oleh regulasi endokrin dan lokal yaitu melalui poros Hipotalalmus-Hipofisis-Testis. Hipotalamus akan menyekresi GnRH yang diatur oleh sistem kisspeptin-GPR54. Kisspeptin yaitu produk
dari gen KISS, yang terletak di kromosom 1q32.1. KISS1 mulanya dijelaskan sebagai sebuah gen supresor tumor pada manusia untuk kemampuannya
menghambat pertumbuhan melanoma dan metastasis kanker payudara. lalu diketahui bahwa kisspeptin (juga dinamakan metastin) yaitu
ligan alami dari reseptor GPR54 (G protein coupled receptor) yang memiliki peran dalam menginisiasi sekresi GnRH saat pubertas. Neuron yang mengekspresikan Kisspeptin terletak di nukleus
anteroventral periventricular (AVPV), nucleus periventricular, nucleus anterodorsal preoptic dan nucleus arcuatus (ARC). Gen KISS1 juga diekspresikan pada plasenta, testis, pankreas, dan usus. Bila diinjeksikan, kisspeptin menstimulasi sekresi LH, melalui interaksi dengan reseptor, GPR54 yang terletak di permukaan neuron sekretor
GnRH. Gen GPR54 terletak pada kromosom 19p13.3. Pada tahun 2003 ditemukan bahwa mutasi yang memicu hilangnya fungsi pada GPR54 pada manusia memicu kegagalan pubertas dan hipogonadotropik
hipogonadisme maka sistem kisspeptin-GPR54 penting untuk menginisiasi sekresi gonadotropin saat pubertas dan mempertahankan androgenisasi saat masa dewasa. Neuron kisspeptin yang terletak di ARC dan AVPV mengirim proyeksi ke
area medial preoptica, sebuah regio yang kaya dengan badan sel neuron GnRH
yang mengekspresikan GPR54.
GnRH yang akan memerintahkan hipofisis untuk menghasilkan hormon gonadotropin (FSH dan LH). FSH mengaktifkan sel Sertoli, sementara LH
merangsang sel Leydig untuk menghasilkan testosteron. Sebagian testosteron akan diikat oleh androgen binding protein (ABP) yang diproduksi oleh sel Sertoli, nsementara sebagian kecil akan masuk ke sirkulasi. Pengikatan testosteron oleh
ABP membantu pergerakan testosteron ke arah lumen tubulus seminiferus.seperti di bagian lain, testosteron bekerja melalui reseptornya
(AR). Namun, pada tubulus seminiferus, tempat terjadinya spermatogenesis, AR tidak ditemukan pada sel germinal. AR ditemukan pada sel sertoli dan peritubular (Peritubular Myoid Cell = PTC). Spermatosit memiliki reseptor ABP,
protein yang dihasilkan oleh sel Sertoli. maka peran testosteron dalam spermatogenesis dimediasi oleh sel Sertoli dan PTC.
Peran testosteron terhadap spermatogenesis dibuktikan melalui riset knock-out reseptor androgen seperti Sertoli Cell Androgen Receptor
Knock Out (SCARKO) dan Androgen Receptor Knock Out (ARKO)
Tabel Manifestasi klinis knock out reseptor androgen pada beberapa sel
Knock out Manifestasi Klinis
Sel Sertoli Infertil, tidak ditemukan sel germinal post meiotic
PTC Infertil, reduksi semua tahap sel germinal
Sel Leydig Fertil, sel Leydig immatur
Testosteron dan metabolitnya dalam darah yang berlebihan akan
memberi umpan balik negatif kepada hipotalamus. Testosteron, Estradiol,
dan DHT mengurangi frekuensi pulsasi GnRH
Steroid tidak dapat mempengaruhi sekresi
GnRH secara langsung pada neuron GnRH, namun melalui neuron kisspeptin pada ARC.
SPERMATOGENESIS
Testosteron melalui estradiol dalam darah yang berlebihan akan memberi umpan balik negatif ke hipofisis . Namun, metabolit testosteron lainnya, DHT di darah tidak memiliki peran penting
dalam proses ini . Pada level hipofisis, testosteron dan estradiol menghambat kerja GnRH . riset hewan menandakan hambatan kerja GnRH ini disebabkan sebab testosteron mengubah tanggapan Ca2+ terhadap induksi GnRH (GnRH induced calcium signal) pada sel gonadotrop , Umpan balik ini memicu sel
gonadotrop mengurangi produksi FSH maupun LH
Sel Sertoli, menyekresikan inhibin B untuk memberi umpan balik kepada hipofisis agar mengurangi sekresi FSH. Dalam spermatogenesis,
testosteron yang berperan yaitu testosteron intratestikular yang berperan secara parakrin, bukan yang beredar di dalam darah. Fenomena ini dapat menjelaskan mengapa pemberian testosteron eksogen dapat memicu terjadinya penurunan jumlah sperma dalam ejakulat.
FSH Inhibin B
PTC
LH T
E2
DHT
TAHAPAN SPERMATOGENESIS
Spermatogenesis terjadi di dalam tubulus seminiferus, dimulai dari pembelahan sel punca yang bersifat diploid dan berakhir dengan
pembentukan spermatozoa matur yang haploid. Proses ini dapat dibagi menjadi empat tahap sebagai berikut.
1. Proliferasi mitosis dan diferensiasi spermatogonia (spermatogoniogenesis
dan spermatositogenesis).
2. Pembelahan meiosis, yaitu pembelahan spermatosit menjadi spermatid
Pembelahan meiosis merupakan proses penting di mana terjadi rekombinasi material genetik dan reduksi kromosom. Protahap meiosis pertama merupakan tahap terpanjang dalam proses meiosis. tahap ini berlangsung 1–3 minggu, sementara keseluruhan tahap lainnya
diselesaikan dalam waktu 1–2 hari. Dari spermatogonium B, spermatosit preleptopten dihasilkan sebelum permulaan pembelahan meiosis. Sel ini memulai menggandakan
kromosomnya (2n /4C), lalu terus mengalami berbagai tahap hingga tahap pachiten yang ditandai oleh sintesis RNA yang intensif. Spermatosit sekunder merupakan hasil dari pembelahan meiosis pertama yang mengandung kromosom haploid dalam kondisi terduplikasi (n/2C). Selama meiosis 2, spermatosit membelah menjadi spermatid yang haploid (n/C).
Spermatid baik round maupun elongated mengandung kromosom haploid sehingga sudah memiliki semua informasi yang diperlukan untuk
fertilisasi. Sejak era ICSI, meskipun lebih sulit dan memiliki angka keberhasilan yang rendah, round spermatid dapat dipakai untuk
membuahi oosit
3. Spermiogenesis, yaitu perubahan spermatid menjadi spermatozoa Spermiogenesis merupakan proses diferensiasi sel yang berlangsung
kira-kira tiga minggu. Proses ini terdiri dari empat tahap , yaitu Golgi, cap, akrosom dan maturasi.
Pada tahap ini terjadi pembentukan akrosom, pemanjangan spermatid, kondensasi inti, pembentukan mid piece dan ekor, dan reduksi volume sitoplasma.
SPERMATOGENESIS
4. Spermiasi, pelepasan spermatozoa dari epitel germinal menuju lumen tubulus.
Di dalam tubulus seminiferus, seluruh komponen sel germinal mewakili satu dari 6 tahapan spermatogenesis yang dijelaskan oleh Clermont
Tahapan ini didefinisikan sebagai sebuah hubungan sifat sel germinal yang mewakili beberapa gelombang spermatogenesis yang terjadi secara bersamaan di dalam epitel seminiferus. Epitel seminiferus manusia biasanya
menandakan susunan yang multi tahap.
PERAN EPIDIDIMIS
Epididimis merupakan saluran transportasi spermatozoa dari testis menuju ke organ yang lebih distal dan berperan dalam penyimpanan
sementara hingga terjadi proses ejakulasi. Pada manusia waktu yang diperlukan spermatozoa untuk melewati saluran ini antara 4 hingga 12 hari.
Pada kebanyakan mamalia, proses transit ini berlangsung antara 8 hingga 13 hari. Secara alami, spermatozoa memperoleh kapasitas fertilisasi sesudah melalui epididimis
SPERMATOGENESIS
1. Maturasi sperma
Proses yang terjadi di epididimis, di mana spermatozoa meningkatkan kemampuannya untuk membuahi telur dinamakan sebagai maturasi sperma. Proses ini dikaitkan dengan berbagai perubahan fisiologis, biokimia, dan morfologi pada spermatozoa, Persentase spermatozoa dengan kepala normal meningkat di sepanjang
epididimis. Induksi gerak merupakan fenomena tergantung waktu. Kejadian gerak spontan dapat disebabkan oleh pengaruh waktu baik selama di dalam epididimis, maupun di bagian yang lebih proksimal akibat adanya obstruksi epididimis ataupun duktus deferens Meskipun potensi
gerak tidak mutlak ditentukan oleh epididimis, selama di dalam epididimis, spermatozoa mengalami proses pembentukan pola gerak yang matur yang ditandai oleh peningkatan nilai parameter kinematik seperti persentase gerak,
kecepatan gerak maju (straight-line velocity/VSL) dan kelurusannya.
