halaman 8
dokumentasi :
1. Perhatikan bahwa kandungan hemoglobin darah bervariasi dari pasien ke pasien , dan
maka volume pengencer yang dipakai mungkin perlu diubah. Pengenceran
yang memberi absorbansi maksimum sekitar 1 unit absorbansi pada 540 nm
ideal.
2. perlu untuk memakai natrium dithionite yang baru saja diperoleh atau disimpan
dalam tempat tertutup di desikator, sebab senyawa ini tidak aktif dengan kontak yang
berkepanjangan dengan udara lembab.
3. Metode ini tidak dapat diandalkan dengan adanya pigmen lain seperti methaemoglobin
(ditunjukkan dengan absorbansi yang relatif tinggi di wilayah 580-600 nm, lihat Gambar
11). Spesimen darah lipaemic dapat memberi suspensi keruh yang juga memberi
hasil yang tidak dapat diandalkan.
4. Pengukuran dilakukan pada titik selisih maksimum absorbansi (540 nm, lambdamax HbCO)
dan titik absorbansi sama (579 nm, titik isobestrum). Pembacaan pada 579 nm diambil
pada lereng yang curam dan panjang gelombang perlu.
Spektrofotometer dengan band-pass yang relatif lebar (4-5 nm) sebaiknya tidak
dipakai , sebab tidak mungkin melakukan pengukuran dengan akurasi yang
diperlukan . Bahkan bila instrumen dengan pita sempit tersedia, perlu untuk
memastikannya dikalibrasi secara akurat, walaupun efek variasi kecil dapat diminimalkan
dengan memakai prosedur berikut:
a. Ukur absorbansi larutan z (0% HbCO) pada larutan amonium hidroksida yang
diperkaya dengan dithionite pada 540 nm. bila rasio (A540 atau A579) untuk 0% HbCO
diperkirakan 1,1, absorbansi larutan ini pada 579 nm dapat dihitung.
b. Sesuaikan pengaturan panjang gelombang instrumen untuk memberi pembacaan
ini bila belum mencapai 579 nm. Sebagai alternatif, spektrum dari ketiga larutan
itu dapat dicatat dengan memakai spektrofotometer pemindaian, bila ada,
dan pengukuran dilakukan secara langsung. Contoh spektrum yang harus diperoleh
Kehadiran puncak serapan kembar ("telinga kelinci")
yaitu fitur kualitatif yang bermanfaat .
Kepekaan metode pada HbCO, sekitar 10%.
5) Penetapan Kadar Karboxyhemoglobin dengan Mikrodifusi Palladium Chloride
a... Dasar penetapan
Karbon monoksida yaitu gas volatil dengan sifat reduksi kuat. Karbon
monoksida dibebaskan dari darah oleh asam kuat dalam sel mikrodifusi dan paladium
klorida, di tengah sel difusi, dikurangi menjadi paladium metalik yang memiliki
penampilan perak. Adanya CO dalam darah dapat dengan mudah dideteksi dengan
pengamatan penampilan lapisan perak.
b... Persyaratan Spesimen
Kira-kira 2 mL darah atau jaringan campuran mengandung hemoglobin dengan jumlah
yang cukup
c... Reagen dan Standar
1..Asam klorida pekat
2.. Asam Sulfat pekat
3.. Palladium Klorida
4.. Timbal asetat
5.. Asam asetat glasial
6.. 0,1 N Asam hidroklorik: Dengan hati-hati tambahkan 8,3 mL HCl pekat sampai
kira-kira 100 mL dH2O dalam labu volumetrik 1 L dan qs untuk volume dengan
dH2O. Simpan pada suhu kamar sampai dua tahun.
7.. 10% (3.6 N) Asam Sulfat: Dengan hati-hati tambahkan 10 mL H2SO4 pekat ke
sekitar 70 mL dH2O dalam labu volumetrik 100 mL. Keren dan qs untuk volume
dengan dH2O. Simpan pada suhu kamar sampai dua tahun.
8.. 0.005 N Palladium Chloride Reagent: Timbang 0,22 g paladium klorida, transfer
ke labu volumetrik 250 mL dan qs ke volume dengan 0,1 N HCl dan diamkan
dalam semalam. Transfer ke labu volumetrik 500 mL dan qs ke volume dengan
0,1 N HCl. Simpan pada suhu kamar sampai dua tahun.
9.. 10% Larutan Asam Asetat Timbal Asetat: Tambahkan 10 mL asam asetat glasial
ke labu volumetrik 100 mL dan qs untuk volume dengan dH2O. Larutan jenuh Pbasetat dengan menambahkan Pb-asetat sampai tidak larut lagi sesudah
mencampurnya dengan kuat. Simpan pada suhu kamar sampai dua tahun.
d... Prosedur
1..Siapkan sel mikrodifusi dengan sealant atau dH2O.
2.. Tambahkan 2 ml reagen PdCl2 ke pusat susia sel mikroduksusi
3.. Tambahkan 2 ml darah ke satu sisi cincin luar
4.. Tambahkan 1 ml H2SO4 10% ke sisi luar cincin luar. Tutup sel microdiffusi dengan
cepat dan dengan hati-hati, putar untuk mencampur darah dengan asam sulfat.
Diamkan selama kira-kira satu jam.
5.. Catat hasil
e... Pengendalian Mutu dan Pelaporan
1) Cermin berwarna perak akan terbentuk di tengah susia pada specimen positif.
specimen negatif akan tampak tidak berubah (warna emas kuning bening dari
pereaksi paladium klorida). Intensitas dari cermin perak berbanding lurus
dengan konsentrasi karbon monoksida dalam darah.
2) Cermin perak yang kecil namun terlihat (partikel) menandakan sekitar
10% saturasi.
3) Catat intensitas reaksi dengan memakai "+++" untuk menandakan reaksi
terkuat (contoh nya,> 60% saturasi), ++ (mis., saturasi 30-50%), + (mis., saturasi 10-
20%) atau - (mis., kejenuhan <10%).
4) Lakukan analisa setidaknya satu tingkat pengendalian positif dan pengendalian negatif pada
masing-masing kelompok specimen masalah .
5) Hasil karboksihemoglobin positif (> 10%) hanya dapat dilaporkan bila
dikonfirmasi atau sesuai dengan hasil mikrodefusi palladium chloride. bila terjadi
inkonsistensi antara hasil UV atau VIS dan paladium chloride, ulangi analisa nya. bila ,
sesudah analisa berulang, inkonsistensi masih ada, specimen harus dilaporkan
sebagai "tidak sesuai untuk analisa ". Pengecualian ini harus diberi wewenang
oleh ahli toksikologi dan didokumentasikan dalam file masalah .
6) Hasil positif yang lemah (lebih besar dari 10%) pada spesimen yang membusuk,
terdekomposisi atau memburuk dapat dilaporkan kurang dari konsentrasi
karboksihemoglobin yang toksik (contoh nya, CO-Hb 12% pada spesimen kualitas
rendah, yang dikonfirmasi dengan mikrodifusi paladium klorida, dapat
dilaporkan sebagai karboksihemoglobin kurang dari 15%). Pengecualian ini harus
diberi wewenang oleh ahli toksikologi dan didokumentasikan dalam file masalah .
dokumentasi
Senyawa belerang (contoh nya Hidrogen sulfida dari spesimen putrefikasi) dapat
bereaksi dengan PdCl2. Untuk spesimen putrefied, pengganti timbal asetat 10%
asam sulfat dan biarkan berdifusi selama 4 jam.
3. Penetapan Kadar CO-Hb metode Spektrofotometri
a. Alat :
1) 2 tabung reaksi 10 ml
2) Spektrofotometer
3) Flakon
4) 2 kuvet
5) Spuit 3 cc
6) Tourniquet
7) Pipet ukur 5 ml
8) Mikropipet ( 10µl – 100µl )
9) Yellow tip
10) Rak tabung reaksi
11) Spatula
b. Bahan :
1) specimen darah 3 cc
2) EDTA ( Etilen Diamin Tetra Acetic Acid )
3) Ammonia 0,1 %
4) Sodium dithionit
c. Cara Kerja
1) Pengambilan darah
a... Menyiapkan spuit dan menguji spuit itu untuk memastikan masih berfungsi
dengan baik.
b... Memasang tornikuet dengan kencang pada lengan atas probandus, kurang lebih
5 cm di atas siku.
c... Menentukan area yang diambil specimen darah, yaitu area vena
mediana cubiti.
d... Mengoleskan alkohol pada area yang diambil darahnya.
e... Mengambil darah pasien sebanyak 3 cc dengan memakai spuit.
f... specimen darah sebanyak 0,5 cc dimasukkan ke dalam flakon yang sebelumnya
sudah ditambahkan EDTA untuk memicu whole blood (Wb... .
g... Sisa specimen darah sebanyak 2.5 cc dimasukkan ke dalam tabung EDTA.
2) Pemeriksaan CO-Hb
a... Mengambil ammonia 0,1 % sebanyak 20 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer.
b... Mengambil specimen whole blood sebanyak 10 µl dengan memakai yellow tip.
c... specimen whole blood dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang berisi amonium
salisilat 0,1%.
d... Campuran dari tabung erlenmeyer lalu dipisahkan ke dalam 2 tabung reaksi
(tabung 1 dan tabung 2), masing–masing sebanyak 5 cc :
1) Tabung 1 : tidak ditambah sodium dithionit
2) Tabung 2 : ditambah sodium dithionit sebanyak 1 spatula
e... Dari masing-masing tabung reaksi, masukkan ke masing-masing kuvet (tingginya
sampai 7 atau 8 pada tabung kuvet)
f... Diukur absorbansinya pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 546 nm
d. Nilai normal :
1) CO endogen : 0,7 %
2) CO-Hb : < 1 %
3) Batas toleransi CO-Hb : 2% – < 5 %
4) 5% : mulai muncul gejala atau tidak normal atau keracunan
4. Tes lainnya
Tes laboratorium lainnya mungkin bermanfaat , tergantung pada tingkat keparahan gejala
keracunan. analisa elektrolit akan mengkonfirmasi asidosis metabolik dan perlu mengukur
glukosa darah. Setiap korban keracunan CO yang pingsan rentan pada rhabdomyolysis,
dan tes skrining kreatin kinase mungkin bermanfaat .
Sebagian besar pasien CO tidak memerlukan neuroimaging untuk mengubah status
mental. bila dilakukan sebab alasan lain, tomografi otak yang dihitung dapat menandakan
perubahan kepadatan rendah pada globus pallidus dan materi putih subkortikal pada awal 4
sampai 6 jam sesudah keracunan parah. Lesi ini terkait dengan hasil klinis yang buruk.
Pencitraan resonansi magnetik mungkin lebih bermanfaat sebab lebih unggul dari tomografi
terkomputerisasi (computed tomography=CT-scan) dalam menandakan cedera CO. Terlepas dari mana modalitas neuroimaging dipakai , tes semacam itu jarang mengubah pengobatan
dan dilakukan untuk masalah yang gagal metanggapan pengobatan awal atau memiliki
diagnosa yang tidak jelas.
.
ahan tambahan makanan digolongkan menjadi dua, yaitu alami dan sintetis. sudah
banyak penelitian yang menyebutkan efek samping bahan tambahan makanan. parasetamol yaitu salah satu obat analgesik antipiretik yang
dijual bebas dan banyak dipakai masyarakat. namun juga banyak disalahgunakan oleh
pedagang jamu sebagai bahan kimia obat (BKO) yang ditambahkan dalam produk jamu
terutama jamu asam urat, pegal linu dan rematik. memaparkan 17 dari 51 jamu jamu dinyatakan positif mengandung parasetamol
bahan tambahan makanan digolongkan menjadi dua, yaitu alami dan
sintetis. Dipandang dari segi manfaat dan risiko, pemakaian bahan tambahan makanan
sintetis lebih berbahaya dibandingkan bahan tambahan makanan alami. segi keamanan
pangan yang menjadi perhatian utama yaitu pemakaian bahan tambahan makanan yang
melebihi dosis. Seperti diketahui bersama sudah banyak penelitian yang menyebutkan efek
samping bahan tambahan makanan. sebab itu perlu adanya regulasi dan pengawasan
oleh pemerintah dengan kerjasama dari berbagai pihak yang terkait.
Berikut beberapa dosis maksimum pemakaian bahan tambahan makanan. Batas
maksimum pemakaian siklamat yaitu 500 mg - 3 g atau kg bahan, sedang untuk sakarin
yaitu 50-300 mg atau kg bahan ,. Batas Maksimun pemakaian pewarna sintetik
yang dizinkan seperti Ponceau 4 : 300mg atau Kg bahan makanan, tatrazin, brilliant blue dan sunset
yellow: 100mg atau Kg bahan makanan ,
Sekalipun peraturan mengenai bahan tambahan makanan sudah dikeluarkan, namun
masih banyak juga yang tidak atau belum mengindahkannya. Rata-rata pemakai tidak
mengetahui kegunaan, bahaya, dosis dan dampak yang mungkin muncul akibat pemakaian
bahan tambahan makanan itu . Hal itu sebab dampak pemakaian bahan
tambahan makanan baru dirasakan atau disadari sesudah lama berselang atau sesudah muncul
gangguan kesehatan.
Kategori bahan tambahan makanan berdasar aturan pemakaian , dijelaskan sebagai
berikut:
1. Aman (Generally Recognized as Safe = GRAS )
Bahan tambahan yang termasuk dalam kategori aman yaitu bahan yang dosis
pemakaiannya relatif bebas dan tidak dibatasi. Sebagai conoh, pemakaian amilum
sebagai pengental. berdasar Food and Drug Administration (FDA), ada sekitar 600 jenis bahan tambahan makanan yang termasuk dalam daftar zat aditif yang bersifat aman.
walau sudah dianggap aman, namun kelak ada mungkin bahan-bahan itu
dicabut dari daftar bila hasil penelitian lanjutan menandakan bahan itu
berbahaya.
Berikut ini yaitu bahan tambahan makanan yang dilarang pemakaianya oleh
pemerintah:
1. Asam Borat (Boric Acid... dan senyawanya
2. Asam Salisilat dan garamnya (Salicylic Acid and its salt)
3. Dietilpirokarbonat (Diethylpirocarbonate DEPc...
4. Dulsin (Dulcin)
5. Kalium Klorat (Potassium Chlorate...
6. Kloramfenikol (Chloramphenicol)
7. Minyak Nabati yang dibrominasi (Brominated vegetable oils)
8. Nitrofurazon (Nitrofurazone...
9. Formalin (Formaldehyde...
10. Kalium Bromat (Potassium Bromate...
PENGAWET
Bahan Tambahan makanan, BTP pengawet yaitu bahan tambahan pangan yang
mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman atau penguraian dan perusakan
lainnya pada pangan yang dipicu oleh mikroorganisme.
Proses pengawetan yaitu usaha menghambat kerusakan pangan dari kerusakan yang
dipicu oleh mikroba pembusuk yang mungkin memproduksi racun atau toksin. Tujuan
pengawetan yaitu menghambat atau mencegah terjadinya kerusakan, mempertahankanmutu, menghindarkan terjadinya keracunan dan mempermudah penanganan dan
penyimpanan. Daya keawetan pangan berbeda untuk setiap jenisnya. contohnya telur yang
diawetkan dapat bertahan 1-2 bulan; daging yang dibekukan dapat awet 6-9 bulan; ikan asin
sekitar enam bulan; apel segar yang disimpan dengan pengendalian atmosfer (dalam ruang
pendingin atau refrigerator atau chiller pada temperatur 6-10 °c... dapat awet sekitar 3 bulan.
metoda pengawetan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
a. Penambahan BTP Pengawet
b. Pemanasan dengan suhu tinggi (Pemanasan)
A. Metode Pengawetan dengan penambahan BTP Pengawet.
keadaan lingkungan yang beriklim tropis dan kelembaban udara yang tinggi
memungkinkan untuk tumbuhnya mikroba perusak makanan.
