tuberkulosis2
Efek samping neurologi ,antaralain : psikosis toksis, perubahan tingkah laku, hiperrefleksia, ototmelintir, konvulsi, parestesia, neuritis perifer, gangguan penglihatanneuritis optik, atropfi optik, tinitus, vertigo, ataksia,depresi, ingatan berkurang , somnolensi, mimpi berlebihan, insomnia, amnesia, euforia,
Metabolisme dan endrokrin: asetonuria, asidosis metabolik, proteinurea,defisiensi Vitamin B6, pelagra, kenekomastia, hiperglikemia, glukosuria,
Hematologi: trambositopenia, eusinofilia , methemoglobinemia,agranulositosis, anemia aplastik,, hemolisis, anemia, Saluran cerna: sakit ulu hati , sembelit,mual mulas perih kembung, muntah, Inracunasi lain: retensi kandung kemih pada pasien laki ,sakit kepala, takikardia, dispenia, mulut kering, hipotensi postura, sindrom seperti lupus, rematik,eritemamtosus ,
terlalu peka: limfadenitis, vasculitis ,demam, menggigil, keratitis,eropsi
kulit (bentuk morbili, mapulo papulo, purpura, urtikaria),
Hepatoracun: sakit kuning , hepatitis fatal,SGOT dan SGPT meningkat,
bilirubinemia,
awal tahun 1950 ditemukan obat tuberkulosis Pirazinamid ( gbr TBC 2828 ) yaitu analog struktural dari nikotinamid, Pirazinamid mampu membantu pasien
membunuh persistent tubercle bacilli di awal terapi tahap intensif , Namun, selama 2 hari pertama terapi, pirazinamid tidak melakukan pergerakan pergerakan bakterisida terhadap bacilli yang mulai tumbuh cepat , Meskipun begitu , akibat pergerakan sterilisasi Pirazinamid dalam keadaan asam di dalam makrofag atau jaringan yang inflamasi, pirazinamid mampu membantu pasien
memperpendek durasi terapi dari 12 bulan menjadi cuma hanya sekedar 6 bulan saja ,pirazinamid mampu membantu pasien mencegah risiko kekambuhan ,
kegiatan PZA berbeda terhadap Mycobacterium tuberculosis karena tidak
berefek pada mikobakteria lain ,Pirazinamid yaitu suatu prodrug sehingga dikonversi ke dalam bentuk aktifnya, yaitu asam pirazinoat (POA), oleh enzim pirazinamidase (PZase) atau nikotinamidase mikobakteri. manuver pergerakan pirazinamid masih samar.samar ,
Asam pirazinoat bekerja keras melalui cara penghambatan sistem enzim fatty acid synthase (FAS) I yang berperan yang perlu dalam sintesis asam mikolat Mycobacterium tuberculosis yang sedang memperbanyak diri , Kemungkinan
manuver pergerakan pergerakan lainnya yaitu gangguan potensial membran di bawah keadaan pH asam atau penghambatan translasi sesudah berikatan dengan komponen S1 dari subunit 30s ribosomal ,
Gangguan potensial membrane terjadi akibat adanya penumpukan asam
pirazinoat. Asam pirazinoat diekskresi oleh pompa effux lemah, Pada keadaan asam, asam pirazinoat terprotonasi akan diserap ulang ke dalam sel dan
menumpuk di dalam sitoplasma karena pompa efflux yang sudah tidak efisien lagi, penumpukan asam pirazinoat menghasilkan penurunan pH intraseluler hingga nilai dimana menonaktifkan sintesis asam lemak yang perlu atau terjadi kerusakan seluler ,
berdasar contoh pergerakan itu, mengakibatkan pirazinamid cuma hanya sekedar aktif melawan Mycobacterium tuberculosis pada pH asam saja dimana asam pirazinoat mengalami penumpukan di dalam sitoplasma , anion
pirazinoat di bawah keadaan asam berfungsi sebagai pembawa proton yang mengirim ngirim proton dari luar membran ke dalam ruang intraseluler. ini
mengurangi proton motive force dan berpengaruh pada produksi energi bakteri ,
pada tahun 1950 dilakukan Optimasi pirazinamid sebagai kelanjutan pergerakan terhadap isonikotinamid. Hubungan struktur-kegiatan dari
senyawa ini sangat sulit untuk dijelaskan karena obat ini tidak aktif di bawah keadaan kultur normal. sehingga, data SAR PZA diperoleh dari penelitian in vivo pada hewan yang terbatas ,
( gbr TBC 2929 )
Penelitian awal SAR dilakukan secara in vivo pada turunan nikotinamid dan PZA
pada hewan percobaan. Keberadaan pirazin heterocycle dengan suatu carbocamide pada posisi C2 yang perlu untuk kegiatan PZA. rekayasa carboxamide
dengan hidrazid , asam karboksilat ,tetrazol, nitril, ( gbr TBC 2929b-e) memicu obat ini menjadi tidak aktif sepenuhnya pada keadaan in vivo. Subtitusi atau
penggantian nitrogen gugus amida dengan metil ( gbr TBC 2929f) atau gugus asetil ( gbr TBC 2929g) tidak baik untuk kegiatan obat. Asam pirazinoat
( gbr TBC 2929e) dianggap sebagai metabolit aktif PZA. Oleh sebab itu, beberapa turunan ester ( gbr TBC 2929 h) disintesis dan ditemukan bersifat aktif secara in vitro namun tidak aktif secara in vivo. ini kemungkinan dipicu adanya hidrolisis
sebelum waktunya atau kelarutan yang buruk, namun ,prodrug yang lebih stabil (aminomethylene) tidak menampakkan peningkatan aktifitas, kemungkinan karena prodrug itu bukan substrat untuk amidase, piridazin nucleus (29mn) tionamid (29k) dan pirimidin nucleus (29l) bersifat tidak aktif atau aktif namun lemah sehingga PZA yaitu farmakofor (bagian dari struktur senyawa atau gugus-gusus pada senyawa yang berinteraksi dengan reseptor atau target obat)
minimal, subtitusi kemudian pada gugus amida atau perubahan pada cincin pirazin dicurigai berusaha menurunkan kegiatan .Sebagai suatu prodrug, PZA memiliki 2 SAR yaitu gugus untuk berikatan dengan target dan gugus terkait aktivasi oleh PZase ( gbr TBC 3030),
Gugus R 1 memiliki 2 fungsi yaitu bertanggung jawab atas semua kegiatan yang telah dilakukan oleh antibakteri dan berperan sebagai spesies aktif
Pertama, spesies aktif (asam pirazinoat), biasanya berada dalam bentuk anionik pada suhu fisiologis dan tidak permeable/bioavailable.
Gugus R1 sudah pernah menutup nutupi gugus asam dan dicurigai membuat obat bisa mampu melewati membrane sel, efek antibakteri dari spesies aktif yang mustahil tidak masuk akal yaitu proses selektif. Oleh sebab itu, penghilangan gugus R1 secara selektif oleh bakteri lain ditambah Mycobacterium tuberculosis memberikan selektifitas yang diharapkan, setiap struktur yang
bisa dihilangkan secara selektif oleh mikobakteria akan menjadi pilihan terbaik untuk gugus R1,
.