2. Peran epididimis pada interaksi spermatozoa dan oosit Maturasi kemampuan spermatozoa untuk berikatan dengan zona pelusida terjadi di epididimis. Reseptor zona pada spermatozoa testikular mengalami rekayasa baik dalam ukuran dan lokasinya selama transit di epididimis. Epididymal secreted glycoprotein (P34H) yang disekresikan oleh epididimis juga berperan dalam pengikatan zona dan ketiadaannya dapat menjadi prediktor kegagalan IVF konvensional
3. Pembentukan kemampuan mengalami dan menginduksi reaksi akrosomReaksi akrosom lebih banyak terjadi pada sperma matur. Saat
spermatozoa epididimis diinkubasi, reaksi akrosom spontan lebih sedikit pada spermatozoa yang berasal dari bagian kaput bila dibandingkan dengan bagian korpus dan kauda
4. Kemampuan fertilisasi sperma
Kemampuan fertilisasi sperma meningkat sesuai dengan lokasinya di dalam epididimis. Semakin ke distal (kauda), maka kemampuan fertilisasi
semakin meningkat. Hal ini dibuktikan baik pada uji ikatan dengan membran vitelin hamster, parameter keberhasilan ICSI (angka fertilisasi, implantasi dan keguguran) antara spermatozoa testikular dan epididimis, dan laporan
kehamilan spontan pada pasangan Sesudah anastomosis bedah akibat obstruksi saluran transportasi sperma
5. Penyimpanan sperma dalam epididimis
Kapasitas penyimpanan sperma pada distal kauda epididimis tidaklah besar, sementara transportasi spermatozoa melaluinya cepat. Sesudah dua
minggu abstinensia, spermatozoa tampak di urine
Peningkatan solubilitas oksigen pada temperatur yang rendah dapat membantu viabilitas spermatozoa. Spermatozoa dalam epididimis manusia dapat mempertahankan kemampuan membuahi secara in vitro setidaknya 30 jam sesudah kematian
6. Perlindungan sperma
Beberapa protein yang disekresikan dalam cairan epididimis berperan dalam pengurangan spesies oksigen reaktif dalam cairan luminal seperti
GPX5, thioredoxin, GSTM1-3, SOD1, dan PRDX2- 5. Beberapa protein dan peptida seperti β-defensins, lipocalins, dan CRES dapat berperan dalam
melawan serangan bakteri
SPERMATOZOA
Johan Ham mengatakan kepada Antoni van Leeuwenhoek bahwa dia sudah melihat “zaaddiertjes/animalcules/hewan kecil” dalam cairan mani manusia. Ham menduga “hewan kecil” ini dihasilkan oleh proses pembusukan. Leeuwenhoek berpikir sebaliknya, menganggap “hewan kecil” sebagai komponen semen yang normal Pada bulan November 1677, dia menulis surat kepada William Brouncker, Presiden Royal
Society of London untuk menjelaskan penemuan ini. Dalam surat berikutnya tertanggal 18 Maret 1678, dia menandakan gambar sel sperma manusia dan anjing Pengamatan Leeuwenhoek membangkitkan konsep (aliran) “spermist”.
Dalam konsep ini, wanita hanya berfungsi sebagai “inkubator” untuk hewan kecil dan seluruh sifat keturunan diwarisi dari benih laki-laki
SPERMATOGENESIS
ini. Paham ini bertentangan dengan tesis Sir William Harvey tahun 1651 yang menganggap bahwa telur itu yaitu satu-satunya sumber dari semua kehidupan baru. Gagasan ini diadopsi secara luas oleh banyak “ovists” . Namun, sekarang kita mengerti bahwa spermatozoa dan oosit mengandung separuh perangkat kromosom (haploid) dan masing-masing berkontribusi secara genetik terhadap keturunan mereka.
STRUKTUR SPERMATOZOA
Spermatozoa merupakan sel memanjang, terdiri dari kepala yang mengandung inti dan ekor yang mengandung perangkat yang diperlukan untuk motilitasnya. Bagian-bagian sperma dijelaskan secara detail sebagai berikut.
Kepala Sperma
Kepala sperma berbentuk oval, berukuran sekitar 4,5 x 3 μm, mengandung inti dengan jumlah kromosom haploid dan kromatin yang padat. Kondensasi kromatin terdiri dari kompleks DNA yang mengandung protamin. Bagian ujung anterior dari kepala sperma diliputi oleh akrosom, sebuah kantong dengan membran dua lapis yang mengandung akrosin, hyaluronidase dan
enzim hidrolitik lainnya yang terlibat dalam proses fertilisasi.
Ekor Sperma
Ekor sperma terdiri dari leher, middle, principal, dan end piece.
1. Leher atau connecting piece yang berukuran sekitar 0,5 μm, membentuk plat basal, sentriol. Plat basal berlanjut ke posterior dengan 9 serabut luar padat/kasar yang berproyeksi ke seluruh ekor.
2. Middle Piece
Middle piece berukuran sekitar 3,5 μm. Pada bagian pusatnya bersama dengan keseluruhan panjang ekor ada aksonema. Aksonema
SPERMATOGENESIS
sendiri tersusun dari 9 pasang mikrotubulus yang tersusun secara radial mengelilingi dua filamen sentral. Aksonema dikelilingi 9 serat kasar/
padat luar. Aksonema dan serat padat pada middle piece diselubungi oleh beberapa mitokondria. Mitokondria menyediakan energi (ATP) yang
diperlukan untuk motilitas sperma.
3. Principal Piece
Principal piece merupakan kelanjutan posterior dari anulus dan menyebar hingga mendekati bagian ujung ekor, tersusun dari aksonema sentral
dan serat kasar. Selaput fibrous memberi stabilitas untuk elemen kontraktil dari ekor.
4. End Piece/Terminal Piece
End piece berukuran sekitar 3 μm, merupakan kelanjutan posterior dari bagian akhir selubung fibrous yang hanya mengandung aksonema
sentral yang diselubungi oleh membran plasma. Aksonema bertanggung jawab untuk motilitas. Pasangan mikrotubulus luar dari pola 9 + 2
menghasilkan gelombang pada ekor melalui gerakan meluncur antara pasangan yang berdekatan.
Gambar Komponen dari aksonema secara skematis. Kompleks aksonema terdiri atas 9 pasang mikrotubulus yang saling terkait oleh nexin dan dikaitkan dengan selubung pusat dari pasangan sentral oleh radial spokes
MORFOLOGI SPERMA
Dengan pewarnaan, kepala, leher, dan sebagian ekor terwarnai, sementara end piece tidak terwarnai. Berbagai teknik pewarnaan sudah
diterapkan pada pemeriksaan morfologi spermatozoa. Perbedaan teknik ini dapat memicu perubahan morfometrik pada kepala spermatozoa
Menurut kriteria ketat Krueger, spermatozoa yang dianggap normal secara morfologi yaitu sperma yang identik dengan spermatozoa yang
diperoleh dari traktus reproduksi wanita, terutama mukus endoservik post koital dan juga dari
permukaan zona pelusida, Dengan penerapan kriteria ketat ini, beberapa kriteria morfologi,
hubungan antara persentase bentuk normal dan berbagai titik akhir fertilitas (time-to-pregnancy/TTP), angka kehamilan in vivo dan in vitro sudah dibuktikan, Hasil yang berbeda pada IVF konvensional dilaporkan oleh Ghirelli-Filho
PERAN KELENJAR AKSESORIS REPRODUKSI laki-laki Kelenjar seks aksesori merupakan bagian dari sistem reproduksi laki-laki yang memiliki peran penting dalam proses fertilisasi. Kelenjar seks aksesori laki-laki utama yaitu vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar Cowper Produk kelenjar ini berfungsi untuk memberi nutrisi dan
mengaktifkan spermatozoa, membersihkan saluran uretra sebelum ejakulasi, dan bertindak sebagai alat transportasi untuk sperma di saluran wanita.
Kelenjar Cowper
Kelenjar Cowper atau kelenjar bulbourethral ditemukan oleh seorang ahli bedah Inggris, William Cowper pada abad ketujuh Kelenjar seks ini berasal dari sinus urogenital intermediate dan homolog dengan kelenjar Bartholini pada wanita
Kelenjar Cowper berpasangan dan terletak di bawah kelenjar prostat di diafragma urogenital, posterior dan lateral ke uretra membranosa, berada di
SPERMATOGENESIS
antara otot bulbospongiosus dan tertanam di dalam otot perineum transversal. Kedua kelenjar bergabung dengan uretra Kelenjar ini berukuran sekitar 1 cm dan berwarna kuning Kelenjar Cowper mengeluarkan glikoprotein ke dalam bulbus uretra
selama tahap excitement and plateau
Sekresinya berupa cairan lendir jernih, kental, alkali, dan disekresikan pra ejakulasi . biasanya sekresi Cowper mengandung kurang dari 1% komposisi semen , Cairan pra ejakulasi ini berfungsi sebagai pelumas untuk cairan ejakulat,
membantu menetralisir keasaman residu urine di uretra, dan keasaman vagina, dan melumasi ujung penis selama hubungan seksual Pada semen, cairan ini tampak sebagai bahan mirip jeli
Selain itu, kelenjar Cowper diduga berkontribusi pada imunitas saluran urogenital dengan mengeluarkan glikoprotein, termasuk antigen khusus prostat (PSA) dan ditemukannya sel-sel imunokompeten pada kelenjar ini , riset hewan menandakan bahwa pembuangan kelenjar ini memicu penurunan bermakna volume rata-rata semen dan nilai pH dibandingkan dengan kelompok kontrol. Namun tidak ada perbedaan menonjol yang diamati di antara parameter lainnya
Prostat
Prostat menyumbang sekitar 30% dari total volume mani . Kelenjar prostat terletak di antara diafragma urogenital dan leher kandung kemih. Prostat mengelilingi kedua duktus ejakulatorius dan juga
uretra, Prostat yaitu kelenjar multilobulasi heterogen yang terdiri dari empat zona: zona transisi, pusat dan perifer, dan stroma fibro-otot anterior. Zona sentral mengelilingi duktus ejakulatorius dan membentuk sekitar 25% kelenjar.