Jenis pengawet yang diizinkan dipakai dalam pangan terdiri dari asam asetat, kalsium
asetat, natrium asetat, asam benzoat dan garamnya (kalium benzoat, kalsium benzoat, dan
natrium benzoat), asam propionat dan garamnya (kalium propionat, kalsium propionat, dan
natrium propionat), asam sorbat dan garamnya (kalium sorbat, kalsium sorbat, dan natrium
sorbat), belerang dioksida dan garam sulfit (kalium bisulfit, kalium metabisulfit, kalium sulfit,
kalsium bisulfit, natrium bisulfit, natrium metabisulfit, dan natrium sulfit), p-hidroksibenzoat
(etil p-hidroksibenzoat, metil p-hidroksibenzoat, dan propil p-hidroksibenzoat), lisozim
hidroklorida, nitrat (kalium nitrat dan natrium nitrat), dan nitrit (kalium nitrit dan natrium
nitrit).
pemakaian pengawet diatas diizinkan ditambahkan dengan jumlah tidak melebihi
batas maksimum dan sesuai dengan kategori pangan. Pada peraturan Permenkes itu
juga dinamakan kan 9 jenis bahan tambahan yang dilarang dipakai dalam makanan diantaranya
Asam Borat (Boric Acid... dan Formalin yang sering disalahgunakan.
Zat pengawet terdiri dari senyawa organik dan anorganik dalam bentuk asam atau
garamnya. Setiap jenis bahan pengawet berpotensi aktivitas dan keefektifan masing-masing
dalam menghambat pertumbuhan bakteri, khamir ataupun kapang. Zat pengawet organik
lebih banyak dipakai dibandingkan yang organik sebab bahan ini lebih mudah dibuat dan dipakai
dalam bentuk asam maupun garamnya seperti asam sorbat, asam propionat, asam benzoat
dan asam asetat.
Zat pengawet anorganik yang masih sering dipakai yaitu sulfit, nitrat dan nitrit. Sulfit
dipakai dalam bentuk gas SO2, garam Na, atau K-sulfit, bisulfit dan metabisulft. Bentuk
efektifnya sebagai pengawet yaitu asam sulfit yang tak terdisosiasi dan terutama terbentuk
pada tingkat keasaman (pH) dibawah 3.a. Kajian Keamanan
Kajian keamanan BTP pengawt mengacu kepada sumber lembaga-lembaga yang
berwenang dan dapat dipertanggungjawabkan seperti Codex Alimentarius Commssion (CAc... ,
Joint FAO atau WHO Expert Committe on Food Additives (JECFA), Badan POM RI, US Food and Drug
Adminsitration, Food Standard Australian and New Zealand (FSANZ) dan European Foods
Safety Authority (EFSA).
Berikut yaitu beberapa kajian keamanan pada bahan pengawet yang sering dipakai
dalam produk makanan dan diketahui umum oleh masyarakat:
Asam Benzoat
Asam benzoat (C6H5COOH) dan garamnya yaitu bahan pengawet yang banyak
dipakai pada bahan makanan yang bersifat asam. Bahan ini efektif untuk
mencegah pertumbuhan khamir, kapang dan bakteri pada tingkat keasaman pH 2.5 – 4.0.
Asam benzoat secara alami ada dalam tanaman rempah-rempah seperti cengkeh dan
kayu manis dan juga buah berry.
Dalam the Journal of the American Chemical Society di th 1954, Dr. W. H. Stein
melaporkan bahwa benzoate secara natural dimetabolisme dengan cepat dalam tubuh
kita , diserap oleh usus dalam bentuk asam benzoate, dimetabolisme secara cepat dalam
waktu 1 sampai 2 hari dieksresi 80% melalui urine sebagai asam hipurat dan asam benzoil
glukoronat (± 10%), 0.1% melalui paru-paru sebagai CO2 dan 2% tertinggal dikarkas.
US FDA (Food Drug Administration) memuat pengawet benzoat dalam list sebagai
kategori aman atau GRAS (generally recognized as safe... . pemakaian pada produk makanan
diperbolehkan tidak melebihi dari 0.1% atau 1000 ppm. JECFA FAO atau WHO terahir
mengevaluasi asam benzoat dan garamnya pada tahun 2002 dan menyatakan percobaan pada
tikus dalam jangka panjang tidak menunjukan unsur pemicu kanker atau efek karsinogenik.
Asam Propionat
Asam Propionat (CH3CH2COOH) yang berpotensi struktur yang terdiri dari tiga atom
karbon tidak dapat dimetabolisasi oleh mikroba. Hewan tingkat tinggi dan kita dapat
memetabolisasi asam propionate ini seperti asam lemak biasa. Propionat efektif pada
kapang dan beberap khamir pada makanan dan minuman dengan tingkat keasaman pH diatas
5.
Asam Sorbat
Sorbat dipakai terutama untuk mencegah pertumbuhan kapang dan bakteri.
Mekanisme asam sorbat dalam mencegah pertumbuhan mikroba yaitu dengan mencegah
kerja enzim dehidrogenase pada asam lemak. Struktur a-diena pada asam sorbat dapat
mencegah oksidasi asam lemak oleh enzim itu . Sorbat lebih aktif pada makanan dengan
tingkat keasaman diatas 6.5. Sorbat ditemukan secara alami ditanaman buah beri dan
dinyatakan sebagai aman (Generally Recognize as Safe... oleh US Food Drug Administration.JECFA FAO atau WHO terahir mengevaluasi asam sorbat pada tahun 1973 dan hasil
percobaan pada tikus dalam jangka panjang tidak menemukan efek tidaknormal itas atau
kematian. Banyak negara termasuk negara kita melalui Badan POM RI, Australia (Food Standard
Australian and New Zealand (FSANZ)) dan Malaysia sudah mengatur pemakaian asam sorbat
itu .
berdasar FDA, bahan tambahan pangan (BTP) yaitu zat yang secara sengaja ditambahkan
ke dalam makanan untuk menghasilkan sifat fungsional tertentu pada makanan baik secara
langsung atau tidak langsung dan menjadi bagian dari makanan itu (termasuk zat yang
dipakai selama produksi, pengemasan, pengolahan, transportasi tasi, penyimpanan). Kegunaan
BTP yaitu untuk meningkatkan nilai nutrisi, nilai sensori, dan usia simpan makanan (Belitz dan
Grosch 1999). BTP tidak boleh dipakai bila bertujuan untuk menyembunyikan kerusakan atau
kebusukan makanan atau untuk menipu konsumen ,
Salah satu golongan BTP yaitu bahan pengawet. Sejak dahulu, bahan kimia sudah
ditambahkan untuk mengawetkan pangan segar. Beberapa bahan pengawet kimia seperti gula,
garam, nitrit, dan sulfit sudah dipakai selama bertahun-tahun. Salah satu alasan meningkatnya
pemakaian bahan pengawet kimia yaitu perubahan dalam cara produksi dan pemasaran
makanan. Sekarang ini, konsumen mengharapkan makanan yang selalu tersedia, bebas dari
mikroba patogen, dan memiliki usia simpan yang panjang.
Walaupun sudah dikembangkan sistem pengolahan dan pengemasan untuk mengawetkan
makanan tanpa bahan kimia, namun bahan pengawet tetap memiliki peranan yang perlu dalam
melindungi suplai makanan. ini dipicu perubahan pemasaran makanan menjadi sistem
yang lebih global sehingga makanan jarang dipasarkan secara lokal seperti zaman dahulu.
Makanan yang diproduksi di satu wilayah, dikirim ke wilayah lain untuk diolah maupun untuk
disebarkan . sebab itu, diperlukan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun dari sejak
makanan diproduksi hingga dikonsumsi. Untuk mencapai kebutuhan usia simpan yang panjang,
beberapa cara pengawetan sering diperlukan.
U.S. Food and Drug Administration (FDA; 21CFR 101.22(a)5..) mengartikan bahan
pengawet kimia sebagai any chemical that, when added to food, tends to prevent or retard
deterioration thereof, but does not include common salt, sugars, vinegars, spices, or oils
extracted from spices, substances added to food by direct exposure thereof to wood smoke, or
chemicals applied for their insecticidal or herbicidal properties . Bahan pengawet dipakai
untuk mencegah atau memperlambat kerusakan baik kerusakan kimia maupun kerusakan
biologis. Bahan pengawet yang dipakai untuk mencegah kerusakan kimia di antaranya
antioksidan, untuk mencegah autoksidasi pigmen, flavor, lipid, dan vitamin; antibrowning, untuk
mencegah pencoklatan enzimatik dan nonenzimatik; dan antistaling untuk mencegah perubahan
tekstur. Bahan pengawet yang dipakai untuk mencegah kerusakan biologis dinamakan dengan
antimicrobial agents ,FDA mengartikan antimicrobial agents (21CFR 170.3(o)2..) sebagai substances used
to preserve food by preventing growth of microorganism and subsequent spoilage, including
fungistats, mold, and rope inhibitors . Fungsi utama bahan antimikroba yaitu untuk
memperpanjang usia simpan dan mempertahankan kualitas makanan melalui penghambatan
mikroba pembusuk , Mekanisme penghambatan bahan
antimikroba yaitu reaksi dengan membran sel mikroba yang memicu
perubahan permeabilitas atau gangguan pada pengambilan dan transportasi , inaktivasi enzimenzim yang perlu, gangguan pada mekanisme genetik, atau penghambatan sintesis protein
,
Bahan antimikroba juga sudah banyak dipakai untuk penghambatan atau inaktivasi
mikroorganisme patogen di dalam makanan. Beberapa bahan antimikroba sudah dipakai untuk
mengontrol pertumbuhan patogen tertentu. contoh nya, nitrit dapat menghambat Clostridium
botulinum pada cured meats; asam organik bertindak sebagai sanitizer pada patogen pada
karkas sapi; nisin dan lysozyme menghambat Clostridium botulinum dalam keju pasteurisasi;
laktat dan diacetate dapat menginaktivasi Listeria monocytogenes dalam daging olahan (Davidson
dan Branen 2005).
berdasar Winarno (1995), bahan pengawet terdiri dari senyawa organik dan anorganik
dalam bentuk asam atau garamnya. Bahan pengawet organik lebih banyak dipakai dibandingkan
bahan pengawet anorganik sebab bahan pengawet organik lebih mudah dibuat. Bahan
pengawet organik yang sering dipakai yaitu asam sorbat, asam propionat, asam benzoat, asam
asetat, dan epoksida. sedang bahan pengawet anorganik yang masih sering dipakai yaitu
sulfit, nitrit, dan nitrat.
Dalam memilih bahan antimikroba, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan (Branen
1983). Pertama, spektrum bahan antimikroba dari komponen yang dipakai . ini bertujuan
agar pemakaian bahan antimikroba sesuai dengan target mikroba yang dituju. Bahan pengawet
ini memiliki daya kerja yang berbeda-beda, ada yang khusus menghambat bakteri atau khamir
atau kapang. Bahan pengawet yang baik yaitu bahan yang memiliki spektrum antimikroba yang
luas sehingga untuk menghambat beberapa jenis mikroba cukup memakai satu jenis bahan
pengawet. Kedua, sifat fisik dan kimia bahan antimikroba dan produk pangan. Faktorfaktor seperti
pKa, kelarutan bahan antimikroba dan pH dari makanan akan mempengaruhi efisiensi
pemakaian bahan antimikroba. Bahan antimikroba seperti asam organik berpotensi
efektivitas hanya pada makanan berasam tinggi dengan pH kurang dari pH 4.5 (Davidson dan
Branen 2005).
Faktor ketiga yaitu keadaan penyimpanan produk dan interaksi produk dengan proses yang
lain. ini untuk memastikan bahan antimikroba tetap berfungsi selama penyimpanan produk.
Proses pengawetan tertentu akan berpengaruh pada jenis dan kadar bahan antimikroba yang
diperlukan . contoh: , penurunan Aw memicu tumbuhnya kapang dan khamir,
(351)
sehingga memerlukan bahan antimikroba yang berbeda , Keempat,
keadaan mikroba awal bahan pangan sebelum ditambahkan bahan pengawet. Bahan pangan
harus memiliki kualitas awal mikrobiologi yang tinggi yang berarti bahwa jumlah mikroba awal
pada bahan pangan itu berada pada level yang rendah. sebab itu, bahan pengawet
dilarang dipakai bila tujuannya untuk menyembunyikan cara kerja yang bertentangan dengan
cara produksi yang baik untuk makanan. Pertimbangan lain dalam memilih bahan antimikroba
yaitu keamanan dan legalitas komponen bahan antimikroba.
1. ASAM BENZOAT DAN NATRIUM BENZOAT .
Sifat Fisik dan Kimia
Asam benzoat (C6H5COOH) dan natrium benzoat (C6H5COONa... Bentuk asam (BM 122.1) dan garam natriumnya (BM 144.1) sudah
banyak dipakai untuk menghambat pertumbuhan mikroba dalam makanan. Asam benzoat
juga dinamakan sebagai asam fenilformat atau asam benzenkarboksilat ,Kelarutan
asam benzoat dalam air rendah (0.18, 0.27, dan 2.2 g larut dalam 100 ml air pada 4 oC ,
18 oC , dan 75 oC ) ,Asam benzoat termasuk asam lemah (konstanta disosiasi
pada 25oC yaitu 6.335 x 1025 dan pKa 4.19), larut dalam etanol dan sedikit larut
dalam benzene dan aceton ,
Natrium benzoat berupa bubuk kristalin yang stabil, tidak berbau, berwarna putih
dengan rasa menyengat (astringent) yang manis. Natrium benzoat larut dalam air (62.8,
66.0, dan 74.2 gram larut dalam 100 ml air pada 0oC, 20oC, dan 100 oc... , higroskopik pada RH di
atas 50 %, memiliki pH sekitar 7.5 pada konsentrasi 10 g atau liter air, larut dalam etanol, metanol,
dan etilen glikol (WHO 2000; Chipley 2005). sebab kelarutan natrium benzoat dalam air jauh
lebih besar dibandingkan asam benzoat, maka natrium benzoat lebih banyak dipakai .
Asam benzoat ada secara alami dalam buah-buahan dan rempahrempah seperti
cranberies, prunes, buah plum, kayu manis, dan cengkeh yang tua atau masak (Fardiaz et al.
1988). Asam benzoat juga ada secara alami pada produk-produk fermentasi seperti bir,
dairy products, teh, dan anggur (Chipley 2005).
2. Aktivitas dan Mekanisme Penghambatan
Asam benzoat aktif bersifat sebagai antimikroba pada pH rendah yaitu dalam keadaan
tidak terdisosiasi (Fardiaz et al. 1988). Semakin tinggi pH, persentase asam tidak terdisosiasi
makin kecil sehingga daya kerja benzoat akan semakin rendah. Pengaruh pH pada disosiasi
asam benzoat dapat dilihat pada Tabel 1. sebab jumlah asam yang tidak terdisosiasi menurun
dengan meningkatnya pH, pemakaian asam benzoat atau natrium benzoat sebagai pengawet
makanan terbatas pada makanan yang asam atau memiliki pH rendah. Benzoat paling efektif
pada pH 2.524.0 dan kurang efektif di atas pH 4.5 (Davidson dan Juneja 1990) Asam benzoat 100 kali efektif dalam larutan asam dan hanya asam yang tidak
terdisosiasi yang berpotensi aktivitas antimikroba. Toksisitas natrium benzoat dalam larutan
yaitu hasil dari molekul asam benzoat yang tidak terdisosiasi ,contoh: ,
pada keadaan netral, kurang lebih 4% natrium benzoat diperlukan untuk mencegah
pertumbuhan mikroorganisme fermentatif; pada pH 2.322.4 hanya diperlukan konsentrasi
0.0220.03% dan pada pH 3.524.0 (rentang pH sebagian besar jus buah) diperlukan konsentrasi
0.0620.1% (Aurand et al. 1987).
Fungsi utama dari asam benzoat dan natrium benzoat yaitu sebagai antimycotic
agents. Kebanyakan kapang dan khamir dihambat pada konsentrasi 0.05% sampai 0.1 %
asam tidak terdisosiasi ,Bakteri penghasil racun dan bakteri pembentuk spora
dapat
dihambat pada konsentrasi 0.01% sampai 0.02% asam tidak terdisosiasi, namun bakteri
pembusuk jauh lebih resisten.
