penyakit & obatnya 2
daftar isi
1.ENSEFALOPATI HIPERTENSI HE
2.GANGGUAN SISTEM VASKULER
3.PARKINSON
4.KEJANG
5.COMPLETE SPINAL CORD TRANSECTION
6.NEUROGENIC BLADDER
7.NYERI RADIKULER
8. HERNIA NUCLEUS PULPOSUS
9.NYERI NEUROPATIK
10.CARPAL TUNNEL SYNDROM
11. TARSAL TUNNEL SYNDROME
12.GUILLAIUN BARRE SYNDROME GBS
13.MIASTENIA GRAVIS
14.HEMATOM INTRASEREBRAL
15.PERDARAHAN SUBARACHNOID
1.ENSEFALOPATI HIPERTENSI HE
Ensefalopati hipertensi merupakan komplikasi dari berbagai macam
penyakit antara lain pemakaian obat obatan seperti phenylephrine dan aminophylin, pheokromositoma, sindrom cushing, penyakit ginjal kronis, stenosis arteri renalis, glomerulonefritis akut, toxemia akut, eklampsia dan gagal ginjal akut,
Hypertensive Encephalopathy (HE) atau ensefalopati hipertensi yaitu sindrom
akut reversibel yang dipresipitasi oleh kenaikan tekanan darah secara mendadak tiba-tiba sehingga melampaui batas autoregulasi otak, ensefalopati hipertensi dikaitkan dengam perkembangan maligna dai hipertensi dimana sudah terjadi komplikasi pada retinal, sehingga ensefalopati ini merupakan gejala neurologi yang juga dikaitkan dengan hipertensi emergensi. penyakit ini pada pasien dewasa merupakan komplikasi dari hipertensi kronik yang tidak terkendali , terjadi secara mendadak pada pasien glomerulonefritis atau eklampsia, ensefalopati hipertensi terjadi pada normotensi yang tekanan darahnya mendadak naik menjadin160/100 mmHg, Ensefalopati hipertensi lebih sering terdapat pada pasien dengan riwayat hipertensi esensial lama,
gejala ensefalopati hipertensi ,antaralain : gejala neurologis pingsan sampai koma,penglihatan kabur,sakit kepala yang bertambah berat, mual muntah, hilang keseimbangan, diplopia, hemianopia, kejang fokal/umum, defisit neurlogik fokal berbentuk hemiparesis, afasia, gangguan pendengaran,
bila Ensefalopati hipertensi tidak ditangani segera dapat berakhir dengan kerusakan organ, contohnya gejala kardiovaskular seperti CHF,angina, dyspnea, kerusakan ginjal seperti gagal ginjal akut dan hematuria ,
bentuk penyakit neurologis berat muncul bila telah terjadi hipertensi maligna atau tekanan diastolik >125mmHg ditambah gangguan pada jantung dan ginjal, perdarahan retina, eksudat, papiledema, Hipertensi ensefalopati yang tidak ditangani akan memicu stroke, koma,gagal ginjal hingga kematian.
Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD dalam kategori hipertensi berat, pemeriksaan kesadaran, pemeriksaan neurologi,tanda peningkatan TIK (+),
funduskopi untuk melihat ada tidaknya perdarahan retina dan papil edema
sebagai tanda peningkatan tekanan intra kranial.dicari dan diabaiakan gejala sistemik yang dapat memicu ensefalopati,
dilakukan anamnesa ,antaralain:
Riwayat hipertensi : lama dan beratnya,Riwayat obat anti hipertensi yang dipakai , Gejala sistem kardiovascular (edema paru, nyeri dada,adanya payah jantung, kongestif ),Gejala sistem ginjal (jumlah urine berkurang gross hematuri),Usia : sering pada usia 40 sampai 60 tahun , Gejala sistem saraf : perubahan mental, ansietas, sakit kepala, rasa melayang, Riwayat penyakit : pyelonefritis,glomerulonefrosis, Riwayat kehamilan : tanda eklampsi,
Pemeriksaan darah rutin, elektrolit, Pemeriksaan urin : urinalisis dan kultur urin,
Pemeriksaan enzim jantung,Pemeriksaan EKG, Foto rontgen thoraks,
Pemeriksaan CT Scan atau MRI, dapat ditemukan adanya edema teutama
daerah parieto-occipital, .Pemeriksaan ginjal, bila kemungkinan ada pemicu dari ginjal. contohnya IVP, renal angiography, biopsi renal,
pemeriksaan banding,antaralain:
Kondisi lain yang terjadi bersamaan dengan peningkatan tekanan darah
atau yang memiliki gejala sama , Stroke iskemik atau hemoragik,Stroke trombotik akut,Perdarahan intracranial, Encephalitis,Hipertensi intracranial, Lesi massa SSP,
pengobatan
-Kejang diatasi dengan diberikan diazepam,
-Edema otak diatasi dengan diberikan manitol 20% dosis 0,25.sampai 1 g/kgberatbadan,
-dirawat di ICU dengan pengawasan Tekanan arteri,
-Obat antihipertensi diberikan kemudian harus dijaga supaya penurunan TD tidak terlalu banyak guna mencegah iskemia otak. Tujuannya menurunkan MA P tidak lebih dari 25 % pertama pengobatan pada 2 jam dan targeynya 160/100
mmHg dalam 4 jam.
Obat yang dipakai ,antaralain:
a. Nitroglyserin,
b. Sodium nitroprusid memiliki onset yang cepat, namun kontraindikasi
untuk pasien dengan kenaikan TIK . Diberikan dengan iv pada dosis
0,25 ug/kg/menit dan dinaikkan sampai 10 ug/kg/menit
c. Nicardipin dalam dosis bolus 5 sampai 15 mg/h IV dan dosis maintenance 3 sampai 5 mg/h ,
d. labetolol dosis 20 sampai 80 mg iv sebagai initial pengobatan karena sifatnya non selektif beta blocking,
2.GANGGUAN SISTEM VASKULER
Penyakit Meniere berhubungan dengan perubahan volume cairan di
dalam bagian labirin, telinga bagian dalam. pemicu belum diketahui , mungkin
disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik kompartemen endolimfatik di
telinga dalam atau dari pengaruh hormonal dan neurokimia pada darah yang menuju labirin sehingga terjadi gangguan autoimun, elektrolit dan alergi ,
Gejala nya : meliputi perasaan penuh pada telinga,trias meniere yaitu episode vertigo,tinnitus (dengung di telinga) , gangguan pendengaran tidak teratur (fluctuating hearing loss /SNHL), vertigo ditambah muntah berlangsung antara 15 menit sampai beberapa jam dan berangsur membaik, Serangan pertama hebat ditambah gejala vegetative, serangan lanjutan lebih ringan, Tinitus awalnya nada rendah akhirnya nada tinggi, unilateral kemudian mengenai telinga sebelahnya,
penyakit ini awalnya mengenai satu telinga, namun dapat terjadi pada
kedua telinga, 80% pasien dapat sembuh tanpa pengobatan ,
Pemeriksaan THT dalam batas normal, diperoleh adanya tes kalori (+), tes vestibuler function, nistagmus spontan, Tes garpu tala: kesan tuli SNHL. Pemeriksaan neurologi kearah gejala vertigo, contohnya :
Fungsi
vestibuler/serebeler
a. Past-ponting test (Uji Tunjuk Barany)
Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan pasien disuruh
mengangkat lengannya ke atas, kemudian diturunkan sampai menyentuh
telunjuk tangan dokter. ini dilakukan berulang- ulang dengan mata
tertutup dan terbuka , Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan
lengan pasien ke arah lesi
b. Uji Babinsky-Weil
Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke belakang dan lima langkah ke depan selama setengan menit; bila ada gangguan vestibuler unilateral, pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang,
c. Uji Romberg : pasien berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula
dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup, Biarkan pada posisi demikian
selama 20 sampai 30 detik, dipastikan bahwa pasien tidak dapat mengetahui
menentukan posisinya (contohnya dengan bantuan suara tertentu). pada kelainan serebeler badan pasien akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup,Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan pasien akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi, pada mata terbuka badan pasien tetap tegak,
d. Tandem gait : pasien berjalan dengan tumit kaki kanan atau kiri diletakkan
pada ujung jari kaki kiri atau kanan bergantian , pada kelainan serebeler
pasien akan cenderung jatuh, Pada kelainan vestibuler, jalannya akan menyimpang
e. Uji Unterberger : pasien Berdiri dengan kedua lengan lurus horizontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit,
Pada kelainan vestibuler posisi pasien akan menyimpang/berputar ke arah
lesi dengan gerakan seperti pasien melempar cakram; kepala dan badan
berputar ke arah lesi, kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada
sisi lesi turun dan yang lainnya naik. Keadaan ini ditambah nistagmus dengan
tahap lambat ke arah lesi.
Pemeriksaan Khusus Oto-neurologi
untuk menentukan apakah letak lesinya di perifer atau sentral
Fungsi Vestibuler
a. Elektronistagmogram
Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit, untuk merekam gerakan
mata pada nistagmus, dengan demikian nistagmus itu dapat dianalisis secara
kuantitatif.
b. Uji Dix Hallpike
perhatikan adanya nistagmus, lakukan uji ini ke kanan dan kiri dari posisi duduk di atas tempat tidur, pasien dibaringkan ke belakang dengan cepat,
sehingga kepalanya menggantung 45° di bawah garis horizontal, kemudian kepalanya dimiringkan 45° ke kanan kemudian ke kiri. perhatikan saat hilang dan muncul nistagmus dan vertigo , dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral,
nistagmus,perifer dan vertigo muncul sesudah periode laten 2 sampai 10 detik, hilang dalam waktu kurang dari 1 menit, berkurang menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali, sentral, tidak ada periode laten, nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit, bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula,
c. Tes Kalori
pasien berbaring dengan kepala fleksi 30°, sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. Kedua telinga dialiri bergantian dengan air hangat (44°C) dan air dingin (30°C) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap aliran 5 menit. Nistagmus
yang muncul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus itu (normal 90 sampai 150 detik). Dengan tes ini bisa ditentukan adanya directional preponderance yaitu bila ketidaknormalan ada pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga,
directional preponderance atau canal paresis ke kiri atau ke kanan, Canal paresis adalah bila ketidaknormalan ada di satu telinga, baik sesudah rangsang air hangat maupun air dingin, directional preponderance menunjukkan lesi sentral, Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labarin atau n.VIII,
Fungsi Pendengaran
a. Tes Garpu Tala
untuk membedakan tuli perseptif dan tuli konduktif dengan tes-tes
Schwabach ,Rinne dan Weber ,
b. Audiometri
beberapa macam pemeriiksaan audiometri seperti Bekesy,Audiometry, Tone Decay. Ludness Balance Test, SISI,
pemeriksaan saraf-saraf otak meliputi: acies,pendengaran fungsi menelan
sensorik wajah, otot wajah, visus, kampus visus, okulomotor, serebelar (tremor, gangguan cara berjalan),fungsi sensorik (hipestesi, parestesi) dan
fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas)
pemeriksaan Banding, antaralain :
Neuritis Vestibularis,BPPV, Labirintitis,
Pemeriksaan penunjang
1.Pemeriksaan Brainstem Auditory Evoked Potential (BAEP)
Pemeriksaan Neurofisiologi Elektroensefalografi (EEG), Pemeriksaan Elektromiografi (EMG),
2 Pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) Pemeriksaan Pencitraan CT-scan, Pemeriksaan arteriografi,
3. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin, pemeriksaan lain
sesuai indikasi,
4. Foto Stenvers (pada neurinoma akustik),Foto Rontgen tengkorak, Foto leher,
pengobatan.