Zona perifer yaitu penyumbang utama jaringan kelenjar, membentuk 70% volume prostat. Zona transisi mengelilingi urethra prostat proksimal dan
menempati hanya 5–10% dari volume prostat. Di bagian anterior ada stroma fibro-muskular yang terdiri dari serat otot polos, kolagen padat, dan
fibroblast. Zona sentral dan periferal secara kolektif dinamakan prostat luar atau kortikal. Prostat bagian dalam atau periurethral terdiri dari stroma fibro-otot anterior dan zona transisi
Prostat terdiri dari kelenjar tubuloalveolar yang terbuka ke uretra pars prostatika. Prostat mengeluarkan cairan yang mengandung berbagai macam enzim proteolitik dan elektrolit. Sekresi prostat dilepaskan sesudah kelenjar bulbourethral melepaskan sekresinya, Produk kelenjar prostat yang dapat diperiksa untuk menilai fungsinya
antara lain yaitu citric acid, zinc, γ-glutamil transpeptidase dan fosfatase asam . Prostate specific antigen (PSA) merupakan produk kelenjar
yang berperan pada likuifaksi semen dan keberadaannya di dalam darah sudah dimanfaatkan untuk diagnosa keganasan prostat Oksitosin dan reseptornya sudah diidentifikasi pada prostat manusia. Oksitosin memodulasi kontraktilitas jaringan prostat dan juga untuk
mengatur konsentrasi lokal dari androgen aktif secara biologis
Vesikula Seminalis
Vesikula seminalis merupakan organ berpasangan, berbentuk seperti kantung, terletak di antara permukaan posterior kandung kemih dan rektum.
Keduanya terletak di samping dan di luar vasa deferentia dan berdekatan dengan ureter, kandung kemih, dan prostat. Vesikel seminalis pada ujung
SPERMATOGENESIS
inferiornya membentuk kanal sempit yang menyatu ke arah rekannya untuk bergabung dengan vas deferens yang sesuai yang membentuk duktus
ejakulatorius, Neuron adrenergik pendek yang berasal dari ganglia pelvis ditemukan menginervasi dinding otot vesikula seminalis. Selama tahap emisi ejakulasi impuls simpatik menghasilkan kontraksi kontinu pada otot polos. Akibatnya, sekresi vesikula seminalis dikirim ke uretra dalam persiapan ekspulsi dari penis.
Vesikula seminalis merupakan kontributor utama dan terakhir terhadap seminal plasma, memasok 60 hingga 85% dari total volume semen. Vesikula
seminalis mengeluarkan cairan yang bersifat basa. Sekresi utama dari kelenjar ini yaitu fruktosa, protein dan prostaglandin. Produk lainnya meliputi gula N-asetilamin prolaktin , fibrinogen, asam askorbat insulin atau peptida mirip insulin Glikodelin S fibronektin dan laktoferin
Sekresi bersifat basa berfungsi sebagai buffer terhadap lingkungan asam yang spermatozoa akan temui di saluran reproduksi wanita. Nilai normal
fruktosa yaitu 13 μmol atau lebih per ejakulasi dan sangat penting bagi integritas fungsional spermatozoa sebab ini yaitu sumber utama energi glikolitik untuk mempertahankan motilitas . ada hubungan terbalik antara kadar fruktosa dengan konsentrasi dan motilitas spermatozoa dalam seminal plasma Protein utama dalam seminal plasma yaitu semenogelin I dan II (SgI
dan SgII) Sebagian besar Sg disintesis dalam vesikula seminalis dan sebagian kecil SgII disintesis oleh epididimis. Kadar protein
ini dalam seminal plasma yaitu 50 g /L SgI dan 10 g /L SgII. Semenogelin diperkirakan mempengaruhi kapasitasi dan motilitas sperma Sg juga berperan dalam imunitas melalui aktivitas antibakterial peptida yang berasal dari fragmentasi Sg dan tergantung Zn Sesudah ejakulasi, Sg dan agregat fibronektin membentuk koagulum
yang menjebak dan meimobilisasi spermatozoa
Eppin (Epididymal protease inhibitor) turut mengikat kompleks Sg dan Fn Koagulum lalu cair dalam waktu 15–20 menit sebab Sg dan Fn didegradasi oleh PSA sehingga spermatozoa dapat
bergerak bebas dan berkapasitasi Kompleks Eppin-Sg-Fn melindungi spermatozoa sebelum kapasitasi dari protease yang secara langsung dapat menyerang membran plasma sperma Antibodi Anti-Eppin mengganggu kompleks Eppin-Sg dan menghambat degradasi Sg oleh PSA
Peran lain dari vesikula seminalis yaitu menghasilkan lipid yang dinamakan prostaglandin. Prostaglandin pertama kali ditemukan dalam ejakulat pada tahun 1935 oleh Ulf von Euler dari Swedia, Awalnya, prostaglandin diduga diproduksi oleh prostat sebab itu diberi
nama sedemikian rupa. Namun, sekarang diketahui bahwa prostaglandin berasal dari vesikula seminalis Senyawa pertama yang diidentifikasi yaitu PGE1, PGE2, PGE3, PGF1, dan PGF2α. lalu , 19-hidroksi-PGE1, 19-hidroksi-PGE2, 19-hidroksi-PGF1α, dan 19-hidroksi-PGF2α sudah diidentifikasi . Prostaglandin memiliki berbagai efek farmakologis, termasuk stimulasi otot polos. Prostaglandin yang diproduksi oleh vesikula
seminalis mendukung transportasi sperma dengan cara merangsang otot polos saluran reproduksi laki-laki selama proses ejakulasi yang akan mendorong pergerakan sperma. Dalam sistem reproduksi wanita, prostaglandin seminalis
memicu rahim dan vagina berkontraksi sesudah melakukan hubungan seksual yang juga memfasilitasi pengangkutan sperma ke lokasi fertilisasi
FERTILISASI ALAMIAH
Reproduksi alamiah dapat terjadi dengan cara seksual atau aseksual, tergantung jenis organismenya. Organisme uniseluler berkembang biak secara aseksual atau vegetatif. Mereka bereproduksi secara mitosis, mirip dengan
sel-sel somatik pada tubuh organisme multiseluler. Beberapa organisme multiseluler seperti kadal dapat berkembang biak secara aseksual di mana sel telur dapat berkembang tanpa adanya spermatozoa yang membuahi. Proses ini dikenal dengan istilah partenogenesis Sebagian organisme lainnya berkembang biak secara seksual. Pada
sebagian hewan air dan amfibi, proses perkembangbiakan seksual ini terjadi di
luar tubuh melalui proses fertilisasi eksternal. Sementara mamalia, termasuk manusia secara alamiah melakukan fertilisasi di dalam atau fertilisasi internal
KOITUS
Pembuahan merupakan proses bersatunya spermatozoa dan sel telur untuk membentuk personal yang baru. Pada manusia, proses ini dapat terjadi secara alamiah maupun dengan bantuan. Untuk terjadinya proses fertilisasi
alamiah perlu didahului dengan koitus. Melalui koitus, spermatozoa dari bagian distal kauda epididimis memasuki seminal plasma, ditransfer ke
saluran reproduksi wanita, dan berjalan di dalam saluran reproduksi wanita untuk membuahi sel telur yang baru diovulasikan. Proses koitus untuk
fertilisasi memerlukan fungsi ereksi dan ejakulasi yang baik.
EREKSI
Ereksi berasal dari bahasa latin erigere, merupakan keadaan kekerasan, pembesaran, dan tegak yang terjadi pada penis atau klitoris, sering dipicu
oleh gairah seksual, namun juga terjadi selama tidur atau sesudah stimulasi fisik. Ereksi dihasilkan saat tambahan darah memasuki organ dan tekanan darah
di dalam organ meningkat. Keadaan ini dipengaruhi oleh stimulasi psikis dan
fisik. Ereksi memicu penis mampu untuk penetrasi ke dalam vagina
dan mengeluarkan ejakulat.
a. Anatomi ereksi
Struktur anatomi penis terpenting yang menentukan fungsi ereksi
yaitu kedua korpora kavernosa. Bentukan silinder itu akan penuh
terisi oleh darah saat mengalami ereksi hingga mengalami perbesaran
dan pemanjangan sampai dengan tiga perempat dari ukuran penis semula.
Masing-masing korpora kavernosa memperoleh suplai aliran darah dari
arteri iliaka interna, yang merupakan cabang dari arteri iliaka komunis (Kirby
& Lue, 2005).
Gambar 6.1 Anatomi Potongan Melintang Penis (Brant et al., 2009)
103BAB 6 FERTILISASI ALAMIAH
Penis diinervasi oleh sistem saraf otonom (simpatis dan parasimpatis)
dan somatik (sensoris dan motoris). Neuron-neuron saraf itu bersumber
dari saraf tulang belakang dan ganglia perifer yang bergabung mengikuti
jalur simpatetik dan parasimpatetik membentuk saraf kavernosus. Serat saraf
otonom ini memasuki korpora kavernosa dan korpus spongiosum untuk
mengendalikan aktivitas neurovaskular selama proses ereksi dan detumescence
(Yuh & Shindel, 2017).
Gambar 6.2 Anatomi Arteri, Vena, dan Saraf Penis (Brant et al., 2009)
104
b. Fisiologi ereksi
i. Inisiasi ereksi
berdasar pencetusnya, secara konsep, ereksi dapat dibedakan
menjadi ereksi refleksogenik, psikogenik, dan nokturnal. Ereksi
refleksogenik dan psikogenik hanya dapat dipisahkan pada laki-laki
dengan trauma medula spinalis, sedang pada keadaan fisiologis
saling tumpang tindih.