Mekanisme penghambatan mikroba dari asam yang tidak terdisosiasi dipicu
bentuk yang tidak terdisosiasi tidak memiliki muatan. sebab itu, asam yang tidak
terdisosiasi dapat larut dalam bagian lipid dari membran sel. berdasar Fardiaz et al. (1988),
di dalam sel, asam benzoat akan terdisosiasi menjadi ion H+ dan radikal asam-
. Ion H+
itu
memicu terjadinya ketidakseimbangan ion di dalam sel mikroba dan mikroba akan
berusaha mengeluarkannya. Untuk mengeluarkan ion H+
itu , diperlukan energi dalam jumlah yang besar sehingga mikroba akan kekurangan energi untuk pertumbuhannya.
Hal yang senada juga dikemukakan oleh Lopez et al. seperti dikutip oleh Saragih (2007)
bahwa mekanisme kerja bahan pengawet yang terdiri dari asam organik yaitu berdasar
permeabilitas dari membran sel mikroba pada molekul asam yang tidak
terdisosiasi. Isi sel mikroba berpotensi pH yang selalu netral. Bila sitoplasma berpotensi pH
lebih asam atau basa maka akan terjadi gangguan pada organ sel sehingga metabolisme
dalam sel menjadi terhambat. berdasar Chipley (2005), asam benzoat menghambat atau
membunuh mikroba dengan mengganggu permeabilitas membran sel mikroba dan
memicu gangguan pada sistem transportasi elektron.
3. Aplikasi
Sebagai bahan pengawet makanan, kelebihan asam benzoat dan natrium benzoat
antara lain harganya yang murah, mudah diterapkan ke produk, dan tidak berwarna.
sedang rentang pH yang sempit, terjadinya off flavor pada produk, dan sifat toksikologi
dibandingkan dengan bahan pengawet yang lain sudah berkontribusi pada usaha untuk
mengganti asam benzoat dan natrium benzoat dengan bahan pengawet lain yang memiliki
karakteristik lebih baik. Benzoat tidak dapat mengontrol pertumbuhan mikroorganisme pada
level yang tinggi dan sebab nya tidak dapat dipakai pada makanan yang memakai
bahan-bahan yang berkualitas rendah atau diolah dengan cara yang buruk.
Natrium benzoat sudah dipakai pada berbagai produk pangan seperti
minuman, produk bakeri, dan makanan lain (Tabel 2). Asam benzoat juga dipakai sebagai
pengawet dalam industri kosmetik dan farmasi. , natrium benzoat dengan
konsentrasi 0.1%-0.5 % dipakai pada kosmetik, sedang dalam industri farmasi
dipakai konsentrasi 0.05%-0.1% (Chipley, 2005). Asam benzoat juga dapat dipakai untuk
mengontrol penyakit pascapanen pada berbagai buah dan sayur. Asam benzoat dan
turunannya sudah disarankan untuk dipakai sebagai fungisida, khususnya pada A. flavus
pada kacang.
berdasar FDA, benzoat hingga konsentrasi 0.1 % digolongkan sebagai ’generally
recognized as safe’ (GRAS). Di negara-negara selain Amerika Serikat, natrium benzoat
dipakai hingga konsentrasi 0.15% dan 0.25%. Batas European Commision untuk asam
benzoat dan natrium benzoat yaitu 0.015-0.5%. Di negara kita , pemakaian asam benzoat
dan natrium benzoat sudah diatur dalam SNI 01-0222-1995 tentang Bahan Tambahan
Makanan yang kadarnya berkisar dari 0.06 %-0.1 %. Batas maksimum pemakaian asam
benzoat dan natrium benzoat pada berbagai jenis makanan dapat dilihat pada Tabel 3.
Mekanisme Detoksifikasi
Benzoat memiliki toksisitas yang rendah pada kita dan hewan sebab
kita dan hewan memiliki mekanisme detoksifikasi. Benzoat diserap dari usus halus
dan diaktivasi melalui ikatan dengan CoA untuk menghasilkan benzoyl coenzyme A.
lalu benzoyl coenzyme A berkonjugasi dengan glisin dalam hati untuk membentuk
asam hipurat yang lalu dikeluarkan melalui urin (White et al. 1964 diacu dalam
Chipley 2005). Tahap pertama dikatalisis oleh enzim synthetase; tahap kedua dikalatalisis
oleh enzim acyltransferase. Keseluruhan reaksi dapat dilihat pada Gambar 2. Mekanisme
ini mampu mengeluarkan sekitar 66295 % asam benzoat. Sisa benzoat yang tidak
dikeluarkan sebagai asam hipurat dapat didetoksifikasi melalui konjugasi dengan asam
glukuronat dan dapat dikeluarkan melalui urine.
Gambar 8.2. Proses Detoksifikasi Asam Benzoat (White et al. 1964 diacu dalam
Chipley, 2005)
Faktor pembatas dalam biosintesis asam hipurat yaitu ketersediaan glisin.
pemakaian glisin dalam detoksifikasi benzoat memicu penurunan kadar glisin dalam
tubuh. sebab itu, konsumsi asam benzoat atau garamnya mempengaruhi fungsi
tubuh atau proses metabolik yang melibatkan glisin, contoh: penurunan kreatinin,
glutamin, urea, dan asam urat (WHO, 2000). Penelitian yang dilakukan oleh Hauschildt et al
(1983), menandakan bahwa pemberian benzoat pada tikus memicu peningkatan
sintesis dan dekarboksilasi glisin.
5. Metode analisa
Metode analisa untuk penentuan asam benzoat meliputi metode spektrofotometri,
yang memerlukan prosedur ekstraksi yang rumit dan tidak khusus ; Gas
Chromatography (Gc... , yang lebih sensitif dan khusus namun memerlukan persiapan specimen
dan derivatisasi yang panjang sebelum penentuan; High Pressure Liquid Chromatography
(HPLc... yang memiliki spesifisitas tinggi dan persiapan specimen yang minimum dan tidak
memerlukan derivatisasi ,
Metode AOAC Official Methods antara lain metode GC yang diterapkan pada jus
apel, pasta almond, dan homogenat ikan pada konsentrasi 0.522 g atau kg, liquid chromatography
yang dipakai untuk penentuan 0.5210 ppm asam benzoat dalam jus jeruk , Karakteristik kedua metode ini dapat dilihat
pada Lampiran 1. analisa kadar asam benzoat dalam minuman ringan bersoda secara
kromatografi cair kinerja tinggi dilakukan oleh Hayun et al.(2004). Karakteristik metode yang
diperoleh yaitu sebagai berikut : limit deteksi sebesar 0.2 ppm; limit kuantisasi sebesar 0.852;
rentang kurva kalibrasi antara 1260 ppm; dan persen perolehan kembali sebesar 98.73 %.
C. VALIDASI DAN VERIFIKASI METODE
Metode analisa berpotensi atribut tertentu seperti ketepatan, ketelitian, spesifisitas,
peka, kemandirian, dan kepraktisan yang harus dipertimbangkan saat memilih
metode yang cocok untuk memecahkan masalah tertentu (Garfield et al, 2000). Namun
atribut-atribut itu tidak mungkin semuanya dapat dioptimalkan selama analisa . sebab
itu semua informasi yang ada harus dievaluasi dan diputuskan karakteristik metode yang
cocok dan tingkat ketidakpastian yang diterima. Informasi ilmiah ini harus seimbang
dengan pertimbangan praktis seperti waktu, biaya, resiko kesalahan, dan tingkat keahlian
yang diperlukan.
Pemilihan metode yang tepat perlu dalam analisa . Pemilihan sebuah
metode tergantung dari tujuan pengukuran. contoh: , metode yang dipakai
untuk pengukuran rapid online processing mungkin kurang akurat dibandingkan dengan
metode standar (Nielsen 2003). Metode yang dipilih yaitu metode yang sudah diuji dan
divalidasi; metode yang sudah disarankan dan diadopsi oleh organisasi internasional;
metode yang sederhana, biaya rendah, atau cepat; metode yang banyak diterapkan ke
banyak substrat atau analit ,, sebuah laboratorium
harus memilih metode yang sesuai yang sudah dipublikasikan dalam standar internasional,
regional, atau nasional, atau oleh organisasi teknis yang berpotensi reputasi, atau dari teks
atau jurnal ilmiah yang relevan, atau sesuai dengan khusus asi pabrik pembuat alat. Selain
itu, metode yang dikembangkan atau diadopsi oleh laboratorium juga dapat dipakai bila
sesuai dan sudah divalidasi.
Untuk memperoleh data yang valid, di samping pengujian dilakukan oleh personel
yang kompeten dengan peralatan dan instrumentasi yang sudah dikalibrasi, pemakaian metode yang valid juga memegang peranan yang perlu , Dengan
metode yang valid, tingkat akurasi dan presisi data hasil pengujian dapat diketahui.
Konsekuensinya, laboratorium harus memvalidasi metode sebelum metode itu
dipakai .
Validasi metode yaitu suatu proses untuk mengkonfirmasi bahwa prosedur
analisa yang dilakukan untuk pengujian tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan
validasi metode yaitu sebuah
proses yang perlu dari program jaminan mutu hasil uji yang mana sifat dari sebuah
metode ditentukan dan dievaluasi secara obyektif. Hasil dari validasi metode dapat
dipakai untuk menilai kualitas, tingkat kepercayaan (reliability), dan konsistensi hasil
analisa ; itu semua menjadi bagian dari praktek analisa yang baik ,
Laboratorium harus memvalidasi metode tidak baku, metode yang
didesain atau dikembangkan laboratorium, metode baku yang dipakai di luar lingkup yang
dimaksudkan, dan penegasan dan modifikasi dari metode baku
untuk mengkonfirmasi bahwa metode itu sesuai untuk pemakaian yang dimaksudkan , bila laboratorium memakai metode standar yang sudah dipublikasi dan sudah
divalidasi oleh lembaga atau organisasi nasional maupun internasional, idealnya
laboratorium itu harus memvalidasi metode itu walau hanya meliputi segi -segi
tertentu saja. ini dimaksudkan agar laboratorium yang bersangkutan memiliki data
validasi yaitu bukti objektif yang berlaku di laboratorium itu dan sesuai
dengan kebutuhannya. Validasi metode dengan segi pengujian yang terbatas dinamakan juga
verifikasi metode ,
Pemilihan parameter validasi tergantung pada beberapa faktor seperti aplikasi,
specimen uji, tujuan metode, dan peraturan lokal atau internasional. Parameter-parameter
validasi meliputi ketepatan atau recovery, ketelitian, spesifisitas, limit deteksi, limit kuantisasi,
linearitas, rentang, robustness, dan ruggedness (ICH 1996). Ketepatan menyatakan
kedekatan dengan nilai yang diterima, baik nilai sebetulnya maupun nilai pembanding.
Ketepatan dilaporkan sebagai persen recovery. Ketelitian menyatakan kedekatan antara satu
seri pengukuran yang diperoleh dari pengambilan ganda pada contoh homogen yang
sama pada keadaan tertentu.
Spesifisitas menyatakan kemampuan metode untuk menilai secara pasti analit yang
berada bersama komponen lain. Komponen lain dapat berupa hasil urai, pengotor, dan
matriks contoh. Limit deteksi menyatakan jumlah analit terkecil yang dideteksi dalam
contoh. Limit kuantisasi menyatakan jumlah terendah analit dalam contoh yang secara
kuantitatif dapat ditetapkan dengan ketelitian dan ketepatan yang sesuai. Linearitas
menyatakan kemampuan metode analisa untuk memberi hasil uji yang secara langsung
proporsional pada konsentrasi analit dalam contoh pada rentang yang ditentukan.
Rentang yaitu interval antara konsentrasi tertinggi dan terendah analit dalam contoh
yang sudah dibuktikan bahwa prosedur analisa ketepatan, ketelitian, dan linearitas pada
tingkat yang sesuai. Robustness yaitu ukuran
kemampuan metode analisa untuk tidak terpengaruh oleh perubahan kecil variasi yang
sengaja dibuat dalam parameter metode analisa dan memberi indikasi kehandalannya
dalam pemakaian secara normal. Ruggedness yaitu derajat reprodusibilitas hasil uji yang
diperoleh dari analisa contoh yang sama pada berbagai keadaan pengujian normal.
Karakteristik validasi metode pengujian dapat dilihat pada Tabel
Antioksidan
Antioksidan yaitu bahan tambahan yang dipakai untuk melindungi
komponenkomponen makanan yang bersifat tidak jenuh (berpotensi ikatan rangkap),
terutama lemak dan minyak. walau demikian antioksidan dapat pula dipakai untuk
melindungi komponen lain seperti vitamin dan pigmen, yang juga banyak mengandung
ikatan rangkap di dalam strukturnya.
Adanya ion logam, terutama besi dan tembaga, dapat mendorong terjadinya oksidasi
lemak. Ion-ion logam ini sering diinaktivasi dengan penambahan senyawa pengkelat, dan
dapat juga dinamakan bersifat sinergistik dengan antioksidan sebab menaikkan efektivitas
antioksidan utamanya.
Untuk dapat dipakai sebagai antioksidan, suatu senyawa harus berpotensi sifatsifat : tidak toksik, efektif pada konsentrasi rendah (0,01-0,02%), dapat terkonsentrasi pada
permukaan atau lapisan lemak (bersifat lipofilik) dan harus dapat tahap pada keadaan pengolahan
pangan .
berdasar sumbernya antioksidan dapat digolongkan ke dalam dua jenis.
Pertama, antioksidan yang bersifat alami, seperti komponen fenolik atau flavonoid, vitamin E,
vitamin C dan beta-karoten. Kedua, antioksidan sintetis seperti BHA (Butylated
Hydroxyanisole... , BHT (Butylated Hydroxytoluene... , PG (Propil Galat), dan TBHQ (di-t-Butyl
Hydroquinone... . Tabel 1 menandakan komponen-komponen flavonoid yang memiliki
aktivitas antioksidan bedan sumbernya
BHA (Butylated Hydroanisole... . BHA yaitu campuran dua isomer, yaitu 2- dan 3-
tertbutilhidroksianisol. Di antara kedua isomer itu , isomer 3-tert memiliki aktivitas
antioksidan yang lebih efektif dibandingkan isomer 2-tert. Bentuk fisik BHA yaitu padatan
putih menyerupai lilin, bersifat larut dalam lemak dan tidak larut dalam air.
BHT (Butylated Hydroxytoluene... . sifat BHT mirip dengan BHA dan
,(360)
bersinergis dengan BHA.
Propil Galat. Propil galat yaitu ester propanol dari asam trihidroksi benzoat.
Bentuk fisik propil galat yaitu kristal putih. Propil galat memiliki sifat : 1..dapat
bersinergis dengan BHA dan BHT, 2.. sensitif pada panas, 3.. membentuk kompleks
berwarna dengan ion logam, sebab nya bila dipakai dalam makanan kaleng dapat
mempengaruhi penampakan produk.
TBHQ (Tertiary Butylhydroquinone... . TBHQ yaitu antioksidan yang paling efektif
dalam minyak makan dibandingkan BHA, BHT, PG dan tokoferol. TBHQ memiliki sifat : 1..
bersinergis dengan BHA 2.. cukup larut dalam lemak 3.. tidak membentuk komplek dengan
ion logam namun dapat berubah menjadi merah muda, bila bereaksi dengan basa
Dosis pemakaian tiap-tiap antioksidan sintetik ini tidak sama untuk masing-masing
negara. Tabel 2 menandakan dosis pemakaian antioksidan BHA, BHT, Galat dan TBHQ di
beberapa negara
Jenis-jenis Antioksidan
Jenis antioksidan yang diizinkan dipakai dalam pangan terdiri dari:
a. Ascorbic Acid (Asam askorbat dan garamnya (natrium askorbat, kalsium askorbat, dan
kalium askorbat))
b. Ascorbil palmitate (Askorbil palmiat)
c. Ascorbil stearate (Askorbil stearat)
d. Erythrobic Acid ((Asam eritrobat dan garamnya (natrium eritrobat))
e. Tertiary butyl hydroquinone (TBHQ) (Butil Hidrokinon Tersier)
f. Butylated hydroxyanisole (BHa... (Butil Hidroksianisol)
g. Butylated hydroxy Toluene (BHT) (Butil Hidroksitoluen)
h. Propyl gallate (Propil galat)
i. Tocopherol (tokoferolcampuran pekat, alfa tokoferol dan gama tokoferol), yang sudah
diyakini keamanannya.
j. Dilauryl Thiodipropionate (Dilauril Tiodipropionat)
k. Stannous Chloride (Timah II Klorida)
ANTI KEMPAL
anti kempal dapat mencegah pengempalan makanan yang berupa serbuk. Contoh: aluminium silikat (susu
bubuk), dan kalsium aluminium silikat (garam meja).