1. Pasien harus dirawat di rumah sakit, berbaring dalam posisi yang dapat meringankan keluhan,
2. Fisio terapi,
3. Tindakan operatif berbentuk pemotongan n.vestibularis dan dekompresi ruangan endolimfatik ,
4. Pada masalah berat atau bila sudah tuli berat dapat dilakukan labirinektomi atau merusak saraf dengan instilasi aminoglikosida ke telinga dalam (ototoksik lokal)
5. Medikamentosa
a. pengobatan khusus : sedative (diazepam),antivertigo (Dramamine, dimenhidrinat 3x50 mg atau prometazin 3x25 mg),
b. pengobatan simptomatik : papaverin,betahistin, vasodilator, ginkobiloba, atau operasi shunt,
c.General treatment : antagonis kalsium ,rendah garam, Obat diuretik
3.PARKINSON
Parkinson adalah sindrom kelainan degeneratif sistem saraf pusat yang melibatkan neuron dopaminergik dalam substansia nigra (area ganglia basalis yang menghasilkan dan menyimpan neurotransmitter dopamin) yang menyerang motorik , Parkinson ini muncul seiring dengan bertambahnya usia.
area ganglia basalis yang menghasilkan dan menyimpan neurotransmitter dopamin berperan dalam sistem ekstrapiramidal yang mengkoordinasi gerakan motorik volunter dan mengendalikan postur tubuh sehingga penyakit ini sifatnya adalah gejala yang terdiri dari ketidakstabilan postur tubuh (kehilangan keseimbangan) ,bradikinesia, rigiditas dan tremor ,obat-obatan yang ada hanya sekedar menekan nekan gejala-gejala parkinson,
sekali terkena parkinson, maka penyakit ini akan ada pada pasien sepanjang hidup. tanpa obat-obatan pasien mengalami disabilitas, ketidakmampuan fungsi otak hingga kematian,
klasifikasi parkinson ,antaralain :
a. paraparkinson ( parkinson plus )
yaitu gejala parkinson hanya sebagai gambaran dari penyakit
secara keseluruhan, dari segi pengobatan perlu dideteksi
contohnya penyakit hidrosefalus normotensif,wilson, huntington, sindrom shy drager,
b.Primer atau Idiopatik paralis agitans
yaitu Bentuk Parkinson kronis yang paling sering dialami ,
c.Sekunder atau simtomatik
yaitu kelainan yang mengakibatkan parkinson, seperti:
obat-obatan zat toksik, penyakit ( pasca ensefalitis, ensefalitis viral, sifilis meningo-vaskular)arteriosklerosis, anoksia atau iskemia serebral,
gejala Parkinson,antaralain :
A. Gejala Motorik
1. Tremor: 4 sampai 6 Hz tremor, unilateral saat onset, diklasifikasikan sebagai akinetic-kaku. Tremor ini bermula dari bagian atas kemudian ke bagian bawah, Tremor bertambah parah saat emosi dan
sembuh bila tidur, ini menunjukkan adanya kelainan pada ekstrapiramidal
sistem, dimana terdapat gerakan gerakan involunter,
2. Postural ketidakstabilan: kegagalan refleks postural, yang memicu gangguan
keseimbangan dan jatuh (tidak normal gait & posture), ini menunjukkan adanya
kelainan pada serebelar, yaitu adanya ataksia walaupun sensasi propioseptif normal, yang ditambah nistagmus
3. Kekakuan otot /Rigidity, gejala awal dari rigiditas yaitu hilangnya gerak
lengan bila berjalan,
4. Bradikinesia, yaitu Perlambatan gerakan fisik dan untuk memulai suatu gerakan menjadi sulit hingga terjadi hilangnya gerakan fisik (Akinesia
5.Festination: yaitu suatu campuran dari ketidakseimbangan, badan yang bungkuk dan langkah-langkah pendek yang akan membuat gaya berjalan pasien semakin cepat bahkan sampai terjatuh, Cara berjalan yang kaku diketahui sebagai ketidakmampuan untuk berjalan
pada pemeriksaan penyakit Parkinson yaitu dengan menemukan 2 dari 3 tanda kardinal gangguan motorik, yaitu bradikinesia,tremor dan rigiditas,
atau tiga dari empat tanda motorik, yaitu ketiga tanda diatas ditambah
ketidakstabilan postural, Gejala lain Parkinson ,antaralain :
a. disfungsi autonom
diakibatnya kurangnya progresif sel-sel neuron di ganglia simpatis. ini
memicu air ludah yang berlebihan ,keringat berlebih, gangguan sfingter
terutama hipotensi ortostatik dan inkontinensia ,
b.dimensia
pasien penyakit parkinson idiopatik menunjukkan perubahan status sosial
selama perjalanannya,
sedikit ayunan lengan, merupakan salah satu contoh dari bradykinesia
berjalan tertatih-tatih: gaya berjalan ditandai oleh langkah-langkah
pendek/singkat,dengan kaki hampir tidak meninggalkan tanah, dengan suara
langkah tertatih-tatih yang dapat di dengar.
memutar sekaligus, lebih dari putaran biasa, tidak hanya leher dan badan tetapi
sampai ke kaki ikut berputar semua. pada pasien parkinson, leher dan
badan kaku, sehingga memerlukan banyak usaha gerakan untuk melakukan
putaran,
c.Wajah Parkinson
Bradikinesia memicu kurangnya ekspresi muka dan mimic muka, kulit muka seperti berminyak dan ludah suka keluar dari mulut karena berkurangnya gerak menelan ludah,
d.Drooling, disfagia,
e. Gangguan ketangkasan motorik halus dan koordinasi motorik,
f.Gangguan koordinasi motorik kasar Akatisia
g.Ketidakmampuan untuk duduk diam,
h.Bicara
kekakuan otot faring, otot lidah , otot bibir ,otot pernafasan, otot pita suara,
mengakibatkan berbicara dengan volume kecil,
i.Gangguan postur, : gaya berjalan dengan langkah-langkah singkat, dengan kaki hampir tidak meninggalkan tanah.
j.Bungkuk, postur maju-tertekuk. Dalam bentuk yang parah, kepala dan bahu atas menjadi bengkok di sudut kanan relatif terhadap batang ,
B. Gejala non motorik
-. Gangguan sensasi,
a. pasien sering pingsan yang disebabkan oleh hypotension
orthostatic yaitu suatu kegagalan sistem saraf otonom untuk melakukan penyesuaian tekanan darah sebagai tanggapan atas perubahan posisi badan,
b.berkurangnya dan hilangnya kepekaan indra perasa bau anosmia atau microsmia ,
c. kepekaan kontras visual lemah, pemikiran mengenai ruang dan waktu lemah , pembedaan warna lemah ,
- Gangguan Autonomic
gangguan seksual yang berubah fungsi, ditandai dengan melemahnya hasrat
orgasme seksual, perilaku social autonomic network,
kulit semakin berminyak dengan timbul infeksi kulit seborrheic,
pengeluaran urin yang sering ,
- pasien sering mengalami depresi,
-Ganguan kognitif, menanggapi rangsangan lambat,
-pasien mengalami kesulitan tidur ,
Pada pemeriksaan fisik pasien parkinson ,dilakukan antaralain :
a. PemeriksaanTekanan darah untuk melihat hipotensi ortostatik,
b. Mencatat dan mengikuti kemampuan fungsional
pasien diminta menulis nama dan menggambarkan lingkaran-lingkaran
c.Menilai respon terhadap stress social network
pasien disuruh melakukan tugas sederhana, seperti duduk dengan tangan
direntangkan dan disuruh membuka dan menutup jari-jarinya di satu sisi dan pada waktu yang bersamaan , Stress ringan ini biasanya cukup
menimbulkan tremor dan rigiditas pada ekstremitas lainnya bila pasien belum berespon ,
Pemeriksaan penunjang,antaralain :
Pemeriksaan CT-scan otak dapat memperlihatkan atrofi kortikal difus dengan melebarnya hidrosefalus eks vakuo dan sulcus ,Pemeriksaan EEG dapat memperlihatkan perlambatan dengan semakin memburuknya penyakit,
pelaksanaan pemeriksaan Dengan anamnesis maka penyakit Parkinson sudah dapat dideteksi berdasar pada kriteria, antaralain :
Didapatkan 2 dari 3 tanda kardinal gangguan motorik: tremor,
rigiditas, bradikinesia, (A) atau tanda motorik: tremor, rigiditas, bradikinesia dan
ketidakstabilan postural (B) Gejala klinis kelompok B (gejala dini tidak lazim),
pemeriksaan alternatif, terdiri dari:
halusinasi (tidak ada hubungan dengan pengobatan) dalam 3 tahun pertama,
demensia sebelum gejala motorik pada tahun pertama,
instabilitas postural yang menonjol pada 3 tahun pertama
fenomena tidak dapat bergerak sama sekali pada 3 tahun pertama,
Kriteria pemeriksaan, terdiri dari:
1. pemeriksaan possible paling sedikit 2 dari gejala kelompok A
dimana salah satu diantaranya adalah bradikinesia atau tremor dan tidak
ada gejala kelompok B, lama gejala kurang dari 3 tahun ditambah respon
jelas terhadap dopamine agonis atau levodopa ,
2. pemeriksaan probable paling sedikit 3 dari 4 gejala kelompok A, dan tidak ada gejala dari kelompok B, lama penyakit paling sedikit 3
tahun dan respon jelas terhadap dopamine agonis atau levodopa
3. pemeriksaan pasti memenuhi semua kriteria probable dan
pemeriksaan histopatologis yang positif, perlu adanya penetapan berat ringannya penyakit dalam hal ini dipakai stadium klinis berdasar Hoehn and Yahr , yaitu :
1. Stadium 1: Gejala dan tanda ada pada satu sisi, ada gejala yang
ringan,ada tremor pada satu anggota gerak, ada gejala yang mengganggu tetapi memicu kecacatan,
2. Stadium 2: kecacatan,ada gejala bilateral, cara berjalan terganggu,
3. Stadium 3: Gerak tubuh melambat, keseimbangan
terganggu saat berjalan/berdiri,
4. Stadium 4: gejala berat, rigiditas dan bradikinesia, dapat berjalan hanya
untuk jarak tertentu, tidak mampu berdiri
sendiri, tremor berkurang dibandingkan stadium sebelumnya
5. Stadium 5: Stadium kakhetik , kecacatan total, tidak mampu berdiri dan berjalan walaupun dibantu
pengobatan
a. Memberi pengobatan simptomatik terhadap gejala dan tanda yang muncul. pada pasien yang mengalami gejala motorik seperti rigiditas,
kekakuan otot.