Penambahan ester pada amida sebagai suatu prodrug , Ester mampu membantu pasien menghasilkan spektrum kegiatan yang lebih luas dibandingkan amida tidak hanya itu saja bahkan ester tidak berani menampakkan cross-resistance dengan amida, ini menandakan bahwa ester
dan amida sudah pernah diaktivasi oleh enzim berbeda , Informasi terkait persyaratan struktural untuk gugus aromatik sangat terbatas, struktur yang mengarahkan sifat asam dengan pKa relatif lebih rendah bersifat lebih aktif
dibandingkan struktur yang mengarahkan pkA lebih tinggi. Oleh sebab itu, asam pirazinoat memiliki kegiatan lebih baik dibandingkan asam nikotinat. pKa
spesies bentuk aktif bisa mempengaruhi struktur sistem aromatik dan subtitusinya
Kadar hambat minimum (KHM) terhadap Mycobacterium tuberculosis sebesar 6-50 µg/mL pada pH 5,5 , KHM > 2000 µg/mL diperlukan untuk Mycobacterium smegmatid pada pH sama ,
Pirazinamid menjadi bagian dari terapi meningitis tuberkulosis,
Pirazinamid mampu membantu pasien memperpendek terapi dari 12 bulan menjadi cuma hanya sekedar 6 bulan saja, dengan jalan membunuh organisme yang tidak terpengaruh oleh obat anti-tuberkulosis lain, khususnya pada lingkungan Mycobacterium, pemakaian Pirazinamid pada 2 bulan pertama
terapi mampu mengurangi durasi terapi. Pirazinamid mengurangi tingkat kekambuhan , saat pirazinamid ditambahkan pada campuran streptomisin (STR) dan INH , Pirazinamid bisa melintasi meninges, Pirazinamid dipakai dalam campuran bersama obat lain seperti RIF dan INH ,
pada terapi Mycobacterium tuberculosis, Regimen terapi paling sering dipakai yaitu PZA, ETH, INH, RIF, setiap hari selama 2 bulan dilanjutkan RIF dan INH ,tiga kali per minggu selama 4 bulan,
Pirazinamid dianggap khusus untuk spesies mikobakteria dan melaksanakan sifat antibakteri di bawah keadaan khusus (pH asam). Mycobacterium leprae dan
bovis kebal secara intrinsik pada PZA. PZAase disebar sebarkan secara merata di dalam bakteri namun efikasi PZA terhadap Mycobacterium tuberculosis
dan organisme lain terbatas, Semua strain mikobakterial bovine kekurangan kegiatan PZAase karena point mutation pada gen pncA, suatu gen pengkode enzim pirazinamidase (PZAse). Mycobacterium smegmatis kebal pada PZA, kemungkinan karena sistem efflux yang efisien sehingga tidak terjadi penumpukan POA di dalam sel ,
Keamanan pemakaian PZA pada anak-anak belum ditetapkan. Hati-hati pemakaian pada pasien dengan adanya riwayat diabetes melitus,encok , gangguan fungsi ginjal, tukak peptik, Efek samping pemakaian PZA
seperti dysuria, malaise, mual mulas perih kembung muntah, demam, anemia sideroblastik,luka liver, artalgia, anoreksia, muntah, Efek samping pada manuver pergerakan penjendalan darah atau integritas vaskuler dan reaksi terlalu peka seperti urtikaria, pruritis dan eksim kulit juga mungkin terjadi
Pirazinamid harus dihentikan dan tidak dimulai lagi jika tanda kerusakan
hepatoseluler atau hiperurisemia bersama gout atritis akut muncul ,
Pirazinamid tidak boleh diberikan pada pasien dengan kerusakan hati parah atau gout akut, PZA meningkatkan kadar serum asam urat sehingga memicu arthralgia nongoutt. saat dipakai dalam campuran dengan INH dan atau RIF maka cenderung memicu hepatoefek racun.
pada tahun 1957 untuk pertama kalinya Rifamisin diisolasi dari Amycolatopsis ( Streptomyces) mediterranei , pada mulanya kelas obat ini yaitu agen terapi yang kurang diminati karena waktu paruhnya pendek, potensinya yang terlalu rendah, kelarutan rendah, bioavailabilitasnya rendah hanya aktif saat diberikan secar intra vena, Namun, rekayasa struktural dari rifamisin alami menghasilkan turunan dengan potensi tinggi dan tersedia dalam bentuk oral,Rifamisin yaitu salah satu golongan antibakteri paling efektif yang dipakai secara luas dalam terapi tuberkulosis saat ini, Saat ini, ada 3 senyawa semisintetik dari kelas ini yang dipakai dalam terapi, yaitu rifabutin, rifampisin, rifapentin (gbr TBC 3131). Rifampisin saat ini aktif mengurangi durasi terapi dari 12 bulan hingga sekarang menjadi 6 bulan,produk terbaru kelas Rifampisin ini yaitu rifapentin dan rifabutin, memiliki keuntungan tinggi dibandingkan rifampisin yaitu seperti pengurangan kemungkinan interaksi obat-obat dan atau kegiatan melawan beberapa strain reisten rifampisin,waktu paruh lebih panjang,
Perbandingan rifalazil, Rifampisin, rifapentin, rifabutin sebagai obat anti-tuberkulosis .
Senyawa : Rifampisin (1966)
kelebihan : Sebagian besar bertanggung jawab untuk perpendekan terapi dari 12 menjadi 6 bulan
kekurangan : Interaksi obat dan kekebalan obat
manfaat pemakaian : Komponen kunci regimen lini pertama
Senyawa : Rifapentin (1976)
kelebihan : Waktu paruh lebih panjang dari rifampisin, hanya sedikit mengurangi induksi CYP450
kekurangan : kekebalan silang dengan rifampisin, interaksi obat, efek makanan
manfaat pemakaian : Agen potensial untuk terapi intermittent.
Senyawa : Rifabutin (1979)
kelebihan : Kadar jaringan lebih tinggi, mengurangi induksi CYP450 dan aktif terhadap beberapa strain kebal rifampisin,
kekurangan : kekebalan silang sebagian dengan rifampisin, ketersediaan oral rendah
manfaat pemakaian : Terapi untuk MAC, pemakaian potensial pada koinfeksi tuberkulosis-HIV.
Senyawa : Rifalazil (1990)
kelebihan : Sangat potensial, tidak ada induksi CYP450, waktu paruh lebih panjang dari rifapentin, aktif terhadap beberapa strain kebal rifampisin,
kekurangan : kekebalan silang sebagian dengan rifampisin, perubahan warna kulit, gejala mirip flu
manfaat pemakaian : pemakaian potensial untuk terapi intermitten dan ko-infeksi tuberkulosis-HIV
Rifamisin mengandung suatu inti aromatik yang dihubungan pada ke dua sisi oleh suatu jembatan alifatik, Rifamisin mudah menyebar melalui membrane sel
Mycobacterium tuberculosis karena obat ini bersifat lipofil , kegiatan bakterisida
dikaitkan dengan kemampuan obat ini untuk menghambat transkripsi akibat ikatan dengan afinitas tinggi pada DNA-dependent RNA polimerase,
Walaupun target molekuler rifampin telah dicirikan dengan baik, manuver pergerakan dari kelas obat ini masih belum jelas ,
rekayasa kimia dari produk alami menghasilkan rifampisin sintetis untuk
peningkatan profil farmakologi. Ringkasan SAR pada ( gbr TBC 31 31 ).Empat gugus hidroksi pada posisi C23, C1, C8, C21 dari kerangka rifamisin yang perlu untuk kegiatan antibakteri, Setiap rekayasa terhadap gugus hidroksi ini (kecuali konversi C1-OH menjadi =O) memicu penurunan kegiatan. Perubahan lain
pada konformasi gugus hidroksi ini menghasilkan senyawa non aktif. berdasar
struktur kristal rifampisin-RNA polymerase, gugus hidroksi ini berinteraksi langsung dengan RNA polymerase melalui ikatan hidrogen. Setiap rekayasa yang menganggu interaksi itu akan menghasilkan senyawa dengan penurunan afinitas
ikatan ,
Saturasi 1 atau lebih ikatan rangkap pada C28/C29 ,C16/C17, C18/C19 menghasilkan hanya sedikit berkurang dibandingkan senyawa
induknya atau senyawa dengan kegiatan sebanding ,rekayasa ini tidak menonjol untuk memicu perubahan potensi dibandingkan senyawa induknya, Produk deasetilasi C25 sering diteliti sebagai metabolit rifamisin,
Metabolit hidroksi C25 ini sama potensialnya dengan senyawa induknya. rekayasa lain pada gugus asetil menghasilkan senyawa potensial dengan
sifat fisika-kimia berbeda. namun setiap rekayasa pada posisi ini bisa bersifat “
sementara karena gugus ester pada posisi ini bisa dipotong dengan cepat secara in vivo ,
Turunan rifamisin yang perlu yaitu senyawa hasil rekayasa pada posisi C3 dan C4.