Fungsi Anti Kempal yaitu senyawa anhidrat yang mengikat air tanpa menjadi basah dan biasanya ditambahkan ke dalam bahan pangan yang bersifat bubuk atau partikulat seperti garam meja, campuran kering (dry mixes), dan lain-lain. Penambahan senyawa anti kempal untuk mencegah terjadinya penggumpalan dan menjaga agar bahan itu tetap
dapat dituang ,
Mekanisme Kerja
Senyawa anti kempal biasanya yaitu garam-garam anhidrat yang bersifat cepat terhidrasi dengan mengikat air, atau senyawa yang mengikat air melalui
pengikatan di permukaan (surface adhesion) tanpa menjadi basah dan menggumpal. Senyawa senyawa itu biasanya yaitu senyawa yang secara alami berbentuk hampir kristal ,Senyawa anti kempal dapat digolongkan menjadi :
a. Garam (aluminium, amonium, kalsium, potassium, dan sodium).
b.Kalsium posfat.
c. Magnesium oksida.
d.Garam (magnesium, kaslium, dan campuran kalsium aluminium) dari asam silikat.
Senyawa golongan 1, 2, dan 3 memicu hidrat, sedang senyawa 4 dan 5 menyerap
air. Senyawa anti kempal biasanya dapat dimetabolisme atau tidak toksik pada tingkat
pemakaian yang diizinkan. Kalsium silikat banyak dipakai untuk menghindari
penggumpalan baking powder dan berpotensi kemampuan untuk mengikat air 2,5 kali dari
beratnya. Selain mengikat air, kalsium silikat juga dapat mengikat minyak dan senyawasenyawa nonpolar lainnya.
Sifat inilah yang memicu kalsium silikat banyak dipakai di dalam campurancampuran yang mengandung bumbu, terutama yang kandungan minyak atsirinya tinggi.
Kalsium stearat sering dipakai sebagai processing aid dalam pembuatan permen keras ,Senyawa anti kempal yang relatif baru dikembangkan yaitu bubuk selulose
berkristal mikro (microcrystalline cellulose powder). Senyawa ini banyak dipakai untuk produk
keju parut agar tidak membentuk gumpalan
Bahan-bahan makanan yang tergolong bahan anti kempal di antaranya:
Magnesium Silicate Magnesium silikat,
Sodium Alumino Silicate (Natrium alumino silikat). Myristic Acid, Palmitic Acid and Stearic Acid (Miristat, palmitat dan stearat),
Silicon Dioxide amorpus (Silikon Dioksida Amorf),
Cacium Phospate, Tribasic (Trikalsium fosfat)
Magnesium Phospate, Tribasic (Trimagnesium fosfat) ,
Aluminium Silicate (Aluminium silikat),
Calcium Aluminium Silicate (Kalsium aluminium silikat),
Calcium Silicate (Kalsium silikat),
Magnesium Carbonate (Magnesium karbonat),
Magnesium Oxide (Magnesium oksida),
Pengatur Keasaman yaitu bahan tambahan makanan yang dapat mengasamkan, menetralkan dan mempertahankan derajat keasaman makanan. Zat
aditif ini dapat mengasamkan, menetralkan, dan mempertahankan derajat keasaman
makanan. Contoh: asam asetat, aluminium amonium sulfat, amonium bikarbonat, asam
klorida, asam laktat, asam sitrat, asam tentrat, dan natrium bikarbonat.
Fungsi Asam, baik organik maupun anorganik, secara alami ada di dalam bahan pangan.
Keberadaannya beragam, dari sebagai metabolit antara hingga sebagai komponen pendapar
(buffering agent). Asam sering ditambahkan ke dalam bahan pangan dan proses
pengolahan pangan.
Fungsinya yang paling perlu yaitu sebagai senyawa pendapar. Asam dan garamnya
sering pula ditambahkan sebagai campuran pembentuk adonan (leavening system), sebagai
antimikroba dan senyawa pengkelat. Asam berperan perlu dalam pembentukan gel
pektin, dapat bertindak sebagai penghilang busa (defoaming agent) dan membantu proses
denaturasi protein dalam pembuatan yogurt, keju, dan produk-produk fermentasi susu
lainnya. Dalam proses pengolahan buah dan sayuran, asam sering ditambahkan untuk
menurunkan pH dan mengurangi kebutuhan panas selama proses sterilisasi. Fungsi lain dari
asam yang tak kalah perlunya, tentu saja yaitu kontribusinya pada rasa dan aroma
bahan pangan. Asam juga berpotensi kemampuan untuk mengubah dan meningkatkan
intensitas rasa dari komponen citarasa lainnya. Asam lemak rantai pendek berkontribusi
pada aroma berbagai makanan.
Bahan-bahan yang tergolong pengatur keasaman di antaranya:
Asam Klorida,Asam Laktat Asam Malat,Asam Sitrat,Asam Tartrat Diamonium Fosfat,Dikalsium Fosfat,Dinatrium Fosfat, kalium Bikarbonat
Alumunium Amonium Sulfat, Aluminium Natrium Sulfat Alumunium kalium Sulfat,Amonium Bikarbonat Amonium Hidroksida,Amonium Karbonat, Asam Adipat, Asam Asetat Glasial,Asam Fosfat,Asam Fumarat,
PEMANIS BUATAN
Yang dimaksud dengan BTP Pemanis Buatan yaitu BTP yang memicu
rasa manis pada produk pangan yang tidak atau sedikit berpotensi nilai gizi atau kalori.
Bahan ini hanya boleh ditambahkan ke dalam produk pangan dalam jumlah tertentu.
Pemanis buatan mulanya diproduksi komersial untuk memenuhi ketersediaan produk
makanan dan minuman bagi penderita Diabetes mellitus yang harus mengontrol kalori
makanannya. Dalam pertumbuhan nya, pemanis buatan juga dipakai untuk
meningkatkan rasa manis dan citarasa produk-produk yang mengharuskan rasa manis dan
di dalamnya sudah terkandung gula.
pemakaian pemanis buatan dibuat per kategori pangan.
Pemanis Non Kalori
Pemanis non kalori dibuat dari bahan sintetis atau bahan kimia. Pemanis
non kalori berpotensi kadar manis yang kuat, jauh lebih kuat dari manis gula alami atau
sukrosa. Beberapa pemanis buatan yang masuk pada pemanis non kalori yaitu :
a... Alitam (INS 956)
Memiliki rumus kimia (C14H25N3O4S.2.5H2O.)
Dibuat dari sintesis asam amino L-asam aspartat dan Alanin.
Kadar manis 2.000 kali tingkat sukrosa.
b... Asesulfam-K (INS 950)
Memiliki rumus kimia C4H4KNO4S.
Kadar manis 200 kali tingkat sukrosa
c... Aspartam (INS 951)
Memiliki rumus kimia C14H18N2O5.
Kadar manis 220 kali tingkat sukrosa
d... Siklamat (INS 952)
Memiliki rumus kimia C6H13NO3S.
Kadar manis 30 kali tingkat sukrosa.
e... Sakarin (INS 954)
Memiliki rumus kimia C14H8CaN2O6S2. 3H2O atau C7H4KNO3S. 2H2O atau
C7H4NaNO3S. 2H2O
Kadar manis 300 sampai 500 kali tingkat sukrosa
f... Neotam (INS 961)
Memiliki rumus kimia C20H30N2O5
Kadar manis 7.000 sampai 13.000 kali tingkat sukrosa.
g... Manitol (INS 421)
Memiliki rumus kimia C6H14O6.
Dibuat dengan cara hidrogenasi maltosa yang diperoleh dari hidrolisis pati.
Kadar manis 0,7 kali tingkat sukrosa.
memicu efek laksatif bila dikonsumsi lebih dari 20 g atau hari.
h) Sorbitol (INS 420)
Memiliki rumus kimia C6H14O6.
Kadar manis 0,5-0,7 kali tingkat sukrosa.
memicu efek laksatif, bila dikonsumsi lebih dari 50 g atau hari.
i) Silitol (INS 967)
Memiliki rumus kimia C5H12O5.
Umum ada pada buah dan sayur.
Kadar manis sama dengan sukrosa.
j) Laktitol (INS 966)
Memiliki rumus kimia C12H24O11.
Dibuat dari proses reduksi glukosa yang berasal dari disakarida laktosa.
Kadar manis 0,3-0,4 kali tingkat sukrosa.
memicu efek laksatif bila dikonsumsi lebih dari 20 g atau hari.
k) Isomalt (INS 953)
Dibuat dari sukrosa melalui dua tahap proses enzimatik, mengandung gluko-manitol
dan gluko-sorbitol.
Kadar manis 0,45-0,65 kali tingkat sukrosa.
l) Maltitol (INS 965)
Memiliki rumus kimia C12H14C11.
Dibuat dengan cara hidrogenasi maltosa yang diperoleh dari hidrolisis pati.
Kadar manis 0,9 kali tingkat sukrosa.
m) Sukralosa (INS 955)
Memiliki rumus kimia C12H19Cl3O8.
Kadar manis 600 kali tingkat sukrosa.
halaman 9
PEMUTIH DAN PEMATANG TEPUNG
Bahan sekuestran seperti asam Etilen Diamin Tetra Asetat (EDTA), bisa memicu
gangguan pada penyerapan mineral-mineral esensial seperti tembaga, besi, dan seng. Bahan
tambahan makanan yang dipakai untuk memperbaiki tekstur, yaitu karboksimetil
selulosa, epikklorohidrin, natrium dan kalsium karagenan, polieksietilen stearat, saponin,
dan natrium alginat.
pemakaian karboksimetil selulosa memicu gangguan pada usus, dan
bersifat karsinogenik. Saponin memicu efek pada masa kehamilan, dan gangguan
darah. Karagen bisa memicu luka pada hati, efek pada sistem imun, karsinogenik, dan
memicu bisul pada perut. pemakaian Epikklorohidrin secara berlebihan dapat
memicu kerusakan ginjal, karsinogenik, dan bahkan efek perubahan pada kromosom.
Polieksietilen stearat memicu efek pada usus lambung dan urin, seperti batu
pada tumor, dan kandung kemih. sedang pemakaian natrium alginat dapat
memicu reaksi alergi dan penyerapan pada mineral esensial.
Bahan-bahan yang termasuk bahan pemutih dan pematang tepung di antaranya:
Stearil Fumarat Natrium Stearoil,L-Sisteina (Hidroklorida), Asam Askorbat,Aseton Peroksida, Azodikarbon Amida, Kalsium stearoil,Natrium
Beberapa bahan tambahan makanan seperti pembentuk cita rasa seperti koumarin,
safrol, minyak kalamus, dan sinamil antranilat, semuanya dilarang. Masing-masing
berpotensi daya pengoksidasi yang tinggi, sehingga tidak bisa dipakai sebagai BTM mamin berlemak, sebab akan memicu ketengikan. Bahan pemutih dan pematang yang diizinkan
yaitu asam askorbat.
PENGEMULSI, PEMANTAP DAN PENGENTAL
Bahan Tambahan makanan, Pengelmulsi, pemantap, dan pengental yaitu bahan tambahan
makanan yang membantu terbentuknya atau memantapkan sistem dispersi yang
homogen pada makanan.
Emulsi yaitu suatu sistem yang terdiri dari dua fase cairan yang tidak saling melarut,
di mana salah satu cairan terdispersi dalam bentuk globula-globula di dalam cairan lainnya.
Cairan yang terpecah menjadi globula-globula dinamakan fase terdispersi, sedang cairan
yang mengelilingi globula-globula dinamakan fase terusmenerus atau medium dispersi
Istilah pengemulsi (emulsifier) atau surfaktan dalam beberapa hal kurang tepat.
Alasannya, bahan ini dapat melakukan beberapa fungsi yang pada beberapa jenis produk
tidak berkaitan langsung dengan pembentukan emulsi sama sekali.
fungsi pengemulsi pangan dapat digolongkan menjadi tiga golongan utama
yaitu :
a. Untuk mengurangi tegangan permukaan pada permukaan minyak dan air, yang
mendorong pembentukan emulsi dan pembentukan kesetimbangan fase antara
minyak, air dan pengemulsi pada permukaan yang memantapkan antara emulsi.
b. Untuk sedikit mengubah sifat tekstur, awetan dan sifat reologi produk
pangan, dengan pembentukan senyawa kompleks dengan komponen-komponen pati
dan protein.
c. Untuk memperbaiki tekstur produk pangan yang bahan utamanya lemak dengan
mengendalikan keadaan polimorf lemak.
Sistem kerja emulsifier berkaitan erat dengan tegangan permukaan antara kedua
fase (tegangan interfasial). Selama emulsifikasi, emulsifier berfungsi menurunkan
tegangan interfasial sehingga mempermudah pembentukan permukaan interfasial yang
luas. Bila tegangan interfasial turun sampai di bawah 10 dyne per cm, maka emulsi
dapat dibentuk. sedang bila tegangan interfasial mendekati nilai nol, maka emulsi akan
terbentuk dengan spontan.
Berikut ini yaitu contoh-contoh emulsifier yang umum dipakai dalam bahan pangan :
a. Mono dan Diglycerides, dikenal juga dengan istilah discrete substances. Pertama kali
dibuat oleh Berthelot pada tahun 1853 melalui reaksi esterifikasi asam lemak dan
glycerol. Mono dan diglycerides yaitu zat pengemulsi yang umum dipakai .
Komponenkomponen ini dapat diperoleh dengan memanaskan triglyceride dan
glycerol dengan suatu katalis yang bersifat basa. Reaksi ini akan menghasilkan
campuran yang terdiri dari ± 45 persen monogliserida dan ± 45 persen digliserida,dan ± 10 persen trigliserida bersamasama dengan beberapa kecil gliserol dan asamasam lemak bebas. Mono dan digliserida yang terbentuk lalu dipisahkan dengan
cara destilasi molekuler. Yang tergolong mono dan diglycerides antara lain:
Glycerol monolaurate, dibuat dari reaksi glycerol dan asam laurat.
Ethoxylated mono dan diglycerides (EMg... , juga dinamakan dengan polyoxyethylene (20)
mono dan diglycerides.
Diacetyl tartaric acid ester of monoglycerides (DATEM).
Lactic acid ester of monoglycerides, contoh nya glyceril lactylpalmitate.