b. Memberikan obat neuroprotektif ,
c. Pembedahan ablasi (tallamotomi/pallidotomi), simulasi otak dalam,
d. pengobatan pencegahan , penghilangan faktor risiko atau pemicu ,
e. Meningkatkan transmisi dopaminergik dengan cara :
- menghambat re-uptake dopamin,
- menghambat degradasi dopamin,
- meningkatkan dopamin di sinaps (dengan levodopa),
- memberikan agonis dopamin,
- meningkatkan pelepasan dopamin,
f. Manipulasi neurotransmitter non-dopaminergik dengan obat antikolinergik yang memodulasi sistem non-dopaminergik
Levodopa
yaitu pengobatan l-dopa , efek samping levodopa,yaitu :
hipotensi postural,neusea, muntah, distress abdominal,aritmia jantung, terutama pada pasien yang berusia lanjut,
efek ini diakibatkan oleh efek beta-adrenergik dopamine pada system konduksi
jantung, diatasi dengan obat beta blocker seperti propanolol,
diskinesia melibatkan anggota gerak, leher atau muka terjadi pada pasien yang dapat diatasi dengan obat levodopa,
ketidaknormalan laboratorium. granulositopenia, fungsi hati tidak normal dan ureum darah yang meningkat merupakan komplikasi yang jarang terjadi pada pengobatan levodopa ,
inhibitor dopa dekarboksilasi dan levodopa
untuk mencegah agar levodopa tidak diubah menjadi dopamin di luar otak, maka levodopa dicampurankan dengan inhibitor enzim dopa dekarboksilase.
ini dipakai karbidopa atau benserazide , dopamin dan karbidopa
tidak dapat menembus sawar-otak-darah, levodopa dapat menembus sawar-otak-darah, untuk kemudian dikonversi menjadi dopamine di otak, dopamin agonis yaitu apomorphine, lisuride,bromocriptine, pergolide, pramipexole, ropinirole, piribedil dan cabergoline, agonis dopamin untuk pasien yang mengalami dyskinesias dan fluktuasi on-off akibat dosis tinggi l-dopa. bromokriptin diketahui bila pengobatan dengan levodopa atau karbidopa tidak berhasil,
Amantadin
amantadin bagi pasien yang tidak efektif dosis tinggi levodopa atau bromokriptin , amantadin membebaskan sisa dopamine dari simpanan presinaptik di jalur nigrostriatal, efek samping yaitu edema di ekstremitas bawah, insomnia, mimpi buruk,.
obat antikolinergik
obat antikolinergik menghambat sistem kolinergik di ganglia basal,
berkurangnya input inhibisi memicu aktifitas yang berlebihan pada sistem kolinergik, antikolinergik efektif untuk pasien parkinson yang ringan dengan gangguan ringan, efek samping antikolinergik bila dimakan bersama dengan
levodopa seperti gangguan memori,halusinasi,retensio urin ,mulut kering dan konstipasi ,
MAO-B inhibitor
rasagiline dan Selegiline mengurangi gejala dengan cara menghambat-monoamina oksidase B (MAO-B), yang menghambat pemecahan dopamin yang dikeluarkan oleh neuron dopaminergik,
Metabolit selegiline termasuk L- methamphetamine dan L-amphetamine (bukan isomer dextrorotary )
4.KEJANG
Kejang yaitu perubahan fungsi otak akibat dari aktivitas neuronal yang tidak normal dan pelepasan listrik serebral yang berlebihan, Perubahan ini terjadi karena adanya pergeseran nilai normal yang menyeimbangkan inhibisi dan eksitasi didalam susunan saraf pusat, karena terlalu banyak faktor yang mempengaruhi nilai normal eksibilitas susunan saraf pusat maka banyak pemicu yang memicu kejang,pengobatan bedah pada pasien dengan epilepsi yang terus menerus, refrakter terhadap dosis maksimal obat dan lokasi penyebab kejang jelas bila kejang merupakan epilepsy maka peluang sembuhnya bergantung dari kekambuhannya, tipe epilepsy. Berkaitan dengan trauma yang muncul saat serangan kejang dapat menjadi tinggi bila ditambah menggigit lidah sendiri, terjatuh sehingga menimbulkan fraktur, hematoma
Berdasar asal etiologinya, kejang berbentuk ,antaralain :
1. Kelainan neurologi primer pada otak,
Kejang idiopati ,Kejang demam sederhana pada pasien anak,Kejang Disgenesis korteks serebri ,
Kejang Epilepsi simptomatik, contohnya :
a. Lesi massa , contohnya astrositoma, meningioma ,pemicu tersering,tumor,Glioblastoma,
b. malformasi pembuluh darah atau Stroke ,
c. Trauma kepala : intra ventricular ,Perdarahan sub arakhnoid atau sub dural ,
d. Infeksi : HIV ensefalopati,ensefalitis bakteri virus dan parasit,Meningitis,
2. Kelainan sistemik
eklampsia, porfiria , sindrom putus obat, keracunan obat, hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremi, uremia, keadaan hiperosmolar, hepatik
ensefalopati,hipertensi ensefalopati, hipertermia,
Gejala kejang sebagai adanya pergerakan pergerakan yang tidak normal atau perubahan tonus badan dan tungkai ditambah dengan gejala lain, seperti:
1. Kejang parsial ( fokal, lokal )
a. kejang lobus temporal atau kejang psikomotorik atau parsial kompleks antaralain :
mencakup otomatisme atau gerakan otomatik ( automatisme) :
gerakan tangan lainnya,mengecap – ngecapkan bibir,mengunyah, gerakan menongkel yang berulang– ulang pada tangan , ada gangguan kesadaran , ada gangguan memori walaupun pada awalnya sebagai kejang parsial simpleks,
diawali dengan aura atau tanda peringatan berbentuk sensasi halusinasi olfaktori, de javu epigastrium, berbicara tidak jelas sperti menggugam,
b. kejang parsial dengan kejang generalisata sekunder
merupakan kejang parsial yang berkembang menjadi kejang generalisata,
c. kejang parsial sederhana :
ada sedikit kesadaran ,antaralain :
epilepsi jacksonian, serangan motorik fokal pada otot wajah, sudut mulut, ibu jari, telunjuk tangan ,ada gejala psikis seperti halusinasi , ilusi,de javu, defisit kognitif, gangguan afektif rasa takut berlebihan , depresi berlebihan,berkhayal,berimajinasi, tanda – tanda motoris, kedutan pada wajah, atau salah satu sisi
perasaan seperti kebas, tersengat listrik pada area tertentu,
tanda atau gejala otonomik: muka merah, dilatasi pupil,muntah, berkeringat,
2. Kejang umum ( konvulsi atau non konvulsi )
a. Kejang absens / petit mal
dimulai saat pasien anak anak, berkaitan dengan keturunan , tanpa tanda awal, tiba tiba pasien anak menunjukkan pandangan kosong dan berhenti aktivitas berlangsung kurang dari 15 detik.awitan dan akhiran cepat, sesudah itu kempali waspada dan konsentrasi penuh
b. Kejang tonik klonik / grand mal
dengan gejala kehilangan kesadaran , biasanya tanpa aura, ada beberapa tahap, diantaranya;
tahap tonik:
gejalanya kaku umum pada otot ekstremitas, batang tubuh dan wajah yang berlangsung 30 detik, kehilangan kesadaran, kontraksi tonik,
tahap klonik
gejalanya kontraksi dan relaksasi otot secara bergantian selama
60 detik.buang air besar yang tidak tidak terkendali, mulut kadang berbusa, mengompol,
tahap recovery
Pasien kembali sadar, orientasi kembali dalam 30 menit.merasa lemas, letih,
ditambah hilangnya kontrol usus dan kandung kemih,
c . Tipe lain
- Kejang atonik
hilangnya tonus secara mendadak singkat dan terjadi tanpa peringatan, sehingga memicu kelopak mata turun, kepala menunduk,atau jatuh ke tanah.
- Kejang tonik
gejalanya yaitu kontraksi otot yang terus menerus, tidak ada periode klonik
ditambah kehilangan kesadaran,
-Kejang klonik
-Kejang mioklonik epilepsi mioklonik juvenil
gejalanya dinamakan dengan trias sindrom yaitu
Kedutan – kedutan involunter pada sekelompok otot yang terjadi secara tiba tiba mendadak pada pagi hari Termasuk kejang generalisata tapi jarang, sering terjadi saat bangun namun tidak pada siang hari,
pemeriksaan banding, antaralain :
sinkop,pseudoseizure,serangan panik/ psikosomatis,TIA, migren,tetanus, movement disorder,ekstrapiramidal syndrome, gangguan vestibular,
Pemeriksaan Penunjang
1.Pemeriksaan MRI : untuk memperlihatkan area otak yang belum jelas
tampak bila memakai pemindaian CT,
2.Pemeriksaan Pemindaian positron emission tomography ( PET ) : untuk mengevaluasi kejang yang membandel dan membantu menetapkan aliran darah dalam otak,lokasi lesi, perubahan metabolik ,
3.Pemeriksaan Pemindaian CT : memakai sinar X yang lebih sensitif
untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan,
4.Pemeriksaan Elektroensefalogram ( EEG ) mampu membantu mendukung pemeriksaan dalam rangka menetapkan jenis contohnya Kejang
tipe absan pada EEG dijumpai 3 Hz generalisata, kompleks spike wave simetris
atau pada tipe mioklonik juvenil terdapat polyspike wave .
5. pemeriksaan uji laboratorium , untuk menentukan pemicu kejang, seperti
skrining toksik dari serum dan urin, kadar gula darah,kadar kalsium darah,
kadar natrium darah,kadar magnesium darah, hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematokrit, pungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler,panel elektrolit,
Pemeriksaan fisik dengan melihat lihat adanya ketidaknormalan dermatologi , contohnya port wine stain pada sturge weber syndrom yang ditambah kejang,cafe au lait spot pada neurofibromatosis dan adenoma sebaceum
pemeriksaan neurologi meliputi refleks tendon,status mental, koordinasi, saraf kranialis, fungsi motorik , fungsi sensorik, adanya defisit neurologi seperti gangguan lapang pandang, papiledem,hemiparese ,distonia, disfasia mungkin dapat menunjukkan adanya lateralisasi atau lesi struktur di area otak yang terbatas,
pengobatan
1. Pengobatan tahap akut :
pasien di baringkan di tempat yang datar dengan posisi menyamping,
bukan terlentang, untuk menghindari bahaya tersedak, jangan meletakkan benda apapun dalam mulut sipasien anak seperti sendok.atau penggaris, karena justru benda itu dapat menyumbat jalan nafas, jangan memegangi pasien untuk melawan kejang, sebagian besar kejang berlangsung singkat dan tidak memerlukan perawatan khusus. bila kejang terus berlanjut selama 10 menit, pasien harus segera di bawa ke.fasilitas terdekat. penanganan yang di lakukan selain di atas adalah sebagai berikut :
usahakan jalan nafas pasien tidak tersumbat, beri oksigen melalui face mask, beri diazepam 0.5 mg / kg berat badan per rectal (melalui) atau bila terpasang selang infuse 0.2 mg / kg per infuse, hati hati tanda-tanda depresi pernafasan, bila kejang merupakan suatu epilepsy maka pilihan obat ditentukan sesuai tipe sindrom epilepsi. .pasien dapat jatuh dalam kondisi epilepsi refrakter, bila:
pseudoseizure, tidak patuh minum obat,adanya gangguan otak struktural,
Tabel Antikonvulsan berdasakan sindrom epilepsi
No Tipe Kejang: Obat : Dosis :
1 Mioklonik Natrium valproat 750-3000 mg/hari,2-3x
Lamotrigin 25 mg, 2x/hari
Klonazepam dewasa= 0,5 mg/hari
anak = 0,01- 0,03mg/kg/hari
dalam 2-3 dosis
2 Tonik klonik
generalisata
Natrium valproat 750-3000 mg/hari,2-3x
Lamotrigin 25 mg, 2x/hari
Fenitoin O= 1000 mg,2-4x/hari
Iv = 1000-1500 mg
Karbamazepin 100 mg, sehari 2x
3 Parsial Karbamazepin 100 mg, sehari 2x
Natrium valproat 750-3000 mg/hari,2-3x
Fenitoin O= 1000 mg,2-4x/hari
Iv = 1000-1500 mg
Lamotrigin 25 mg, 2x/hari
4 Absans Etosuksimid 15 mg/kg/hari, lalu
dinaikkan 25 mg/hari
Natrium valproat 750-3000 mg/hari,2-3x
Lamotrigin 25 mg, 2x/hari
5.COMPLETE SPINAL CORD TRANSECTION
complete spinal cord transection termasuk cedera medulla spinalis (spinal cord injury/ SCI) yaitu cedera pada medulla spinalis yang memicu perubahan fungsional , dengan tanda hilangnya fungsi otonom dari tahap lesi ke bawah, hilangnya / disrupsi dari traktus sensorik ( traktur spinotalamik anterior dan lateral) dan hilangnya motorik ( lateral dan kortikospinal anterior )
Pasien dengan penyakit ini memiliki kemungkinan sembuh 5 % , bila terjadi.paralisis komplit dalam 72 jam sesudah injury, angka kesembuhannya 0 %.