Secara struktural, posisi ini mengarahkan pada ruang terbuka tempat ikatan RNA polymerase dan memungkinkan rekayasa menonjol dan Secara sintesis, posisi ini mudah direkayasa ,
rekayasa pada posisi C3 dan C4 selalu menghasilkan komponen dengan peningkatan sifat fisika-kimia dan profil farmakokinetik yang menonjol
,rekayasa rifampisin menghasilkan rifapentin, suatu analog siklopentil dari
rifampisin. Rifapentin memiliki waktu paruh lebih panjang dari rifamisin sehingga bisa dipakai dalam sebagai terapi intermittent. Rifabutin
dihasilkan dengan menghubungkan posisi C3 dan C4 untuk membentuk struktur spiro. Molekul ini memiliki keuntungan relatif terhadap rifampisin dalam hal
peningkatan pengkhususan jaringan dan pengurangan induksi enzim CYP450. Rifalazil yaitu anggota lebih baru di kelas rifamisin yang saat ini berada pada masa masa
pengembangan , Senyawa ini memiliki gugus benzoxazino menyatu pada posisi C3 dan C4 dan memiliki waktu paro panjang (61 jam), tidak mengalami induksi CYP450 menonjol dan kegiatan terhadap bakteri kebal rifampisin tertentu ,
Struktur rifalazil,rifampisin, rifapentin, rifabutin pada (gbr TBC 3232)
Efek samping rifamisin yaitu perubahan fungsi liver, gejala mirip influenza ringan, hepatoefek racun , Selain itu, akibat kromofor furanonapthoquinon di dalam struktur rifamisin, cairan tubuh seperti air mata , keringat, urin bisa menjadi berwarna oranye , Rifamisin bisa berinteraksi dengan obat antiretroviral
Rifampisin yaitu induser CYP3A paling kuat sedang rifabutin yaitu induser paling lemah sehingga rifabutin lebih disukai untuk pasien HIV tuberkulosis ,
Rifampisin terikat pada β-subunit pada DNA-dependent RNA polymerase sehingga terjadi penghambatan transkripsi, Akibatnya organisme mati, Rifampisin berikatan dengan β-subunit di dekat saluran RNA/DNA, menutupi pemindahan perpanjangan rantai RNA sesudah penambahan 2 hingga 3 nukleotida ,
Rifampisin mampu membantu pasien membunuh bacilli dormant baik di
lokasi seluler maupun ekstraseluler,manuver pergerakan aksi rifampisin sama dengan manuver pergerakan aksi rifamisin,Rifampisin yaitu salah satu obat anti-tuberkulosis paling efektif, Rifampisin dicampuran bersama INH, RIF membentuk dasar regimen terapi campuran obat. Rifampisin aktif melawan bacilli growing dan nongrowing (metabolism lambat), Rifampisin yang dicampuran dengan PZA memungkinkan perpendekkan terapi rutin dari 1 tahun menjadi 6 bulan,
Spektrum kegiatan Rifampisin yaitu bakterisida spektrum luas dengan aktifitas terhadap sebagian besar gram positif dan beberapa organisme gram negatif (termasuk Mycobacterium tuberculosis dan Pseudomonas aeruginosa)
Kadar hambat minimum terhadap Mycobacterium tuberculosis H37Rv yaitu 0,4 µg/mL , KHM pada rentang nilai 0,1– 0,39 µg/mL melawan H37Rv ,
RIF menampakkan aktifitas efektif terhadap bakteri yang masih tersisa di tahap
terapi lanjutan, peningkatan dosis dari 600 mg ke 900 mg setiap hari akan mempercepat proses sterilisasi ,
Rifampisin jarang memicu hepatoefek racun, Namun pemakaian pada pasien dengan gangguan hepar bisa menjadi parah ,
Rifampisin 10 mg/kg memicu hepatoefek racun pada 5% masalah dan uji perubahan fungsi hati ,terjadinya hepatitis dan reaksi terlalu peka seperti gagal ginjal ,trombositopenia, anemia hemolitik , keberadaan bilirubin ,Elevasi tidak bergejala dari serum enzim transaminase, peningkatan serum asam empedu ,
bilirubin,Elevasi serum alkalin, fosfatase menampakkan efek racun RIF. Rifampisin memicu pewarnaan oranye hingga merah pada seluruh cairan tubuh ,
Efek samping rifampisin pada gastrointestinal seperti mual mulas perih kembung, muntah dan diare, Efek samping rifampisin yaitu hipotensi, syok ,nafas pendek, organic brain syndrome ,bingung, letargi, ataksia, pusing , pandangan kabur, neuropati perifer mempengaruhi anggota badan, otot dan sendi dalam bentuk kebas dan nyeri,
Kadar hambat minimum terhadap Mycobacterium tuberculosis H37Rv untuk Rpt yaitu 0,031 µg/mL sedang Rfb yaitu < 0,015 µg/mL ,
rifabutin dan Rifapentin yaitu turunan baru dari rifamisin, manuver pergerakan aksi 2 obat ini sama dengan rifampisin,Kedua agen ini memiliki berpotensi untuk memperpendek durasi terapi ,waktu paruh plasma lebih panjang, paparan lebih baik, Potensi hepatoracun kedua agen ini menurun dibandingkan rifampisin, Walaupun rifapentin dan rifabutin menginduksi sistem
enzim CYP3A4, mereka menampakkan interaksi obat lebih sedikit dibandingkan rifampisin (khususnya dengan ART) ,
rifabutin dan Rifapentin aktif melawan mikobakteria pada spektrum sama dengan
rifampisin. secara in vitro rifabutin dan Rifapentin lebih aktif dibandingkan rifampisin dalam melawan Mycobacterium leprae ,Mycobacterium avium complex (MAC), Mycobacterium tuberculosis,
pada tahun 1998 Rifapentin dinyatakan sebagai obat , Rifapentin yaitu suatu rifampisin aksi panjang dan pemakaiannya terbatas untuk pasien HIV negatif dengan sputum negatif pada 2 bulan pasca terapi , tidak ada efek samping dari pemberian Rifapentin sekali seminggu hingga dosis 1200 mg,