Succinylated monoglycerides
b.Stearoyl Lactylates, yaitu hasil reaksi dari steric acid dan lactic acid, lalu
diubah ke dalam bentuk garam kalsium dan sodium. Bahan pengemulsi ini sering
dipakai dalam produk-produk bakery.
c. Propylene Glycol Ester, yaitu hasil reaksi dari propylene glycol dan asam
lemak. dipakai dalam pembuatan kue, roti dan whipped topping.
d.Sorbitan Esters. Asam sorbitan yang terbentuk dari reaksi antara sorbitan dan asam
lemak. Sorbitan yaitu produk dihidrasi dari gula alkohol yang diperoleh secara
alami yaitu sorbitol. Sampai saat ini hanya sorbitan monostearat, satu-satunya ester
sorbitan yang diizinkan dipakai dalam pangan. Bahan itu dipakai
dalam pembuatan kue, whipped topping, cake icing, coffee whiteners, dan pelapis
pelindung buah dan sayuran segar.
e. Polysorbates. Ester polioksietilen sorbitan dinamakan polisorbat. Ester ini dibuat
dari reaksi antara ester-ester sorbitan dan ethylene oxide. Tiga jenis polisorbat yang
diizinkan untuk dipakai dalam pangan yaitu polisorbat 60, Polisorbat 65, polisorbat
80.
f. Polyglycerol Ester, dibuat dari reaksi antara asam lemak dan glycerol yang sudah
mengalami polimerisasi. Tingkat polimerisasinya antara 2-10 molekul. Ester-ester
poliglycerol dipakai dalam pangan yang diaerasi mengandung lemak, beverage,
icing, dan margarine.
g.Ester-ester Sukrosa, yaitu mono, di dan triester sukrosa dan asam lemak. Ester ini
dihasilkan dari reaksi sukrosa dan lemak sapi. pemakaiannya dalam pangan
pada pembuatan roti, produk tiruan olahan susu, dan whipped milk product.
h.Lecitin, yaitu campuran fosfatida dan senyawa lemak yang terdiri dari fosfatidil
kolin, fosfatidil etanolamin, fosfatidil inositoll, dan komponen-komponen lainnya. Lesitin
yaitu bahan penyusun alami pada hewan maupun tanaman. Lecitin paling banyak
diperoleh dari kedele dan kuning telur. Biasanya dipakai untuk emulsifier pada
margarine, roti, kue dan lain-lain.
Algin yaitu komponen utama dari getah ganggang coklat (Phaeophyceae... yang
diperoleh dengan cara melarutkannya dalam alkali larutan natrium karbonat. Proses ini untuk
menghilangkan selulosa sekaligus memisahkan algin dalam bentuk garam kalsium atau asam
alginat. juga , produk sampingan penting proses pemisahan Algin yaitu propilen
glikol alginat.
Algin yang memiliki mutu food grade harus bebas dari selulosa dan warnanya sudah
dilunturkan. Fungsi algin dalam industri pangan dianggap cukup perlu, sebagai salah satu
alternatif bahan tambahan makanan yang halal. Fungsi algin intinya dapat
menggantikan gelatin atau lemak hewan yang berfungsi sebagai stabilizer-emulsifier dan
pengental penstabil emulsi.
Algin yaitu molekul linier dengan berat molekul tinggi. keadaan ini memberi
implikasi pada algin, yaitu mudah menyerap air. Inilah alasan yang memungkinkan algin
dijadikan sebagai bahan pengental. Di samping proses pengentalan larutan itu sendiri, algin
juga dapat meningkatkan daya suspensi larutan itu (stabilisator).
Pada sistem yang lain, algin -- yang memiliki produk sampingan propilen glikol alginat --
memiliki gugus hidrolik dan lipofilik. Keadaan ini memungkinkan algin berfungsi sebagai
pengemulsi yang asli dengan sifat pengental yang kuat. Dengan sifat di atas, algin
dipakai dalam industri makanan pada produk:
a. Susu (es krim). , algin berfungsi sebagai stabilisator yang menjaga
keutuhan es krim dan membuahkan tekstur yang halus. juga mencegah muncul nya
kristal es yang besar dalam produk yang dihasilkan – sesuatu yang dihindari dalam
pembuatan es krim. Algin juga dipakai sebagai stabilisator pada produk susu lainnya,
seperti susu es (ice milk), milk shake mixes dan sherbets, yoghurt, roti dan kue. sebab
sifatnya yang baik dalam menahan air (water holding capacity), algin dapat mengatasi
cepat mengeringnya produk pada keadaan udara berkelengasan rendah. Algin
dipakai pada roti dan kue dalam cake filling dan toppings, bakery jellies, pie filling
dan lain sebagainya.
b.Bumbu salad. Propylen glikol alginat yang ada pada algin memiliki sifat selain sebagai
pengemulsi, juga sebagai bahan pengental. sebab itu, algin tepat bila ditambahkan
dalam produk french dressing. Adanya algin pada produk itu akan memicu bumbu
salad menjadi tahan lama dan tidak pecah, baik disimpan pada suhu tinggi maupun suhu
rendah.
c. Permen agar-agar. Algin berpotensi kemampuan untuk menyimpan atau menahan air yang
baik. pemakaian algin dalam pembuatan permen agar-agar menjadikan permen bersifat
bening dan tahan lama dan memiliki tekstur yang empuk sampai saat pengunyahan.
d.Produk kalengan. Produk pangan yang dikalengkan, biasanya mengandung cairan.
Penambahan algin mengganti sebagian besar pati pada produk pangan kaleng untuk
mengurangi waktu proses pemanasan. Pengurangan waktu proses pemanasan ini
berkaitan dengan adanya ion kalsium pada algin. Saat terjadi pemanasan, ion kalsium
terhambat. Akibatnya, larutan memiliki viskositas yang rendah. sesudah proses
pemanasan-sterilisasi selesai dan suhu diturunkan, ion kalsium bereaksi dengan algin
yang memicu viskositas meningkat hingga mencapai keadaan yang diharapkan .
e. sebab memiliki kandungan kalori yang rendah (1,4 kkal atau gram) algin juga dipakai pada
produk pelangsing tubuh (dietetic foods). Selain cocok untuk produk pangan, algin juga dapat
dipakai pada produk obat dan kosmetika. contoh: untuk bahan suspensi,
stabilisator dalam pembuatan salep dan sebagai pengikat (binder) dalam pembuatan tablet.
Bahan penstabil dan pemekat
Kanji, dekstrin, pektin, amilosa, gelatin, karagenan, dan turunan protein termasuk bahan
penstabil dan pemekat. Bahan-bahan itu memberi kestabilan dan kepekatan kepada
makanan termasuk pembentukan gel seperti pada agar-agar. Makanan yang memerlukan
bahanbahan ini antara lain pie, puding, minuman susu coklat, jeli, dan dressing salad.
Bicara mengenai penstabil dan pemekat, kita mungkin perlu memberi perhatian
lebih pada gelatin. Sumber gelatin bisa hewan maupun tumbuhan. Gelatin diperoleh dari
pemanasan kolagen (diambil dari tulang dan tendon hewan) dalam air. Gelatin dipakai
secara meluas dalam industri makanan. sebab itu konsumen perlu berhati-hati membeli
makanan yang berpotensi gelatin pada labelnya.
Bahan tambahan ilegal yang sering terdeteksi pada produk olahan ikan yaitu asam
borat (borax), rhodamin B dan formaldehid (formalin). Formaldehid yaitu yaitu gas dengan
titik didih 21oC sehingga tidak dapat disimpan dalam keadaan cair atau gas. Formalin
dipakai produsen pengolahan ikan sebab memiliki sifat antimikroba. Formalin tidak hanya
berbahaya bila dikonsumsi namun juga berbahaya bila kita melakukan kontak dengannya
(melalui udara). Formalin biasa dipakai dokter forensik untuk mengawetkan mayat. Bahaya
formalin pada kesehatan: bersifat karsinogenik. Penelitian pada tikus dan anjing
menandakan memicu kanker saluran cerna. Penelitian lain pada pekerja
tekstil akibat hirupan formalin meningkatkan resiko kanker tenggorokan dan hidung.
Formalin mampu mengaktivasi protein dengan cara mengkondensasi dengan asam amino
bebas dalam protein menjadi campuran lain yang memicu protein mengeras dan
terkoagulasi , Formaldehid bersifat racun dan berbahaya bagi tubuh
kita . bila kandungan didalam tubuh tinggi makan akan bereaksi secara kimia dengan
hampir semua zat di dalam sel sehingga menekan fungsi sel dan memicu kematian sel.
Efek yang langung tersa yaitu iritasi lambung, alergi, diare, kencing berdarah dan kematian
akibat kegagalan aliran darah.
Formaldehid sering dipakai sebagai bahan pengawet dalam produk pangan. Bahan
pengawet yaitu bahan tambahan pangan yang mencegah atau menghambat proses
fermentasi, pengasaman atau penguraian lain pada makanan yang dipicu oleh
mikroba. Bahan tambahan ini biasanya ditambahkan ke dalam makanan yang mudah rusak
atau bahan pangan yang disukai sebagai media tumbuhnya bakteri atau jamur contoh nya pada
produk daging, perikanan dan buah. Definisi lain bahan pengawet yaitu senyawa yang
dapat menghambat, menahan atau menghentikan dan memberi perlindungan bahan
pangan dari proses pembusukan ,
Penyimpangan pemakaiannya akan membahayan konsumen. pemakaian
bahan pengawet juga harus tepat jenis dan dosisnya. Formalin dilarang pemakaiannya
Formaldehid yaitu bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan kita . bila
kandungannya dalam tubuh tinggi akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di
dalam sel sehingga menekan fungsi sel dan memicu kematian sel dan lalu
memicu keracunan pada tubuh. juga juga memicu iritasu lambung.
Alergi, bersifat karsinogenik dan mutagen. bila formalin menguap di udara akan memicu
nafas sesak. Pemaparan pada kulit memicu kulit mengeras, memicu kontak
dermatitis dan reaksi sensitifitas. bila terkena organ reproduksi wanita makan akan
memicu gangguan menstruasi, toksemia, dan anemia pada kehamilan, peningkatan
aborsi spontan dan penurunan berat badan pada bayi yang baru lahir. Uap formalin akan
memicu iritasi organ mukosa hidung dan tenggorokan ,
Boraks sering dipakai sebagai pengawet. Selain sebagai pengawet, boraks bisa
berfungsi sebagai pengenyal makanan. Contoh makanan yang sering ditambahkan boraks,
bakso, mie, kerupuk. Bahaya boraks bagi kesehatan: iritasi pada kulit, mata atau saluran
pencernaan, gangguan kesuburan dan janin, dan gagal ginjal.
Asam salisilat dipakai agar sayuran dan buah-buahan tetap segar; Asam salisilat
bukanlah pestisida, melainkan sejenis antiseptik yang salah satu fungsinya untuk memperpanjang daya keawetan. Biasanya sayuran yang disemprot asam salisilat akan
berpenampilan mulus dan tak ada lubang bekas hama.
A. Metode analisa
1. Identifikasi dan Penetapan Kadar Formalin dalam specimen
a... Bahan dan Alat
1)Asam fosfat (H3PO4)
2)Asam kromatropat jenuh dalam asam sulfat (dibuat segar)
3) Kertas lakmus
4)Alat destilasi
5)tabung reaksi
6)Gelas ukur
7)Neraca
8)Water bath
b... Cara Kerja
1) Timbang lebih kurang 20 g specimen (mie basah atau tahu) yang sudah dihaluskan,
tambahkan lebih kurang 100 ml aquades
2) Masukkan ke dalam labu destilasi, asamkan dengan asam fosfat, sesudah asam
lebihkan 1 mL.
3) Hubungkan labu dengan alat destilasi, perlahan lahan deslitasi specimen dan
tampung destilat sampai diperoleh lebih kurang 10 mL
4) Masukkan 2 mL larutan asam kromatropat ke dalam tabung reaksi, tambahkan 1
mL destilat. Campurkan
5) Panaskan dalam penangas air mendidih selama 15 menit.
c... Pengamatan
Adanya formalin ditunjukkan oleh muncul nya warna ungu pada larutan
d... dokumentasi
Untuk penetapan kadar perlakuan penimbangan dan penambahan pereaksi
dilakukan secara kuantitatif. Warna ungu yang terjadi diukur absorbannya pada
panjang gelombang maksimum.
2. Identifikasi Senyawa Borax dalam Baso
a... Bahan dan Alat
1) Kertas kurkumin
2) Kalsium oksida (CaO)
3) Asam klorida (HCl) encer
4) Natrium hidroksida (NH4OH) encer atau NH4OH pekat
5) Cawan pijar
6) Oven Pengabuan (Furnace...
b... Cara Kerja
1) Timbang 5 – 10 g specimen (baso) yang sudah dihaluskan
2) Tambahkan suspensi kalsium oksida sampai alkalis, lalu diuapkan sampai
kering sambil diaduk.
3) Pijarkan residu pada pemanasan yang rendah sampai bebas zat organik
4) Dinginkan, lalu encerkan dengan 15 mL air
5) Asamkan dengan HCl
6) Teteskan larutan ke kertas kurkumin dan keringkan pada suhu kamar. Adanya
boraks ditunjukkan oleh muncul nya warna merah pada kertas kurkumin
7) Teteskan larutan NH4OH encer atau kenakan dengan uap NH4OH, warna kertas
kurkumin menjadi warna hijau biru gelap
3. Identifikasi Asam Salisilat dalam Saus Tomat
a... Bahan dan Alat
1) Eter
2) Larutan FeCl3 6,5%
3) Corong pisah 100 mL
4) Gelas ukur 25 mL
b... Cara Kerja
1) Masukkan 10 – 50 mL specimen (saus tomat) kedalam corong pisah, tambahkan 5
mL HCl (1:3), lalu diekstraksi memakai 25 mL eter
2) Bila terbentuk emulsi tambahkan 10 –15 mL petroleum eter
3) Biarkan sampai kedua lapisan memisah
4) Tampung lapisan eter
5) Cuci lapisan eter dengan 2 x 5 mL air, pisahkan dari fase air.
6) Uapkan eter pada suhu kamar
7) Tambahkan 1 tetes larutan FeCl 3 6,5 % pada sisa eter (residu)
Pengamatan : Adanya asam salisilat ditunjukkan oleh muncul nya warna ungu violet
Rumus kimia Parasetamol yaitu C8H9NO2 dengan nama kimia berdasar IUPAC
(International Union of Pure and Applied Chemistry) yaitu N-(4-Hydroxyphenyl) acetamide
dengan sinonim Acetaminophen; N-acetyl-p-aminophenol (APAP), dengan nama dagang
Panadol,.
Parasetamol yaitu analgesik antipiretik ringan dengan sedikit sifat anti-inflamasi dan
tidak berpengaruh pada agregasi trombosit. Tidak ada efek iritan pada mukosa lambung dan
dapat dipakai dengan aman dan efektif pada kebanyakan personal yang tidak toleran
pada aspirin. Ini yaitu analgesik dan antipiretik standar pada anak-anak sebab , tidak
seperti aspirin, dan dapat diformulasikan dalam bentuk supensi yang stabil. Dosis dewasa yang
biasa yaitu 0,5-1 g yang diulang pada interval empat sampai enam jam bila diperlukan ,
Cedera pada hati sesudah konsumsi acetaminophen yaitu pemicu paling umum
morbiditas dan kematian serius, walaupun sistem organ selain hati juga mungkin akan
terpengaruh. Pencegahan cedera hati memerlukan diagnosa dan pengobatan dini.
Pengalaman klinis yang ekstensif sudah menandakan bahwa terjadinya hepatotoksisitas dapat
diprediksi dan kejadiannya dicegah dengan pemberian N-acetylcysteine (NAc... yang tepat
waktu ,.
B. MEKANISME AKSI TERAPETIK
Mekanisme terapi Parasetamol yaitu menghambat biosintesis prostaglandin dalam
beberapa keadaan (contoh nya demam), namun tidak pada keadaan yang lain ,
Parasetamol dijadikan pengobatan lini pertama untuk nyeri dan pireksia,
mekanismenya dengan menghambat produksi prostaglandin siklooksigenase (COX) parasetamol sudah ditujukan untuk tidak mengurangi peradangan jaringan (Sharma,2013). Parasetamol termasuk golongan obat anti-peradangan non steroid (non steroid anti
inflamarory drugs=NSAId... .