gejala pada complete spinal cord transection ada dua tahap, meliputi tahap arefleksia (tahap shock spinal) dan tahap hyperrefleksia, pada tahap arefleksia dari pasien komplit ,antaralain :
1. gangguan nafas (pada lesi servikal atas),
2. hilangnya vesika urinaria dan tonus rectum ,
3. retensi urin dan usus yang memicu priapism dan ileus , pada tahap hiperrefleksia , seluruh aktifitas reflex kembali dan tonus meningkat,
4. tetraplegia (hilangnya fungsi motorik dan atau fungsi sensorik pada segmen servikal medulla spinalis)
5. paraplegia (hilangnya fungsi motorik dan atau fungsi sensorik pada segmen torakal, lumbal atau sacral tetapi tidak servikal)
6. anestesi pada tahap dibawah lesi,
7. syok neurogenik hipotermi, hipotensi tanpa kompensasi takikardi,
pemeriksaan fisik pada setiap trauma medulla spinalis terutama memeriksa neurologis yang lengkap dan detil mengenai fungsi otonom,motorik, sensorik , Pada tahap arefleksia, pemeriksaan fisik didapati adanya kelemahan ekstremitas, reflex melemah namun pada tahap hiperrefleksia
reflex kembali dan tonus meningkat ditambah babinsky sign (+), reflex achiles, patella, bulbocavernous dan reflex lain kembali dan emningkat. Pada tahap hiperrefleksi ini defekasi dan reflex miksi . meningkat dan tidak terkendali,
penilaian status neurologis dilakukan untuk menentukan letak lesi baik dalam
menentukan :
1. tahap sensorik untuk sisi kanan kiri
tentukan dermatom intak yang paling kaudal untuk fungsi nyeri dan raba kasar
(memiliki nilai 2/normal/intak), dimana fungsi sensorik pada tahap bawahnya ‘ tidak normal, untuk memeriksa sensasi pada tusukan ( traktur spinotalamikus), sensasni pada sentuhan halus dan posisi sendi ( kolum posterior)
2. tahap motorik
tentukan otot dengan kekuatan minimal 3, dimana fungsi motorik pada segmen diatas tahap itu memiliki kekuatan 5.
3. menentukan apakah cedera komplit atau inkomplit berdasar pada ada tidaknya sacral sparing,
4. pemeriksaan refleks, contohnya BCR (Bulbocavernous refleks) untuk menentukan muncul dan selesainya shok spinal dimana melibatkan ms s2-s4. refleks lain contohnya refleks abdominal dan anal.
dengan memeriksa miotom dan dermatom dengan cara itu, maka tahap dan
completeness cedera dapat dinilai. segmen terakhir dari fungsi saraf spinal yang normal dinamakan sebagai tahap neurologis dari lesi itu.
pemeriksaan penunjang , antaralain :
X foto vertebra lateral dan MRI,,CT Scan,
pengobatan
Pasien itu dapat mengalami syok neurogenic dan respiratory insufficiency yang memicu hipotensi sehingga harus ditangani untuk mencegah kerusakan akibat hipotensi hipoksia ,
a. Pemberian kortikosteroid
Terutama metilprednisolon dosis tinggi, diberikan bolus 30 mg/Kgberatbadan dalam 15 menit kemudian dilanjutkan 5,4 mg/Kgberatbadan dalam 23 jam yang dimulai dalam 8 jam sesudah cedera MS, pemberian metilprednisolon dilakukan mulai 3 jam sesudah trauma dilanjutkan selama 24 jam, sedang bila pemberian dilakukan antara 3 sampai 8 jam setelah trauma harus dilanjutkan selama 48 jam,
b. Intubasi dilakukan bila untuk mempertahankan oksigenasi,
c. Tromboemboli merupakan salah satu komplikasi pasien para/tetraplegia, oleh karena itu diberikan antikoagulan Low Molecular Weight Heparin 72 jam sesudah trauma selama 8 sampai 12 minggu ,
d. hindari hipotermi akibat vasodilatasi,bila terjadi syok neurogenik maka diberikan cairan iv, vasopressor ( alpha
dan beta adregenik seperti epinefrin,dopamine,norepinefrin ), atropine untuk
meningkatkan nadi ,
6.NEUROGENIC BLADDER
kandung kemih neurogenik yaitu kelainan kandung kemih akibat gangguan
pada sistem saraf pusat ataupun sistem saraf perifer dan otonom, berbentuk
kandung kemih terlalu aktif dan melakukan pengosongan kandung kemih berdasar refleks..yang tidak terkendali atau kandung kemih yang tidak mampu berkontraksi dengan baik untuk miksi ,
pemicu dari neurogenic bladder ini antara lain penyakit infeksius yang akut seperti kelainan serebral (multiple sklerosis, demensia,stroke, tumor otak, penyakit parkinson),mielitis transversal, penyakit vaskuler,trauma pada medulla spinalis , alkoholisme kronis, penyakit kolagen seperti SLE, keracunan logam berat, herpes zoster, gangguan metabolik,
gejalanya yaitu : infeksi saluran kemih, batu ginjal,hilangnya sensasi kandung kemih penuh,dribbeling urin yang merupakan suatu keadaan dimana urin menetes pada akhir miksi, inkontinensia urin, volume urine kecil selama berkemih, frekuensi dan urgensi kemih,tujuan pengobatan adalah untuk mencegah komplikasinya. pasien tahap rendah diatasi dengan pengobatan inkontinensia akan meningkatkan kesembuhan,
pemeriksaan bulbokavernosus ,pemeriksaan refleks lumbo-sakral, pemeriksaan refleks anokutan dilakukan untuk memperkirakan letak lesi dan gangguan berkemih,pada pemeriksaan fisik dicari defisit neurologis terutama di area tungkai bawah dan panggul , pemeriksaan sensasi perianal dan perineal, pemeriksaan tonus sfingter ani, pemeriksaan refleks fisiologis tungkai dan babinski, pemeriksaan kekuatan motorik tungkai bawah, observasi saat pasien berkemih ,
pemeriksaan laboratorium yang meliputi
Pemeriksaan ultra-sonografi (USG) sebagai penyaring awal dilakukan sebelum dan pasca miksi, pemeriksaan urinalisis, pemeriksaan kultur urin, pemeriksaan kimia darah, dan pemeriksaan uji fungsi ginjal untuk mendeteksi obstruksi sfingter kandung kemih dengan menilai kecepatan aliran dan residu urin,
Pemeriksaan pencitraan miksio-sisto-uretrografi (MSU) untuk
melihat refluks vesikoureter, struktur leher kandung kemih dan struktur anatomis dinding , keadaan uretra posterior dan leher kandung kemih saat pengisian dan pengosongan kandung kemih,
MSU dilakukan apabila adanya peningkatan tekanan kandung kemih akibat kerja otot detrusor dan sfingter eksterna yang tidak sinergis, adanya hasil tidak normal pada pemeriksaan urogram ekskretori ada ada tidaknya infeksi saluran kemih,pemeriksaan dilakukan dengan cara anamnesis dan pemeriksaan fisik
yang mengarah kearah neurogenic bladder,
pemeriksaan urodinamik untuk menilai fungsi kandung kemih,
Pemeriksaan pencitraan seperti CT-scan dan magnetic resonance imaging (MRI) dilakukan untuk mengetahui defek pada kolumna vertebralis terutama pada masalah dengan spinal dysraphism,
pengobatan kandung kemih neurogenik yaitu dengan melakukan pemeliharaan
fungsi ginjal, pengobatan terdiri dari pencegahan infeksi saluran kemih, menurunkan tekanan intravesika, pengosongan kandung kemih , penanganan inkontinensia dilakukan dengan pengobatan medikamentosa atau tindakan urologik antara
lain clean intermittent catheterization (CIC)..sistoplastik, atau pemasangan sfingter artifisial,
clean intermittent catheterization (CIC) untuk mengosongkan kandung kemih ,
pengobatan medikamentosa seperti trospium, propiverin ,oksibutinin, tolterodin,
oksibutinin lebih banyak diberikan secara intra vesika dibandingkan per oral karena lebih bisa ditolerir, dosisnya 0,3 sampai 0,6 mg/kgberatbadan perhari terbagi dalam 2 sampai 3 dosis, dapat ditingkatkan hingga 0,9 mg/kgberatbadan perhari.