Ereksi refleksogenik ditimbulkan oleh rangsangan taktil pada
area genital dan ditransmisikan oleh saraf penis dorsal. Di dalam
medula spinalis, terjadi transfer impuls menuju serabut parasimpatis
eferen (nervi erigentes). Sesudah transformasi pada pleksus pelvikus,
ereksi ditimbulkan oleh saraf kavernosa. Bagian somatik dari
saraf pudendus menginduksi kontraksi otot dasar panggul demi
tercapainya rigiditas.
Ereksi psikogenik terjadi saat neurotransmiter, utamanya dopamin
dan nitrit oksida (NO) dilepaskan akibat adanya rangsangan erotik
di pusat seksual otak. Sinyal ditransmisikan ke korpora kavernosa
melalui aktivasi sistem saraf parasimpatis dan transfer sinyal di
dalam pusat erektil sakral, di mana NO dan vasoactive intestinal
polypeptide (VIP) bertindak sebagai transmiter utama. Efek hambatan
utama berasal dari pusat ereksi torakolumbal, dengan serabut
parasimpatis bersama di dalam Nn. Kavernosi mencapai penis.
Secara fisiologis, korpora kavernosa lebih dipengaruhi oleh
faktor-faktor penghambat ereksi dibandingkan faktor-faktor yang
memfasilitasi. Hal ini menjelaskan mengapa penis lebih sering
berada dalam keadaan flaksid. Ereksi nokturnal merupakan hasil
dari siklus sirkadian. Tonus parasimpatis mendominasi selama
malam, menimbulkan ereksi otonomik yang intermiten. Pada laki-laki ,
terjadi 3 hingga 5 tahap ereksi dengan durasi 20–30 menit selama
tahap rapid eye movement saat sedang tidur. Ereksi nokturnal, sebab
diasumsikan tidak dipengaruhi faktor-faktor kejiwaan, menjadi
salah satu metode untuk membedakan disfungsi ereksi organik
dengan nonorganik. Ereksi nokturnal dapat dinilai secara objektif
memakai Rigiscan® (Karadeniz et al., 1997).
105BAB 6 FERTILISASI ALAMIAH
Ketiga pencetus ereksi akan menimbulkan suatu reaksi lokal pada
ujung saraf yang bertanggung jawab untuk memfasilitasi terjadinya
ereksi. Penjelasan peristiwa ini dijelaskan dalam bahasan kendali
lokal ereksi.
ii. Kendali lokal ereksi
NO (nitrit oksida) merupakan mediator paling penting bagi terjadinya
relaksasi korpus kavernosum (Andersson & Wagner, 1995). NO
dikeluarkan oleh ujung saraf non adrenergic non cholinergic (NANC)
dari Nn. kavernosi, di samping itu, NO juga dikeluarkan oleh seluruh
endotel yang melapisi sinusoids dan pembuluh darah penis.
Bahan dasar NO yaitu asam amino L-arginin dan oksigen yang
dikatalisasi oleh NO sintase (NOS). ada tiga isoform NOS yang
dibedakan berdasar lokasi pertama kali enzim ini ditemukan.
Neuronal NOS (nNOS atau tipe 1) dan endothelial NOS (eNOS atau tipe
3) bersifat Ca2+/calmodulin-dependent, sementara inducible NOS (iNOS
atau tipe 2) bersifat Ca2+/calmodulin-independent, diekspresikan di
makrofag dan jaringan lain sesudah stimulus imunologis (Föstermann
et al., 1994).
Akibat cetusan ereksi, neuronal NO mula-mula dilepaskan. Pada
gilirannya, NO mengaktifkan guanilil siklase yang terikat di
membran, memicu perubahan GTP menjadi 3’5’siklikguanosin
monofosfat (cGMP). cGMP merupakan second messenger penting untuk
aktivasi cGMP-dependent protein kinase G (PKG). sebab pengaruh
PKG, kalsium intraseluler bebas diambil oleh retikulum endoplasma,
memicu penurunan fluks kalsium dan peningkatan fluks
kalium dari sel, yang menimbulkan depolarisasi yang diikuti dengan
relaksasi otot polos pembuluh darah dan perubahan hemodinamik
(Burnett, 2004). Didukung oleh perubahan mekanik dan peregangan
dari otot, aktivasi lanjutan dari NO endotel yang berperan dalam
mempertahankan relaksasi otot polos dan ereksi.
Pembentukan cAMP analog dengan cGMP saat adenilil siklase
yang terikat membran diaktifkan oleh VIP. Kedua second messengers
merupakan subjek terhadap metabolisme fisiologis oleh beragam
enzim phosphate diesterase, di mana tipe 3 dan 5 yaitu yang relevan
secara klinis. Aktivitas fosfodiesterase memicu perubahan
106
cGMP menjadi 5’GMP ataupun cAMP menjadi 5’AMP, yang bersifat
inaktif.
Persarafan simpatik mengikuti secara luas melalui reseptor adrenergik
1 dan 2, memicu peningkatan kadar kalsium dan kontraksi sel
otot. Beragam substansi lokal disintesis di dalam jaringan erektil
penis berpengaruh inhibisi, seperti prostanoids, endothelin,
dan angiotensin. Kontrol lokal ereksi lebih kuat dipengaruhi oleh
testosteron dibandingkan dengan yang diperkirakan dahulu. Dengan
demikian, defisiensi testosteron yang berkepanjangan memicu
pengurangan serabut saraf yang mengandung NOS, downregulation
nNOS dan eNOS, dan jumlah sel otot polos terus berkurang sebab
apoptosis
iii. Hemodinamik
Tiga faktor hemodinamik yang penting bagi terjadinya ereksi (van
Ahlen & Kliesch, 2010) yaitu
a. penurunan resistensi intrakavernosa akibat relaksasi sel-sel otot
kavernosa
b. peningkatan aliran masuk arterial oleh dilatasi pembuluh nadi
c. restriksi aliran vena oleh kompresi intrakavernosa dan pleksus
vena subtunika.
Pengurangan tonus seluruh struktur otot korpus kavernosum yang
ditambah dengan relaksasi sinusoid menghasilkan peningkatan aliran
arteri. Secara klinis peristiwa ini berkaitan dengan peningkatan
tumescence dan pemanjangan penis. Pada sistem vena, drainase yang
semula tidak dihalangi pada kondisi penis flaksid, akan dikurangi
oleh reduksi diameter vena. Dengan pembesaran maksimal sinusoid
kavernosa, venula di trabekula, dan vena emisaria yang melewati
tunika albuginea semakin tertekan. Perubahan ini akhirnya
memicu ereksi penis yang lengkap.
ada lima tahap ereksi. tahap laten ditandai oleh penurunan
tekanan intrakavernosa sesudah distimulasi oleh Nn. kavernosi.
Peristiwa ini diikuti oleh peningkatan perfusi arteri. sebab sifat
struktur elastik-fibromuskular dari korpora kavernosa, terjadi
pemanjangan penis tanpa perubahan pada tekanan intrakavernosa.
Selama tahap tumesence, secara perlahan terjadi peningkatan tekanan
107BAB 6 FERTILISASI ALAMIAH
pada vena. Saat tekanan intrakavernosa sedikit kurang dari tekanan
darah sistolik, sebuah plateau terjadi, yang ditandai oleh keadaan
aliran arteri yang stabil dan aliran vena yang minimal (tahap ereksi).
Rigiditas maksimal akan diperoleh dengan kontraksi dari otot dasar
panggul, yang meningkatkan tekanan intrakavernosa melebihi
tekanan sistolik (tahap rigiditas). Saat impuls saraf dihentikan,
rigiditas, dan tumesence akan berkurang (tahap detumescence).
tahap
Resistensi
kavernosa
Tekanan
intrakavernosa
Aliran darah Penis
Latensi ↓ Stabil Arterial ↑,
vena stabil
Memanjang
Tumesen Stabil ↑ stabil Membesar,
Menegang
Ereksi Stabil Stabil 10 – 20
mmHg di bawah
sistol
Arteri ↓,
vena ↓
Panjang
maksimal
Rigiditas Stabil > sistol Arteri minimal
,
vena oklusi
Besar dan
tegang
Maksimal
Detumesen ↑ Arteri dan vena
minimal (nilai
awal)
Flaksid
EJAKULASI
Ejakulasi didefinisikan sebagai ekspulsi cairan seminal melalui meatus
uretra. Ejakulasi terjadi saat klimaks seksual, biasanya dengan orgasme
(Kondoh, 2011). Ejakulasi terdiri atas dua tahap : emisi carian seminalis ke
dalam uretra posterior yang dimediasi secara simpatis, diikuti dengan true
ejaculation dan ekspulsi dari ejakulat yang dimediasi secara somatis (Ralph
et al, 2005). Selama tahap emisi, ejakulat dikeluarkan ke dalam uretra posterior
melalui sekresi epithelial dan kontraksi peristaltik dari otot polos dari traktus
seminalis. Ekspulsi terjadi jika cairan semen bergerak secara cepat melalui
uretra dan keluar di meatus penis; hal ini melibatkan kontraksi pulsatil dari
otot bulbokavernosum dan otot dasar panggul (Kondoh, 2011).
108
Gambar 6.3 Mekanisme ejakulasi
(Ralph & Wylie, 2005)
Selanjutnya, sinkronisasi antara penutupan dari bladder neck diikuti
dengan relaksasi urinary sphincter merupakan proses krusial untuk mencegah
aliran balik cairan semen ke dalam kandung kemih dan memperoleh
propulsi akurat dari semen (Kondoh, 2011). Emisi dan penutupan dari bladder
neck merupakan fenomena yang dikendalikan oleh saraf simpatis dari segmen
thorakolumbal Th9-L3, sementara ekspulsi dari cairan semen ditransmisikan
oleh suatu refleks involunter (S2-4) dari nervus pudendus (van Ahlen &
Kliesch, 2010).