C. Efek samping
Efek toksik parasetamol yang paling perlu yaitu nekrosis hati yang memicu
gagal hati sesudah overdosis, namun gagal ginjal sebab tidak adanya gagal hati juga sudah
dilaporkan sesudah overdosis. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa parasetamol
memicu penyakit hati kronis bila dipakai secara teratur dalam dosis terapeutik (4
g atau 24 jam). Parasetamol secara struktural terkait erat dengan phenacetin (sekarang ditarik
sebab hubungannya dengan nefropati analgesik) yang memicu pertanyaan apakah
pelepasan parasetamol jangka panjang juga memicu nefropati analgesik, sebuah
masalah yang belum terselesaikan ,
Parasetamol cepat dimetabolisme di hati. Konjugat sulfat dan glikoida utama (yang
mengandung sekitar 95% dosis parasetamol) diekskresikan dalam urin. saat parasetamol
dikonsumsi overdosis, kapasitas mekanisme konjugasi terlampaui dan metabolit toksik, Nasetil benzoinquinimin (NABQI), terbentuk melalui metabolisme melalui enzim sitokrom P450
(CYP450) ,
D. Toksokinetika
1. penyerapan
Penyerapan parasetamol terjadi dengan cepat di duodenum, sebab senyawanya
sebagai asam lemah. bila pasien mengkonsumsi bersama makanan, mungkin ada penundaan pada saat itu, namun tidak mengganggu penyerapan obat. Sama seperti
konsumsi makanan bersamaan yang memicu penundaan waktu dalam
penyerapan parasetamol, pasien dengan penyakit hati kronis berisiko mengalami
masa paruh obat serum yang berkepanjangan (dengan rata-rata 2,0 sampai 2,5 jam,
dan lebih dari 4 jam), terutama bila mengkonsumsi formulasi parasetamol extendedrelease. sedang overdosis parasetamol menghasilkan konsentrasi serum puncak
(10 - 20 mg atau mL) dalam 4 jam. Pasien yang minum obat sesuai dosis akan mencapai
konsentrasi puncak dalam 1,5 jam, dengan waktu paruh 1,5 - 3 jam ,.
Penyerapan parasetamol sesudah pemberian oral meningkat dengan
metoklopramid, dan ada hubungan yang menonjol antara pengosongan lambung dan
penyerapan ,Sebagian besar bentuk acetaminophen cepat diserap
sesudah konsumsi. Dalam sebuah penelitian, 97 persen suplemen eletir
supratherapeutik 5 jam diserap sesudah 2 jam. Tingkat puncak terjadi pada 30 sampai
60 menit sesudah dosis terapeutik dari tablet yang tidak bersalut. Sediaan
acetaminophen lepas lambat (extended-release... yang lebih baru memiliki pola
penyerapan farmakokinetik yang mirip dengan formulasi pelepasan reguler, dengan
tingkat puncaknya kurang dari 4 jam sesudah konsumsi namun dengan penurunan
konsentrasi dan area maksimal di bawah kurva (area under te curve=AUc... ,
2. Data Farmakokinetika
Bioavailabilitas parasetamol antara 70-90%, Waktu paruh plasma sesudah dosis
terapeutik, lebih kurang 1-3 jam pada pasien dewasa, lebih kurang 5 jam di neonatus;
plasma lebih besar dari 4 jam pada pasien dewasa menandakan mungkin
kerusakan hati , Parasetamol disebarkan ke
sebagian besar cairan tubuh dan ada dalam air liur pada konsentrasi yang paralel
dengan plasma. Parasetamol melintasi plasenta dan ditemukan pada air susu ibu
,. Volume sebaran kurang lebih 0,8-1,0 L atau kg ,
Konsentrasi terapeutik dalam plasma, biasanya di kisaran 10-20 mg atau L.
Konsentrasi plasma bervariasi antar subyek. Konjugat glukuronida dan sulfat
tertimbun pada subyek dengan gangguan fungsi ginjal.
sesudah dosis oral tunggal 1,5 g pada 14 subyek, konsentrasi parasetamol
plasma puncak 7,4-37 mg atau L (rerata, 24) dicapai pada 0,5-3 jam (rata-rata,1.4).sesudah
pemberian 4 dosis dubur parasetamol, 20 mg kg setiap 6 jam, pada 10 neonatus jangka
penuh yang menjalani prosedur yang menyakitkan atau memiliki keadaan yang buruk,
rata-rata konsentrasi serum puncak yaitu 10,79, 15,34 dan 6,24 mg atau L pada
keseluruhan kelompok, anak laki-laki dan perempuan. Waktu rata-rata untuk
mencapai konsentrasi serum puncak yaitu 1,5 jam sesudah dosis pertama dan 15 jam untuk beberapa dosis. Dosis awal 30 mg atau kg diikuti 20 mg atau kg rektal pada interval yang
meningkat dari 6-8 jam diusulkan untuk neonates ,
Dari 24 anak (di atas 25 kg... menjalani operasi elektif dan diberi parasetamol
secara rektal pada dosis 1 atau 40 mg atau kg, kebanyakan anak di kelompok 1 g gagal
mencapai tingkat plasma terapeutik sedang kelompok 40 mg atau kg tercapai (rerata
konsentrasi plasma puncak 7,8 dan 15,9 mg atau L masing-masing mencapai 3,8 dan 2,6
jam. ,
Plasma clearance kurang lebih 5 mL atau menit atau kg. Ikatan protein dalam plasma:
tidak terikat pada konsentrasi <60 mg atau mL. Pada subyek yang keracunan, pengikatan
protein sudah dilaporkan bervariasi antara 8-40%. Dosis maksimal 4 g setiap hari
,
Dosis mematikan minimum yaitu lebih kurang 10 g. Gejala kerusakan hati
tidak terjadi paling sedikit 12 jam sesudah overdosis namun mungkin tidak muncul
sampai 4-6 hari lalu . Konsentrasi plasma sudah dipakai untuk menandakan
mungkin nekrosis hati; pada 4 jam, nekrosis hati dimungkinkan pada konsentrasi
parasetamol 120-300 mg atau L, mungkin pada konsentrasi di atas 300 mg atau L, dan tidak
mungkin pada konsentrasi <120 mg atau L. juga , pada konsentrasi 12 jam,
konsentrasi di atas 120 mg atau L menandakan probabilitas nekrosis, konsentrasi 50-120
mg atau L menandakan bahwa hal itu mungkin, dan konsentrasi di bawah 50 mg atau L
menandakan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi.
Konsentrasi jaringan postmortem berikut dilaporkan dalam 3 kematian: 160,
200 dan 387 mg atau L dalam darah; 180, dan 900 mg atau L dalam empedu; dan 385 mg atau g
dalam hati; 200,dan 475 mg atau L dalam darah hati; dan 180, 620 dan - mg atau L dalam urin
,
3. Metabolisme
Asetaminofen dimetabolisme hampir secara eksklusif di hati. Lebih dari 90
persen secara langsung dikonversi menjadi konjugat nukleoksida dan sulfida nontoksik
dan kurang dari 5 persen diekskresikan tidak berubah dalam urin. Sisanya (sekitar 5
persen) dioksidasi oleh berbagai enzim sitokrom P-450, termasuk P4502E1, P4501A2,
dan P4503A4. Metabolisme melalui enzim ini menghasilkan elektrofil reaktif N-asetilp-benzoquinoneimin (NAPQI) (Gambar 8.9). Dalam kebanyakan keadaan, NAPQI
segera bergabung dengan glutathione untuk membentuk konjugasi mercaptide yang
tidak beracun. Enzim sitokrom P-450 juga ditemukan di ginjal, dan beberapa NAPQI
terbentuk di ginjal ,.
Metabolisme parasetamol terjadi pada mikrosom hati pada tingkat
mikroskopis. Perlu diketahui bahwa tidak semua pasien mengalami nasib yang sama
saat mengkonsumsi parasetamol dan hepatotoksisitas. Ada tiga fase metabolisme
Parasetamol. Sebagian besar (hampir 90%) parasetamol disalurkan ke jalur
metabolisme fase II, di mana konjugasi parasetamol dikatalisis oleh UDP-glucuronosyl
transferases (UGT) dan sulfotransferase (SULT), dengan konversi ke metabolit
terglucouronidasi dan sulfatasi yang dieliminasi dari tubuh dalam urin
beberapa kecil parasetamol yang diukur (labih kurang 2%) diekskresikan
dalam urin tanpa mengalami metabolisme apapun. Seagian lain parasetamol (sekitar
10%) dihalangi oleh sitokrom CYP 2E1 hati (pada tingkat yang lebih rendah dengan CYP
1A2 dan 3A4) ke oksidasi fase I, di mana metabolit toksik yang reaktif, N-acetylpara-benzo-kuinone imine (NAPQI), dibentuk. Tahap III melibatkan transportasi
metabolit dalam bentuk ekskresi empedu yang memerlukan transportasi ter (Yoon, et al.,
2016).
Parasetamol mengalami metabolisme lintas pertama dan dimetabolisme
terutama oleh konjugasi untuk membentuk glukuronida dan ester sulfat; 3-hidroksilasi
juga terjadi diikuti oleh konjugasi atau O-metilasi dari gugus hidroksi. Oksidasi pada
metabolit reaktif sebagai asetilino-p-benzoquinon sedikit banyak terjadi pada dosis
terapeutik namun menjadi lebih menonjol sesudah dosis yang lebih besar, dan
metabolit ini nampaknya bertanggung jawab atas nekrosis hati pada overdosis
paracetamol; biasanya didetoksifikasi oleh konjugasi glutathione untuk membentuk
asam merkapturat dan konjugat sistein namun sesudah sumber glutathione habis,
metabolit bebas tersedia untuk mengikat secara kovalen dengan protein sel hati.
Pengikatan ini terjadi lebih kurang 10-12 jam sesudah pemberian ,
4. Ekskresi
Sekitar 90% dosis terapeutik diekskresikan dalam urin dalam 24 jam; dari
bahan yang diekskresikan, 1-4% tidak berubah, 20-30% dikonjugasi dengan sulfat, 40-
60% dikonjugasi dengan asam glukuronat, 5-10% terdiri dari 3-hidroksi-3-sulfat, 3-
methoxyglucuronide dan metabolit 3-methoxy-3-sulfate, dan lebih kurang 5-10%
terdiri dari asam mercapturat dan konjugat sistein; 3-methylthio-4-hydroxyacetanilide
juga sudah diidentifikasi pada konsentrasi <1%. Jumlah yang lebih besar dari asam
mercapturat dan konjugat sistein diekskresikan pada pasien overdosis ,
E. Toksisitas
Cedera hati akibat obat (drugs induced liver injury=DILI) bukanlah hal yang tidak
biasa. Tingkat kematian sudah terjadi dalam praktik klinis, sebab sebagian besar senyawa,
termasuk ramuan obat dan obat alternatif, dimetabolisme dalam mikrosom hati.
Presentasi klinis yang paling merugikan yaitu kegagalan hati fulminan, di mana pasien
tanpa riwayat penyakit hati dengan ensefalopati hati dan koagulopati sebelum penyakit
kuning. Asetaminofen, juga dinamakan APAP (di Amerika Serikat), parasetamol (di
Eropa dan area lain di dunia... atau N-acetyl-p-aminophenol, yaitu salah satu senyawa
biasa dipakai di seluruh dunia; pemakaiannya sebagai obat antipiretik
atau analgesik sudah dominan sejak tahun 1955, terutama sebab fakta bahwa parasetamol
mudah diperoleh dengan berbagai formulasi sebagai obat bebas. Parasetamol dilaporkan
dikonsumsi secara teratur oleh lebih dari 60 juta pasien Amerika setiap minggu,
menjadikannya obat analgesik dan antipiretik yang paling banyak dipakai di Amerika
Serikat. Diiklankan dengan aman dalam dosis sampai 4000 mg setiap 24 jam oleh Food and
Drug Administration (FDa... Amerika Serikat, konsumsi pada dosis ini tidak
menghasilkan efek toksik. Parasetamol yang berdiri sendiri bukanlah satu-satunya
formulasi obat yang harus dicurigai dengan toksisitas parasetamol potensi . Dengan
demikian, mungkin sulit untuk mengenali toksisitas parasetamol, sebagian sebab
sediaannya dalam berbagai formulasi, seperti tablet, cairan, supositoria rektum dan cairan
intravena, dan juga suplemen kombinasi yang dijual sebagai over-the-counter dan
analgesic dengan resep dokter. masalah yang dilaporkan dari hepatotoksisitas akibat APAP
pertama kali muncul di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1980an, dan sejak itu
menandakan adanya kejadian yang meningkat. sudah dilaporkan bahwa ini yaitu salah
satu produk farmasi biasa memicu cedera hati akibat obat (DILI) ,
Mortalitas sudah dilaporkan mendekati 0,4% pada pasien overdosis, yang
tunjukkankan dengan terjadinya 300 kematian setiap tahun di Amerika Serikat.1 walau
dosis yang memicu kegagalan hati biasanya lebih dari 150 mg atau kg, semakin banyak
laporan muncul yang menandakan bahwa dosis lebih rendah APAP memicu
cedera dan gagal hati hati akut. Fenomena dinamakan "terapeutik mislvenure", yang
diciptakan oleh Zimmerman dkk., semakin diakui, sebab beberapa pasien sudah
mengalami gagal hati akut walaupun konsumsi dosis parasetamol yang "aman". Beberapa
dari pasien ini mungkin memiliki beberapa faktor risiko khusus , seperti keadaan
metabolisme parasetamol pada tingkat mitokondria dan molekuler, yang saat ini sedang
diselidiki dengan harapan dapat menjelaskan perannya lebih lanjut pada keadaan yang
mengancam jiwa ini ,.
Parasetamol yaitu salah satu analgesik biasa dipakai di Amerika
Serikat dan dilaporkan yaitu pemicu paling umum kegagalan hati akut di Amerika
Serikat.2,3,5 Di Amerika Serikat, sekitar 30 pasien dirawat di rumah sakit setiap tahun
untuk perawatan hepatotoksisitas akibat parasetamol. walau tampaknya ada rasio
genap yang mendekati dosis APAP secara sadar dan tidak sadar (52% banding 48%), kedua
kelompok rentan pada kegagalan hati dan menghasilkan rujukan untuk transplantasi
hati. walau sebagian besar pasien mengalami reaksi merugikan ringan, seperti
hepatitis, kolestasis atau peningkatan enzim hati asimtomatik, hepatotoksisitas
parasetamol diperkirakan mencapai sekitar 48% diagnosa gagal hati akut.
juga , penelitian sudah menandakan bahwa 29% pasien dengan gagal hati akut
sekunder akibat toksisitas parasetamol menjalani transplantasi hati, dan bahwa masalah ini
memiliki tingkat kematian 28% ,.
Munculnya analgesik kombinasi parasetamol dan opioid dan peredaran narkotika
yang diresepkan oleh praktisi medis, sebagian besar pasien berada dalam bahaya sebab
mereka memiliki risiko hepatotoksisitas parasetamol yang menonjol . Kurang dari satu
dekade yang lalu, pada tahun 2010, lebih dari 130 juta resep untuk parasetamol dan
hidrocodone diresepkan di Amerika Serikat.3 Dilaporkan, 63% overdosis APAP yang tidak
disengaja terjadi dengan pemakaian kombinasi opioid- parasetamol, dengan tambahan
17 % pasien dewasa menderita cedera hati.5,6 Untungnya, FDA Amerika Serikat sudah
mengakui bahaya kombinasi resep parasetamol dan analgesik narkotika sehingga pada 14
Januari 2014, menetapkan jumlah parasetamol yang disetujui per unit dosis kombinasi
analgesik tablet dalam praktik. riset epidemiologi menandakan bahwa ada kekurangan
pengetahuan tentang potensi berbahaya parasetamol. ini tidak biasa bagi pasien untuk
mengacaukan obat anti-inflamasi non-steroid (NSAId... , seperti naproxen atau ibuprofen,
dengan parasetamol. Sambil menyediakan pendidikan pengetahuan kesehatan untuk
mengajarkan pembedaan parasetamol dan NSAID perlu, ada beberapa yang
berpendapat bahwa hal itu mungkin lebih bermanfaat untuk mengurangi mungkin
parasetamol yang tidak tepat sebab konsumsi dengan mengurangi ukuran kemasan
sediaan parasetamol, yang berdasar mereka dapat mengurangi kejadian dan tingkat
keparahannya. dari hepatotoksisitas parasetamol ,
Toksisitas hepatotoksik APAP terjadi melalui pembentukan metabolit NAPQI yang
berbahaya, yang ada dalam jumlah yang berlebihan, seperti yang diperkuat oleh
gambaran terjadinya deplesi glutathione (GSH), oksidatif stres dan disfungsi mitokondria
yang memicu penurunan persediaan adenosin trifosfat (ATP). Ada bukti untuk
mendukung teori bahwa aktivasi metabolik parasetamol menghasilkan NAPQI yang
mengikat beberapa protein seluler, terutama protein mitokondria. Peranan protein
mitokondria, terutama dalam pengaturan penipisan GSH, perlu sebab pengikatan
protein mitokondria menghabiskan fungsi antioxidant alami dan juga mengubah subunit
ATP-synthase mitokondria, yang memicu produksi ATP yang tidak efektif ,
Mekanisme lain dari hepatotoksisitas termasuk pembentukan radikal bebas
beracun, seperti peroksinitrit, dari reaksi superoksida dan oksida nitrat, yang lalu membentuk produk nitrotyrosin di dalam mitokondria. Penambahan GSH tidak hanya
memberi kelebihan sistein sebagai substrat energi untuk Krebs Siklus, juga berperan
perlu dalam pembilasan untuk radikal bebas dan peroksinitrit. Mitokondria, yang
perlu untuk respirasi dan metabolisme sel, mengalami kerusakan pada DNA
mitokondria mereka sendiri oleh aksi spesies oksigen reaktif dan senyawa
peroksinitrit, dan mereka sudah terlibat langsung dalam proses yang memicu
penghentian sintesis ATP ,.