kegagalan pengobatan medikamentosa maka diganti dengan .tindakan bedah,
pengobatan medikamentosa lain yaitu obat penghambat reseptor alfa-adrenergik, injeksi toksin botulinum. pada pasien pasien dewasa namun pada pasien anak jarang dilakukan, toksin botulinum disuntikkan langsung pada otot detrusor ,
7.NYERI RADIKULER
nyeri radicular yaitu nyeri nociceptive yang menjalar dari radiks sampai ke ujung penjalaran syaraf, jika akson distimulasi. pemicunya adalah aktivasi dari ganglion posterior secara mekanik,inflamasi, kesusakan ganglion dorsalis akibat iskemiik, nyeri ridiculer mengganggu syaraf nociceptive juga non nociceptive sehingga kualitas nyeri berbeda dengan refered pain, nyeri terasa dalam,penjalaran tidak terlokalisasi,
penjalaran dari pangkal syaraf ke ujung syaraf yang tidak jelas batasnya ,
nyeri radicular mencakup nyeri anamnesis ,cutaneus,
gejalanya yaitu kram, nyeri , baal,kesemutan,
karakteristik nyeri kronik : nyeri lebih terasa tumpul, terasa terbakar,
karakteristik nyeri akut : cram, seperti teriiris pisau,
lokasi nyeri : tidak terlokalisir berdasar dermatom,
memperberat : diprovokasi oleh penekanan mekanik pada syaraf ,
gejala penyerta : ditambah defekasi,ereksi ,ganguan sensoris (baal, kesemutan ), kelemahan otot, gangguan miksi,
riwayat trauma dan mekanismenya, dugaan adanya keganasan pada tempat
lain,
Pemeriksaan fisik:
1. Pemeriksaan sensoris
tidak menganut dermatom yang jelas, karena sangat subjektif, dermatomal saling overlapping ,
2. test provokasi
pada nyeri cervical dilakukan test spruling dan kompresi foraminal
caranya : leher ekstensi, kemudian rotasi ke salah satu arah, pemeriksa
menundukan/memfleksikan leher maka akan terasa nyeri menjalar ke radiks sisi arah rotasi, pasien dalam keadaan supinasi kemudian apabila dilakukan distraksi leher perlahan,nyeri berkurang
3.lihat postur pasien, apakah tubuh condong pada arah tertentu,apakah ada kekakuan gerak,apakah terlihat kaku,
4. palpasi : apakah ada spasme, tekan tempat keluarnya radiks apakah ada nyeri,
5. motorik : apakah ada kelemahan gerakan tertentu, untuk
menentukan radiks yang terkena, pemeriksaan reflex fisiologis untuk mengetahui tingkat radiks yang terkena,
pemeriksaan penunjang :
1. pemeriksaan CT scan dan CT Scan Myelografi, untuk mencari herniasidiscus,
2. pemeriksaan MRI untuk mendeteksi kelainan discus dan ligament ,
3. pemeriksaan EMG : untuk membedakan bahwa lesi bersifat neurogenik atau tidak, apakah ada spasme otot, bagaimana tahap iritasi/kompresi radiks. untuk dapat membedakan iritasi radiks atau iritasi syaraf perifer,
4. pemeriksaan Foto polos vertebrae: adakah fraktur, adakah subluksasi, adakah perubahan degeneratif pada tulang dilakukan pada post trauma,
pengobatan
pada tahap akut hindari aktivitas yang gerakannya tiba-tiba/gerak berlebihan,
reduksi atau resolusi rasa nyeri, pembatasan aktivitas: pasien dengan radikulopati berat dapat tirah baring , perbaikan deficit neurologis , mencegah komplikasi/keterlibatan medulaspinalis dapat berbentuk fisioterapi atau medikamentosa , mengenai posisi yang benar yaitu memakai cervical collar, corset agar posisi vertebrae fisiologis , fisioterapi memakai termoterapi , traksi memakai NSAID ,Injeksi steroid epidural, Penyulit ada deficit neurologis berat Keterlibatan medulla spinalis,
rujukan ada red flags ,Membutuhkan fisioterapi kompleks , Membutuhkan tindakan bedah,
8. HERNIA NUCLEUS PULPOSUS
hernia nukleus pulposus(HNP) yaitu gangguan yang melibatkan ruptur annulus fibrosus sehingga nukleus pulposis menonjol dan menekan kearah kanalis spinalis,
nukleus pulposus adalah massa setengah cair yang terbuat dari serat elastis putih yang membentuk bagian tengah dari diskus intervertebralis. hernia adalah penonjolan protrusi dari organ atau jaringan melalui lubang yang tidak normal,
hernia nukleus pulposus sering dijumpai pada tingkat L4-L5; titik tumpuan tubuh di L4-L5-S1 ,hernia nukleus pulposus cenderung menyerang usia 30 – 50 tahun.
pasien dengan herniasi diskus lumbalis, memperlihatkan bahwa pasien hernia nukleus pulposus L3-L4 lebih banyak dialami usia tua dibandingkan dengan pasien HNP L4-L5,
gejalanya yaitu nyeri bersifat mekanik, karena gerakan akan menambah rasa nyeri, menjalar, seperti tersetrum. penjalaran nyeri bersifat dermatomal. bila ada nyeri non mekanis yaitu nyeri yang bukan disebabkan karena gerakan(waspada tumor/infeksi medulla spinalis) nyeri pinggang , nyeri tungkai, , nyeri pinggang ,menjalar ke tungkai , onset dapat akut, sub acute cronic, sebagian besar kronik > 90%, pemicu hernia nukleus pulposus yaitu gerakan pinggang tiba-tiba, mengangkat benda berat, gerakan pinggang yang berulang,
pemeriksaan motorik , mengetahui adakah atropi otot atau paresis ,
pemeriksaan ROM apakah ada gangguan lingkup gerak sendi, dilakukan baik secara pasif atau aktif harus diekslusikan red flags yaitu neoplasma
carcinoma, pemeriksaan refleks pemeriksaan sensorik hipestesi/anestesi dermatomal pemeriksaan nyeri radiculer laseque, contra laseque,sicard, bagard ,infeksi ,fraktur vertebrae, sindrom cauda equine,ada kelainan neurologic berat ,pemeriksaan genital, rectal,
pemeriksaan MRI pemeriksaan Myelografi pemeriksaan Myelogram –CT Scan
pemeriksaan Foto polos Vertebrae untuk mengabaiakan adanya kelainan tulang, Apabila ada indikasi (ada sindrom ridiculer atau ada Red flags dapat
ditambah pemeriksaan EMG, dan kecepatan hantar syaraf,
pemeriksaan CT Scan Untuk mencari sclerosis, hipertrofi, deteriorasi facet degenerasi discus, ketinggian discus,
rujukan :
ada tanda redflags dilakukan pengobatan operasi,
komplikasi :
defisit neurologis ,kelemahan, gangguan sensorik,gangguan autonom seperti miksi, defekasi, ereksi,
diagnosa banding :
sindroma pyriformois facet syndrome: nyeri tidak sampai bawah lutut,hnp
pengobatan
1. Operasi
Decompresi central memakai laser, nucleoplasty,Microdisectomy,
Hemilamynotomy, Central decompresi pada diskus dan fragmentectomy direct,
2. Konservasi,
a . Pada nyeri yang kronik dapat diberikan tambahan antidepresan dan
antikonvulsan,
b.Fisiopengobatan dengan penghangatan, transcutaneus nerve electrical
stimulation pada keadaan kronik,
c.Bedrest 1-2 hari,
d.. Menurunkan inflamasi dengan NSAID,
e.Penghangatan , melembabkan,
f. Nyeri punggung tanpa radiculopatidapat dilakukan ciropraksi 6 bulan
pertama,
g. Injeksi epidural(lidocain,opioid,steroid),
h.Membatasi olahraga yang berat ,
i.Latihan dan fisioterapi. pada otot dan syaraf yang cedera,
j. Mucle relaxan hanya untuk spasme akut,
9.NYERI NEUROPATIK
Nyeri Neuropati yaitu nyeri yang disebabkan oleh neuropati kerusakan primer dari sistem syaraf, ada rasa alodinia, baal, kurang tangkas, sulit mengenal, berlangsung akut maupun kronik seperti terbakar,tertusuk, tersetrum, tersobek, diikat,
nyeri nyeuropati sentral terjadi karena nyeri idiopatik, Jejas medulla spinalis, pasca stroke,
pemicu nyeri neuropati perifer yaitu rhematoidartrits, penyalah gunaan obat-obatan,DM, Neuralgia pasca herpetica,keganasan hematologi,
karakter nyeri yaitu rasa diikat,alodinia,hiperagelsia , terbakar,tertusuk, tersetrum, tersobek,
Pemeriksaan
riwayat social pekerjaan pasien, riwayat penyakit terdahulu riwayat trauma,riwayat memakai obat tertentu, Nyeri dapat terjadi spontan atau dengan stimulus ditambah dengan gejala baal, kurang tangkas, sulit mengenal barang , berlangsung akut (< 3 bulan, atau kronik > 3 bulan) penyebaran nyeri: polineuropati,mononeuropati, mononeuropati multipleks,
pemeriksaan dengan tabung reaksi panas dan dingin,
quantitative sonsory testing,pemeriksaan laboratorium sesuai pemicu,
biopsi syaraf ,
apa ada deformitas pada area yang disyarafi oleh nervus itu,
, apa ada ulserasi, akibat analgesia/hipoalgesia,apa ada charchot joint,
tes laseque, reserve laseque, thinel test, phalen test, tes syaraf autonom
pemeriksaan nervi cranialis, pemeriksaan ROM, pemeriksaan reflex tendon
pemeriksaan EMG , kecepatan hantaran syaraf (nerve conduction )
diferensial pemeriksaan nyeri neuropati perifer dan nyeri neuropati sentral
pemeriksaan status generalis, apa ada hipotensi ortostatik, apa ada endokrinopati, apa ada tanda inveksi, apa pasien vasculopati,
lokasi nyeri : mononeuropati/polineuropati, dermatom berapa
apakah ada parestesia,analgesia, hipoalgesia, alodinia, hiperallgesia, hipestesia, hiperpatia,disestesia, kausalgia diperiksa memakai jarum,
pengobatan
untuk Mengurangi nyei dan inflamasi dengan medicamentosa NSAID
Antikonvulsan,Antiaritmik,Antidepresan trisiclic,Blok syaraf lokal
,fisioterapi : Splint, TENS, perawatan deformitas,
Penyulit yaitu Deformitas, Ullserasi kaki (karena DM),Charchot joint,
Penyakit kausa tidak dapat ditangan dilayanan primer ada penyulit
10.CARPAL TUNNEL SYNDROM
carpal tunnel syndrom atau Sindroma Terowongan Karpal yaitu entrapment neuropathy , Sindroma ini muncul akibat adanya tekanan terhadap nervus medianus pada saat melalui terowongan karpal di pergelangan tangan, predisposisi diketahui seperti gangguan endokrin,trauma, infeksi, pemakaian tangan pergelangan tangan yang berlebihan memicu sindroma ini. Gejala awal yaitu gangguan sensorik (parestesia,tingling ,nyeri, rasa tebal ). Gejala motorik hanya ada pada stadium lanjut,
di tahap awal gejala berbentuk gangguan sensorik saja, berbentuk parestesia, rasa seperti terkena aliran listrik (tingling) pada jari dan setengah sisi radial jari 4 walaupun kadang-kadang dirasakan mengenai seluruh jari-jari,kurang merasa (numbness),keluhan parestesia lebih menonjol dimalam hari. gejala lainnya nyeri di tangan yang lebih berat pada malam hari sehingga membangunkan pasien dari tidurnya, rasa nyeri ini berkurang bila pasien meletakkan tangannya pada posisi yang lebih tinggi,memijat atau menggerak-gerakkan tangannya ,nyeri juga akan berkurang bila pasien mengistirahatkan tangannya,
bila penyakit parah , rasa nyeri bertambah berat dengan frekuensi serangan yang semakin sering bahkan dapat menetap. kadang-kadang rasa nyeri dapat terasa sampai ke lengan atas dan leher, sedang. parestesia terbatas di area distal pergelangan tangan sedang Gangguan motorik hanya terjadi pada keadaan yang berat,
adanya kekakuan pembengkakan pada tangan ,jari-jari dan pergelangan
tangan terutama di pagi hari. Gejala ini berkurang sesudah pasien mulai
mempergunakan tangannya. Hipesetesia dirasakan pada area yang impuls
sensoriknya diinervasi oleh nervus medianus, pasien mengeluh jari-jarinya menjadi kurang terampil contohnya saat memungut benda-benda kecil.