Gejala “flu-like” pada terapi rifampisin tidak terjadi sesering pada terapi rifapentin
saat rifampisin 2 x perminggu dibandingkan dengan rifapentin 1 x perminggu. itu
dipicu turunnya reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap rifapentin dibandingkan rifampisin , Efek samping yaitu gastrointestinal dengan frekuensi sama dengan rifampisin , hepatitis, kardiovaskuler, sistem pernapasan, sistem saraf pusat,
Etambutol
Etambutol dipakai sebagai terapi pembantu tuberkulosis paru khususnya yang kebal obat,Etambutol sebagai obat ke tiga untuk terapi empiris Mycobacterium avium dan tuberculosis ,Etambutol efektif melawan mikroorganisme dari genus Mycobacterium , Hampir semua strain Mycobacterium tuberculosis , kansasii dan strain Mycobacterium avium complex (MAC) peka terhadap etambutol ,
kegiatan anti tuberkulosis dari etambutol (gbr TBC 3333) pertama kali terjadi pada tahun 1961, Etambutol memiliki kegiatan sterilisasi sangat lemah namun berusaha membantu pasien membunuh bacilli yang memperbanyak diri , Etambutol sedikit berperan dalam perpendekkan waktu terapi,
EMB
EMB untuk mencegah munculnya kebal dari obat lain di dalam terapi campuran manuver pergerakan aksi Obat EMB ini menghambat enzim , arabinosil transferase (embB) yang terlibat dalam biosintesis dinding sel ,
Kilburn dan Takayama pada 1989 sudah pernah menampakkan bahwa EMB menghambat transfer arabinoglaktan ke dalam dinding sel Mycobacterium smegmatis sehingga terjadi penumpukan penumpukan asam mikolat,
SQ-109, suatu senyawa sangat lipofilik dan memiliki manuver pergerakan aksi berbeda dari etambutol,
Interaksi EMB dengan target molekulernya sangat stereokhusus, hanya 1 dari 4
enantiomer yaitu (S,S)-etambutol yang aktif melawan Mycobacterium tuberculosis,
pada struktur EMB diketahui bahwa ukuran dan sifat gugus alkil pada nitrogen etilendiamin sangat yang perlu untuk .kegiatan EMB, small α-branched alkyl group lebih efektif dari rantai alkil bercabang pada posisi selain α dan bahwa rantai
alkil yang lebih panjang merugikan kegiatan , Perubahan pada area penghubung molekul bersifat merugikan karena setiap perpanjangan, pemasukkan heteroatom
atau pembuatan cabang pada penghubung etilen memicu penurunan kegiatan,
sikloalkilamin dan arildiamin kurang efektif dibandingkan senyawa induknya, unit etilendiamin yaitu farmakopor minimum yang diperlukan untuk kegiatan
anti bakteri, Setiap perubahan pada sifat basa gugus amino memicu penurunan kegiatan anti mikroba dengan pengecualian subtitusi amina dengan amida
yang mempertahankan kegiatan parsial beberapa analog , SAR dari
etilendiamin ada pada ( gbr TBC 3434A )
Potensi in vitro melawan Mycobacterium tuberculosis
Kadar hambat minimum yang diperlukan terhadap Mycobacterium tuberculosis (H37Rv) yaitu 0,5 µg/Ml,
Efek samping EMB yaitu pusing, kebingungan, disorientasi , halusinasi , pruritus, nyeri sendi, gastrointestinal upset, nyeri perut, malaise,
EMB bisa menghambat aktifitas sterilisasi obat anti-tuberkulosis lain paling tidak pada 14 hari pertama terapi juga memiliki kegiatan sterilisasi yang kurang
saat EMB dipakai sebagai obat utama dalam regimen intermitten, pasien mengalami tingkat kekambuhan tinggi ,
Etambutol tidak boleh dipakai sendiri karena risiko terjadinya mutan kebal,
disarankan campuran etambutol dengan INH atau streptomisin (STR) ,
Neuropati optis dan hepatoefek racun kadang bisa dialami oleh pasien akibat pemakaian obat ini, keberadaan di atas 10 µg/mL bisa memperburuk penglihatan. Efek ini mungkin terkait dengan dosis dan durasi terapi. Namun,
efek samping itu bersifat reversibel (akan kembali normal sesudah pemberian obat dihentikan pemulihan bisa tertunda hingga1 tahun atau lebih)
efek racun etambutol yaitu Neuropati optik ,Neuropati optis seperti neuritis optis atau retrobulbar neuritis memiliki sifat , yaitu kerusakan penglihatan, penurunan ketajaman penglihatan, scotoma, kebutaan warna ,
Kejadian itu terjadi saat pasien tidak melakukan pemeriksaan neuritis optis ataupun retrobulbar neuritis, hepatoefek racun juga bisa terjadi , Oleh
karena itu, penilaian fungsi hati secara baseline dan periodik sebaiknya dilakukan selama terapi, Obat lini kedua bersifat kurang efektif dan lebih racun jika dibandingkan obat lini pertama , Obat lini kedua ini kebanyakan dipakai pada terapi MDR-tuberkulosis dimana waktu terapi total diperpanjang dari 6 ke 9 bulan , Obat lini kedua digolongankan ke dalam 3 golongan berdasar prioritasnya secara menurun, yaitu aminoglikosida injeksi dan polipeptida (golongan 2), fluorokuinolon (golongan 3) dan obat oral lain(golongan 4).
Aminoglikosida
pada Aminoglikosida injeksi dan polipeptida, Pemberian parenteral diperlukan karena agen golongan ini memiliki sifat polar,
Aminoglikosida Antituberkulosis aminoglikosida yaitu antibiotik spektrum luas dengan kegiatan bakteriostatik. Antibiotik golongan ini diisolasi dari spesies
Streptomyces, Struktur antibiotik golongan ini terdiri dari dasar gugus fungsi aglikon dan mono atau disakarida yang terikat oleh ikatan glikosidik.