109BAB 6 FERTILISASI ALAMIAH
MIGRASI SPERMATOZOA DARI SEMINAL PLASMA MENUJU LENDIR
SERVIKS
Sesudah ejakulasi, spermatozoa dideposit di dalam vagina pada seminal
plasmanya yang menetralisir keasaman vagina. Spermatozoa lalu
bermigrasi dari seminal plasma menuju lendir serviks yang menyebar ke
vagina. Hanya spermatozoa yang mampu bergerak dan memiliki bentuk
normal yang mampu menembus lendir serviks, sementara sisanya akan keluar
bersama dengan mengalirnya seminal plasma dari vagina wanita. Lendir ini
pada masa sekitar ovulasi sesuai untuk dilewati oleh spermatozoa (Montimer,
1995). Namun, gangguan interaksi antara spermatozoa dan lendir serviks
dapat menjadi barier, ditandai oleh shaking phenomenon pada pemeriksaan
lendir serviks Sesudah koitus. Fenomena ini terjadi sebab antibodi spermatozoa
menempel pada bagian ekor. Kondisi ini dapat memicu infertilitas akibat
faktor serviks
Spermatozoa yang menembus lendir serviks harus mampu bertahan
di dalam saluran reproduksi wanita, bergerak menuju tuba, tempat di mana
telur yang sudah diovulasikan berada (Gambar 6.4).
Gambar 6.4 Perjalanan spermatozoa Sesudah koitus.
(Anonym, 2018)
110
Mengapa spermatozoa dari uterus dapat menuju ke tuba yang terisi oleh
oosit? Hal ini terjadi sebab adanya signal yang mengatur agar spermatozoa
bergerak menuju telur. Mekanisme spermatozoa bergerak menuju telur dapat
melalui empat mekanisme, yaitu kemotaksis, rheotaksis, termotaksis, dan
haptotaksis. Namun, pada mamalia mekanisme haptotaksis tidak terjadi
(Wachten et al., 2017). Pada manusia, progesteron diduga bertindak sebagai
kemoatraktan (Oren-Benaroya et al., 2008). Sperma menyelaraskan diri
terhadap arah aliran cairan dari saluran telur ke rahim. Mekanisme ini dikenal
sebagai rheotaksis, sebuah proses yang bersifat pasif, tanpa melibatkan influks
kalsium (Zhang et al., 2016).
KAPASITASI PADA SALURAN REPRODUKSI WANITA DAN PERJALANAN
SPERMATOZOA KE OVIDUCT
Spermatozoa lalu bermigrasi ke dalam tuba dan akan menempel
pada epitel tuba. Selama masa ini, spermatozoa mengalami proses paralel
yang dikenal dengan dengan istilah kapasitasi. Kapasitasi yaitu proses
pengondisian yang memicu spermatozoa mampu untuk mencapai
dan membuahi sel telur. Spermatozoa dari ejakulat segar tidak mampu
segera membuahi sel telur saat berkontak dengan sel telur secara in vitro,
dan kemampuan ini timbul sesudah periode kapasitasi ini sudah berlalu.
Kapasitasi menghasilkan perubahan status spermatozoa, menimbulkan
gerakan hiperaktivasi dan kemampuan untuk menembus pelindung telur, dan
mengalami reaksi akrosom yang diinduksi pada permukaan zona pelusida.
Dipercaya bahwa spermatozoa in vivo menempel pada endosalpinx sebelum
waktu ovulasi dalam keadaan tidak terkapasitasi dalam rangka menjaga
viabilitasnya.
Mekanisme Kapasitasi
Selama kapasitasi, spermatozoa kehilangan beberapa protein
permukaannya yang dikenal dengan faktor dekapasitasi. Faktor ini berasal
dari epididimis dan saat ejakulasi dari vesikula seminalis. Kehilangan faktor
dekapasitasi ini diikuti oleh perubahan lipid membran plasma spermatozoa.
Pembelahan enzimatik kutub polar menuju sterol nonpolar mengubah
kekakuan membran dan pembuangan kolesterol oleh sterol-binding
111BAB 6 FERTILISASI ALAMIAH
protein mengubah kondisi membran lipid. Membran plasma merupakan
micro-domain yang kaya akan kolesterol, sphingomyelin, glycosphingolipids,
glycosylphosphatidylinositol (GPI)-anchored protein, dan kompleks molekul
sinyal transduksi. Kehilangan kolesterol dari membran sperma memicu
gangguan lipid membran untuk meningkatkan fluiditas membran dan
memfasilitasi fusi membran yang diperlukan untuk reaksi akrosom dan
fusi sperma-oosit. Perubahan-perubahan molekular pada kapasitasi sperma
dipelajari secara in vitro, peringatan perlu diberikan untuk ekstrapolasi ke
in vivo.
Konsekuensi Kapasitasi: Hiperaktivasi dan Migrasi menuju tempat fertilisasi
Dampak pertama dari kapasitasi yaitu hiperaktivasi. Gerakan ini
dikenali secara mikroskopis sebagai gerakan ‘mencambuk’ yang kuat oleh
ekor spermatozoa, bergerak dengan amplitudo bengkokan yang besar,
dan menghasilkan sebuah gerakan yang kencang, nonprogresif. Pencetus
hiperaktivasi belum pasti, namun dasar molekular hiperaktivasi termasuk
influks kalsium melalui kanal ion CatSper (Qi et al. 2007).
Peristiwa ini memicu lepasnya spermatozoa dari epitelium oviduk,
meningkatkan kemungkinan tumbukan spermatozoa dengan kumulus dan
menyediakan dorongan bagi spermatozoa untuk pindah melalui cairan
luminal yang kental, kumulus ooforus, dan zona pelusida yang mengelilingi
oosit.
Perpindahan spermatozoa menuju oosit di dalam ampula oviduct
mungkin diarahkan oleh thermotaxis, tergantung perbedaan suhu. Ampula
memiliki temperatur yang lebih tinggi dibandingkan isthmus. Hanya
spermatozoa yang terkapasitasi yang metanggapan pengaruh temperatur ini.
PENETRASI KUMULUS OOFORUS
Sesudah mencapai tempat fertilisasi di ampula tuba falopi, spermatozoa
masih harus mengatasi dua hambatan yang berpotensi mencegah kontak
langsung dengan oolemma, yaitu kumulus ooforus, di mana telur tertanam;
dan zona pelusida mengelilingi oosit.
Kumulus oophorus terdiri dari sel-sel granulosa, termasuk “korona
radiata”, berbatasan langsung ke sel telur. Sel-sel ini tertanam dalam matriks
112
yang terutama terdiri dari asam hialuronat. Meskipun enzim litik pada
permukaan sperma, seperti hialuronidase PH-20, mungkin terlibat dalam
memfasilitasi berjalannya spermatozoa melalui kumulus, kebutuhan untuk
kekuatan mekanik dari spermatozoa yang terhiperaktivasi tetap diperlukan .
Spermatozoon kemungkinan diarahkan ke telur secara kemotaksis, migrasi
spermatozoa menuju ke kemoatraktan dengan konsentrasi yang lebih tinggi.
Sel-sel granulosa, terutama korona radiata, bisa mengeluarkan senyawa yang
memediasi migrasi kemotaksis jarak pendek dalam kumulus.
Teori klasik mengatakan bahwa hanya spermatozoa dengan akrosom
utuh yang dapat menembus kumulus. Jika reaksi akrosom spontan terjadi di
luar kumulus, spermatozoa tidak dapat bermigrasi melalui lapisan ini, sebab
spermatozoa yang sudah mengalami reaksi akrosom melekat pada massa
kumulus. Reaksi akrosom baru diperlukan untuk penetrasi spermatozoa
pada permukaan zona pelusida. Sperma yang mengalami reaksi akrosom
dalam massa kumulus sudah dianggap “salah” bereaksi-akrosom. Namun, uji
model hewan menemukan bahwa spermatozoa yang sudah bereaksi akrosom
tetap mampu menembus kumulus dan zona untuk kedua kalinya. (Inoue et
al., 2011)
INTERAKSI SPERMATOZOA DENGAN ZONA PELUSIDA
Zona pelusida terdiri dari anyaman glikoprotein ZP1, ZP2, ZP3, dan
ZP4/ZPB. ZP3 dan mungkin ZPB terlibat dalam ikatan sperma-zona. ZP1
menyediakan integritas struktural untuk zona pelusida oleh filamen yang
saling menyilang yang dibentuk oleh protein zona lainnya.
Kontak awal antara gamet terjadi antara kelompok karbohidrat
terkait protein o zona pelusida ZP3 atau ZPB dengan “zona reseptor” pada
spermatozoa. Berbagai protein yang terkait dengan permukaan sperma sudah
dianggap mampu memediasi ikatan sperma-zona. Fucose atau fucoidan dan
mannose, dilaporkan menghambat ikatan sperma-zona. Hal ini diduga terjadi
akibat persaingan dengan struktur serupa pada permukaan sperma dengan
zona pelusida.
Reseptor untuk ZP3 pada spermatozoa manusia termasuk protein integral
membran yang sudah ada pada spermatozoa testis dan sekresi epididimis
yang melapisi permukaan sperma selama pematangan dalam epididimis,
contoh , P34H. Adhesi zona-spermatozoa diduga tidak diperantarai oleh
113BAB 6 FERTILISASI ALAMIAH
satu reseptor. Pendekatan multimeric zona recognition complex (MZRC) sudah
menyatakan bahwa sperma memakai seperangkat kompleks protein
multimolekuler untuk mengkoordinasikan adhesi mereka ke ligan yang
ada di zona pelusida (Reid et al., 2011; Redgrove et al., 2011).