memutar tutup botol , menggenggam . Pada pasien tahap lanjut maka akan ada atrofi otot-tot thenar dan otot-otot lainnya yang diinnervasi oleh
nervus medanus ,
pemeriksaan banding
cervical syndrome (pada masalah berat retrograde),tenosinovitis ( de quervain syndrome), pronator teres syndrome,
pemeriksaan penunjang
pemeriksaan konduksi saraf,pemeriksaan pencitraan x-ray.,tes fisik.,tes darah. pemeriksaan elektromiografi,
pada hasil pemeriksaan Carpal tunnel syndrome ditemukan adanya rasa nyeri yang berbentuk terbakar, baal ,kesemutan pada jari ke 1,2,3 dan setengah bagian lateral jari 4 dengan onset malam hari atau dini hari , pada tahap berat nyeri menjalar hingga lengan atas dan ada atrofi otot tenar, pemeriksaan dilakukan sesudah dilakukan tes provokasi phalen dan tinel positif,
tes pemeriksaan tinel yaitu menepuk dengan ringan kulit yang melapisi fleksor retinnakulum untuk menimbulkan rasa kejutan listrik pada area yang dipersarafi N.medianus.
tes pemeriksaan phalen yaitu pergelangan tangan difleksikan secara lembut kemudian didiamkan dalam beberapa saat sambil menunggu muncul gejala. Hasil positif bila ada mati rasa pada area yang dipersarafi nervus medianus. Semakin cepat muncul gejala kesemutan maka semakin buruk keadaanya, pengobatan yaitu
1. injeksi kortikosteroid lokal: tidak dipakai dalam pengobatan jangka panjang, hanya dipakai pada pengobatan awal,
2. farmakopengobatan: AINS dipakai untuk mengurangi nyeri, steroid oral seperti prednisone. lebih efektif dengan injeksi kortison untuk mengurangi
bengkak
3. peregangan: kepalkan tangan kencang selama 5 detik, kemudian lepaskan dan ratakan seluruh jari tahan sampai 5 detik , ulangi gerakan sebanyak 6 kali pada masing- masing tangan,
4. bidai imobilisasi: bidai membantu mengurangi mati rasa dan membantu pasien tidur nyenyak pada malam hari
11. TARSAL TUNNEL SYNDROME
tarsal tunnel syndrome yaitu kelainan pada kaki yang disebabkan kompressi dari nervus tibialis atau percabanganya yang melewati sebelah bawah flexor retinaculum setinggi pergelangan kaki , penekanan dapat berasal dari cedera saraf ,tumor ,deformitas, inflamasi selubung saraf,
tarsal tunnel syndrome sering disebabkan faktor mekanik dan vaskuler
yang memicu tekanan berulang-ulang dan lama pada saraf dan memicu
peningkatan tekanan intravesikuler, sehingga aliran vena melambat ,
kompresi saraf berhubungan dengan sinyal yang dihantarkan sehingga memicu nyeri dan gejala neuropati lain di kaki,
Iskemik yang terjadi pada sel saraf memicu penyembuhan saraf berlangsung lama dan tidak sempurna.
endotel jika masalah ini terus berlanjut akan memicu fibrosis epineural keadaan ini akan memicu gangguan mikrovaaskuler yang memicu hilangnya lapisan mielin..sehingga terjadi keterlambatan konduksi saraf pada kaki.l,
gejalanya yaitu :
atrofi otot kaki yang menyebabkan eversi dan dorsofleksi dapat memperparah gejala, Rasa sakit, terbakar, kesemutan, terjadi ketika berdiri, berjalan, sakit bertambah berat bila berjalan namun hilang saat istirahat,
Pemeriksaan fisik:
adanya pahlen sign juga yaitu kaki di fleksikan selama 30 detik dan akan muncul gejala seperti nyeri kesemutan, sensitifitas pada sentuhan ringan, tusukan ringan dan suhu ringan menjadi berkurang. adanya tinel sign yaitu dilakukan perkusi pada terowongan tarsal dengan posisi kaki dorsofleksi,
pemeriksaan banding :
deep vein trombosis, artritis gout / pedis,radiculopathy lumbo-sacral,
pemeriksaan tarsal tunnel syndrome berdasarkan pemeriksaan penunjang
anamnesis dan pemeriksaan fisik ,
pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI), pemeriksaan electromyography (EMG) , pemeriksaan nerve conduction velocit (NVC),
pengobatan
pengobatan tarsal tunnel syndrome yaitu dengan medical therapy seperti injeksi
lokal steroid dalam kanal tarsal. pengobatan awal dengan anestesi lokal dan
steroid soluble guna mengurangi nyeri. jika pengobatan obat biasa gagal maka dapat dilakukan prosedur bedah.
12.GUILLAIUN BARRE SYNDROME GBS
guillain barre syndrome atau Acute Inflammatory Demyelinating Polyradiculoneuropathy (AIDP) yaitu kelainan sistem kekebalan tubuh manusia yang menyerang saraf sensoris, otonom, susunan saraf pusat, susunan saraf tepi dengan ciri berbentuk kelemahan atau arefleksia dari saraf motorik ,
guillain barre syndrome dialami semua pasien tanpa
membedakan usia maupun ras dan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. angka kematian 10 %. pemicu kematian adalah gagal jantung dan
gagal napas. kesembuhan 10 % sembuh namun dengan cacat yang permanen
guillain barre syndrome disebabkan karena hilangnya myelin atau
material yang menyelimuti saraf,
guillain barre syndrome memicu inflamasi dan destruksi dari myelin
dan menyerang saraf saraf,
guillain barre syndrome memicu paralisa akut yang dimulai dengan rasa baal, parestesia pada area distal diikuti secara cepat oleh paralisa ke empat ekstremitas yang bersifat asendens. Parestesia ini bersifat bilateral. Refelks fisiologis akan menurun dan kemudian menghilang sama sekali,
Kerusakan saraf motorik dimulai dari ekstremitas bawah dan menyebar ,dalam hitungan jam, hari maupun minggu, ke ekstremitas atas, tubuh dan saraf
pusat. Kerusakan saraf motoris ini bermacam ragam mulai dari kelemahan sampai pada yang menimbulkan quadriplegia flacid.
Keterlibatan saraf pusat dengan guillain barre syndrome , muncul pada 50 % masalah, yang berbentuk facial diplegia. Kelemahan otot pernapasan ,
sehingga pasien memerlukan bantuan ventilator dalam bernafas,
Kerusakan pada susunan saraf pusat menimbulkan gejala disfagia,
kesulitan dalam berbicara, dan bilateral facial palsy, kesulitan untuk mulai
BAK, inkontinensia urin dan alvi, konstipasi, kesulitan menelan kesulitan bernapas, perasaan tidak mampu menarik napas dalam, penglihatan kabur ,
pasien anak mudah terangsang dan progersivitas kelemahan dimulai dari menolak untuk berjalan, tidak mampu untuk berjalan, dan akhirnya menjadi tetraplegia ,
Kerusakan saraf sensoris yang terjadi kurang menonjol dibandingkan dengan
kelemahan pada otot. Saraf yang diserang biasanya proprioseptif dan sensasi getar. Gejalanya berbentuk parestesia Rasa sakit , kram dan disestesia pada extremitas distal, Rasa sakit ini merupakan bentuk penyakit awal pada lebih dari 50% pasien anak ,
Kelainan saraf otonom dapat memicu kematian, takikardi, hipotensi atau hipertensi, aritmia , cardiac arrest , facial flushing, sfincter yang tidak terkendali , kelainan berkeringat,
tidak ada Refleks patologis seperti refleks Babinsky , Pada pemeriksaan cairan cerebrospinal.terdapat adanya kenaikan kadar protein ( 1 – 1,5 g / dl ) tanpa diikuti kenaikan jumlah sel. Kenaikan kadar protein terjadi pada minggu pertama atau kedua. pada pemeriksaan LCS pada pasien menunjukkan jumlah sel yang kurang dari 10 / mm3,
pada pemeriksaan neurologis didapati adanya kelemahan otot yang bersifat paralisis dan difus, refleks tendon akan menurun atau bahkan menghilang. batuk yang lemah dan aspirasi menunjukan adanya kelemahan pada otot otot intercostal, adanya tanda rangsang meningeal seperti kaku kuduk perasat kernig ,
gejala utama,antaralain:
arefleksia atau hiporefleksia yang bersifat general,kelemahan pada satu atau lebih ekstremitas dengan atau tanpa ditambah ataxia,
gejala tambahan,antaralain:
progresivitas dalam waktu kira kira 4 minggu, simetris, adanya gejala sensoris yang ringan,terkenanya SSP, berbentuk kelemahan saraf facialis bilateral,disfungsi saraf otonom,tidak ada demam,penyembuhan dimulai antara minggu ke 2 sampai ke 4,
Pemeriksaan elektrodiagnostik,antaralain:
tampak adanya perlambatan atau blok pada konduksi impuls saraf
Gejala yang mengabaikan pemeriksaan ,antaralain:
Kelemahan yang sifatnya asimetri, Disfungsi vesica urinaria yang sifatnya persisten,Sel PMN atau MN di dalam LCS > 50/ul, Gejala sensoris yang nyata,
Pemeriksaan LCS,antaralain:
Peningkatan protein, Sel MN < 10 /ul,
pengobatan
fisiotherapy untuk meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas otot sesudah paralisa. heparin dosis rendah diberikan untuk mencegah terjadinya thrombosis
pada stadium awal pasien dibawa dan dirawat di rumah sakit untuk dilakukan
observasi tanda tanda vital, disiapkan vasoaktive,Obat obat anti hipertensi ,Ventilator sebab paralisa
dapat mengenai otot otot pernapasan sewaktu waktu disamping kadang bisa muncul Ketidakstabilantekanan darah , Pasien dengan tingkat kesembuhan yang lambat maka hanya dapat diobservasi saja tanpa
diberikan medikamentosa.Pasien dengan tingkat kesembuhan tinggi dapat diberikan obat obatan. steroid. Namun Steroid tidak efektif , Plasma exchange
therapy (PE) sangat efektif , PE efektif nya adalah dalam 2.minggu sesudah munculnya gejala. Regimen standard terdiri dari 5 sesi ( 40 – 50 ml / kg
beratbadan) dengan saline dan albumine sebagai penggantinya. kontraindikasi dari PE.yaitu ketidakstabilan hemodinamik berat dan septikemia,Perdarahan aktif, Pemberian IVIg ini dilakukan dalam 2
minggu sesudah gejala muncul dengan dosis 0,4 g / kg beratbadan / hari selama 5 hari. Intravenous inffusion of human Immunoglobulin ( IVIg ) mampu membantu menetralisasi autoantibodi patologis yang ada atau mengurangi produksi auto antibodi itu. IVIg juga mempercepat katabolisme IgG, yang kemudian menetralisir antigen dari virus atau bakteri sehingga T cells patologis tidak terbentuk. namun PE yang dicampurankan dengan IVIg tidak efektif dibandingkan dengan hanya memberikan PE atau IVIg.PE mengurangi kemungkinan terjadinya relapsing inflammatory polyneuropathy.