pemakaian terapetik dibatasi oleh adanya efek samping otoefek racun dan nefroefek racun,
ada banyak aminoglikosida alami dan semisintetik yang tersedia untuk terapi berbagai infeksi bakteri, Streptomisin memiliki gugus streptidin khas sedang
aminoglikosida lainnya memiliki moiety 2-deoxistreptamin. Hubungan
struktur-kegiatan kelas obat ini belum diketahui terutama Mycobacterium tuberculosis. Masing masing anggota aminoglikosidamemiliki binding site dan manuver pergerakan aksi berbeda.,
Spektrum kegiatan Aminoglikosida dipakai untuk infeksi bakteri aerobik,
gram negatif seperti Enterobacter,Pseudomonas, Actinobacter
Mycobacterium tuberculosis peka terhadap obat Aminoglikosida ini. Bakteri gram positif bisa diterapi dengan obat Aminoglikosida ini, namun alternatif dengan efek racun lebih rendah
cenderung lebih dimanfaatkan. Efek sinergisme antara aminoglikosida dan
beta laktam dihasilkan pada pemakaian terapi campuran pasien dengan infeksi streptococcus, khususnya endokartitis,
Streptomisin
golongan Aminoglikosida kurang aktif terhadap mikobakteri dalam keadaan nonreplicating,Nefroefek racun, otoefek racun ,
Streptomisin dan kanamisin (Km) yaitu produk alami obat dari golongan ini , amikasin (Amk) yaitu senyawa semisintetik diturunkan dari kanamisin. Aminoglikosida memiliki kegiatan intraseluler terbatas sehingga tidak efektif jika diberikan secara oral ,
Kanamisin (Km) dan amikasin (Amk) dipakai untuk terapi strain Mycobacterium tuberculosis kebal isoniazid dan rifampisin ,
Streptomisin menjadi alternatif obat lini pertama ,Obat Streptomisin ini ditambahkan pada regimen lini pertama pada pasien yang sebelumnya telah diterapi dan ada kecurigaan mengalami kekebalan obat ,streptomisin kurang efektif dibandingkan isoniazid dan rifampisin ,Streptomisin yaitu aminosiklitol glikosida dengan struktur pada ( gbr TBC 3535 ),
Streptomisin (Stm/S) yaitu antibiotik pertama yang dipakai untuk tuberkulosis, segera sesudah pemakaian streptomisin kekebalan muncul akibat pemberiannya
sebagai monoterapi ,Streptomisin menghambat inisiasi translasi pada sintesis protein , streptomisin berikatan pada 4 nukleotida 16S rRNA dan asam amino tunggal pada ribosomal protein S12 yang masing-masing dikode oleh gen rrs dan rpsL. Ikatan ini memicu perubahan ribosomal sehingga terjadi penghambatan sintesis protein dan salah pembacaan mRNA ,Akibatnya terjadi kematian sel,
Efikasi pada pasien Streptomisin paling tidak beracun diantara kedua aminoglikosida lain yaitu amikasin dan kanamisin, Streptomisin bersifat efektif sebagai agen terapi tunggal, namun perkembangan kekebalan sangat cepat, sampai sekarang aminoglikosida masih menjadi obat terapi tuberkulosis walaupun tidak sebagai lini pertama,
adanya efek neuroracun pada pemakaian streptomisin, Risiko reaksi neuroracun berupa neuritis perifer, arachnoiditis,disfungsi cochlear,ensefalopati , vestibular, disfungsi saraf optis, pada pasien pre-renal azotemia pengidap fungsi ginjal lemah , Aminoglikosida memiliki efek otoefek racun dengan tingkat kejadian 10% , Reaksi efek samping yang terjadi: demam, urtikaria, vestibular
ototoxicities ( muntah,vertigo,mual mulas perih kembung ), angioneurotik edema, eosinophilia ,paresthesia wajah, rash,
Streptomisin yaitu jenis aminoglikosida yang paling tidak nefroracun namun sangat otoracun dibanding obat lain dari golongan aminoglikosida ,
Streptomisin tidak diberikan pada pasien dengan gangguan ginjal, efek racun Streptomisin pada pasien dengan gangguan ginjal ini dipicu oleh ketidakmampuan ginjal untuk mengeluarkan obat pada kecepatan yang sama seperti pasien normal,
Kadar hambat minimum terhadap Mycobacterium tuberculosis yaitu
0,5 – 1 µg/mL ,Spektrum kegiatan Sama dengan streptomisin.
Walaupun amikasin menampakkan kegiatan in vitro terbaik dibandingkan anggota aminoglikosida lainnya, namun amikasin belum dipakai pada terapi tuberkulosis. mungkin dipicu oleh biaya dan efek racun yang
dimiliki obat ini , efek samping efek racun potensial pada pasien sama dengan streptomisin. Seperti aminoglikosida lain, efek racun
bisa terjadi karena efek terhadap saraf kranial ke delapan dan berakibat pada
kehilangan keseimbangan ,pendengaran atau keduanya , Amikasin lebih
mempengaruhi fungsi pendengaran, Neuroefek racun (paralisis otot dan apnea),
anemia, hipotensi, sakit kepala, tremor, mual mulas perih kembung, rash ,nefroefek racun, demam,
Kanamisin
Mycobacterium tuberculosis ,Kadar hambat minimum (KHM) kanamisin
yaitu 2 µg/mL , Sama dengan streptomisin, Efikasi pada pasien
Kanamisin lebih racun dibandingkan streptomisin, Kanamisin memiliki kegiatan
antibakteri terlemah dibandingkan aminoglikosida lain ,
efek racun potensial pada pasien obat ini sama dengan streptomisin. Kanamisin bisa memicu gangguan fungsi ginjal, lesi ulseratif usus ,eightcranial-nerve impairment, obstruksi usus,
Kanamisin dan amikasin yaitu aminoglikosida yang menghambat sintesis protein dengan menghambat fungsi normal ribosoMycobacterium Aminoglikosida terikat pada 16S rRNA subunit 30S ribosomal bakteri sehingga mengganggu
perpanjangan rantai peptida pada bakteri. Akibatnya sintesis protein juga terhambat ,Kanamisin ( gbr TBC 3636 ), dan amikasin ( gbr TBC 3737 ), tidak bisa dipakai untuk melawan Mycobacterium tuberculosis dormant,
Antibiotik ini juga menghambat sintesis protein. Obat ini akan mempengaruhi
subunit ribosomal, manuver pergerakan aksi itu bersifat unik diantara antibiotik penarget ribosoMycobacterium Tuberaktinomisin berikatan dengan jembatan antar subunit B2a yang terbentuk oleh interaksi antara 16s rRNA dan 23S ,
ini mencegah translokasi ribosom di sepanjang mRNA. tuberaktinomisin dan Aminoglikosida berbagi selektifitas terbatas sebagai penyebab kesalahan translasi pada ribosom mitokondrial mamalia, ini juga terkait dengan nefroefek racun dan efek samping otoefek racun ,
Kapreomisin
Kapreomisin ( gbr TBC 3838 ), memiliki kegiatan poten untuk melawan tuberkulosis yang sulit ditangani atau MDR-tuberkulosis ,Kadar hambat minimum terhadap Mycobacterium tuberculosis (H37Rv) yaitu 2 µg/mL, Kapreomisin efektif
melawan Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium aviu,
Kapreomisin disarankan untuk infeksi paru akibat Mycobacterium tuberculosis yang peka kapreomisin jika obat asam aminosalisilat, streptomisin,INH, rifampisin, etambutol, tidak efektif. Kapreomisin telah dipakai sebagai obat lini kedua sejak tahun 1980 . Namun, pemakaian kapreomisin dibatasi oleh efek racun renal dan pendengaran,Kapreomisin menampakkan efek samping terhadap pendengaran, elevasi blood urea nitrogen (BUN) di atas 20 mg/100
mL. Adanya elevasi BUN atau gejala kerusakan ginjal lainnya menampakkan bahwa pemberian kapreomisin harus dikurangi dosisnya atau dihentikan. Penentuan fungsi ginjal secara periodik disarankan selama terapi dengan kapreomisin, Sebagian besar pasien memiliki eosinophil lebih dari 5% saat menerima injeksi kapreomisin harian. Eosinofil akan menurun dengan pengurangan dosis kapreomisin hingga 2 atau 3 gram per minggu. Gejala efek samping yang potensial akibat pemakaian kapreomisin yaitu nefroefek racun, terlalu peka, nyeri pada tempat injeksi,pendarahan tidak biasa, hypokalemia,perubahan hasil uji fungsi liver, gangguan keberadaan komponen kimia (elektrolit) dalam darah , penyumbatan neuromuscular, otoefek racun pendengaran dan vestibular, nyeri, Luka bernanah , trombositipenia ,kelainan darah, rash (reaksi alergi),
pada tahun 1961 , Kapreomisin diisolasi dari Streptomyces capreolus ,
viomisin dihasilkan dari berbagai spesies Sreeptomyces dan pertama kali sebagai anti tuberkulosis pada tahun 1951. Kedua obat ini sediaan parenteral. kapreomisin dan viomisin memiliki efek nefroracun dan otoefek racun
Kapreomisin (Cm) dan viomisin (Vim) atau tuberaktinomisin yaitu antibiotik polipeptida siklik dari spesies Streptomyces dengan aktifitas bakteriostatik, Kedua obat ini secara struktural saling .terkait dan memiliki manuver pergerakan aksi, farmakokinetik, potensi dan profil efek racun mirip dengan
aminoglikosida.