Kekuatan sel sperma saja, tanpa enzim, mungkin cukup untuk penetrasi
zona, namun ada kemungkinan bahwa baik kekuatan mekanik dan enzimatik
yaitu sarana bagi spermatozoon untuk masuk ke ruang perivitellina. SPAM1/
PH-20 (hialuronidase permukaan sperma) disekresikan oleh epididimis manusia
dan dapat berfungsi sebagai enzim dan reseptor zona (Evans et al., 2003).
Gambar 6.5 Proses interaksi spermatozoa dan oosit dari kontak dengan zona
pelusida hingga singami (Cooper & Yeung, 2010)
Ikatan protein ZP3 dengan reseptor zona di membran yang berada di
atas akrosom menimbulkan reaksi akrosom. Dampak dari pelepasan vesikel
ini yaitu pelepasan protease akrosom (contohnya akrosin), dan pajanan
114
protease dari ikatan membran akrosom luar-dalam (akrosin dan precursornya
proakrosin). Proakrosin juga bisa berfungsi sebagai protein pengikat zona
dan berperan dalam postulat lain. Ikatan sekunder terhadap zona oleh
spermatozoa yang bereaksi akrosom melibatkan ZP2, di saat membran plasma
hilang dan ikatan ZP3 tidak lagi fungsional.
Gambar 6.6 Reaksi akrosom (Cooper & Yeung, 2010)
115BAB 6 FERTILISASI ALAMIAH
FUSI SPERMATOZOA DENGAN MEMBRAN VITELINA
Selain melepaskan enzim hidrolisis untuk memfasilitasi penetrasi zona,
peran lain dari akrosom yaitu menciptakan perubahan halus pada regio
ekuatorial akrosom dan regio post akrosom (Gambar 6.3) yang diperlukan
untuk fusi sperma-telur. Tidak seperti bagian proksimal regio akrosom, tidak
ada vesikulasi pada regio ekuatorial yang bersama dengan regio post
akrosom dianggap sebagai tempat awal kontak sperma-sel telur. Kedua regio
ini berikatan dengan membran oosit di regio yang kaya dengan mikrovili.
Protein kandidat lain untuk fusi sel telur yang diekspresikan oleh
spermatozoa yaitu Izumo-1 dan SPSPE1. Izumo-1 yaitu sebuah protein
yang terletak pada permukaan spermatozoa yang sudah mengalami reaksi
akrosom, memiliki kemampuan untuk mengenali dan bersatu dengan
sel telur (Inoue et al., 2005). Reseptor izumo-1 pada telur yaitu Cd9 dan
protein yang awalnya dinamakan reseptor folat 4. Namun, sebab
reseptor ini selanjutnya diketahui tidak mengikat folat, Bianchi menyarankan
Juno sebagai nama penggantinya (Bianchi et al., 2014). Segmen ekuatorial
merupakan tempat inisiasi fusi spermatozoa-telur pada mamalia. Dengan
demikian protein fusi harus terletak di segmen ini. Pada spermatozoa yang
sudah bereaksi akrosom, Izumo-1 tidak hanya berlokasi di segmen ekuatorial
namun juga regio post akrosom. sebab itu peneliti mencari protein lain
yang hanya terletak di segmen ekuatorial sebagai inisiator kandidat fusi ini.
SPESP1 (sperm equatorial segment protein 1) dapat diduga sebagai protein fusi
sperma sel telur sebab antibodi anti-SPESP1 menghambat fusi spermatozoa-
sel telur pada uji sel telur hamster bebas zona (Wolkowicz, et al., 2008) dan
fertilisasi in vitro tikus (Lv, et al., 2010). Tikus dengan jantan Spesp1+/– dan
Spesp1–/– memiliki spermatozoa yang berkemampuan fusi lebih rendah
dibandingkan dengan yang tipe liar. maka disimpulkan bahwa
SPESP1 diperlukan untuk menghasilkan kompetensi fusi yang sempurna
(Fujihara et al., 2010).
116
Gambar 6.7 Proses fusi spermatozoa dengaan mebran vitelina. Proses ini diikuti
dengan proses endositosis (Satouh et al., 2012)
PERISTIWA Sesudah FUSI
Pada manusia, baik kepala maupun ekor spermatozoa memasuki
sitoplasma oosit, namun membran plasma tertinggal pada permukaan oosit.
Segera sesudah spermatozoa memasuki oosit, terjadi tanggapan oosit dalam tiga
bentuk berikut.
Melanjutkan Pembelahan Meiosis II
Meiosis belum terjadi secara lengkap saat oosit mengalami ovulasi;
oosit tertahan pada periode metatahap II. saat spermatozoa masuk di waktu
fertilisasi, blokade pembelahan dihentikan sehingga oosit dapat menyelesaikan
meiosis. Fusi sperma-sel telur melepaskan ion kalsium dari simpanan
FERTILISASI ALAMIAH
intraseluler yang diikuti oleh osilasi kalsium yang terjadi beberapa jam hingga pembentukan pronukleus betina. Faktor yang berperan dalam aktivasi oosit ini dinamakan sebagai sperm-associated oocyte activation factor (SOAF). Beberapa kandidat SOAF yaitu phospholipase C zeta (PLCζ) dan postacrosomal sheath
WW binding protein (PAWP). PLCζ saat masuk ke oosit menghidrolisis PIP menghasilkan IP3; IP3 berikatan dengan IP3RS memicu pelepasan
Ca2+ dari retikulum endoplasma. Kebutuhan akan PLCζ dibuktikan melalui percobaan di mana spermatozoa dengan mutasi PLCζ menandakan aktivitas enzim yang menyimpang dan gagal mengaktifkan oosit. Mikroinjeksi protein
rekombinan PLCζ manusia lalu mampu merangsang osilasi Ca2+ dengan sifat seperti saat fertilisasi yang diperlukan untuk aktivasi oosit dan perkembangan menuju tahap blastokis
Hampir separuh dekade sesudah penemuan PLCζ, diajukan kandidat lain SOAF, yaitu PAWP. Kandidat baru ini merupakan protein khusus
spermatozoa yang diduga berikatan dengan yes associated protein (YAP) dan
berinteraksi dengan domain SH3 PLCγ oosit, menghasilkan aktivasi jalur
signal fosfoinositida riset juga menandakan
bahwa PAWP mampu menginduksi osilasi Ca2+ dan aktivasi oosit saat
diinjeksikan ke dalam oosit manusia dan pengeluaran Ca2+ dapat dihambat
sesudah mikroinjeksi spermatozoa bersamaan dengan inhibitor kompetitif
PAWP
Bersamaan dengan selesainya meiosis, badan polar II akan terbentuk.
Meskipun pada ICSI fusi sperma-sel telur dapat dilewati, aktivasi oosit tetap
dapat terjadi. Namun terjadi keterlambatan yang disebabkan oleh pelepasan
SOAF yang lebih lambat sebab diperlukan waktu untuk merusak perinuclear
theka, tempat di mana SOAF berada. Keterlambatan ini juga memicu
keterlambatan dekondensasi kromatin pada proses ICSI dibandingkan dengan
fertilisasi melalui fusi sperma-telur
Blokade terhadap Polispermi
Peristiwa awal dari aktivasi oosit yang dirangsang oleh sinyal kalsium
yaitu eksositosis granul kortikal yang terletak di permukaan oosit (Gambar
2). Peristiwa ini menghambat poliploidi dengan mencegah spermatozoa lain
memasuki sel telur dengan kerja pada dua tingkatan: Vitellus dan zona. Fusi
granul vesikel dengan membran vitelina segera mengubah komposisi membran
telur sehingga membran tidak memiliki afinitas terhadap spermatozoa. Peristiwa ini dikenal dengan istilah “vitelline block to polyspermy” atau
“reaksi kortikal”. Granul dilepaskan ke ruang perivitellina, glikosidase mengubah ZP3 menjadi ZP3f, yang minim dengan karbohidrat, utamanya
dikenali oleh reseptor zona yang ada pada spermatozoa, dan protease mendegradasi ZP2 menjadi ZP2f, yang tidak mampu berikatan dengan
spermatozoa yang sudah bereaksi akrosom Mekanisme ini dikenal dengan “zona block to polyspermy” atau “reaksi zona”.
Singami
Spermatozoa di dalam oosit akan bergerak mendekati pronukleus betina dan akan membentuk pronukleus jantan, sementara ekornya akan lepas dan berdegenerasi. Kedua pronukleus ini sulit dibedakan dan mereka akan berkontak dan kehilangan selaput intinya. Selama pertumbuhan, kedua pronukleus yang bersifat haploid ini perlu mereplikasi DNA sehingga tiap sel dari zigot 2 sel yang akan terbentuk memiliki jumlah DNA yang normal. Sesudah sintesis DNA, kromosom tersusun pada spindle sebagai persiapan
pembelahan mitosis. Dua puluh tiga kromosom ganda maternal dan 23 kromosom ganda paternal membagi secara longitudinal pada sentromer
dan sister kromatid bergerak menuju kutub yang berlawanan, menyediakan masing-masing zigot dengan kromosom diploid. Saat sister kromatid bergerak ke kutub yang berlawanan, sebuah alur dalam nampak pada permukaan sel, secara perlahan membelah sitoplasma menjadi dua bagian.Untuk membentuk zigot 2-sel, zigot manusia harus memiliki dua sentriol selama intertahap dan empat sentriol selama mitosis pertama. Oosit manusia tidak memiliki sentriol dan pronukleus perlu dikaitkan dengan aster
mikrotubulus. Sentriol embrio diwariskan secara paternal , Dogma tua mengatakan sentriol sperma dan matriks perisentriolar di sekitarnya berkurang selama spermiogenesis dan sentriol distal juga terdisintegrasi. Oleh sebab itu, zigot hanya memiliki satu sumber sentriol, yaitu sentriol proksimal dari sperma. menemukan bahwa komponen sisa sentriol distal spermatozoa mampu merekrut protein matriks perisentriolar, γ-tubulin,
membentuk aster, membentuk sentriol baru, dan melokalisasi ke kutub spindle, sambil mempertahankan kemelekatannya dengan aksonema
pembelahan zigot sesudah feritilisasi
Sesudah terbentuk zigot (stadium 2-sel), zigot akan mengalami serangkaian pembelahan mitosis yang akan meningkatkan jumlah sel. Sel-sel ini menjadi lebih kecil setiap kali membelah dan dikenal dengan nama blastomer.