3 % pasien guillain barre syndrome mengalami relaps yang lebih ringan beberapa tahun sesudah onset pertama, pasien guillain barre syndrome mampu bertahan hidup dengan 85 % diantaranya sembuh.total. Kelemahan ringan atau gejala sisa seperti dropfoot dan postural tremor masih akan terjadi pada sebagian pasien, pasien, yang memiliki gagal napas dan aritmia akan bertahan hidup 3 %,
13.MIASTENIA GRAVIS
miastenia gravis yaitu suatu kelainan autoimun yang ditandai oleh suatu
kelelahan parah kelemahan tidak normal dan progresif pada otot rangka yang dipakai secara terus menerus ,
penyakit ini muncul karena adanya gangguan dari neuromuscular junction atau synaptic transmission , miastenia gravis memicu kelumpuhan akibat
ketidakmampuan sambungan neuromuskular untuk menghantarkan sinyal dari serat saraf ke serat otot,
Gejala miastenia gravis ,antara lain :
Paresis dari pallatum molle menimbulkan suara sengau, bila pasien minum air, air itu dapat keluar dari hidungnya,Sewaktu-waktu muncul kelemahan dari otot masseter sehingga mulut
sukar untuk ditutup dibuka , muncul kelemahan dari otot faring,otot lidah, otot pallatum molle, otot laring sehingga susah menelan , berbicara,
pasien merasa ototnya sangat terlalu lemah pada siang hari dan reda
sesudah minimal 2 hari beristirahat, Kelemahan pada otot ekstraokular atau ptosis, Kelemahan otot menyebar mulai dari otot ocular, otot wajah, otot leher, hingga ke otot ekstremitas,
Pada pemeriksaan fisik didapatkan, antara lain :
Kelemahan otot bulbar pada pasien miastenia gravis, kelemahan otot-otot palatum, memicu suara pasien seperti berada di hidung dan regurgitasi makanan terutama yang bersifat cair ke hidung pasien.
Kelemahan otot-otot rahang pada miastenia gravis memicu pasien kesulitan dalam rangka untuk .menutup mulutnya, Otot-otot leher mengalami kelemahan, .Kelemahan otot dapat muncul dalam berbagai tingkat derajat keparahan yang berbeda beda yang menyerang bagian proksimal dari tubuh dan simetris di kedua anggota gerak kanan dan kiri, .Refleks tendon masih dalam batas normal, kelemahan pada otot wajah. Kelemahan otot wajah bilateral akan memicu munculnya a mask-like face dengan adanya ptosis dan senyum ,
Pemeriksaan Penunjang, antara lain :
a. Pemeriksaan Laboratorium
Antistriated muscle (anti-SM) antibody,Anti-muscle-specific kinase (MuSK) antibodies,Anti-asetilkolin reseptor antibodi,Antistriational antibodies,
b. Imaging
Hasil roentgen yang negatif belum tentu dapat mengabaikan adanya
thymoma ukuran kecil, sehingga terkadang perlu dilakukan chest Ct-scan,untuk mencari dan menunjukan thymoma pada semua masalah miastenia gravis, terutama pada pasien dengan usia tua.
Chest x-ray (foto roentgen thorak), dilakukan pada posisi lateral dan anteroposterior , Pada roentgen thorak, thymoma dapat menunjukan
suatu massa pada bagian anterior mediastinum., MRI pada otak dan orbita tidak dipakai sebagai pemeriksaan rutin. MRI dapat dipakai apabila pemeriksaan miastenia gravis tidak efektif, dengan pemeriksaan lainnya dan untuk mencari pemicu defisit pada saraf otak.
Elektrodiagnostik memperlihatkan defek pada transmisi
neuromuscular melalui teknik teknik ,yaitu : Single-fiber Electromyography (SFEMG), memakai jarum single-fiber, yang memiliki permukaan kecil untuk merekam serat otot pasien. SFEMG dapat mendeteksi suatu jitter (variabilitas pada interval interpotensial diantara 2 atau lebih serat otot tunggal pada motor unit yang sama) dan suatu fiber density (jumlah potensial aksi dari serat otot tunggal yang dapat direkam oleh jarum perekam). SFEMG mendeteksi adanya defek transmisi pada neuromuscular fiber berbentuk peningkatan jitter dan fiber density yang normal.Repetitive Nerve Stimulation (RNS), pada pasien miastenia gravis ada penurunan jumlah reseptor asetilkolin, sehingga pada RNS tidak ada adanya suatu potensial aksi.,
pelaksanaan pemeriksaan
pasien mengedipkan matanya secara terus-menerus. Lama
kelamaan akan muncul ptosis. sesudah suara pasien tiba tiba berubah menjadi parau atau muncul ptosis, maka pasien harus cepat cepat beristirahat Kemudian tiba tiba berubah suaranya kembali baik dan ptosis juga tidak tampak lagi.pasien menghitung dengan suara yang keras. Lama kelamaan akan terdengar bahwa suaranya bertambah lemah tiba tiba pasien berubah menjadi anartris dan afonis, Untuk memastikan pemeriksaan miastenia gravis, dapat dilakukan beberapa tes tes antara lain :
1. Uji Kinin, pasien diberikan 3 tablet kinina masing-masing 200 mg. 3 jam kemudian diberikan 3 tablet lagi (masing-masing 200 mg per tablet). Bila kelemahan itu benar benar disebabkan oleh miastenia gravis, maka gejala seperti ptosis, strabismus, dan lain lain tiba tiba akan bertambah berat. Untuk uji kali ini , sebaiknya disiapkan injeksi prostigmin, agar gejala-gejala miastenik tidak bertambah berat
2. Uji Tensilon (edrophonium chloride), untuk uji tensilon, disuntikkan 2 mg tensilon secara intravena, bila tidak ada reaksi tanggapan dari pasien maka disuntikkan lagi sebanyak 8 mg tensilon secara intravena. Segera sesudah tensilon disuntikkan harus dilihat lihat otot-otot yang lemah seperti contohnya kelopak mata yang menandakan ptosis. Bila kelemahan itu benar disebabkan oleh miastenia gravis, maka ptosis itu akan segera tiba tiba lenyap. Pada uiji ini kelopak mata yang lemah harus dilihat lihat karena efektivitas tensilon sangat singkat,
3. Uji Prostigmin (neostigmin), pada tes ini pasien disuntik dengan 3 cc atau 1,5 mg prostigmin merhylsulfat secara intramuskular ( diberikan pula atropin ¼ atau ½ mg).
Bila kelemahan itu memang benar benar disebabkan oleh miastenia gravis maka gejala-gejala seperti contohnya strabismus , ptosis, kelemahan lain tidak lama kemudian akan tiba tiba hilang lenyap.
pengobatan
pada miastenia gravis ocular, dimana kelemahan pada mata terjadi lebih dari 2 tahun, hanya 20% yang akan berkembang menjadi miastenia gravis generalisata. pengobatan dengan steroid dan imusupresi masih belum diketahui manfaatnya , pada miastenia gravis generalisata,pasien akan
membaik setelah diberi imunosupresi, timektomi,
imunomudulasi dan Antikolinesterase (asetilkolinesterase inhibitor)
merupakan pengobatan utama miastenia gravis, memulihkan kekuatan otot secara cepat dan tepat ,Antikolinesterase
dipakai pada miastenia gravis yang ringan. Sedangkan pada pasien dengan miastenia gravis generalisata, dilakukan pengobatan imunomudulasi yang rutin. pengobatan imunomodulasi dan imunosupresif
yang dicampurakan dengan pemberian antibiotik dan penunjang
ventilasi, mampu membantu pasien menghambat miastenia gravis
14.HEMATOM INTRASEREBRAL
Hematoma intraserebral yaitu peristiwa perdarahan dalam jaringan otak akibat pecahnya arteri arteri dalam jaringan otak, pemicunya yaitu
tumor otak ,cedera otak traumatic,tekanan darah tinggi kronik ( terbanyak) , malformasi arteriovenosa (AVM) atau aneurisma serebral, gejalanya yaitu stroke seperti hemiplegi (gangguan fungsi motorik atau sensorik pada satu sisi tubuh),kejang, penurunan kesadaran, kesulitan berbicara, adanya peningkatan TIK seperti muntah,nyeri kepala hebat,
pemeriksaan fisik , antaralain :
1. Tanda tanda peningkatan TIK,
2.Defisit neurologi fokal, dilakukan pemeriksaan nervus kranialis,
3. Pemeriksaan derajat kesadaran
Penilaian derajat kesadaran secara kualitatif dinyatakan sebagai : samnolen, apatis, sopor, dan koma. kriteria kuantitatif dinilai dengan
Glasgow Coma Scale (GCS). Kriteria GCS yaitu :
derajat kesadaran :
Respon Verbal Terbaik (V)
(kemampuan berkomunikasi)
reaksi :
bicara terarah (orientasi baik) score : 5
bingung (disorientasi)/ bicara kacau score : 4
mengucapkan kata-kata tidak dimengerti score : 3
mengerang saja score : 2
tidak bersuara score : 1
derajat kesadaran :
Respon Membuka Mata ( E )
reaksi :
membuka mata terhadap rangsangan nyeri score : 2
tidak membuka mata (tidak bereaksi) score : 1
membuka mata spontan score : 4
membuka mata terhadap suara score : 3
derajat kesadaran :
Respon Motorik Terbaik (M)
reaksi :
fleksi tidak normal (dekortikasi: tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri) score : 3
ekstensi tidak normal (deserebrasi: tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri)
score : 2
tidak ada respon motorik score : 1
mengikuti perintah score : 6
melokalisir rangsangan nyeri score : 5
menarik ekstremitas yang dirangsang (fleksi normal) score : 4
hematom intraserebral spontan ,memiliki resiko 50% cacat dalam 30 hari sesudah kejadian, resiko parah meningkat bila lesi terjadi di batang otak, hematom intraserebral yang mengenai medulla oblongata biasanya bersifat fatal, terlebih bila mengenai n.x yang berperan pada fungsi respirasi dan sirkulasi darah ,
Pemeriksaan penunjang ,antaralain :
a.Pemeriksaan Arteriografi untuk melihat lihat
ada tidaknya efek massa, letak, luas hematoma tetapi tidak membantu menunjukkan kelainan otak dan pemicu hematoma
b. Pemeriksaan Angiografi untuk melihat lihat pergeseran lokasi pembuluh darah pada pasien yang mengalami
hemiparesis (kelumpuhan salah satu anggota tubuh) dengan kecurigaan
adanya hematoma,
c. Pemeriksaan Foto polos kepala untuk melihat lihat pergeseran fraktur tulang
tengkorak, tetapi tidak mampu membantu menentukan ada tidaknya perdarahan intracranial,
d.Pemeriksaan CT-Scan kepala untuk melihat lihat
seluruh struktur anatomis kepala, untuk mengetahui, menentukan lokasi , menentukan ukuran dari perdarahan intracranial,
Dalam rangka menentukan pemeriksaan, membedakan jenis atau pemicu intraserebral hematom dalam hal ini yang disebabkan karena stroke, maka dapat dipakai Algoritma Gajahmada dan Skor Siriraj,
Siriraj Stroke Score
Variabel Gejala klinis Skor
Muntah Ya 1
Tidak 0
Sakit kepala Ya 1
Tidak 0
Derajat kesadaran Sadar 0
Apatis 1
Koma 2
Tanda atheroma
Claudicatio intermitten Ya 1
Tidak 0
Diabetes mellitus Ya 1
Tidak 0
Angina Pectoris Ya 1
Tidak 0
Siriraj Stroke Score = (2,5 X Derajat Kesadaran) + (2 X muntah) + (2 X sakit
kepala) + (0,1 X tekanan darah diastol) – (3 X ateroma) – 12 . jika skor yang diperoleh < 1 maka pemeriksaannya stroke non perdarahan dan
jika diperoleh skor ≥ 1 maka pemeriksaannya stroke perdarahan,
bila hanya ada reflek babinski positif atau tidak ada penurunan kesadaran, nyeri kepala dan reflek babinski maka merupakan stroke non hemoragik.bila ditemukan penurunan kesadaran atau nyeri kepala ini juga merupakan stroke non hemoragik bila ada pasien stroke akut dengan atau tanpa penurunan
kesadaran, nyeri kepala dan ada reflek babainski atau dua dari ketiganya maka merupakan stroke hemoragik.
pengobatan
a.pada pasien yang gelisah diberikan obat penenang haloperidol. untuk nyeri kepala maka diberikan obat analgetik
b. medikamentosa,
-antikonvulsan diberikan bila ada perdarahan lobus atau kejang
-PPI atau H2 antagonis diberikan bila ada ulkus stress sebagai
profilaksis,
-pengobatan antihipertensi untuk menurunkan TD pada tahap akut.