Banyak penelitian biokimia sudah dilakukan dalam model murine. Namun, saat sel
induk HepaRG yang diturunkan dari hepatosit kita dikenai parasetamol, mekanisme
hepatotoksisitas yang sama ditunjukkan dimulai dengan deplesi GSH dan bergerak melalui
pembentukan adduct protein, pembentukan superoksida peroksinitrit dan penyerapan
besi lisosom menjadi mitokondria. Stress oksidatif dan adanya penyerapan besi lisosomal
ke dalam mitokondria memicu disfungsi membran mitokondria melalui gangguan
transisi pori, permeabilitas membran mitokondria, yang memicu nekrosis sel.
Pembengkakan organ memicu nekrosis seluler dan pelepasan isi mitokondria,
seperti faktor pendorong apoptosis (apoptosis inducing factor=AIf... dan endonuklease G
(Endog... , yang lalu bermigrasi ke nukleus dan memicu fragmentasi DNA.
Pembengkakan seluler, karyolisis, kariyorheksis, vakuolisasi, pembengkakan dan
pelepasan kandungan seluler (alanine aminotransferase, ALT) yaitu proses kunci nekrosis
hepatosit dan kematian terkait pada kita , seperti yang ditunjukkan oleh bukti
biokimia tentang peningkatan yang berat aminotransferase, terutama ALT ,
Dalam pemakaian parasetamol yang tidak toksik, pengolahan NAPQI terjadi
dengan konjugasi cepat oleh GSH hati untuk membentuk senyawa mercaptate dan sistein
yang tidak beracun yang diekskresikan dalam urin.8 Tubuh memerlukan keseimbangan
antara produksi dan detoksifikasi atau pengangkutan spesies reaktif dan produk protein
yang berbahaya, dan saat pertahanan ini diliputi oleh dosis parasetamol yang bersifat
hepatotoksik, jalur glukoronisasi dan sulfonasi menjadi jenuh, mendorong sebagian besar
APAP dimetabolisme ke NAPQI oleh jalur CYP 2E1 dan memicu penipisan GSH dan
peningkatan NAPQI ,
Myeloperoxidase dan cyclooxygenase-1 yaitu enzim yang juga berfungsi dalam
pengolahan NAPQI menjadi metabolit yang tidak reaktif. juga , hepatosit memiliki
kemampuan untuk menginduksi pertahanan kekebalan bawaan dan adaptif untuk
meredam tanggapan inflamasi selama nekrosis. sudah disarankan bahwa mungkin peran
sistem kekebalan bawaan, yang dimediasi oleh sel pembunuh alami (natural killer=NK) dan
pembunuh alami T sel (natural killer T cell=NKT) yang melimpah di hepatosit,
memicu pelepasan sitokin dan kemokin yang meningkatkan sitotoksisitas
hepatoselular. Spesies molekuler terkait kerusakan (DAMP) dilepaskan ke dalam sirkulasi, seperti fragmen inti dan DNA mitokondria (mtDNA ), tampaknya perekrutan sel-sel
inflamasi melalui sistem kekebalan bawaan yaitu usaha hati untuk menghilangkan sisasisa sel nekrotik dan mendorong fase pemulihan hati ,.
Kematian sel yang dipicu oleh APAP memicu perubahan karakteristik
nekrosis. Hepatotoksisitas APAP terletak terutama dengan senyawa NAPQI yang
toksik dan reaktif, yang membentuk ikatan kovalen dengan kelompok sulfhidril pada
molekul sistein dan lisin di dalam mitokondria hepatosit dan yang secara spontan bereaksi
dengan GSH dan mengikat protein hati ,. Protein adduct terbentuk,
khususnya protein pengganti mitokondria, memicu cedera oksidatif dan nekrosis
hepatoselular. Pengurangan GSH sekitar 70% sudah diusulkan sebagai ambang batas untuk
pengikatan protein terjadi; Namun, teori ini sudah dipertanyakan sebab aditif protein
APAP sudah terdeteksi pada 1 jam sesudah pengobatan APAP, suatu waktu yang
mendahului penipisan GSH ,. Namun perlu untuk diketahui bahwa
hubungan terbalik yang jelas sudah ditunjukkan antara konsentrasi GSH dan aktivitas
pengaktifan metabolik APAP ,. Temuan dari penelitian terkini tentang
hepatotoksisitas APAP tampaknya mendukung mekanisme cedera toksik yang terkait
dengan retikula endoplasma mitokondria yang memicu cedera hepatosit dan
nekrosis ,.
F. Gejala Klinis
1. Akut
Pengenalan dini overdosis acetaminophen akut perlu, sebab
prognosisnya paling baik bila pengobatan antidotal dimulai dalam 8 jam sesudah overdosis.
Tanda-tanda awal toksisitas mungkin termasuk malaise, mual, dan muntah, dengan sedikit
temuan pada pemeriksaan fisik. banyak warga dengan tingkat asetaminofen yang toksik
dan potensi hepatotoksisitas yang menonjol mulanya asimtomatik sesudah konsumsi
akut (tahap I pada Tabel ). Tanda-tanda cedera hati, seperti sakit perut, muntah terusmenerus, icterus, dan nyeri tekan kuadran kanan atas, hanya menjadi jelas 24 sampai 48
jam sesudah konsumsi akut (tahap II). Transaminase serum mulai meningkat sejak 16 jam
sesudah konsumsi yang menonjol dan selalu meningkat pada saat tanda klinis
hepatotoksisitas mulanya bermanifestasi ,
Cedera ginjal dapat terjadi, bahkan pada masalah di mana hepatotoksisitas ringan.
[12] [44] [49] ini dipicu oleh luka lokal dengan produksi in situ NAPQI dalam enzim
tubular P-450 ginjal. Gagal ginjal akut juga terjadi pada masalah gagal hati akut akut akibat
cedera hati (hepatorenal syndrome... . Menentukan ekskresi fraksional natrium (FeNa...
dapat membantu dalam membedakan cedera ginjal primer (FeNa> 1) dari sindrom
hepatorenal (FeNa <1) ,.
2. Hepatotoksisitas Terkait dengan Tertelan Kronis Asetaminofen
Pasien yang mengalami cedera hati sesudah dosis acetaminophen berlebih,
sering untuk rasa sakit kronis, atau overdosis formulasi pediatri yang tidak disengaja,
paling sering terjadi ke bagian gawat darurat dengan manifestasi cedera hati akut, dan
bukan riwayat overdosis asetaminofen ,.
3. Evaluasi sesudah overdosis berulang
Pasien dengan overdosis APAP yang tidak disengaja biasanya sering menelan APAP
selama beberapa hari sebagai terapi analgesik atau anti-piretik. Gejala hepatotoksisitas
mungkin sudah dimulai sejak awal pemakaian. Ikterus, nyeri kuadran kanan atas, mual,
muntah, hepatomegali dan ensefalopati mengindikasikan tingginya tingkat konsumsi
APAP, dan bila gejala ini teramati, tingkat APAP pasien harus diperiksa. Pengobatan
dengan NAC akan sesuai untuk menemukan tingkat APAP> 20 mg atau mL, dengan atau tanpa
elevasi ALT. NAC juga harus diberikan bila pasien memakai parasetamol yang
berlebihan dengan aktivitas ALT yang meningkat, walau kadar parasetamol serum
tidak terdeteksi. NAC tampaknya tidak bermanfaat bila kadar parasetamol tidak
terdeteksi, pasien tidak menandakan gejala, atau tingkat ALT normal
analisa Laboratorium Keracunan Parasetamol
1. Penilaian Cedera Hati
sesudah pemakaian parasetamol, diperlukan penelitian laboratorium tambahan
untuk memperoleh parameter klinis perlu lainnya, termasuk gas darah arteri (untuk
mengetahui status pH darah), profil koagulasi, panel metabolik dasar, tes fungsi hati, dan
screening obat dalam urin ,
Indikator laboratorium cedera hati harus diukur mulanya dan setiap hari
selama terapi pada pasien dengan konsentrasi acetaminophen serum di atas garis
nomogram pengobatan. Dengan kegagalan hati yang progresif, pengujian harus dilakukan
setiap 12 jam. Sebagian besar pasien yang meneliti toksisitas hati memiliki
tingkat AST yang meningkat dalam waktu 24 jam sesudah menelan, dan dalam satu seri
kecil, semua masalah melaporkan peningkatan AST dalam waktu 36 jam. Aktivitas AST normal
pada 36 jam sesudah konsumsi asetaminofen cukup untuk menghilangkan mungkin
toksisitas hati ,.
Bila terjadi cedera hati sesudah konsumsi acetaminophen, diperlukan pengujian
diagnostik tambahan untuk memandu pengobatan dan menilai prognosis. Cedera hati
parah dikaitkan dengan gangguan hepatosit yang luas, penurunan kapasitas untuk
mensintesis faktor koagulasi, penurunan glikogen dan homeostasis glukosa yang berubah,
dan penurunan sintesis dan ekskresi bilirubin. Dalam beberapa masalah , gagal ginjal
berkembang. Tingkat toksisitas dapat dinilai dengan penentuan waktu protrombin
(Protrombin time=PT), INR, pH arteri, dan kreatinin serum. Pasien dengan INR lebih dari 2
pada 24 jam, 4 pada 48 jam, atau 6 pada 72 jam cenderung meneliti fulminant
hepatic failue(FHf... . Asidosis metabolik yang persisten meski terjadi penurunan volume
intravaskular juga mengindikasikan prognosis buruk. Ini harus dibedakan dari asidosis
laktik, terjadi pada awal overdosis dan tanpa bukti FHF, yang dipicu oleh efek
langsung asetaminofen pada pengambilan asam laktat hati dan oksidasi. Tingkat
transaminase tidak memprediksi jalur klinis. Mereka mungkin mengalami penurunan
selama pemulihan hati atau dengan FHF progresif. Selama pemulihan, biasanya terjadi
penurunan transaminase serum, terjadi sebelum penurunan bilirubin serum. Insufisiensi
ginjal akut juga terjadi dan mengindikasikan prognosis yang lebih buruk saat kreatinin
serum lebih besar dari 300 mmol atau L (3,4 mg atau dL) yang berasosiasi dengan waktu protrombin
(PT) lebih besar dari 100 detik dan ensefalopati hati grade III atau grade IV ,.
2. Darah
a. Kolom GC: HP-5 (25 m 0,25 mm i.d., 0,33 mm). Suhu programme: 100 untuk 1 menit sampai 300 pada 10 atau menit selama 14 menit.
FID.
b. Kolom GC-MS: SGE BPX5 (12 m 0,15 mm i.d., 0,44 mm). Program suhu: 80 selama 1
menit sampai 300 pada 20 atau menit.
c. Kolom HPLC: LC8 Nova-Pak (150 mm). Fase gerak: asetonitril: 0,005 mol atau L buffer
fosfat (pH 6.0, 1: 9).
d. Kolom: Hipersil C18 (75 4,6 mm i.d., 3 mm). Fase mobile: 20 mmol atau L ammonium
formate buffer (pH 3.5): metanol (96: 4 selama 5 menit sampai 46: 54 pada 15 menit
sampai 10: 90 pada 16 menit selama 2 menit sampai 96: 4 pada 19 menit selama 5
menit), aliran tingkat 0,8 mL atau menit sampai 15 menit bila 1,0 mL atau menit sampai 19
menit sampai 0,8 mL atau menit. Deteksi UV (l¼ 254 nm).Batasan deteksi, 600 pg.
e. Kolom: LC-8DB (150 4,6 mm i.d., 5 mm). Fase gerak: asetonitril: metanol: 0,1 mol atau L
kalium dihidrogen fosfat: air (20: 10: 5: 65), laju alir 1,1 mL atau menit. Deteksi UV (l¼ 245
nm).
f. Kolom: ODS-Hypersil (200 2,1 mm i.d., 5 mm). Fase gerak: buffer fosfat 2 mmol atau L:
asetonitril (95: 5 sampai 50: 50 di atas 20 menit selama 10 menit, sampai 95: 5 di atas
1 menit), laju alir 0,4 mL atau menit. DAD (l¼ 210 nm).
g. Kolom: Apex ODS II (150 0,005 mm, 0,5 mm). Fase gerak: air: asetonitril: asam asetat
glasial (425: 50: 25).
h. Kolom: Ultrasphere ODS (150 4,6 mm i.d.).
Fase gerak: asetonitril: 0,01 mol atau L asam fosfat (7: 93), laju alir 1,0 mL atau menit. Deteksi
elektrokimia. Batas deteksi, 0,1 mg atau L.
3. Plasma:
a. GC-Kolom Chromosorb W HP 100 atau 120 mesh (1,5 m 4 mm i.d.).
Gas pembawa: N2, 40 mL atau menit. Suhu: 235. FID. Batas deteksi, 10 mg atau L
b. Kolom: 3% SP2100 pada Supelsoport 100 atau 120 mesh (1,5 m 4 mm i.d.).
Gas pembawa: N2, 50 mL atau menit. Suhu: 300. ECD. Batas kuantifikasi, 5 mg atau L
Kolom: 3% SP 2250 pada kromosom mesh 80 atau 100 W, AW atau DMCS (2 m 2 mm i.d.). FID.
Batasan deteksi,> 0,1 mg.
4. Susu HPLC Lihat Cairan Oral.
5. Cairan Oral:
a. Kolom HPLC : TSkgel ODS-80Tm (250 4,6 mm i.d., 5 mm).
1) Fase gerak: metanol, laju alir 1,0 mL atau menit. Deteksi fluoresensi (lem¼ 560 nm,
lex¼ 540 nm). Batas deteksi, 0,1 mg atau L
2) Fase gerak: air: asetonitril: TEH (94: 6: 0.5), laju alir 1 mL atau menit. Batas deteksi, 0,3
mg atau L
b. Kolom: Bondapak C18. Fase gerak: 0,05 mol atau L natrium asetat (pH 4.0):
asetonitril (93: 10), laju alir 2,0 mL atau menit. Waktu retensi: 3-5 menit. Batas
deteksi,0,5 mg atau L
6. Isi Perut - GC-MS: Lihat Darah ,
7. Vitreous Humor- HPLC: Lihat Darah ,
8. Otak - HPLC :Lihat Darah ,
9. Rambut - Kolom HPLC: Simetri C8 (250 4,6 mm i.d., 5 mm).
a. Kolom: CP SIL8 CB (25 m 0,25 mm i.d., 0,25 mm).
b. Gas pembawa: Helium, 1,3 mL atau menit.
c. Program suhu: 50 selama 2 menit sampai 310 jam 15 menit untuk 4.67 min.
d. Fase gerak: asetonitril: buffer fosfat (pH 3.8).
e. Deteksi: UV
10. Ginjal - HPLC Lihat Darah ,
a. Kolom: Apex (3 mm).
b. Fase gerak: air suling: asetonitril (86: 14).
c. Deteksi UV ( 254 nm).
d. Batas deteksi, 50 mg atau L.