Pembentukan Morula
Hingga tahap 8-sel, blastomer membentuk gumpalan yang tersusun longgar. Sesudah pembelahan ketiga, blastomer memaksimalkan kontaknya, dan membentuk bola kompak yang diikat oleh tight junction. Proses kompaksi,
memisahkan sel dalam (inner cell) yang berkomunikasi secara ekstensif oleh gap junction dari sel luar (outer cell). Kira-kira 3 hari sesudah fertilisasi, sel-sel dari embrio membelah lagi membentuk morula 16 sel (mulberry) yang terdiri
dari inner cell mass dan dikelilingi oleh sel outer cell mass. Inner cell mass akan membentuk jaringan embrio sementara outer cell mass akan membentuk trofoblas yang berkontribusi membentuk plasenta.
Gambar Perkembangan Sesudah fertilisasi dari terbentuknya pronukleus (A), zigot dari stadium 2 sel (B), stadium 4 sel (C), hingga morula (D dan E), dan blastokista (F). Stadium 2 sel terjadi pada 30 jam Sesudah fertilisasi, stadium 4 sel terjadi pada 40 jam Sesudah fertilisasi, stadium 12–16 sel terjadi pada tiga hari Sesudah fertilisasi; dan tahap akhir morula terjadi pada hari keempat Sesudah fertilisasi.
Pembentukan Blastosis
Saat morula memasuki rongga rahim, cairan mulai melakukan penetrasi melalui zona pelusida menuju ruang antar inner cell mass. Perlahan, ruang
interselular saling bertemu, dan akhirnya membentuk rongga tunggal yang dinamakan blastokel. saat ini embryo dinamakan blastokis. Inner cell mass dinamakan sebagai embrioblast, sementara outer cell mass dinamakan trofoblas,
memipih dan membentuk dinding epitel blastokis.
Blastokis lepas dari zona pelusida (hatching) sehingga implantasi dapat dimulai. Pada manusia, sel trofoblas yang berada di atas kutub embrioblast mulai berpenetrasi di antara endometrium pada hari ke6. riset baru menyimpulkan bahwa L-selectin pada sel trofoblas dan reseptor karbohidratnya pada epitel uterus memediasi perlekatan awal blastokis ke uterus. Mekanisme yang sama dengan cara leukosit berinteraksi dengan endotel diduga terjadi untuk penangkapan blastokis dari rongga uterus oleh
endometrium. Sesudah penangkapan oleh selektin, perlekatan dan invasi trofoblas melibatkan integrin yang diekspresikan oleh trofoblas dan molekul matriks ekstraselular laminin dan fibronektin. Reseptor integrin untuk laminin mendorong perlekatan, sementara fibronektin merangsang
migrasi. maka dengan berakhirnya perkembangan minggu pertama, zigot manusia sudah melalui tahap morula dan blastokis, dan sudah
mulai berimplantasi di dalam mukosa rahim.
Sesudah melewati masa dewasa, laki-laki memasuki . Pada masa ini, laki-laki mengalami proses penuaan. Perubahan yang membentuk dan mempengaruhi penuaan ini bersifat kompleks. Pada tingkat biologis, penuaan
dikaitkan dengan akumulasi bertahap berbagai kerusakan molekuler dan seluler Seiring waktu, kerusakan ini memicu penurunan bertahap pada kapasitas fisiologis dan peningkatan risiko berbagai penyakit. Pada akhirnya, penuaan akan diakhiri dengan kematian. Perubahan ini tidak linier dan inkonsisten, hubungan itu hanya
terkait secara longgar dengan usia . Beberapa orang berusia 70 tahun dapat menikmati fungsi fisik dan mental yang baik, sementara yang
lain mungkin lemah atau memerlukan dukungan menonjol untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Tingkat dan sejauh mana proses ini
terjadi bergantung pada genetika, adanya penyakit, dan akumulasi efek faktor sosial ekonomi, gaya hidup, dan lingkungan. Dalam
FERTILITAS
Angka Kehamilan
Usia lanjut meningkatkan kejadian infertilitas. laki-laki usia lanjut di atas 40 tahun (Advanced Paternal Age/APA) menandakan penurunan angka
keberhasilan reproduksi yang ditunjukkan oleh memanjangnya waktu untuk mencapai kehamilan dan juga tingkat pembuahan Terjadi peningkatan lima kali lipat waktu untuk mencapai kehamilan
saat usia laki-laki > 45 tahun. Bila dibandingkan dengan laki-laki berusia < 25 tahun, laki-laki APA (> 45 tahun) 4,6 kali lebih mungkin mengalami infertilitas (tidak menginduksi kehamilan sampai sesudah 1 tahun melakukan hubungan seks
tanpa kontrasepsi). saat orang-orang yang memerlukan waktu lebih dari 2 tahun untuk menginduksi kehamilan dengan pasangan mereka diperiksa, laki-laki APA kemungkinan 12,5 kali lebih banyak ditemui Penurunan fertilitas akibat usia sudah nampak pada usia yang lebih
muda. riset di Australia yang mengamati 585 pasangan menemukan peningkatan risiko infertilitas pada pasangan laki-laki berusia 35 tahun dibandingkan dengan usia yang lebih muda
Penurunan potensi menghamili tidak hanya terjadi pada kondisi kehamilan spontan, namun juga pada penerapan inseminasi intrauterin Dalam masalah
pemakaian inseminasi intrauterin dan usia wanita dikendalikan, usia laki-laki lebih dari 35 tahun dikaitkan dengan tingkat kehamilan 50% lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki berusia di bawah 30 tahun Dari 2.276 siklus inseminasi, intrauterin pada wanita berusia kurang dari 35
tahun, angka kehamilan terendah terjadi pada kelompok laki-laki berusia lebih dari 50 tahun Penurunan potensi ini tidak terjadi pada
fertilisasi in vitro. Tidak ditemukan korelasi antara usia laki-laki dan tingkat fertilisasi, implantasi, kehamilan, keguguran, dan kelahiran hidup pada IVF, namun ditemukan penurunan pembentukan blastokista menonjol , dalam riset multisenter, De la Rochebrochard mengidentifikasi peningkatan risiko keguguran yang jelas pada hasil kehamilan untuk laki-laki berusia di atas 40 tahun Penurunan kesuburan laki-laki ini mungkin disebabkan oleh berbagai faktor seperti kuantitas dan kualitas spermatozoa maupun frekuensi
hubungan seksual yang berkurang pada . Kuantitas dan kualitas spermatozoa dipelajari dengan menilai berbagai parameter semen.
Kuantitas dan Kualitas Spermatozoa
Analisis semen merupakan cara yang umum dipakai untuk memperkirakan potensi kesuburan laki-laki . Beberapa pemeriksaan lain seperti
vitalitas dan indeks fragmentasi DNA juga mulai dipakai untuk tujuan ini. Pengaruh usia terhadap hasil pemeriksaan semen sudah dipelajari namun
memperoleh hasil yang tidak terlalu bermakna secara statistik. Winkle menganalisis parameter semen dan DFI pada 320 pasien acak dan
84 kontrol normozoospermia dan menemukan bahwa konsentrasi, motilitas, morfologi, dan fragmentasi DNA tidak memburuk pada laki-laki usia lanjut. Meskipun terjadi penurunan motilitas, penurunan ini tidak bermakna secara statistik
Pada riset lain memakai kelompok laki-laki infertil, ada penurunan vitalitas, motilitas total, dan persentase penurunan morfologi normal seiring
bertambahnya usia namun tidak berbeda secara menonjol . Pada kelompok ini juga ditemukan kecenderungan untuk peningkatan tingkat fragmentasi DNA dan diploid dengan usia yang tidak menonjol secara statistik. Hubungan
terbalik secara bermakna ditemukan antara usia pasien, volume semen (r = -0,83; p = 0,032), dan vitalitas (r = -0,219; p = 0,01). Konsentrasi spermatozoa secara menonjol dan positif berkaitan dengan usia (r = 0,1996; p = 0,021)
Gambar Hubungan volume semen, vitalitas, konsentrasi, dan persentase diploid spermatozoa dengan usiaBerbeda dengan riset sebelumnya, riset retrospektif dengan 9.168 pasien menandakan bahwa terjadi penurunan menonjol
pada volume semen, jumlah sperma, motilitas, viabilitas dan morfologi normal, dan penurunan kadar alfa-glukosidase dan fruktosa dalam kaitannya dengan usia Dari ketiga riset ini, dapat kita simpulkan bahwa terjadi penurunan
volume semen yang bermakna dengan bertambahnya usia. Sementara motilitas
dan morfologi mengalami penurunan yang tidak bermakna. Pada beberapa riset , konsentrasi sperma meningkat sebab adanya penurunan volume semen sehingga peningkatan ini tidak boleh diartikan sebagai peningkatan fungsi spermatogenesis testis pada . Fungsi spermatogenesis ini dikonfirmasi dengan pemeriksaan testis.Meskipun pada banyak jaringan telomer memendek setiap terjadi pembelahan sel, panjang telomer meningkat dengan penuaan pada
spermatozoa ada dua kemungkinan mekanisme
untuk menjelaskan panjang telomer yang lebih panjang pada spermatozoa laki-laki lanjut usia, yaitu ekspresi telomerase testis yang tinggi memicu pemanjangan telomer kromosom spermatozoa dan sel induk germinal dengan telomer panjang cenderung bereplikasi dibandingkan dengan yang memiliki telomer pendek
TESTIS
Penuaan memicu penurunan volume testis. riset
menandakan bahwa laki-laki tua memiliki volume testis yang lebih kecil secara menonjol dibandingkan laki-laki yang lebih muda Well
menyelidiki pengaruh usia pada volume testis dan menandakan bahwa puncak volume testis terjadi pada usia 25 tahun. Penurunan yang kecil namun
menonjol diamati pada usia 80 dan 90 tahun . Sementara riset lain menandakan bahwa antara usia 40 dan 60 tahun, volume testis relatif konstan dengan hanya sedikit penurunan, namun sesudah usia 60 tahun, volume testis menurun secara menonjol riset histomorfometrik dari tiga puluh enam laki-laki lanjut usia (61–102 tahun) dan 10 laki-laki muda (29–40 tahun) menandakan jumlah sel germinal dan sel Sertoli menurun seiring bertambahnya usia. Tingkat aneuploidi sel post
miotik yaitu 1,1% untuk kelompok kontrol, 1,29% untuk subjek yang lebih tua dengan spermatogenesis yang terjaga, dan 14,28% untuk subjek dengan spermiogenesis arrested.