Fluorokuinolon
Sterling-Winthrop Institute pada tahun 1962 mengungkapkan Fluorokinolon
Fluorokinolon yaitu suatu antibakteri sintesis dengan spektrum luas, Fluorokinolon sebagai suatu cemaran dalam sintesis antimalaria kloroquin ,Hasil sampingan ini yaitu nalidixic acid ( gbr TBC 3939 ), pada tahun 1963 untuk terapi infeksi saluran kencing akibat Gram negatif , Walaupun nalidixic acid memiliki bioavailabilitas baik dan sintesis yang mudah, pemakaian obat ini terbatas karena profil farmakokinetik buruk dan spektrum antibakteri yang sempit Pada tahun 1980, suatu antibakteri fluoroquinolone dengan spektrum luas ditemukan. Antibakteri itu yaitu norfloksasin, Norfloksasin memiliki peningkatan kelarutan dibandingkan nalidixic acid ,peningkatan profil farmakokinetik, perpanjangan waktu paruh ,
Norfloksasin dan beberapa generasi kedua fluoroquinolone lain seperti
ciprofloksasin (pertama kali diketahui pada tahun 1982 oleh Bayer), ofloksasin ( gbr TBC 3939 d ), (pertama kali pada tahun 1983 oleh Daiichi Pharmaceutical CO., Ltd.,) dan levofloksasin telah terbukti relatif aman ,
Fluorokuinolon yang dipakai dalam terapi tuberkulosis yaitu fluorokuinolon generasi ke dua dan ketiga, yaitu levofloksasin (Lfx), ciprofloksasin (Cfx), ofloksasin (Ofx), dan fluorokuinolon generasi ke empat yang paling efektif yaitu
gatifloksasin (Gfx) dan moksifloksasin (Mfx) ,
Regimen terapi dengan dua obat terakhir (Mfx dan Gfx) telah menampakkan
potensi untuk perpendekkan waktu terapi tuberkulosis. Saat ini dua obat
terakhir itu sedang dalam uji tahap III dan diajukan sebagai antibiotik lini pertama , Golongan fluoroquinolon bisa diberikan secara parenteral atau oral ,
Fluoroquinolon
Fluoroquinolon yaitu suatu agen bakterisida, Fluoroquinolon ini bekerja melalui penghambatan topoisomerase II (DNA gyrase) dan topoisomerase IV,
2 enzim untuk kemampuan bertahan bakteri. Protein itu dikode masing-masing oleh gen parE, gyrA, gyrB, parC . Mycobacterium tuberculosis hanya memiliki
topoisomerase II sebagai target dari fluoroquinolon , Topoisomerase II yaitu suatu
heterotetramer yang terbentuk atas 2 subunit α dan β yang dikode masing-masing oleh gen gyrA dan gyrB. Fungsi topoisomerase ini yaitu sebagai katalisator
DNA supercoil , Fluoroquinolon akan terikat pada gyrase dan menghambat
supercoiling sehingga terjadi gangguan proses seluler tergantung topologi DNA ,
penelitian hubungan struktur-kegiatan golongan fluoroquinolon belum dilakukan terkait kegiatannya terhadap mikobakteria namun SAR fluoroquinolone
pada beberapa bakteri lain bisa dipakai untuk perkiraan SAR golongan ini sebagai anti Mycobacterium tuberculosis. Hubungan struktur-kegiatan itu disederhanakan ( gbr TBC 4040 ), rekayasa pada N1 mengendalikan potensi
terutama jika siklopropil kurang elektron dan tegang secara sterik menjadi optimal kemudian diikuti oleh subtituern berupa 2,4-difluorophenyl dan t-butyl,
Subtituen ini juga mengendalikan kegiatan Gram negatif dan Gram positif. Gugus 2,4-difluorophenyl akan meningkatkan kegiatan terhadap bakteri anaerob. Posisi C2 berada di dekat tempat ikatan DNA-gyrase dengan demikian atom hidrogen
sterik ringan pada posisi R2 bersifat optimal ,Moiety (bagian atau gugus dari suatu molekul/senyawa) dikarbonil untuk mengikat DNA gyrase, itu sangat yang perlu untuk kegiatan . rekayasa C5 mengendalikan potensi in vitro saat kelas gugus paling aktif menjadi gugus kaya electron yang kecil seperti –NH2, - OH dan CH3 (242). rekayasa C5 mempengaruhi kegiatan terhadap organisme Gram negatif dan Gram posititf. Atom fluor pada posisi C6 meningkatkan penghambatan DNA gyrase dan bisa meningkatkan KHM senyawa sebesar 100 kali lipat dibandingkan subtitusi lain , Subtituen paling aktif pada posisi C7 telah
memiliki anggota heterosiklik nitrogen dengan anggota 5 atau 6 dimana pirolidin bisa meningkatkan kegiatan terhadap Gram negatif. Posisi C8 mengendalikan penyerapan dan waktu paro dan mengoptimalkan rekayasa untuk efikasi in vivo
Beberapa rekayasa yang membentuk suatu jembatan N1 ke C8 juga telah
dilakukan contohnya yaitu pada ofloksasin (39d) dan levofloksasin (39e). Keduanya menampakkan penghambatan gyrase yang menonjol
Kadar hambat minimum (KHM) terhadap Mycobacterium tuberculosis (H37Rv) yaitu 0,5 µg/mL) ,
Levofloksasin
Levofloksasin dipakai dalam campuran dengan obat lain untuk terapi tuberkulosis
contohnya 750 mg/ hari secara banyak dipakai pada terapi lini kedua. Dosis ini
dipakai pada terapi lini kedua ,Pasien penerima obat golongan fluoroquinolone akan mengalami fotoefek racun sedang hingga parah sesudah terpapar sinar matahari langsung. Seperti obat quinolone lainnya, Lfx juga memicu gangguan kadar gula darah termasuk hipoglikemik dan hiperglikemik simptomatik.
ini terjadi khususnya pada pasien DM yang juga mengkonsumsi terapi oral anti diabetes contohnya glibenklamid atau gliburid atau insulin, aritmia juga
terjadi pada pasien infark miokard dan perpanjangan interval QT (penanda ventrikulartakiaritmia potensial dan resiko kematian mendadak) atau pemakaian obat keadaan ini (contohnya sotalol dan amiodarone ) bersama obat golongan quinolone. Pasien lanjut usia kemungkinan lebih rentan mengalami efek
samping berupa perpanjangan interval QT Perhatian perlu diberikan pada
pemakaian Lfx bersama dengan obat dengan efek perpanjangan interval QT seperti antiaritmia kelas IA atau kelas IIII atau pasien dengan perpanjangan interval QT dan hipokalemia tidak terkendali. Perhatian pemakaian Lfx juga harus diberikan pada pasien kelainan sistem saraf pusat yang cenderung mengalami kejang. Efek samping lain dari Lfx yaitu wajah, kesesakkan tenggorokan, suara serak reaksi terlalu peka seperti rash kulit, angioedema, pembengkakkan bibir, lidah, kelainan tendon seperti tendonitis atau keretakkan tendon dengan
resiko tinggi kelainan tendon pasien berumur lebih dari 65 tahun khususnya bagi pemakai kortikosteroid .