- Manitol efektif dalam menurunkan TIK,
-acetaminophen, untuk meringankan nyeri kepala dan menghindari hipertermi ,
c. operasi bergantung dari letak lesi, bila hematom terjadi pada lobus maka
operasi berguna pada lesi yang ada pada kedalaman 1 cm dari permukaan dan dilakukan dalam 12 jam pertama,
d.Mempertahankan kondisi perfusi otak Jaringan serebral,
Tekanan darah dijaga agar supaya tidak menurun, bila
terjadi syok dan pendarahan, harus segera diatasi guna menghindari
terjadinya infeksi pada otak, Pasien yang mengalami penurunan kesadaran akan segera diberikan tindakan tindakan dengan cara meninggikan posisi kepala 30 derajat , posisi setengah terlentang untuk menurunkan tekanan vena jugularis, dan menghindarkan hal-hal yang akan meningkatkan tekanan
intracranial,
e.Meningkatkan jalan nafas dan pola nafas yang efektif,
f.Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit,
g.Nutrisi, Pada pasien yang mengalami penurunan kesadaran maka kebutuhan kalori akan meningkat karena keadaan katabolik, maka harus diberikan makanan melalui sonde lambung,
15.PERDARAHAN SUBARACHNOID
Pendarahan subarakhnoid yaitu adanya darah pada rongga subarakhnoid yang disebabkan oleh proses patologis, yang ditandai dengan adanya ekstravasasi darah ke rongga, subarakhnoid yaitu rongga antara lapisan dalam dan lapisan tengah yang merupakan bagian selaput yang menyelimuti otak
pemicu perdarahan subarakhnoid yaitu adanya malformasi arteriovenosa (MAV ) dan ruptur aneurisma salah satu arteri di dasar otak ,
Perdarahan Subarachnoid termasuk masalah GPDO (Gangguan Peredaran Darah Otak) muncul pada usia 40 sampai 60 tahun, bila
pemicunya adalah MAV (malformasi arteriovenosa) maka kejadian akan lebih
sering pada pasien laki laki dibandingkan pasien wanita,
Keluhan muncul akibat adanya pecahan aneurisma yang besar yang memicu
tiba-tiba nyeri kepala hebat mendadak , kejang ,hilang kesadaran sesudah kejadian, hilang kesadaran terjadi sesaat karena adanya peningkatan tekanan intrakranial atau ireversibel pada masalah-masalah parah,mual, muntah, fotofobia, gejala neurologis akut fokal maupun global, munculnya
bangkitan, gangguan memori atau gangguan konsentrasi,
gangguan autonom seperti hipotensi atau hipertensi,banyak keringat, bradikardia, takikardia, suhu badan meningkat, gangguan pernapasan,
sebelum muncul tanda dan gejala yang hebat dan mendadak pertama , sudah ada berbagai tanda peringatan yang biasanya tidak memperoleh perhatian sepenuhnya oleh pasien , Tanda-tanda peringatan dapat muncul beberapa jam, beberapa hari, beberapa minggu, beberapa tahun sebelum terjadinya perdarahan yang hebat
Pemeriksaan fisik
gangguan fungsi autonom yaitu bradikardia atau takikardia, hipotensi atau hipertensi, Aneurisma di area persimpangan antara arteri komunikans posterior dan arteri karotis interna dapat memicu paresis n. III, yaitu gerak bola mata terbatas, dilatasi pupil, dan atau deviasi inferolateral. Aneurisma di sinus kavernosus yang luas memicu paresis n. VI.
Pemeriksaan kesadaran dengan GCS, Tanda rangsang meningeal (+)
dengan berbagai pemeriksaan neurologis kaku kuduk, tanda peningkatan TIK
(+),pada funduskopi, 20% pasien mengalami edema papil beberapa
jam sesudah perdarahan dan perdarahan retina berbentuk perdarahan subhialoid, 10% yang merupakan gejala karakteristik karena pecahnya aneurisma di arteri komunikans anterior atau arteri karotis internal,
pemeriksaan dilakukan berdasar dari anamese yang biasanya diawali dengan nyeri kepala akut atau penurunan kesadaran ditambah dengan pemeriksaan fisik dan penunjang CT Scan,
pemeriksaan banding:
migraine,non-hemorrhagic stroke,paroxysmal hemicranial,cluster headache,
Pemeriksaan penunjang :
a. Pemeriksaan Angiografi : Digital-subtraction cerebral angiography untuk deteksi aneurisma serebral, CT angiografi non-invasif , sensitivitas dan
spesifisitasnya lebih tinggi,
b, Pemeriksaan Pungsi Lumbal : bila hasil pemeriksaan CT scan kepala negatif,
pemeriksaan selanjutnya adalah pungsi untuk Membuktikan adanya degradasi produk eritrosit, terutama bilirubin dan oksihemoglobin pada cairan serebrospinal.
c. Pemeriksaan CT Scan memiliki kepekaan tinggi , mampu menentukan
area perdarahan lebih akurat; kepekaan mendekati 100% jika dilakukan
dalam 12 jam pertama sesudah serangan, akan menurun menjadi 50% pada 1
minggu sesudah serangan,
skor Fisher juga bisa dipakai untuk menggolongkan perdarahan subarachnoid berdasarkan munculnya darah di kepala pada pemeriksaan CT scan,
Tabel Skor Fisher
skor : diskripsi adanya darah berdasarkan CT scan kepala:
3 ada jendalan dan/atau lapisan vertical ada darah tebal
dengan ukuran >1 mm
4 ada jendalan pada intraserebral atau intraventrikuler secara
difus atau tidak ada darah,
1 tidak terdeteksi adanya darah
2 deposit darah difus atau lapisan vertical ada darah ukuran
<1 mm, tidak ada jendalan
pengobatan
pertama menelusuri sumber pendarahan dengan kemungkinan bisa diatasi dengan pembedahan atau tindakan intravaskuler lain. Kedua adalah manajemen komplikasi, Pasien perdarahan subaraknoid harus dirawat di Intensive Care Unit (ICU) untuk pemantauan kondisi hemodinamiknya, pasien itu dikelola di Neurology Critical Care Unit
tahap Langkah ,antaralain :
1. Pasien istirahat total,
2. Jalan napas harus dijamin dan pemantauan invasif terhadap central
venous pressure dan/atau pulmonary artery pressure, seperti juga terhadap
tekanan darah arteri, harus terus dilakukan,
3. Pencegahan perdarahan berulang, tekanan darah harus dijaga dalam batas
normal dengan obat-obat antihipertensi intravena, seperti
nikardipin dan labetalol untuk mencegah pecahnya kembali aneurisma yang
lain.
4. Analgesik dengan obat-obat narkotika ,
5. pembetulan hipertermia dan hiperglikemia karena dapat memperburuk keadaan,
6. Profilaksis terhadap trombosis vena dalam harus dilakukan segera dengan peralatan kompresif sekuensial; heparin subkutan diberikan sesudah dilakukan pengobatan terhadap aneurisma,
7. Calcium channel blocker mengurangi risiko komplikasi iskemik, disarankan nimodipin oral..
8. bila diketahui pemicunya adalah aneurismia maka dilakukan
mengamankan aneurisma yang ruptur , yaitu microsurgical
clipping dan endovascular coiling; microsurgical clipping ,
Manajemen komplikasi
1. Epilepsi
pemberian rutin profilaksis bangkitan untuk semua pasien perdarahan subaraknoid, bahwa fenitoin profilaksis berhubungan dengan perburukan luaran .neurologis dan kognitif. maka , pemberian antiepilepsi
harus hati-hati terutama pada pasien yang mengalami serangan onset
lambat epilepsi sesudah pulang dari rumah sakit,
2. Komplikasi lain
Komplikasi lain yang sering terjadi adalah peningkatan kadar enzim jantung, pneumonia, sepsis, aritmia kardial , Kepala pasien harus dipertahankan pada
posisi 30 ° di tempat tidur, segera diberi pengobatan antibiotik bila
ada pneumonia bakterial, dilakukan Profilaksis dengan kompresi pneumatik untuk mengurangi risiko Deep Vein Thrombosis (DVT ) dan emboli
pulmonum. Antikoagulan merupakan kontraindikasi pada tahap akut
pendarahan,
3. Hiperglikemia
Berhubungan dengan respons stres. Insulin diberikan untuk mempertahankan
kadar glukosa darah tetap aman 90 sampai 126 mg/dL. Pemantauan
kadar glukosa darah intensif pada pasien dengan pengobatan insulin ,
4. Vasospasme
Vasospasme dan pendarahan ulang ini komplikasi yang sering
terjadi. Tanda dan gejala vasospasme yaitu perubahan status
mental, defisit neorologis fokal; jarang terjadi sebelum hari 3, puncaknya pada
hari ke 6 sampai 8, dan jarang sesudah hari ke-17. Oleh karena itu diberikan anti vasospasme seperti profilaksis nimodipin dalam 12 jam sesudah pemeriksaan, dengan dosis 60 mg setiap 4 jam per oral atau melalui tabung
nasogastrik selama 21 hari,
5. Perdarahan berulang
Untuk mencegah perdarahan berulang, tekanan darah sistolik arus dipertahankan diatas 100 mmHg selama kurang lebih 21 hari
6. Hidrosefalus
bila pasien perdarahan subaraknoid menderita deteriorasi mental akut, harus
dilakukan pemeriksaan ulang CT scan kepala untuk mencari pemicunya,
pemicu paling sering yaitu hidrosefalus. Maka dilakukan drainase ventrikuler eksternal sementara atau dengan ventricular shunt permanen,
Perdarahan subarachnoid berpotensi memicu kecacatan,
pengobatan dini dapat
mengurangi keparahan pasien dengan keluhan nyeri kepala berat dengan
onset baru ditambah penurunan kesadaran yang diduga mengalami perdarahan subaraknoid, Skala Hunt dan Hess bisa dijadikan panduan dalam pemeriksaan , Nilai tinggi pada skala Hunt dan Hess merupakan indikasi perburukan luaran.
Tabel Skala Hunt dan Hess
grade: gambaran klinis:
i asimtomatik atau iritasi meningeal dan sakit kepala ringan ,
ii meningismus, deficit saraf kranial (paresis nervus abdusen
ditemukan) sakit kepala sedang atau berat (sakit kepala
terhebat seumur hidup),
iii mengantuk, konfusi, tanda neurologis fokal ringan ,
iv stupor, deficit neurologis berat (contohnya hemiparesis),
bentuk penyakit otonom
v koma, desebrasi
selesai