11. Hati GC-MS Lihat Darah ,HPLC Lihat Darah
12. Otot HPLC Lihat Darah
H. Uji Skrining : Parasetamol pada serbuk atau tablet, urin, darah, plasma ,
17. Metode Liebermann
f. Prinsip
Parasetamol sesudah diekstraksi dengan eter pada pH 3-4 (HCl 2 N) bereaksi dengan
NaNO2 dalam suasana H2SO4 pekat membentuk senyawa berwarna ungu.
g. Alat
Tabung reaksi, Sentrifuse, Waterbath, Pipet tetes, Pipet ukur
h. Reagen
HCl 2N, Eter, Pereaksi Liebermann (1 gram NaNO2 dalam 10 ml H2SO4 pekat)
i. Cara Kerja
2) Kedalam tabung reaksi dimasukkan urin sebanyak 2 ml lalu
ditambahkan HCl 2 N sampai pH 3-4
3) Ekstraksi dengan 5 ml eter selama 15 menit
4) Keringkan ekstrak di waterbath
5) Residu yang diperoleh ditambahkan 1 tetes pereaksi Liebermann
j. Pembacaan Hasil
bila terbentuk Ungu, diduga specimen mengandung Parasetamol,
sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut (konfirmasi test)
18. Metode Alphanaftol
f. Prinsip
Parasetamol diasamkan dengan HCl 10%, bereaksi dengan NaNO2 dalam suasan
alkalis dengan penambahan alphanapathol membentuk senyawa berwarna merah
g. Alat : Tabung reaksi, Pipet tetes, Pipet ukur
h. Reagen
1..HCl 10%
2.. Natrium Nitrit 1%
3.. Pereaksi Alphanapthol (Alphanapthol 1% dalam NaOH 10%)
i. Cara Kerja
1..Kedalam tabung reaksi dimasukka urin sebanyak 1 ml kemudia ditambahkan
HCl 10% dinginkan
2.. Tambahkan 2-3 tetes larutan Natrium Nitrit 1%
3.. Tambahkan 2-3 tetes Alphanapthol 1% dalam NaOH 10% (dibuat baru)
j. Pembacaan Hasil
19. Metode O-Cressol
f. Prinsip
Parasetamol dan metabolitnya dihidrolisa dalam suasana asam menjadi P
Aminophenol, dengan asam cresol membentuk senyawa berwarna biru terang
g. Alat : pipet, tabung reaksi
h. Reagen
dipakai semua reagen proanalisa
1..Pereaksi O-Cressol
Jenuhkan pereaksi O-Cressol
Kocok 10 ml O-Cressol dengan 1 aquadest, biarkan selama 24 jam sebelum
dipakai
2.. Ammonium Hidroksida 2 mol atau l (2M)
3.. HCl 36%
4.. Standar urin
dipakai urin specimen pasien yang sudah mengkonsumsi Parasetamol 1
gram dalam waktu 24 jam
bila terbentuk warna merah, diduga specimen mengandung
Parasetamol, sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut (konfirmasi test)
i. Cara Kerja
1..Pipet 0,5 ml specimen (test urin, standar urin dan aquadest sebagai blanko)
masing-masing tambahkan 0,5 ml HCL 36% lalu panaskan diatas
waterbath selama 10menit pada suhu 100oC
2.. Ke dalam campuran diatas tambahkan 10 ml air, 1 ml O-Cressol 1% dalam air
dan 4 ml Ammonium Hidroksida 2 mol atau l (2M)
3.. Perhatikan warna yang terbentuk
j. Pembacaan Hasil
I. Identifikasi Parasetamol (bahan kimia obat = BKO) pada Jamu metode KLT
a. Alat dan Bahan
1) TLC plate
2) Chamber kromatografi
3) Pipet mikrokapiler
4) Lampu UV
5) Labu ukur 10 ml
6) Gelas kimia 50 ml
b. Reagensia
1) 1,2 dichloroetan
2) Etanol 95%
3) Aceton
4) Etil acetate
5) Asam acetate glassial
6) Heksana
c. Cara Kerja
1) Sebanyak 1,5 gram specimen jamu dimasukkan ke dalam gelas kimia diekstraksi dengan
methanol atau aceton beberapa menit.
2) Saring memakai kertas Whatman no. 1 masukkan filtrat ke dalam labu ukur 10
ml.
3) Ulangi ekstraksi (no 2 dan 3).
4) Tambahkan etanol sampai volume 10 ml.
5) Lakukan kromatografi engan keadaan sebagai berikut :
Fase diam : silica gel GF 254
Fase gerak : 1. Asam asetat glassial dan 1,2 dichloroetan (1 : 12)
bila terbentuk warna biru, diduga specimen mengandung Parasetamol,
sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut (konfirmasi test)
2. 1,2 dichloroetan : aceton : etanol : heksana (5 1:1:2 )
3. Etil acetat dan asam asetat glassial (25 : 1)
Penjenuhan : kertas saring
Jarak rambat : 12-15 cm
Penampak bercak : UV 254 atau 366 nm
Petunjuk jawaban latihan:
Pelajari kembali materi berikut ini agar saudara dapat mengerjakan soal latihan dengan baik.
1. Farmakokinetika parasetamol
2. Toksisitas parasetamol
3. analisa laboratorium parasetamol
estisida yaitu senyawa kimia yang banyak dipakai dengan tujuan untuk
membunuh hama atau mengendalikan hama yang mungkin yaitu serangga,
tikus, jamur, nematoda, tungau, kutu, moluska, dan gulma atau tumbuhan yang tidak
diharapkan . Pestisida termasuk bahan yang relatif toksik sehingga sering terjadi masalah
keracunan baik tidak sengaja maupun sengaja. maka diperlukan pemeriksaan untuk
membantu menegakkan diagnose pemicu keracunan oleh pestisida maupun penetapan
aksi terapi.
Mayoritas kematian terjadi sebab paparan
organofosfat, organoklorin dan aluminium fosfida. Senyawa organofosfat menghambat
asetilkolinesterase sehingga terjadi toksisitas akut. Sindroma intermediate muncul pada
beberapa pasien dan memicu kelumpuhan pernapasan dan kematian ,
pemakaian bahan kimia beracun yang tidak sesuai sering terjadi di negara-negara
berkembang, yang memicu paparan berlebihan dan risiko keracunan yang tidak
disengaja yang tinggi. Resiko tinggi dengan pestisida yang dipakai di pertanian, di
mana warga pedesaan miskin tinggal dan bekerja di dekat senyawa ini, yang sering
disimpan di dalam dan di sekitar rumah. Diperkirakan 99% dari semua kematian akibat
keracunan pestisida terjadi di negara-negara berkembang. sedang toksisitas akut pestisida
sudah terdokumentasi dengan baik, masih sedikit diketahui efek pestisida pada kesehatan
paparan pestisida kronis. Insektisida organofosfat sudah banyak dipakai dalam pertanian di
negara-negara berkembang, dengan sedikit perlindungan bagi masyarakat dan personal yang
terpapar ,
B. penggolongan PESTISIDA
Pestisida yaitu senyawa yang dipakai untuk membunuh hama yang mungkin
yaitu serangga, tikus, jamur, nematoda, tungau, kutu, moluska, dan gulma atau
tumbuhan yang tidak diharapkan .
penggolongan pestisida dapat didasarkan berbagai hal, antara lain berdasar fungsinya
sebagai berikut Insektisida, Rodentisida, Fungisida, Nematicida, Acaricides, Moluskisida,
Herbisida, Pestisida lain . Pestisida juga digolongkan berdasar
senyawa aktifnya, yaitu Organofosfat, Organoklorin, Karbamat, Piretroid
C. TINJAUAN KIMIA PESTISIDA ORGANOFOSFAT
Organofosfat yaitu bahan kimia penghambat kolinesterase yang dipakai sebagai
pestisida. Senyawa ini juga dipakai sebagai bahan kimia perang ,, dan sebagai
pestisida di bidang pertanian di seluruh dunia (Banday, 2015). OP mencakup berbagai macam senyawa dengan sifat fisik dan biologi yang berbeda termasuk toksisitas. OP yaitu cairan dari
volatilitas yang berbeda, larut atau tidak larut dalam air, pelarut organik, (Bajgar, 2005).
Senyawa organofosfat yang banyak dipakai digolongkan berdasar
toksisitasnya dengan ukuran LD50 sebagai berikut ,
1. beracun (LD50: 1 sampai 50 mg atau kg... , atau toksik (LD50: 51 sampai 500 mg atau kg... :
Chlorfenvinphos, Chlorpyriphos, Demeton, Diazinon, Dichlorvos, Dimethoate, Disulfoton,
Ediphenphos, Ethion, Fenitrothion, Fensulfothion, Fenthion, Fonophos, Formothion,
Methyl Parathion, Mevinphos, Monocrotophos, Oxydemeton Methyl, Phenthoate,
Phorate, Phosphamidon, Quinalphos, TEPP, dan Thiometon .
2. Senyawa berikut cukup toksik (LD50: 501 sampai 5000 mg atau kg... , atau sedikit toksik (LD50:
lebih dari 5000 mg atau kg... : Abate, Acephate, Coumaphos, Crufomate, Famphur, Glyphosate,
Malathion, Phenthoate, Primiphos Methyl, Ronnel, Temephos, Triazophos, dan
Trichlorphon.
Bahkan dalam masalah di mana pengobatan dimulai lebih awal dengan atropin dan
oksim, mortalitas pada keracunan organofosfat sampai 7 sampai 12% ,
Toksisitas organofosfat yaitu akibat stimulasi kolinergik yang berlebihan melalui
penghambatan asetilkolinesterase. Efek toksiknya mirip dengan inhibitor cholinesterase
yang dipakai secara medis untuk mengobati glaukoma (physostigmine... , myasthenia gravis
(neostigmine, pyridostigmine... , takikardia supraventrikular (edrophonium), dan penyakit
Alzheimer (tetrahydro aminoacridine... . Paparan pada inhibitor kolinesterase mengikuti
konsumsi dan overdosis yang disengaja dan tidak disengaja, kesalahan dan kecelakaan kerja,
dan perang internasional. Identifikasi keracunan mungkin sederhana bila pasien hadir dengan
paparan yang diketahui, atau mungkin sulit dilakukan pada pasien yang sakit kritis
dengan gejala yang membingungkan dan tidak ada riwayat pemaparan. Pengobatan terdiri
dari dekontaminasi, blokade hiperaktivitas muskarinik dengan atropin, pembalikan
penghambatan kolinesterase dengan nukleofil oxime (pralidoxime... , dan koreksi kelainan
metabolik. Mayoritas pasien yang terpapar secara menonjol pada organofosfat dan
karbamat memiliki prognosis yang baik. Pasien yang mengalami polineuropati tertunda
organophosphorus akan memiliki gejala sisa yang bertahan dalam waktu yang lama ,
D. FISIOLOGI ASETILKOLIN DAN KOLINESTERASE
Acetylcholine, neurotransmitter pertama yang ditemukan, mulanya dijelaskan
sebagai "barang vagus" oleh Otto Loewi sebab kemampuannya untuk meniru rangsangan
listrik saraf vagus. Sekarang diketahui neurotransmiter pada semua ganglia otonom, pada
banyak organ yang secara otonom diinervasi, di persimpangan neuromuskular, dan pada
banyak sinapsis di susunan saraf pusat (SSP) Dalam sistem saraf otonom, asetilkolin (ACh) yaitu neurotransmitter pada neuron
simpatik dan parasimpatik preganglionik. ACh juga yaitu neurotransmitter di medula
adrenal dan berfungsi sebagai neurotransmiter pada semua organ yang mengandung
parasimpatis. ACh juga yaitu neurotransmiter pada kelenjar keringat, dan pada otot
piloerector ANS yang simpatik. Pada sistem saraf perifer, ACh yaitu neurotransmitter di
persimpangan neuromuskular antara saraf motor dan otot rangka.
1. Acetylcholine sebagai Neurotransmiter
Neurotransmiter ACh pertama ditemukan pada semua ganglia otonom, pada banyak
organ yang dipersarafi secara otonom, pada sambungan neuromuskular, dan pada banyak
sinapsis di sistem saraf pusat. Dalam sistem saraf otonom, ACh yaitu neurotransmitter pada
neuron simpatik dan parasimpatik preganglionik, dan juga di medula adrenal dan berfungsi
sebagai penghantar saraf di semua organ yang mengandung parasimpatis. ACh juga
yaitu neurotransmiter pada kelenjar keringat, dan pada otot piloerector dari sistem
saraf otonom simpatis ,
saat acetylcholine (ACh) mengikat reseptornya, secara langsung atau tidak langsung
memicu pembukaan gerbang yang diatur secara kimia. Dalam banyak masalah , ini
menghasilkan depolarisasi dinamakan potensi postsynaptic yang merangsang, atau EPSP.
Dalam beberapa masalah , ACh memicu hiperpolisasi yang dinamakan penghambat
potensi postsynaptic, atau IPSP
Acetylcholine dipakai sebagai neurotransmiter eksitasi oleh beberapa neuron di SSP
dan oleh neuron motor somatik pada sambungan neuromuskular. Pada ujung saraf otonom,
ACh bisa berupa rangsang atau penghambatan, tergantung pada organ yang terlibat.
Berbagai tanggapan el postsynaptic pada bahan kimia yang sama dapat dijelaskan,
sebagian, oleh fakta bahwa sel-sel pasca-sinapsis yang berbeda memiliki subtipe reseptor ACh
yang berbeda. Subtipe reseptor ini dapat secara khusus distimulasi oleh racun tertentu,
Efek stimulasi ACh pada sel otot skeletal dihasilkan oleh pengikatan reseptor ACh ke
nicotinic ACh, dinamakan demikian sebab dapat juga diaktifkan oleh nikotin. Efek ACh pada
sel lain terjadi saat ACh berikatan dengan reseptor ACh muskarinik; Efek ini juga bisa
diproduksi oleh muscarine (obat yang berasal dari jamur beracun tertentu).
Gambaran tentang sebaran dua jenis reseptor ACh menandakan bahwa terminologi
dan prinsip asosiasinya ini perlu dalam memahami fisiologi sistem tubuh yang berbeda.
a. Reseptor ACC Nikotinik. Ini ditemukan di area otak tertentu, di ganglia otonom, dan
pada serat otot rangka. Pelepasan ACh dari neuron motor somatik dan pengikatnya
lalu ke reseptor nikotin, contoh nya, merangsang kontraksi otot.
b. Reseptor ACR muskarinik. Ini ditemukan di membran plasma sel otot polos, sel otot
jantung, dan sel kelenjar tertentu. maka aktivasi reseptor ACH muscarinic
oleh ACh yang dilepaskan dari akson otonom diperlukan untuk pengaturan sistem
kardiovaskular, sistem pencernaan, dan lain-lain.
2. Cholinesterase ,
Cholinesterase yaitu keluarga enzim yang mengkatalisis hidrolisis neurotransmitter
asetilkolin (ACh) menjadi kolin dan asam asetat, sebuah reaksi yang diperlukan untuk
memungkinkan neuron kolinergik kembali ke keadaan istirahat sesudah aktivasi. Ini melibatkan
dua jenis:
a. Acetylcholinesterase (AChE, acetycholine acetylhydrolase, E.C. 3.1.1.7) ditemukan pada
banyak jenis jaringan pengatur: jaringan saraf dan otot, jaringan pusat dan periferal, serat
motor dan sensor, dan serat kolinergik dan noncholinergik. Aktivitas AChE lebih tinggi pada
neuron motorik dibandingkan neuron sensorik. ACHE juga ditemukan di selaput sel darah
merah. Enzim ini berada dalam bentuk molekul ganda, yang memiliki sifat katalitik mirip ,
namun berbeda dalam rakitan oligomer dan cara menempelnya pada permukaan sel.
b. Pseudokolinesterase (BuChE, EC 3.1.1.8), juga dinamakan cholinesterase plasma,
butyrylcholinesterase, atau acylcholine asylhydrolase, ditemukan terutama di hati.
Berbeda dengan AChE, BuChE menghidrolisis butyrylcholine lebih cepat dibandingkan ACh.
,