Jumlah sel benih (spermatogonia, spermatosit, dan spermatozoa) dan sel Sertoli berdasar usia
Analisis optikal fraktionator yang dioptimalkan pada testis jenazah menandakan penurunan jumlah populasi sel Sertoli dengan penuaan namun tidak ada penurunan terkait jumlah sel benih per
sel Sertoli.
PROFIL HORMON laki-laki
FSH dan InhibinB
riset longitudinal terhadap laki-laki menandakan peningkatan kadar FSH
yang bermakna dengan bertambahnya usia sekitar 3,1 % per tahun Namun, riset cross-sectional menandakan bahwa kadar inhibin B hanya sedikit lebih rendah dari pada laki-laki muda
Meskipun demikian, kadar inhibin B menandakan
korelasi terbalik yang kuat dengan FSH dan korelasi positif yang kuat dengan volume testis pada laki-laki yang lebih tua Peningkatan
kadar FSH merupakan mekanisme kompensasi untuk melestarikan fungsi sel Sertoli yang mengalami pengurangan jumlah LH ada kenaikan kadar LH pada laki-laki tua namun dengan sedikit toleransi. Hal ini tampak pada riset terhadap laki-laki muda yang menandakan bahwa
penurunan sintesis testosteron secara moderat tidak perlu dikompensasi sepenuhnya oleh peningkatan sekresi LH Kenaikan kontra-regulasi pada hormon LH sedikit lebih kecil bila dibandingkan dengan FSH, sekitar 0,9% per tahun . Sesudah peningkatan ini, terjadi penurunan yang tidak bermakna pada usia yang sangat lanjut (lebih dari 95 tahun)
Steroid, Penuaan reproduksi pada laki-laki juga ditandai dengan penurunan bertahap
kadar testosteron serum. Beberapa publikasi riset kohort longitudinal tentang laki-laki Amerika , Australia, laki-laki Eropa , dan Brazil menandakan penurunan kadar testosteron total 0,8–2%
per tahun dari dekade keempat dan seterusnya. Sebaliknya, kadar SHBG meningkat sebesar 1,3–2,5% per tahun dengan usia sehingga penurunan kadar testosteron bebas lebih besar dibandingkan total testosteron dan biasanya
di kisaran 2–3% per tahun. Gambar Model regresi kecenderungan usia dengan kadar testosteron dari
50 subjek yang dipilih secara acak pada Massachusetts Male Aging Study (a) cross
sectional data awal, (b) data longitudinal, (c) cross sectional data follow up
Data tentang dampak penuaan pada dua metabolit utama testosteron, DHT dan estradiol dalam populasi masih terbatas. Massachusetts Male Aging Study (MMAS) menandakan peningkatan DHT 3,5% per tahun pada analisis data longitudinal, namun tidak pada data cross sectional .
riset cross-sectional lain menandakan hasil yang berbeda-beda. Terjadi penurunan yang bermakna pada kadar DHT kelompok usia 80 sampai
89 tahun dibandingkan kelompok 30 sampai 39 tahun, namun tidak ada perubahan bermakna pada kadar DHT antarkelompok usia lainnya
Sementara riset lainnya menandakan kadar DHT tetap konstan , Tidak seperti testosteron, riset menandakan hasil yang berbeda
mengenai perubahan kadar estradiol akibat usia. riset menandakan tidak ada perubahan kadar estradiol dengan bertambahnya
usia , sementara riset lain menemukan penurunan
Namun, peningkatan SHBG dapat memicu
penurunan kadar bioavailable estradiol yang jauh lebih bermakna Ditemukan bahwa usia berbanding terbalik dengan kadar estradiol bebas. Konsentrasi estradiol ini lebih rendah pada laki-laki dengan
indeks massa tubuh lebih rendah dan kadar SHBG yang lebih tinggi Hubungan antara konsentrasi estradiol dan indeks massa tubuh mungkin disebabkan oleh aktivitas aromatase pada jaringan lemak, terutama lemak subkutan perut
FUNGSI SEKSUAL
Penuaan membawa beberapa perubahan fisik dan psikologis yang bisa berdampak pada performa dan kesenangan seksual. Meskipun jumlah
aktivitas seksual biasanya menurun seiring bertambahnya usia, ketertarikan seksual dan kemampuan aktivitas seksual tidak sepenuhnya hilang Masalah (disfungsi seksual) yang terkait usia pada laki-laki yaitu disfungsi ereksi .
Disfungsi Ereksi
Disfungsi ereksi (DE) yaitu ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup keras untuk menyelesaikan aktivitas
seksual. DE sangat terkait dengan penuaan dan lebih sering terjadi pada laki-laki tua
Penuaan laki-laki memicu remodeling jaringan korpora kavernosa. Hal ini terjadi sebab testosteron yang berperan dalam perkembangan korpora kavernosa, homeostasis sel otot polos, ekspresi eNOS dan PDE-5 berkurang. Persentase sel otot polos dan serat elastis dari jala matriks ekstraseluler di korpora kavernosa menurun seiring bertambahnya usia dan memicu
perubahan ukuran penis dan mengurangi ekstensibilitas dan elastisitas
tunika albuginea . Hal ini nampak dari ukuran penis
yang lebih besar saat flaksid secara bermakna namun lebih kecil saat ereksi Selain remodeling jaringan korpora kavernosa, DE biasanya disebabkan oleh penyakit aterosklerotik arteri penis, yang memicu penurunan oksigen dan fibrosis akibat iskemi. DE mungkin juga timbul sebab
berkurangnya produksi NO sebagai konsekuensi diabetes atau penuaan sebab aktivitas nNOS atau eNOS yang lebih rendah melalui degradasi
neuronal atau kerusakan endotel
DAFTAR ARTI LAMBANG
& = dan
° = derajat suhu
% = persen
± = kurang/lebih
/ = per
≥ = lebih dari sama dengan
≤ = kurang dari sama dengan
cc = cubic centimeter
kg = kilogram
lb = pon
ml = mililiter
mg = milligram
: = perbandingan
DAFTAR SINGKATAN
TDF = testis determining region
SRY = sex determining region on the Y chromosome
AMH = anti mullerian hormone
FGF9 = fibroblast growth factor 9
INSL3 = insulin-like hormone 3
DHT = dihidrotestosteron
MIS = mullerian inhibiting substance
GnRH = gonadotropin-releasing hormone
GH = growth hormone
NHANES III = national health and nutrition examination survey III
ARC = arcuatus
AVPV = anteroventral periventricular
PVN = nucleus periventricular
MGV = minimum growth velocity
PHV = peak height velocity
DHEA = dehydroepiandrosterone
DHEAS = dehydroepiandrosterone sulphate
TDS = testicular dysgenesis syndrome
PPS = pubertas prekoks sentral
ACTH = adrenocorticotropic hormone
CDP = constitutional delay of puberty
TESE = testicular sperm extraction
IVF = in vitro fertilization
ICSI = intra cytoplasmic sperm injection
SK = sindrom kallmann
LH = luteinizing hormone
StAR = steroidogenic acute regulatory protein
VDAC1 = voltage-dependent anion channel 1
HSD =hydroxysteroid dehydrogenase
hCG = human chorionic gonadotropin
IGF-1 = insulin-like growth factor 1
TGF-α = transforming growth factor α
EGF = epidermal growth factor
SHBG = sex hormone binding globulin
ABP = androgen-binding protein
NADPH = nikotinamida adenin nukleotida fosfat
AKR = aldo-ketoreduktase
GTPase = guanosine triphosphatase
AIS = androgen insensitivity syndrome
MAIS = mild androgen insensitivity syndrome
SCARKO = sertoli cell androgen receptor knock out
ARKO = androgen receptor knockout
VIP = vasoactive intestinal polypeptide
NANC = non adrenergic non cholinergic
NOS = NO sintase
GPI = glycosylphosphatidylinositol
SOAF = sperm-associated oocyte activation factor
XY = wanita
XX = Laki-laki