Kadar hambat minimum (KHM) terhadap Mycobacterium tuberculosis (H37Rv) yaitu 0,5 µg/mL ,
Moksifloksasin
Moksifloksasin memiliki kegiatan luas terhadap Gram positif dan Gram negatif, Obat ini menampakkan efikasi in vitro dan terhadap Klebsiella pneumoniae, Moraxella catarrhalis, Chlamydia pneumoniae , Mycoplasma pneumoniae, Stapilococcus aerus, Streptococcus pneumoniae, Streptococcus pyogenes, Haemophilus influenzae, Haemophilus parainfluenzae,
moksifloksasin memiliki kegiatan terhadap mikobakteri selain Mycobacterium
tuberculosis. Obat ini lebih aktif terhadap Mycobacterium kansasii dibandingkan MAC. Seperti quinolone lain, moksifloksasin yaitu bakterisida.
kegiatan bakterisida terhadap Mycobacterium tuberculosis diturunkan saat etambutol atau rifampisin , dosis tinggi dan moksifloksasin diuji bersama
karena adanya kegiatan antagonism di antara .obat ini , kegiatan ini
ditunjukkan pada antagonisme antara rifampisin atau kloramfenikol dan quinolone lain seperti ciprofloksasin
Mfx menampakkan kegiatan bakterisida paling kuat terhadap slow-growing bacteria dan kegiatan terbaik terhadap persistor ,
Quinolon dikaitkan dengan atropati. Perpanjangan interval QT terjadi pada 0,1
hingga 3% pasien. Efek samping ini terjadi pada pemakaian antibiotik golongan
quinolone sehingga pemakaian dosis maksimal Mfx terbatas. Perpanjangan interval QT terjadi saat Mfx diberikan pada dosis 400 mg sekali sehari.
Lfx dan Cfx tidak menampakkan efek ini pada pemberian 2 kali sehari. Namun, pemberian pada dosis tinggi semua fluoroquinolone memicu peningkatan interval QT , tidak ada kelainan kardiovaskuler atau kematian yang dipicu oleh peningkatan QT interval dengan terapi Mfx ,
pasien penerima dosis 400 mg, efek samping yang terjadi pada rentang ringan, sedang hingga parah. Moksifloksasin dihentikan karena efek samping terkait obat pada 3,6% pasien. Efek samping mungkin terjadi mual mulas perih kembung ,diare dan sakit kepala ,
Kadar hambat minimum (KHM) terhadap Mycobacterium tuberculosis (H37Rv) yaitu 0,25 µg/mL ,
Gatifloksasin (gbr TBC 4141) dibandingkan dengan obat fluoroquinolon lain
dan INH dengan dosis masing-masing Lfx (1000 mg) INH (300 mg), Gfx (400 mg), Mfx (400 mg), Obat itu diberikan setiap hari selama 7 hari. Fluoroquinolon
menampakkan early bactericidal activity (EBA, menampakkan kemampuan obat untuk membunuh bakteri di dalam rongga lobang paru selama minggu pertama terapi) hampir tidak berbeda dengan INH pada hari ke 0 hingga 2 namun lebih besar dari INH pada hari ke 2-7. Gatifloksasin dan moksifloksasin menampakkan kegiatan yang sama pada hari ke 0 hingga 2 maupun hari ke 2 hingga ke 7 Gatifloksasin memiliki resiko efek racun kardiak yang mirip dengan quinolone lain, Pemberian gatifloksasin pada dosis meningkat (400, 800 dan 1200 mg)
pada pasien sehat dikaitkan dengan peningkatan interval QTc , Gatifloksasin juga dikaitkan dengan kejadian efek racun liver parah dan gagal liver ,
Label Gfx mengungkapkan kemungkinan hipoglikemia dan resiko ini kemungkinan meningkat pada lansia ,Gatifloksasin kurang ditoleransi dengan baik dibandingkan Mfx atau Lfx dalam hal efek pada gastrointestinal dan sistem saraf pusat,Gatifloksasin Efek sapingnya seperti muntah,pusing, sakit kepala, mual mulas perih kembung ,sistem saraf pusat (pusing) akibat pemakaian fquinolone dibandingkan antibiotic sistemik lainnya,
Asam para amino salisilat PAS
Asam para amino salisilat (PAS) yaitu suatu senyawa sintetik yang telah diketahui lebih dari 100 tahun. kegiatan anti tuberkulosis pertama kali diketahui di
masa awal penemuan antibiotik pada tahun 1940, pemakaian PAS berkurang
karena obat yang lebih poten dan aman telah tersedia,
PAS (gbr TBC 4242) dipakai untuk terapi MDR-tuberkulosis. Obat ini memiliki manfaat terbatas untuk terapi tuberkulosis karena efikasi dan toleransinya yang lemah ,manuver pergerakan aksi PAS belum diketahui,
PAS yaitu suatu analog asam para amino benzoat. Obat ini berkompetisi dengan asam para amino benzoat untuk pembentukkan dihidropteroat sintase yang yaitu target obat sulfonamid. Akibatnya terjadi penghambatan sintesis asam folat. Penghambatan ini mengakibatkan efek bakteriostatik, menampakkan bahwa PAS yaitu inhibitor enzim dihidropteroat sintase yang lemah. Bukti lain menampakkan bahwa PAS juga bisa menggangu perolehan besi pada bakteri.
Kadar hambat minimum (KHM) terhadap Mycobacterium tuberculosis (H37Rv) yaitu 0,3-1 µg/mL ,
Asam para amino salisilat dipakai dengan anti-tuberkulosis lain (seringnya INH) untuk terapi semua bentuk tuberkulosis aktif , Asam para amino salisilat saat ini
lebih banyak dipakai sebagai obat lini kedua untuk terapi MDR-tuberkulosis. Obat ini dipertimbangkan sebagai obat lini pertama namun telah digantikan oleh etambutol pada awal tahun 1960an , Obat ini yaitu bakteriostatik namun
kemungkinan bisa menolong untuk perlambatan perkembangan kekebalan
terhadap obat lain khususnya INH dan STR ,
Metabolisme PAS menghasilkan metabolit inaktif racun di bawah keadaan Mycobacterium , efek racun akibat PAS paling sering terjadi pada saluran pencernaan , Formulasi PAS ke dalam bentuk sediaan granul bisa mengurangi efek mual mulas perih kembung. pemakaian granul ini disarankan bersamaan dengan minuman asam , efek racun lain yang mungkin terjadi yaitu sakit kepala , nyeri sendi ,limpa adenopati, jaundice, leukositosis, konjungtivitis,
Asam para amino salisilat tidak diberikan pada untuk pasien dengan
penyakit ginjal serius karena adanya pembentukkan metabolit racun PAS,
khususnya bentuk terasetilasi.
Asam para amino salisilat menganggu uptake vitamin B12. Namun, pemberian vitamin bisa mencegah efek itu. Efek samping PAS yaitu eritema, maculopapular , lesi gatal yang sering muncul di wajah , leher rash kulit,
Etionamid
secara struktural Protionamid (Pto) dan Etionamid (Eto) terkait dengan isoniazid. Etionamid dan protionamid yaitu agen bakterisida yang memiliki manuver pergerakan aksi sama ,
Pada terapi lini kedua untuk tuberkulosis kebal obat, etionamid harus diberikan
bersama dengan obat lain karena perkembangan kekebalan yang cepat saat obat
dipakai sebagai monoterapi
Etionamid (gbr TBC 4343) yaitu turunan asam isonikotina
manuver pergerakan aksi Etionamid juga prodrug yang perlu aktivasi. Aktivasi dilakukan oleh monooksigenase yang dikode oleh gen ethA. Obat ini
akan membentuk adduct dengan NAD sehingga terjadi penghambatan enzim enoil ACP reductase. Akibatnya, sintesis asam mikolat terganggu. Enzim enoyl-ACP reductase dikode oleh gen inhA , Ekspresi ethA dikendalikan oleh gen ethR
yang mengkode repressor. ethR mengatur secara negatif ekspresi ethA dengan terikat pada upstream ethA sehingga terjadi penekanan ekspresi ethA
Kadar hambat minimum (KHM) terhadap Mycobacterium tuberculosis (H37Rv) yaitu 0,25 µg/mL , Etionamid memiliki kegiatan terhadap Mycobacterium tuberculosis, smegmatis ,bovis dan leprae,
Selama terapi dengan obat ini, pengawasan kadar gula darah perlu dilakukan.
Efek samping hepatoracun juga terjadi pada tingkat kejadian tinggi walaupun sifatnya tidak separah pada pemakaian protionamid , Efek hepatik
kemungkinan akan berlanjut walaupun sesudah obat dihentikkan,
Efek samping etionamid yaitu hipotiroid, neuropati perifer, efek sistem saraf pusat lainnya seperti pandangan kabur dan sakit kepala, Efek samping terjadi pada saluran pencernaan yaitu stomatitis, anoreksia pengurangan berat badan,mual mulas perih kembung, muntah, diare, nyeri
perut, air liur berlebih, rasa logam, Efek ini terkait dengan obat
dimana sekitar 50% pasien tidak mampu mentoleransi 1 g etionamid sebagai dosis tunggal.
Protionamid manuver pergerakan aksi Sama dengan etionamid,
Potensi in vitro terhadap Mycobacterium tuberculosis Kadar hambat minimum
(KHM) terhadap Mycobacterium tuberculosis (H37Rv) yaitu -0,5 µg/mL ,
Protionamid (gbr TBC 44 44) memiliki kegiatan terhadap spesies mikobakteria seperti Mycobacterium avium dan leprae namun protionamid lebih cepat
membunuh Mycobacterium leprae dibandingkan etionamid ,
Protionamid dan etionamid bisa saling menggantikan , Protionamid lebih ditoleransi dibandingkan etionamid ,protionamid lebih racun dibandingkan etionamid ,protionamid kurang beracun dibandingkan etionamid,
Protionamid harus dihindari pada wanita hamil atau wanita berpotensi hamil kecuali jika keuntungan melebihi risiko ,
Efek samping yaitu hepatitis bisa terjadi pada pemakaian bersama rifampisin, gangguan saluran pencernaan yang terkait dosis obat, muntah, nyeri perut , diare, anoreksia, air liur berlebih, rasa logam, mual mulas perih kembung, Gangguan
reaksi hiperpeka, dermatitis, gangguan endokrin, hipoglikemik ,hipotiroidisme
saraf pusat seperti sakit kepala, hipotensi , asthenia depresi, kecemasan, psikosis,
D-sikloserin
Isoksazolidinon , Sikloserin (Dcs) dan terizidon memiliki cincin
1,2-oksazolidinon (isoksazolidinon). Terizidon (Trd) yaitu analog struktural dari sikloserin dengan peningkatan tolerabilitas ,
manuver pergerakan aksi D-sikloserin yaitu suatu analog asam amino Dalanin. D-sikloserin menghambat alanine rasemase (Alr, pengubah L-alanin ke Dalanin) dan D-alanil-D-alanin ligase (Ddl) yang mensintesis inti pentapeptida memakai
D-alanin. Kedua enzim itu (Alr dan Ddl) berperan untuk sintesis peptidoglikan, sintesis dinding sel dan pemeliharaanya , Hubungan struktur kegiatan (Structure-activity relationship/SAR) Farmakopor dari D-sikloserin yaitu isoksazolidonon. usaha rekayasa farmakopor itu dengan subtituen gagal karena subtitusi-N mencegah terjadinya tautomerisasi untuk kegiatan antibakteri.
Selain itu, penggantian heteroatom pada cincin isoksazolidinon memicu
kehilangan kegiatan obat , Stereokimia sangat yang perlu akibat tidak aktifnya Lisomer ,
Potensi in vitro terhadap Mycobacterium tuberculosis Kadar hambat minimum
(KHM) terhadap Mycobacterium tuberculosis (H37Rv) yaitu 25
µg/mL , D-sikloserin yaitu antibiotik spektrum luas, Antibiotik ini sering dipakai
dalam campuran dengan 5 obat lain untuk terapi MAC dan tuberkulosis.
D-sikloserin bisa berperan sebagai bakterisida atau bakteriostatik tergantung efek kadar lokal dan efikasi terhadap strain tertentu yang terlibat
D-sikloserin yaitu agen bakteriostatik saat dipakai sebagai anti-tuberkulosis.
Terapi ini diberikan dalam dosis 250 mg 2 hingga 3 kali sehari. Obat ini efektif namun efek racun parah maka perlu membatasi pemakaiannya , Dsikloserin diserap dengan cepat dan hampir sempurna (90%) dari usus mengikuti pemberian oral ,
efek racun sistem saraf pusat banyak terjadi. Obat ini sebaiknya tidak diberikan
pada pasien dengan gangguan ginjal. Pemberian 200 hingga 300 mg piridoksin setiap hari membatu pencegahan neuroefek racun,
gejala overdosis sikloserin yaitu pengucapan tidak jelas ,neuropsikiatrik , kejang, paralisis, ketidaksadaran ,
Tioasetazon (Thz)
Tioasetazon (Thz) (gbr TBC 4646) atau tiosemikarbazon yaitu suatu obat tuberkulostatik lama yang anti-tuberkulosis nya pada tahun 1940-an. Obat ini
memiliki manuver pergerakan aksi penghambatan sintesis asam mikolat. Tioasetazon harganya lebih murah. Akibat efek samping parah dari tioasetazon (khususnya terlalu peka kutan yaitu sindrom StevensJohnson), obat ini tidak bisa diberikan kepada pasien HIV-positif , manuver pergerakan aksi berbagai obat di atas begitu beraneka ragam ,
Untuk mempermudah pemahaman, manuver pergerakan aksi obat lini
pertama dan kedua ada dalam tabel ini
Tabel Ringkasan manuver pergerakan aksi antituberkulosis lini
pertama dan lini kedua
Obat : Quinolon
manuver pergerakan aksi : Penghambatan DNA gyrase dan topoisomerase IV
Obat : Etionamid
manuver pergerakan aksi : Penghambatan sintesis asam mikolat
Obat : PAS
manuver pergerakan aksi : Penghambatan asam folat dan metabolisme besi
Obat : Sikloserin
manuver pergerakan aksi : Penghambatan sintesis dinding sel
Obat : Tioasetazon
manuver pergerakan aksi : Penghambatan sintesis asam mikolat
Obat : Isoniazid
manuver pergerakan aksi : Penghambatan biosintesis asam mikolat dan beberapa efek lain (efek pada metabolisme DNA, lipid, karbohidrat dan NAD)
Obat : Rifampisin
manuver pergerakan aksi : Penghambatan sintesis RNA
Obat : Pirazinamid
manuver pergerakan aksi : Belum terpecahkan sepenuhnya, kemungkinan melibatkan gangguan potensial membrane
Obat : Etambutol
manuver pergerakan aksi : Penghambatan sintesis arabinogalaktan
Obat : Streptomisin
manuver pergerakan aksi : Penghambatan sintesis protein
Obat : Amikasin/kanamisin
manuver pergerakan aksi : Penghambatan sintesis protein
Obat : Kapreomisin
manuver pergerakan aksi : Penghambatan sintesis protein
